
Dave seketika mengalihkan fokusnya pada bagian layar monitor yang dimaksud oleh satpam. Pria tersebut mengamati setiap pergerakan dengan seksama. Beberapa kali tangan Dave menghentikan video dengan menekan pause dan memperbesar tampilan objek yang diinginkan. Apa yang ada dipikiran Dave, sudah tidak bisa ditebak lagi. Wajah pria tersebut tampak datar. Tidak ada ekspresi kaget, marah, atau yang lainnya.
Dari video tadi, Dave akhirnya meruntut video dengan waktu-waktu yang diduganya masih saling berhubungan. Hingga apa yang dilakukannya, tanpa sadar sudah memakan waktu hingga menjelang maghrib. Karena khawatir Agas tiba-tiba pulang, Dave pun mencukupkan penyelidikannya kali ini.
"Terimakasih, Pak. Tolong jaga rahasia ini rapat-rapat, hanya kita berdua yang tahu," pinta Dave yang dijawab anggukan oleh si satpam.
Dari sana, Dave langsung mengambil beberapa barang pribadi dari kamarnya, lalu dia bergegas untuk meninggalkan rumah tersebut. Namun, di pintu utama Dave berpapasan dengan Agas yang baru saja datang.
"Bukankah mertuamu sedang tertimpa musibah? Kenapa kamu tidak datang menjenguk?" tanya Agas dengan nada suara dan ekspresi yang sama datarnya.
Dave membalas tatapan sang papa dengan santai. "Kalau pun Dave datang, Dave bisa apa? Doa dari jauh sudah cukup. Lagipula, Dave bukan seorang aktor. Yang pandai memainkan peran demi mendapatkan penilaian baik dari orang lain."
"Setidaknya, kamu temani Dira. Beri semangat dan dukungan pada dia. Pasti dia sedang sangat sedih, cobaan yang menimpa mamanya---terlalu berat untuk Dira," Tegas Agas.
Pria tersebut memantau kondisi Nina dari jauh dengan menyewa jasa mata-mata. Karena itu, Agas tahu pasti kondisi terkini Nina. Namun, hanya sebatas itu Agas peduli. Dia tidak berminat untuk berbuat banyak. Hanya saja, untuk masalah Dira, memang dia masih ingin ikut campur.
"Bukan hanya Dira yang punya kesedihan dan perasaan. Cobaan tidak hanya milik dia. Jangan melihat kesedihan orang lain terlalu jauh. Yang ada di depan mata Papa saat ini pun, juga hancur hatinya. Tapi tentu saja Papa tidak peduli." Dave meninggalkan Agas begitu saja.
Agas berdiri bergeming menatap punggung Dave yang semakin menjauh dari pandangannya. "Terserah apa katamu, Dave. Urusan Papa juga rumit. Mau kamu marah, kecewa, atau apa pun---Papa tidak peduli," gumamnya.
Dave sendiri langsung pergi meninggalkan kediaman Agas dengan melajukan kendaraannya sedikit kencang. Baru setelah keluar perumahan, pria tersebut sedikit mengurangi tekanan kakinya pada pedal gas. Dave mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang. Namun sayang, beberapa kali nada sambung, tidak ada satu pun yang diterima oleh nomor yang dituju.
"Aku ke rumahnya saja," ucap Dave.
Yang terlintas dipikirannya saat ini hanyalah ingin membahas sesuatu yang menjadi kecurigaannya. Menyadari tidak bisa berjalan sendiri, Dave memutuskan untuk bekerjasama saja dengan seseorang yang dia yakin---sangat peduli pada Deva.
****
Sepulang kerja, Deva masuk ke dalam kamar. Ragu-ragu, dia mengeluarkan paper bag yang di dalamnya berisi beberapa barang milik Amar yang diberikan Ali padanya beberapa waktu yang lalu. Yang menjadi incarannya kali ini adalah buku catatan tangan Amar selama di tahanan.
Tangan Deva terulur ragu-ragu, mengambil buku dengan kertas hasil daur ulang berwarna coklat muda itu. Jantungnya berdebar-debar tidak beraturan. Antara penasaran dan rasa cemas, beraduk menjadi satu.
"Ya Allah, aku takut tidak kuat membacanya. Aku takut, apa yang tertulis di sana adalah lara dan kesendirian yang dirasakan papa," lirih Deva.
Tarikan napas yang begitu dalam dan berat, mengantar tangan Deva membuka sampul buku yang kini sudah berada dipangkuannya. Belum apa-apa, matanya sudah berkaca-kaca. Foto keluarga mereka bertiga saat berlibur ke kota dingin Malang, menempel rapi di sana. Deva masih remaja, mungkin masih dua belasan tahun.
"Apa kabar papa dan mama di sana? Apa kalian benar-benar sudah bersama? Deva masih berusaha tegar di sini. Begitu banyak orang baik, tapi kebaikan papa mama yang selalu Deva rindukan." Tatapan Deva seperti sedang melamun. Namun, tangannya mulai terulur kembali membuka lembar kedua.
