
Dave dan Deva saling memeluk dengan erat. Entah berapa kali keduanya kompak menelan ludahnya sendiri untuk meredam hasrat yang sama-sama membuncah akibat terbawa suasana yang cukup intens malam ini. Namun, cukup sampai pada pelukan saja. Batasan itu jelas masih jelas dan tidak boleh diterabas.
"Bee ...." Suara Dave begitu serak.
Deva merenggangkan pelukannya. Lalu dia memundurkan badannya selangkah. Menyadari keberadaan mereka berdua di dalam kamar sudah tidak lagi aman.
"Aku keluar dulu, Bang." Deva hendak melangkahkan kaki, tapi tangan Dave mencekalnya kuat.
Pria yang mencintainya itu malah memeluknya dari belakang. Perlahan, dia pun merasakan basah kecupan bibir Dave di tengkuk lehernya. "Jangan tinggalkan aku, Bee. Malam ini, temani aku. Aku janji tidak melanggar batasku," lirih Dave.
Deva menggeleng kuat, "Bagaimana bisa, Bang? Kali ini saja kita sudah melanggar batas. Teman seperti apa yang berpelukan penuh perasaan seperti ini. Apa yang kita lakukan pantas? Abang calon mempelai pria dari perempuan lain, mengapa masih aku yang bisa merasakan cinta Abang? Apa ini benar? Jelas kita salah, Bang." Deva memejamkan matanya, merasakan pelukan Dave semakin membiusnya.
"Aku tahu, Bee. Aku tahu ini salah. Tapi benarkah hanya kita yang salah? Kita salah karena ada yang memulai dengan tidak benar, bukan? Mereka yang memaksa kita menjadi pengkhianat. Please, Bee. Temani aku malam ini." Dave begitu melas saat mengatakannya. Dia melepaskan pelukannya, dan memutar tubuh Deva perlahan agar bisa menghadapnya.
"Bee ... andai aku mengajakmu lari sejauh mungkin dari dunia yang sedang penuh drama ini, apa kamu bersedia?"
Belum sampai Deva menjawab, pintu kamarnya terdengar diketuk dari luar. Seakan terpergok sedang berbuat messum, Deva pun terlihat panik. Jika sampai orang lain tahu keberadaan Dave di kamarnya, jelas orang akan mengira mereka sedang melakukan yang tidak-tidak. Suara ketukan terdengar semakin keras, disertai suara seseorang yang memanggil nama Deva.
__ADS_1
Memahami kecemasan Deva, Dave pun tersenyum tipis. "Buka saja, Bee. Siapa tahu, ketahuan di kamar berdua, membuat kita malah dinikahkan," selorohnya.
"Sama sekali tidak lucu, Bang. Abang sembunyi dulu, gih! Ke kamar mandi sana."
Dave mengernyitkan keningnya. Lalu menolehkan kepala Deva ke arah kamar mandi yang di kelilingi dinding kaca. Jelas bersembunyi di sana sama saja dengan menyerahkan diri secara terang-terangan.
"Lemari? Balkon? Ayolah, Bang." Deva semakin panik, karena suara teriakan itu semakin jelas. Dia mengenal betul suara tersebut. Bahkan satu suara lain mulai ikut memanggilnya.
"Katakan dulu kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan Dewa." Dave malah mendekatkan wajahnya pada Deva. Sekedar ingin menggoda sekaligus meyakinkan diri bahwa penilaiannya pada Deva tidak pernah salah.
"Tentu saja tidak ada. Aku tidak akan menutup luka dengan cara bersandiwara bersama orang lain." Deva mendorong tubuh Dave ke arah balkon. lalu menutup rapat pintu dan gorden yang terhubung ke sana.
"Dev... syukurlah. Kami khawatir ada sesuatu yang buruk terjadi. Lama sekali kamu membuka pintu." Deswita langsung memeluk Deva.
"Dih, mama ... yang khawatir cuman mama, Dewa enggak," protes Dewa.
"Nggak usah bohong, nyil. Siapa tadi yang menawarkan diri untuk mendobrak pintu ini," ketus Deswita.
__ADS_1
"Itu karena Mama panik. Mana tega lihat Mama begitu. Khawatirnya karena Mama, bukan karena alasan lain," sanggah Dewa, tetap tidak mau kalah.
"Sudah-sudah, ayo kita berangkat," putus Deswita. Kalau dituruti, bisa semakin panjang dan memakan waktu lama.
Deva masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil hand bag dan ponselnya. Deswita dan Dewa pun ikut masuk ke dalam sana. Deswita sibuk memeriksa riasaannya di cermin panjang yang berada tidak jauh dari nakas. Sedangkan Dewa berdiri mematung bersandar pada tembok lorong masuk setelah pintu.
"Kita berangkat, Mades," ajak Deva sembari melirik arah balkon.
"Yuk!" Deswita mengamit lengan Deva dengan santai.
Mengingat Dave masih berada di kamarnya, dengan terpaksa Deva tidak mencabut card key kamarnya. Ingin rasanya dia meninggalkan catatan kecil, namun keberadaan Dewa dan Deswita di sana, jelas tidak memungkinkannya untuk melakukan hal tersebut. Apa yang dilakukan Deva tidak luput dari perhatian Dewa, pria tersebut menggerakkan bola matanya dengan lincah ke sekeliling ruangan. Lalu berfokus pada bayangan samar yang dipantulkan gorden yang menutup balkon. Dewa tersenyum sinis.
"Kalian jalanlah lebih dulu. Boleh numpang ke toilet sebentar, kan?" Pertanyaan Dewa tentu tidak bisa dijawab dengan kata "tidak". Dan keadaan kamar mandi yang hanya di kelilingi kaca, jelas memaksa Deva dan Deswita untuk keluar lebih dulu."
Deva berjalan sedikit lambat, dia merasa tidak tenang. "Kita tunggu di sini saja Mades." Perempuan tersebut mengajak Deswita berhenti di depan pintu kamar yang sengaja tidak ditutup rapat olehnya.
Dewa menuliskan beberapa kata dengan cepat pada kertas yang ada di atas nakas. Lalu dia bergegas berjalan keluar, sengaja membuka pintu lebih lebar, dia mencabut card key untuk meyakinkan dugaannya. Tentu saja, seketika lampu dan ac kamar mati secara otomatis. Deva yang mengetahui hal tersebut buru-buru menghampiri Dewa dan mengambil kunci berbentuk card itu dari genggaman pria tersebut.
__ADS_1
"Jangan, Pak. Biarkan begini saja. Saya takut kalau nanti masuk kamar dalam keadaan gelap," Deva kembali memasukkan kartu tersebut ke dalam tempatnya. Untung saja pencahayaan dari luar memberikan penerangan yang cukup. Jadi dia tidak perlu meraba-raba saat melakukannya. Lampu dan Ac pun seketika kembali menyala.
Dewa menarik ujung bibirnya ke atas. "Aku tidak percaya kamu segila ini, Dev. Benar-benar munafik," ujarnya, dalam hati.