
Saat pintu tersebut sedikit terbuka, gelap dan keheningan menyambut. Dewa memicingkan kedua matanya. Serapat-rapatnya tirai ditutup, seharusnya masih ada cahaya yang sanggup menerobos masuk ke dalam. Memberi sinar terang meskipun lampu tidak dinyalakan. Bahkan Dewa tidak bisa melihat jauh ke dalam.
Perasaan Dewa semakin tidak enak. Terlintas di benaknya untuk menyalakan ponsel untuk membantu pencahayaan. Namun, niat itu diurungkan begitu tiba-tiba dia mulai mendengar suara aneh yang membuat telinganya ternoda. Suara itu jelas membuat langkahnya seketika terhenti. Dewa menempelkan punggungnya ke tembok di sisi kiri ruangan.
"Bukan... itu bukan suara Deva. Tidak mungkin. Tapi... aku kan belum pernah mendengar dia mendesah." Dewa terus berbicara dalam hati sembari mengajak telinganya bekerja lebih keras agar bisa mengenali pemilik suara yang didengarnya.
Dewa mengelengkan kepalanya kuat-kuat. Sungguh suara itu semakin lama semakin membuatnya merinding. Bukan karena ketakutan, melainkan pikirannya mulai terbawa suasana. Mendadak celananya terasa ketat. Normalkah atau berlebihan, dua suara bersahutan mencemari otak Dewa yang seharusnya fokus memastikan keberadaan Deva. Mungkin normal, jelas suara jantan dan betina yang sedang bertukar peluh dan desah mampu membuat siapa pun yang ikut mendengar menjadi resah.
Pria tersebut mencoba mengalihkan pikirannya dari hasrat yang seharusnya tidak muncul disaat yang tidak tepat. "Bagaimana kalau itu Deva? Apa benar dia bersama Dave? Bukankah Dave sudah tidak ada di sini? Dev... please, jangan lakukan ini. Tolak aku, tapi jaga harga dirimu." Lagi-lagi Dewa berbicara dalam hati.
Lampu tiba-tiba menyala, Dewa tergagap dan reflek memejamkan mata. Bukannya apa-apa, bisa malu dan jatuh harga dirinya jika dia melihat orang lain sedang bercumbu panas secara langsung seperti ini. Apalagi jika benar suara itu adalah milik Deva. Pastilah rasa-rasa yang lain akan ikut jatuh berserakan dan porak poranda.
Suara senyap kembali. Tidak ada yang terdengar selain sayup deru mesin kendaraan dan klakson dari luar. Dewa perlahan membuka kedua bola matanya. Posisinya, ternyata sudah tidak jauh dari ranjang. Di luar dugaannya, tidak ada seorang pun di sana. Apalagi sepasang makhluk mesum yang dia bayangkan. Dewa semakin menampakkan kebingungannya. Dia menyapu pandangan di setiap sudut kamar hotel. Kakinya masih enggan untuk melangkah.
"Suara tadi?" Dewa menepuk-nepuk sendiri pipinya. Sekadar memastikan apa yang baru saja dialaminya bukan halusinasi semata. Hingga, indera penglihatannya tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di atas ranjang. Dewa pun bergegas melangkah dan mengambil kertas tersebut dan membacanya dalam hati.
__ADS_1
Hai, Wa, terimakasih sudah datang. Gimana? Suka sama suaranya. Ciye.... yang jadi kepengen. Ehmm... boleh nebak gak? Pasti kamu ngira ada hantu di kamar ini. Bukan... bukan hantu sayang.
Eh, sampai lupa. Ke sini karena Deva, kan? Dia baik-baik saja. Setidaknya saat ini, entah nanti. Kalau mau bertemu Deva dalam keadaan baik-baik saja. Sekarang kembali ke kantormu dulu. Ini masih jam kerja loh. Datang lagi ke sini, nanti jam tujuh.
Wa... tidak ada yang gratis, bukan? Kalau mau Deva kembali. Lakukan sesuatu untuknya. Di taman belakang kantor, saat kamu kembali nanti, ada banyak pedagang makanan gerobak di sana. Jangan tanya mereka datang dari mana. Yang jelas, sekarang sebagian besar karyawan sudah berada di sana dan menikmati hidangan merakyat yang luar biasa nikmat.