__ADS_1
Tidak diragukan lagi, buku tersebut memang milik Amar. Goresan tinta yang berasal dari jemari papa Deva tersebut memang sangat khas. Indah, rapi, dan mudah dibaca.
...Assalamualaika ya Rasulullah...
...Assalamualaika ya Habiballah...
...Kukeluhkan jerit gundah...
...Bukan tak berserah...
...Ikhlas kini kutempuh...
...Meskiku rapuh...
...Di cekal salah...
...buatku lumpuh...
...Aku memilih pasrah...
...Kusisihkan amarah...
...Ya Allah ya Robb...
...Kukuasakan semua lara dalam pelukMu...
...Berharap Engkau luluh dalam keluhku...
...Kubumikan naffsuku,...
...kulangitkan kemulianMu...
Deva membaca setiap kata dengan sepenuh hati. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia terus beristighfar dalam hati, berusaha menegarkan hati untuk membuka lembar demi lembar berikutnya.
Tiba-tiba, ponsel Deva bergetar dengan begitu intens. "Siapa sih?" gumamnya sembari meraih benda pipih bertekhnologi tinggi di atas nakas.
Membaca nama yang tertera di layar ponselnya, membuat Deva seketika kehilangan rasa sedih. Bukan karena kegirangan karena sosok ini menghubunginya---lebih tepat, dia benar-benar merasa jengkel. Entah sudah berapa kali, pria tersebut menghubunginya dalam setengah hari ini. Jarak tidak membuat sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Dewa itu melonggarkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Kenapa pakai acara video call, sih? Sudah bukan jam kerja, masih saja ngrepotin orang?" Sebelum menerima panggilan tersebut, Deva mengumpat terlebih dahulu.
"Bismillah," ucap Deva sembari menggeser ke atas tombol berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Lama banget sih ...." Omelan langsung menyapa Deva begitu wajahnya muncul di bagian kotak kecil sudut bawah layar ponsel.
"Pak, boleh protes nggak sih saya ini? sekarang kan bukan jam kerja. Lagipula, Mades juga masih ada tamu. Besok weekend. Bisa, kan, urusan kerja disambung hari senin saja?" cerocos Deva.
"Aku mau ngomong sama Mama, penting. Aku telepon dari tadi nggak diangkat." Wajah Dewa dilayar ponsel Deva tampak begitu segar dan bersih. Sepertinya, pria tersebut baru selesai mandi.
"Kan saya sudah bilang kalau Mades ada tamu," tukas Deva.
"Sebentar saja, Dev. Penting ini. Pasti juga cuman teman senam," paksa Dewa.
"Sebentar." Deva mengatakannya dengan ketus. Setelah meletakkan buku harian Amar di atas nakas,Deva pun melangkahkan kaki keluar kamar menuju ruang tamu di lantai satu.
"Dev ... yang bener dong kalau megang ponsel. Kepalaku pusing tau lihat kameramu goyang mulu, mana yang kelihatan lantai doang." Suara Dewa terdengar dari speaker ponsel. Deva tidak peduli, dia sengaja mengubah pengaturan kamera menjadi kamera belakang.
"Mau kemana, Dev?" Belum sampai di ruang tamu, Deswita sudah menyapa Deva lebih dulu. Rupanya, tamu perempuan tersebut baru saja pulang.
"Ini ada Pak Dewa telepon, Mades. Kata Pak Dewa, dari tadi Mades susah dihubungi." Deva memberikan ponselnya pada Deswita.
Perempuan cantik berusia lebih dari separuh baya itu mengernyitkan kening sembari memeriksa ponsel yang sedari tadi berada di genggamannya.
"Nggak ada panggilan masuk," gumam Deswita.
"Ma ... Mama ...," Dewa berteriak dengan konyolnya. Sudah dia duga, pasti mamanya tersebut tidak langsung peka.
"Ini Mades." Deva kembali mengulurkan ponselnya yang sedari tadi masih diabaikan Deswita karena saking bingungnya. Dia kembali mengganti pengaturan kamera menjadi kamera depan. Deva berharap, speaker ponsel tidak mengeluh karena teriakan Dewa begitu nyaring.
"Oh, iya Dev." Deswita buru-buru menerima benda canggih tersebut.
"Mama kemana saja?" Dewa tampak mengerjap-erjapkan matanya saat mengatakannya.
Deswita kini baru mulai mengerti, dia sedang dijadikan alasan saja oleh Dewa. Ketika Deswita sudah bersiap ingin mengucap kata-kata yang membuat sang anak mati kutu. Terdengar suara bel pintu berbunyi.
"Biar saya saja, Mades." Deva mengambil inisiatif agar Deswita tetap bisa fokus berbicara dengan Dewa.
__ADS_1
Tidak sampai hitungan dua menit, pintu utama sudah dibuka Deva dengan lebar. Melihat siapa yang datang, Deva pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Satu langkah kakinya mundur ke belakang.