
Bukannya tidak mendengar pertanyaan Deva. Namun, Dewa memilih untuk pura-pura tidak mendengar. Pria tersebut begitu menghindari beradu tatapan mata dengan Deva. Dewa memilih fokus pada berkas yang diberikan oleh asisten pribadinya itu. Dia mencoba konsisten dengan keputusan awalnya. Situasi yang terjadi sekarang, juga bukan hal yang mudah bagi Dewa.
"Terimakasih, Dev. Kamu boleh kembali ke ruanganmu," perintah Dewa.
Merasa sedang benar-benar diabaikan dan tidak diharapkan keberadaannya, Deva memilih untuk langsung melangkahkan kaki lebar meninggalkan ruangan. Dalam hati, dia bertekad akan mengajak Dewa berbicara empat mata jika ada kesempatan nanti.
Sampai jam kerja usai, Dewa tidak sekali pun menghubungi atau meminta Deva ke ruangan pria itu kembali. Sama seperti hari-hari sebelumnya, jika ada yang ditanyakan, Dewa memilih meminta Sashi yang menyampaikan pesannya pada Deva.
"Ada apa sebenarnya? Tidak biasanya Pak Dewa bersikap seperti ini. Dia tipe orang yang memilih berdebat ketimbang mendiamkan orang lain jika ada yang salah." Deva terus mengajak dirinya untuk berpikir sendiri sambil bersiap meninggalkan ruangan kerjanya.
Sampai di depan, dia tidak mendapati Sashi di mejanya. Sebuah pertanda, jika Dewa juga sudah meninggalkan ruangan. Deva menarik napas sedikit berat seraya memperhatikan keadaan sekeliling. Di ruangan Direktur keuangan dan teknik, tampak masih ada kesibukan.
"Aku ke rumah Mades saja. Aku tidak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut," putus Deva akhirnya.
Perempuan tersebut lalu memilih untuk memesan kendaraan ojek online. Selain bisa menghindari kepadatan lalu lintas di jam pulang kerja seperti sekarang, juga jelas karena lebih hemat. Dengan sikap Dewa yang terus menjaga jarak darinya dan apa yang dilakukan pria itu hari ini, Deva sebisa mungkin harus mempunyai dana yang cukup untuk melunasi hutang pembelian rumah yang ditempatinya saat ini.
Sampai di rumah Deswita, Deva langsung disambut dengan ramah oleh perempuan yang sudah dianggapnya sebagai mama itu.
"Mama kesepian, Dev. Sejak kamu tinggal di rumahmu sendiri dan Sejak Si Nyong di pesantren. Rasanya mama hanya tinggal sendirian. Akhir-akhir ini, Unyil seperti menutup diri. Entah apa yang terjadi. Mades beberapa kali bertanya, tapi tidak sekali pun dia menjawab." Deswita langsung berkeluh kesah pada Deva.
Untuk sesaat, Deva terdiam. Tidak tahu harus bagaimana menimpali Deswita. Dia datang untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang timbul di benaknya akan sikap Dewa. Bukan jawaban yang didapat, justru list pertanyaan semakin bertambah panjang. Kini, bukan padanya saja Dewa bersikap demikian, tetapi kepada Deswita juga.
__ADS_1
Kedatangan Dewa, memecah kesunyian yang ada di antara Deva dan Deswita. Pria tersebut tidak menampakkan keterkejutan sedikit pun saat melihat keberadaan Deva. Dewa malah terus berjalan masuk ke dalam seakan tidak ada orang yang duduk di ruang tengah yang baru saja dilewatinya.
"Akhir-akhir ini, Unyil selalu begitu, Dev. Mades ingin bertanya sama kamu dari kemarin-kemarin. Tapi mades tidak enak. Mades tidak mau sampai kamu merasa dipaksa untuk menerima Unyil sebagai suami kamu. Jujur, Mades berpikir, ini pasti berhubungan dengan ungkapan hatinya yang tidak kunjung kamu balas," ucap Deswita dengan hati-hati.
Lagi-lagi Deva terdiam. Bisa jadi, apa yang menjadi dugaan Deswita memang benar. Namun, dia tidak bisa mengabaikan satu lagi kemungkinan yang lain. Apa pun alasannya, pastilah hal itu yang menjadi melatar belakangi perubahan sikap Dewa.
Deswita meminta Deva menunggunya sebentar. Karena perempuan tersebut baru teringat jika dia ada janji akan melakukan sambungan zoom dengen beberapa teman semasa kuliahnya dulu. Deswita pun meninggalkan Deva sendirian di ruang keluarga.
Tiga puluh menit berlalu, Dewa muncul dengan wajah yang sudah segar. Rambutnya masih basah. Celana jeans santai dengan atasan t-shirt berkerah warna biru langit, menegaskan paras tampan nan rupawan pria tersebut. Meski tahu persis sedang diperhatikan oleh Deva, Dewa tetap bersikap acuh tak acuh.
"Pak Dewa," panggil Deva sambil berdiri dari duduknya.
