
Tidak mendapat jawaban dari Deva. Deswita buru-buru mengejar Jason. Setelah berhasil menarik lengan bocah tersebut, mama Dewa menutupkan telapak tangan kanannya pada mulut Jason.
"Sudah dibilang, sementara jangan panggil Nyil dulu. Kenapa kamu bandel sekali, Nyong." Suara Deswita terdengar jelas di telinga Deva.
Jason menepuk keningnya sendiri dengan keras. "Mampus! Panjang ini urusan," gumamnya.
Dewa tidak kunjung keluar dari mobilnya. Dia sudah mematikan mesin kendaraan roda empatnya sejak tadi. Namun, Dewa masih tidak ada nyali untuk keluar. Andai Deva atau yang lain bisa melihat wajahnya saat ini. Akan dikemanakan pesona yang selama ini sudah dia usahakan mati-matian.
Wajah Dewa yang putih memerah seperti kepiting rebus. Bahkan telinganya pun ikut berganti warna. Andai bisa memilih, dia ingin tetap berada di mobil saja atau balik jalan kalau begini caranya. Bagaimana bisa? Jason dan mamanya kompak keceplosan disaat yang tidak tepat seperti ini. Jatuh sudah harga dirinya. Citra yang dia bangun, dan tidak pernah dilirik oleh Deva, akan semakin turun saja nilainya.
Deva semakin dibuat penasaran. "Bukankah Nyil dan Nyong itu adalah nama burung? Kenapa aku merasanya kok itu panggilan Pak Dewa dan Jason, ya?"
Deswita menjauhkan tangannya dari mulut Jason. Perempuan itu baru menyadari, kalau dirinya juga ikut andil atas terbukanya sebuah nama julukan yang selama ini tidak banyak orang yang tahu.
"Ini gara-gara kamu, Nyong. Kak Deva jadi tahu kalau nama itu adalah nama panggilan Kak Dewa. Padahal kemarin Oma bilangnya cuman nama burung peliharaan," sesal Deswita. Ucapannya semakin terdengar jelas di telinga Deva.
Deswita yakin betul, bahwa Dewa sudah melihat dan menyaksikan kekhilafan yang dilakukannya tanpa sengaja bersama Jason. Menyadari hal tersebut, ditambah lagi dengan tidak keluar-keluarnya sang anak dari dalam mobil, sungguh membuah Deswita merasa bersalah.
Perempuan berusia lebih dari separuh abad itu mendekati mobil yang dikendarai Dewa. Perempuan itu mengetuk kaca mobil berkali-kali.
"Nyil ... turun, dong! Ngapain kamu di situ terus." Deswita menempelkan keningnya pada kaca pintu mobil dengan balutan kaca film 80 persen. Jelas dia tidak bisa melihat aktivitas di dalam mobil dengan jelas.
__ADS_1
Deva yang cepat tanggap, jelas dapat mencerna dan memahami keadaan dengan cepat. Sejauh yang bisa dia simpulkan saat ini---Unyil dan Nyong---masing-masing adalah nama panggilan dari Dewa dan Jason.
Seolah mendapatkan senjata tambahan setelah peristiwa hantu fenomenal beberapa saat yang lalu. Kini, bertambah satu lagi keunikan Dewa yang diketahui oleh Deva.
Jason yang bisa membaca situasi, segera melihat sekitar. Sungguh dia sama sekali tidak tahu, kalau ada Deva di antara mereka. Makanya tanpa beban, Jason berteriak seperti tadi.
Jason lalu berlari meninggalkan Deswita yang masih berusaha meyakinkan Dewa agar mau turun dan menanggalkan sedikit gengsinya. Bocah itu menghampiri Deva, memeluk pinggul perempuan tersebut dengan manja. Seakan keduanya sudah kenal bertahun-tahun.
"Maafkan, Jason, ya Kak? Mulai sekarang manggil Kakak saja, boleh kan?" Mata Jason berkaca-kaca. Benar kata Dewa, bocah tersebut memang halus perasaannya. Mudah sekali dia dibuat menangis.
"Boleh, dong. Tapi kenapa harus minta maaf?" Deva bertanya dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan.
"Karena Jason ikut menjalankan rencana Si Nyil," sahut bocah tersebut.
"Jason tidak boleh manggil Nyil di depan Kak Deva. Jason seharusnya memanggil papa," jawab Jason dengan polosnya.
