Sisa Rasa

Sisa Rasa
Kenapa Unyil?


__ADS_3

Deva hanya tersenyum tipis. Dia sama sekali tidak berminat untuk menjawab atau pun mendebat ucapan Dewa seperti biasanya. Hal itu justru membuat CEO Diamond Corp itu tidak nyaman. Entah mengapa, Dewa lebih menyukai Deva yang bicara ketus padanya ketimbang didiamkan seperti sekarang.


"Dev ...," panggil Dewa, ingin memastikan Deva baik-baik saja.


"Saya, Pak," jawab Deva, begitu lembut sampai ke telinga.


Dewa membetulkan posisi duduknya yang sebenarnya sudah sangat nyaman. Hanya saja, sikap Deva---mendadak membuat Dewa salah tingkah.


Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, hanya diisi keduanya dengan menghabiskan makanan masing-masing. Selain suara deru kendaraan dan klakson mobil dari luar yang terdengar, hanya suara lirih kunyahan dari mulut Deva dan Dewa yang menyapa gendang telinga.


Begitu sampai di gedung kantor Diamond Corp, keduanya bergegas menuju ke ruangan masing-masing. Deva sendiri hanya masuk ke ruangan untuk mengambil mukenanya. Dia belum menjalankan ibadah empat rakaat di siang hari. Sementara Dewa, juga melakukan ibadah yang sama di dalam ruangannya.


Detik berlalu menjadi menit, hingga jam pun berganti. Saatnya semua aktivitas kerja disudahi untuk hari ini. Karena tidak ingin kejadian kemarin terulang, Deva memilih menyegarkan diri dan berganti pakaian di kamar mandi kantor sebelum berangkat ke rumah Deswita.


Mengetahui asisten pribadinya itu masih mempersiapkan diri, Dewa memutuskan untuk menunggu di meja Sashi bersama sekretarisnya itu dan juga Hilda.


"Jangan lupa, nanti malam kita ketemuan, ya. Di Kafe Haluku. Dandannya biasa aja, jangan kayak mau ke kondangan. Ini bukan kafenya para biduan," ingat Dewa.


"Beres, Pak. Saya pakai baju yang aman-aman saja," sahut Hilda sambil melirik ke arah Sashi yang biasanya heboh sendiri kalau mau pergi ke suatu tempat.


"Demi kenyamanan bersama. Saya ingatkan juga, jangan memakai pakaian yang kurang bahan dan minimalis. Di sana nanti tidak hanya ada kalian. Ada dua lagi yang lain. Aku tidak mau dilihat orang seperti mucikari yang sedang mengadakan bazar dagangannya. Tetaplah tampil elegan meski kelakuan memang ugal-ugalan." Dewa kembali memberikan arahan pada Hilda dan Sashi.


Di saat bersamaan, Deva muncul dari arah kamar mandi kantor. Sashi dan Hilda kompak mengagumi kecantikan alami Deva dalam lisan. Terucap jelas dan gamblang dari mulut mereka, betapa Tuhan menitipkan keindahan yang lebih pada sosok Deva. Membuat Dewa harus menahan diri untuk membenarkan kata-kata pujian Hilda dan Sashi. Dewa sedang mati-matian menepis wajah ketus Deva yang terus berjalan-jalan dalam pikirannya.

__ADS_1


"Dev, kamu nggak capek?" Begitu Deva semakin mendekati meja Sashi, pertanyaan konyol lolos begitu saja dari mulut Dewa.


"Capek?"Deva sampai memicingkan matanya karena merasa sangat heran.


"Iya capek. Dari tadi kamu mondar mandir terus."


Tidak hanya Deva yang heran, Sashi dan Hilda pun menjadi ikut heran dengan pernyataan Dewa barusan. Seharian Sashi duduk di belakang mejanya, dia sama sekali tidak melihat Deva melakukan apa yang Dewa katakan.


"Bapak sepertinya memang kurang sehat hari ini. Sejak kapan saya mondar mandir?" Dengus Deva. Lalu dia buru-buru melanjutkan langkahnya dan segera masuk ke dalam ruangan untuk mengambil tas dan ponselnya.


"Duluan, Pak Dewa," pamit direktur keuangan yang lewat di depan meja Sashi. Sedikit memecah keheningan sesaat yang terjadi akibat keabsurd'an Dewa.


