Sisa Rasa

Sisa Rasa
Rencana berdua


__ADS_3

Tidak ada seorang pun yang menanggapi perkataan Dira. Baik Dave, Dewa, mau pun Deva yang diajak bicara langsung. Ketiganya kompak merapatkan mulutnya. Segera sampai di hotel dan terlepas dari Dira adalah harapan terbesar ketiga orang itu.


Dengan kebisuan yang di sengaja, mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju hotel yang sesungguhnya hanya tiga puluh menit waktu tempuh dari bandara. Namun, karena semua menuruti kemauan Dira, jadilah mereka harus menempuh perjalanan lebih lama lagi untuk kembali ke sana.


Dira yang dibiarkan duduk di belakang sendiri, terus mengulir layar ponselnya dengan cepat. Dia tidak berhenti berkirim pesan dengan orang kepercayaan Rudi untuk mengurus sesuatu. Diam-diam, Dira ingin mencari kebenaran sendiri. Tentang Hafis, dan segala dugaan yang kini mengusik ketenangan dan mengikis sedikit rasa percaya diri yang tadinya begitu berlebihan dimiliki.


Dewa sendiri pura-pura memejamkan matanya. Pria tersebut tidak ingin terus tergoda untuk menggerakkan bola matanya ke arah Deva. Menyadari ada yang tidak biasa di hatinya, Dewa bertekad akan menghindari kontak dengan Deva sebisa mungkin. Jelas dia tidak menghendaki apa pun yang dirasakan saat ini menjadi berkembang dan semakin mengarah pada rasa yang lebih dalam.


Dave sendiri masih larut dalam pikirannya sendiri. Tentang ucapan Dira, dan juga tentang si penelepon Deva yang tidak diketahuinya barusan. "Aku harus mencari tahu sendiri. Ada apa sebenarnya. Aku menikah dengan Dira, bukankah karena papa takut mengalami nasib yang sama dengan Papa Amar. Aku harus tahu, kasus apa yang dituduhkan pada papa," batinnya.


Sama seperti Dira, Deva pun melakukan hal yang sama dengan Dira. Perempuan itu juga sibuk dengan ponselnya. Namun, keduanya jelas memiliki kepentingan yang berbeda. Deva sedang mencari tempat wisata di Jogja yang bisa menenangkan jiwanya selain pantai. Sebelum besok bekerja, dia ingin menikmati separuh hari ini dengan melakukan liburan singkat. Sesaat membebaskan diri dari rutinitas yang ada.


Walau waktu berlalu sedikit terasa lebih lama, akhirnya, sampai juga mereka di hotel yang di tuju. Salah satu hotel bintang lima berkonsep modern di kawasan malioboro menjadi tujuan terakhir sementara bagi Dira, Deva,Dave dan Dewa untuk saat ini.


"Thanks ya, Dev. Sudah mau ikut sejauh ini. Nikmati saja kamar hotel dan fasilitas lain yang aku berikan secara gratis. Cukup di sini saja. Tentu kamu tidak pengen ikut kami juga, kan? Aku masih waras, Dev. Jadi aku tidak mungkin mengajakmu ke kamar pengantin kami." Dira mengulurkan tangannya dengan santai tanpa dosa dan beban sedikit pun.


"Kembali kasih, Dir. Semoga kamu dan Dave bahagia." Deva menyambut uluran tangan Dira.


"Doakan agar secepatnya Dave junior hadir menyempurnakan kebahagiaan kami," ucap Dira. Lagi-lagi begitu penuh rasa percaya diri.


Deva hanya tersenyum tipis. "Jauh, Dir. Jangan terlalu tinggi kamu terbang. Kamu tidak bersayap, dalam hitungan detik, dengan mudahnya kamu akan jatuh terhempas. Usahamu belum cukup. Dave tidak semudah itu ditakhlukkan," batinnya.

__ADS_1


"Tanpa cinta, seseorang bisa bercinta. Setelah bercinta dan tahu rasanya, Dave akan merasakan betapa aku ini luar biasa. Cepat atau lambat, kamu hanya akan menjadi setitik noda di hidup Dave."


Tentu saja Dira berani mengucapkan hal itu tanpa takut mendapatkan protes dari sang suami. Dave yang jengah, tentu saja sejak turun dari mobil, memilih untuk berjalan terlebih dahulu---meninggalkan ketiga orang yang lain dengan sengaja. Dia langsung menuju meja resepsionis, mengambil kunci kamar yang sudah dipesannya diam-diam setelah tahu di mana mereka akan tinggal selama berada di Jogja.