"Bukankah itu baik? Kamu memang harus memanggil papamu dengan cara yang benar," tutur Deva.
Jason menggelengkan kepalanya. "Si Nyil bukan papaku."
Jawaban Jason membuat tanda tanya besar kembali menempel di kepala Deva. Dia kini tidak berani menduga-duga. Tidak adanya keberadaan perempuan yang bisa dijadikannya tersangka sebagai istri Dewa di rumah tersebut, membuat status Jason masih misteri bagi Deva.
__ADS_1
Melihat pintu mobil mulai terbuka dan Dewa pun keluar dari sana, Jason melepaskan pelukannya dari pinggul Deva. Bocah itu memilih lari masuk ke dalam rumah untuk menghindari cecaran kemarahan Dewa.
"Nyil, maafkan Mama. Lagian, ini bukan aib, bukan? Kenapa harus malu." Deswita mencoba mengajak Dewa berbicara. Namun, pria itu memilih bersikap angkuh untuk menutupi rasa malunya.
Dewa terus melangkahkan kaki dengan lebar tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Dia pura-pura tidak memedulikan keberadaan Deva. Pria itu melewati asisten pribadinya begitu saja.
Deswita memutuskan untuk tidak mengejar Dewa. Akan percuma kalau dia memaksa anaknya itu berbicara sekarang. Yang ada nanti hanya pertengkaran. Lebih baik membiarkan sebentar hingga kekesalan itu sedikit meredam.
Deswita mengajak Deva ke dapur. Seperti biasa, saat Dewa datang adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan makan malam.
"Dev, biarpun kamu tahu panggilan Dewa di rumah sangat tidak umum, tolong jangan ditertawakan, ya. Ada kisah di balik nama tersebut. Bagi Mades, Nyil bukan sekedar candaan," tutur Deswita. Tangannya masih dengan lincah ikut menata makanan yang sudah matang ke piring saja. Deva sendiri hanya bertugas menatanya ke atas meja makan.
"Waktu masih balita sampai sekolah menengah pertama, badan Dewa itu kecil dibanding teman-teman yang lain, kulitnya item karena hobinya main di lapangan, dari mulai main bola, sekedar kejar-kejaran, sampai bermain layang-layang. Kalau lihat Dewa sekarang, jelas berbeda sekali dengan dulu." Deswita terdiam sesaat. Melihat reaksi Deva yang tampak serius mendengarkannya.
"Kehidupan kami sekarang dan dulu, tidak terlalu banya perubahan secara ekonomi. Meski tidak kaya raya, setidaknya kami tidak pernah mengalami sesak napas karena keuangan yang menipis. Berkecukupan, bukan berarti Dewa tidak pernah mengalami yang namanya bullyan dan juga rasa insecure," tambah Deswita. Pandangannya menerawang jauh, seolah ingin napak tilas pada peristiwa demi perstiwa yang dialami Dewa.
"Nyil atau Unyil, tidak pernah merasa percaya diri. Dia insecure dan sangat tertutup dulunya. Sejak kecil, dia hanya berteman akrab dengan Diana dan Dara. Dewa tidak mau berteman dengan teman pria karena bullyan sering kali datang dari mereka. Kalau main bola, dia pergi ke kampung belakang perumaham lama kami. Di sana Nyil bisa diterima apa adanya."
Deswita kembali berbicara, Deva hanya berperan sebahai penyimak. Dia tidak mengeluarkan kata sama sekali. Karena tidak menyangka, seorang Dewa yang percaya dirinya memang tingkat dewa, ternyata memiliki rasa insecure juga.
Yang didengar Deva sebenarnya masih belum seberapa. Nyil seutuhnya, tidak mungkin Deswita ceritakan. Meski entah sekarang bagaimana bentuknya. Deswita sangat tahu, membicarakan hal tersebut secara detail pada Deva juga sangat tidak mungkin. Di pikiran Deswita, mungkin hal itu juga yang menyebabkan Dewa enggan serius dengan perempuan. Meski terapi sejak usia dua tahun sudah dilakukan, dan tindakan Phalloplasty juga dijalankan saat Dewa menginjak usia remaja. Tapi hasilnya, Deswita tidak pernah tahu. Karena Dewa malu jika dia ingin melihatnya.
__ADS_1
"Bi, panggil Nyil dan Nyong," teriakan bernada lembut, membuat salah satu asisten rumah tangga beranjak melangkah ke arah lantai dua.