Note : Sediakan uang tunai, mereka tidak menyediakan mesin EDC .
Dewa meremaas kertas yang ada di tangannya, lalu melemparkannya sembari mengumpat di tembok. Otaknya berpikir keras, mulai mencari sosok tersangka yang berani mempermainkan dirinya seperti ini. Logikanya sedang tidak jalan. Kekhawatiran tentang keselamatan dan keberadaan Deva, mampu membuatnya seketika menjadi orang bodoh yang sama sekali tidak panjang pikiran dan logika. Tidak ada pilihan lain, Dewa pun keluar meninggalkan kamar hotel dan kembali ke kantornya.
Benar saja, sesampainya di taman belakang gedung perkantoran Diamond corp, pemandangan yang tidak biasa menyambut kedatangan Dewa. Namun, satu hal yang aneh terjadi. Tidak seperti sebelumnya. Karyawan begitu mengacuhkan Dewa. Mereka tidak sehangat biasanya saat mengetahui ada sosok Dewa. Bahkan, keberadaan Dewa cenderung diabaikan dan dianggap hanya seperti bayangan.
Di dalam ruangannya, yang dilakukan Dewa hanyalah memperhatikan jam digital yang ada di layar ponselnya, mengikuti perubahan detik demi detik dengan tidak sabar. Berharap angka di sana segera berubah secepat mungkin.
Setelah menunggu dengan segala keresahan nya, akhirnya waktu yang dinantikan pun tiba. Dewa bergegas kembali ke hotel di mana tadi dia sempat dipermainkan. Untuk mempersingkat waktu dan menghindari kemacetan, Dewa memutuskan untuk meminjam motor salah seorang petugas security.
__ADS_1
Tiba di tempat yang di tuju. Tanpa merapikan rambutnya yang berantakan karena helm terlebih dahulu, Dewa langsung melangkahkan kaki ke dalam pintu masuk hotel. Seorang pria berseragam pegawai hotel menyambut Dewa dan mengantar pria tersebut ke tempat yang berbeda dengan kamar yang membuatnya kesal siang tadi.
"Siapa yang menyuruhmu? Kenapa tidak di kamar 212? Aku disuruh kembali ke sana. Bukan ke tempat ini. Kalau terjadi apa-apa sama Deva, awas saja kamu," ancam Dewa. Dia lalu mengambil foto petugas hotel dengan ponselnya saat mereka sudah berhenti dan berdiri di depan pintu salah satu room.
Logika Dewa sepertinya memang sedang tidak berjalan pintar seperti biasanya. Kekhawatiran diselimuti cinta yang menggebu, membuatnya enggan untuk mengurai segala kejanggalan yang menimpanya hari ini.
"Silahkan, Pak." Petugas mengabaikan omelan Dewa. Cukup baginya untuk menjalankan tugas yang diberikan seseorang.
Begitu pintu dibuka, lagi-lagi gelap dan hening menyambut Dewa. Petugas tadi pun bergegas menutup kembali pintu tersebut. Membiarkan Dewa mengumpat dengan teriakan bernada tinggi memecahkan gendang telinga dari dalam.
Dewa merasa Dejavu, belum sempat dia menggerakkan tubuhnya, dia merasakan sebuah pelukan dari arah belakang. Pelukan yang tidak asing baginya. Kehangatan dan wangi tubuh itu, sangat familiar baginya.
Pria itu bergeming. Mulutnya mengatup rapat. Setelah penat seharian ini, rasanya pelukan dan dekapan yang dia rasakan kali ini begitu menenangkan. Dewa memejamkan matanya. Tangannya mulai mengusap lembut punggung tangan sosok yang memeluknya.
"Selamat ulang tahun, Sayang...," lirih suara perempuan dengan nada yang bergetar menahan haru.
__ADS_1
Dewa semakin dalam merasakan pelukan itu. Sudah lama dia tidak merayakan ulang tahun. Bisa dikatakan tidak pernah. Hari kelahirannya, tidak pernah istimewa. Baginya, semua hari sama saja.
Lampu kamar pun menyala, Dewa membuka matanya perlahan. Pria itu langsung berbalik badan dan berganti merengkuh tubuh sosok yang tadi memeluknya dari belakang ke dalam pelukannya.