"Kenapa Bapak seperti menghindari saya? Apa salah saya, Pak?" Deva langsung bertanya pada pokok permasalahan.
"Benar. Aku memang sedang menghindari kamu, Dev. Aku ingin di antara kita memang ada jarak. Dan lupakan semua ungkapan perasaanku sebelumnya padamu. Anggap Aku tidak pernah mengatakannya." Dewa memalingkan wajahnya setelah mengatakan hal tersebut pada Deva. Hatinya sungguh sakit saat harus sampai melontarkan kalimat tersebut.
"Tidak masalah jika saya harus melupakan semua ungkapan perasaan Bapak. Tidak jadi soal jika ternyata ungkapan kemarin hanyalah sebuah kekeliruan. Tapi, haruskah kita berakhir seperti ini? Kenapa? Salah saya apa? Selama ini Bapak selalu ada untuk saya. Bapak mengakui atau tidak, bagi saya, Bapak sudah lebih dari sekedar atasan bagi saya. Semua kebaikan Bapak, membuat saya merasakan persahabatan dan persaudaraan disaat bersamaan." Suara Deva mulai bergetar.
Dewa memejamkan matanya. Mencoba sekuat tenaga untuk tidak goyah akan pendiriannya. Jangan sampai dia malah tergerak untuk merengkuh dan memeluk tubuh Deva. Andai kondisinya ke depan tidak seburuk vonis dokter, tentu Dewa tidak akan memilih bersikap seperti sekarang. Tidak ada rasa sakit, dan hukuman yang paling berat, selain rasa bersalah karena sudah menyakiti orang yang dicintai.
"Jika Bapak memang ingin kembali bersama dengan Kak Debora. Saya tidak akan bersedih, apalagi sampai sakit hati. Cinta memang tentang rasa dan ketetapan hati. Bukan semata karena rentang waktu kebersamaan atau pun perpisahan. Mereka yang pernah saling mencintai, tidak menutup kemungkinan untuk bisa menumbuhkan rasa itu kembali."
__ADS_1
Dewa tersenyum getir. Kata-kata Deva barusan, jelas menegaskan perasaan perempuan tersebut padanya, memang belum berubah dalam. "Ada lagi yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya.
"Jangan jauhi saya seperti ini, Pak. Bapak pernah berjanji akan berbagi apa pun dengan saya. Dan saya pun sudah melakukan hal yang sama. Kenapa tiba-tiba kita seakan menjadi dua orang asing yang tidak pernah saling kenal? Katakan apa salah saya?" desak Deva.
"Tidak ada yang salah. Aku lebih nyaman kalau kita seperti sekarang. Dulu kita pernah tidak saling mengenal, pernah saling acuh dan membenci. Keadaan saat itu baik-baik saja, bukan? Jadi, buat apa sekarang dipermasalahkan." Dewa menajamkan intonasi bicaranya.
"Keadaan sudah berubah, Pak. Setiap kebaikan yang Bapak lakukan, itu berarti buat saya. Tidak akan pernah saya melupakan kebaikan Bapak. Jika ada sikap saya yang salah atau menyinggung perasaan Bapak, Tolong, katakan saja pada saya. Agar saya bisa memperbaiki diri. Mencari musuh itu mudah, tinggal menorehkan luka lalu pergi tanpa maaf---jadilah kita musuh. Tapi saya tidak mau seperti itu."
Dewa memberanikan diri melirik ke arah Deva, bertepatan saat bulir bening membasahi pipi perempuan tersebut. "Aku ada janji dengan Debora. Kita bicarakan lain waktu."
Suara Dewa bergetar saat mengatakannya. Susah payah dia menahan kesedihan yang juga tidak kalah luar biasa. Dewa berjalan lebih cepat menuju garasi mobilnya. Pria tersebut langsung masuk ke dalam salah satu mobil kesayangannya. Menjambak rambutnya sendiri dengan kasar, dan menumpahkan tangis tanpa suara yang menyesakkan dada.
Deva meluruhkan badannya ke lantai. "Ya Allah ... Ya Rabb ... Engkaulah pemilik hati, yang bisa membolak balikkan perasaan manusia. Berikanlah kelapangan hati pada Pak Dewa. Apa pun yang dialami sekarang, semoga tidak membawanya dalam keputusan yang salah."
Deswita ikut menitikkan air mata menyaksikan apa yang terjadi pada Dewa dan Deva barusan. Apa yang tampak barusan, menegaskan ada sesuatu yang tidak beres pada Dewa.
"Permisi, Bu, ini saya menemukan ada kertas di kantong celana Den Dewa, kali saja penting, Bu." Salah satu asisten rumah tangga yang baru keluar dari ruangan mencuci baju datang mengulurkan sebuah lipatan kertas pada majikan perempuannya itu.
Deswita buru-buru mengusap air matanya terlebih dahulu. Baru dia menerima lipatan kertas tersebut dan membuka dengan hati-hati.
"Apa ini?" Deswita mencoba membaca berulang kali kertas berkop resmi salah satu instansi rumah sakit internasional di ibu kota.
__ADS_1