Pria yang disebutkan namanya itu menganggukkan kepala sembari melemparkan senyuman khas yang sok berwibawa. Sungguh Dewa tahu benar bagaimana cara bersikap pada satu per satu pegawainya.


"Hanya aku dan Tuhan yang tahu." Tanpa sadar, Dewa senyum-senyum sendiri. Dia berjalan santai sembari bersiul ringan mendekati lift. Dewa langsung masuk ke dalam sana begitu pintu tersebut terbuka.


Sashi dan Hilda ikut bersiap, keduanya menunggu Deva untuk turun bersama. Melihat sosok yang ditunggu keluar dari ruangan. Kedua orang dengan julukan duo kendi itu pun langsung menegakkan badan bersiap mensejajarkan langkah dengan Deva.


"Kayaknya kita bisa bikin trio, nih," usul Hilda.


"Nggak usah aneh-aneh, di antara kita bertiga, hanya satu yang waras. Cukup! Jangan diajak gila," sahut Sashi.


Deva yang hari ini memang sedang irit bicara hanya menyunggingkan senyuman tipis. Ketiga perempuan penghuni lantai 36 tersebut, berpisah di lobby. Deva yang sebelumnya memang sudah memesan ojek online, langsung berjalan mendekati sepeda motor di depan lobby dengan nomor polisi sesuai ordernya.

__ADS_1


Dewa yang sebelumnya tidak mengatakan jika dia ingin mengajak Deva pulang bersama. Hanya bisa mengumpat kesal. Tidak mungkin dia berteriak meminta Deva masuk ke mobilnya di hadapan karyawan yang lain. Selain jatuh harga diri, bisa-bisa dia digosipkan ada affair dengan sang asisten.


"Dasar nggak peka. Bisa tidak bersikap seperti perempuan normal lainnya? Baik-baikin atasan. Dikit-dikit cari muka ke bosnya. Ini malah jaga jarak kurangi kecepatan. Dia pikir aku truk tronton apa," dengus Dewa dalam hati. Dia segera masuk ke dalam mobilnya yang juga sudah terparkir di depan lobby.


Dalam perjalanan menuju ke rumahnya, Dewa terus berharap agar dia sampai lebih dulu ketimbang Deva. Tapi harapan kadang memang sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Di saat Dewa masih terjebak arus lalu lintas yang merambat, Deva malah sudah bercengkrama bersama Deswita di beranda depan rumah Dewa.


"Dev, boleh Mades tanya?" Deswita mengucapkannya dengan hati-hati.


"Boleh, Mades."


"Suatu saat nanti, jika Mades sudah benar-benar yakin, maukah kamu membantu Mades?" Raut wajah Deswita yang tadinya ceria, mendadak sendu.


"Asalkan saya mampu. Insya Allah, pasti saya akan membantu Mades." Deva memberikan senyuman tulus di ujung kalimat.


"Alhamdulillah ... Mades tidak akan cerita sekarang. Nanti, saat semua terlihat lebih jelas. Mades harap, kamu bisa merasakan hal yang sama dengan Mades. Entah mengapa, hanya sekedar bicara seperti ini saja, Mades merasa senang. Semoga kamu pun demikian. Jangan sungkan jika ingin berkeluh kesah. Anggap Mades ini mamamu." Deswita menggenggam hangat kedua tangan Deva.


Ya ... meski dirinya sendiri juga tidak sepenuhnya baik-baik saja, Deswita tidak buta untuk bisa melihat betapa dalamnya duka yang disembunyikan. Senyuman mungkin senantiasa diberikan Deva padanya, namun sorot mata perempuan tersebut, tidak mungkin bisa berbohong.


Belum sempat Deva menjawab, mobil dinas Dewa memasuki halaman rumah yang sangat lapang. Deswita melepaskan genggaman tangannya pada Deva.


Bersamaan, Jason yang tadinya keluar hanya ingin menunjukkan gambarannya pada Deswita. Langsung berteriak dengan antusias sembari berlari menghampiri Dewa. "Nyil, aku bisa menggambar bagus. Lihatlah!"


"Unyil? Bukannya kemarin manggilnya papa" gumam Deva. Sebenarnya dia bertanya pada diri sendiri. Namun, Deswita terlanjur mendengar pertanyaan itu.

__ADS_1


"Papa? Siapa yang dipanggil papa?"


__ADS_2