Deva lagi-lagi hanya tersenyum tipis. Mengetahui Dira pernah mengalami depresi, ternyata membuat Deva lebih bisa menahan diri untuk tidak menanggapi Dira secara keras.


Dewa yang masih berada di sana, malah yang tidak terima dengan perkataan Dira. "Jaga bicaramu, Dir. Fokuslah pada Dave. Bangunlah hubungan yang baik, jangan mengkhawatirkan orang lain di luar kalian berdua. Jika Dave memang baik dan tercipta untuk kamu---tidak peduli, apa, siapa dan bagaimana cobaan yang datang pada kalian, dia pasti akan tetap berada di sampingmu."


"Kak Dewa nggak pantes ngomong gitu. Kakak sendiri bagaimana? Orang yang tidak percaya cinta, mana bisa memberi nasihat tentang cinta? Orang yang tidak mempunyai hubungan, mana bisa menghargai hubungan orang lain? Sebelum memberi nasihat, perbaiki dulu konsep cinta di pikiran kakak." Dira meninggalkan Dewa yang tampak tertegun mendengar ucapan Dira.


Deva yang bisa mendengar dengar jelas apa yang diucapkan Dira, tidak kalah terkejut. Perempuan itu jelas dengan mudah menangkap raut kekecewaan di raut wajah sang atasan.


"Bapak tidak ada kegiatan juga, kan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja. Tapi saya mau nunggu sholat dhuhur dulu, baru kita pergi. Bagaimana?" Deva bertanya seolah dia begitu bersemangat. Hanya hal itu yang terlintas dipikirannya untuk membuat pikiran Dewa teralihkan. Bukan karena dia benar-benar peduli, sikap Dewa yang akhir-akhir ini baik dan banyak membantunya, jelas membuat Deva ingin sedikit balas budi.


"Pak ...." Deva melambai-lambaikan satu tangannya tepat di depan Dewa. Dengan cepat atasannya itu menangkap pergelangan tangan tersebut.


"Mau kemana? Memang kamu tahu Jogja?" tanya Dewa.


"Apa gunanya maps. Dunia ada di genggaman, Pak. Tidak perlu pusing. Yang penting Bapak mau tidak? Kalau tidak, saya mau pergi sendiri." Deva menurunkan tangan Dewa dari pergelangan tangannya. Lalu dia melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu. "Mas ...," panggilnya pada salah satu pria berseragam batik pegawai hotel.


Setelah pria itu menoleh, Deva menghampiri sosok yang hanya berjarak empat langkah dari dirinya dan juga Dewa. "Mas, di sini kalau sewa motor di mana? Ada kan ya?"

__ADS_1


Dewa mengernyitkan keningnya. "Buat apa, Dev?"


"Saya ingin jalan-jalan naik motor," sahut Deva dengan cepat.


"Astagah, Dev. Kamu bener-bener aneh. Kita bisa naik mobil, tinggal duduk manis dan sampai tujuan. Kenapa harus repot-repot," dengus Dewa.


Sosok pegawai hotel yang ditanya tadi, jadi bingung harus mencari jeda di tengah perdebatan kedua orang di depannya. Dia hanya menggerakkan bola matanya mengikuti arah siapa yang mengeluarkan suara.


"Bagaimana, Mas? Ada, kan?" Peka dengan kebingungan si mas-mas, Deva pun kembali bertanya.


"Ada, Kak ... Kakak mau yang bagaimana?" jawab si pegawai hotel.


"Saya sih matic aja biar gampang, kalau Bapak?" Deva bertanya pada Dewa.


"Kita pakai motor sendiri-sendiri? Kenapa nggak satu motor berdua aja?" Dewa malah balik bertanya.


Disaat Deva dan Dewa sedang berdebat tentang motor, di sisi lain, Dave dan Dira sedang bersitegang di depan kamar yang Dave pesan untuk dirinya sendiri.


"Apa-apa'an ini, Dave? Kita kemari untuk berbulan madu. Kenapa kamu malah memesan kamar sendiri? Kita ini sudah suami istri---mau tidak mau---suka tidak suka, di pundakmu sudah ada tanggung jawab dan kewajiban tentang aku," ketus Dira.


"Kamu masih berani mempertanyakan tentang tanggung jawab dan kewajiban? Beri hakku dulu, Dira. Beri hakku sebagai suami. Hak paling mendasar. Jangan pernah berpikir kita bisa bersentuhan. Ingat baik-baik, Dir. Aku ini seorang dokter kandungan, melihat bagian tubuh inti perempuan, sudah sangat biasa," tukas Dave.

__ADS_1


Dira semakin tertantang, dengan gerakan cepat, dia mendorong daun pintu yang sedari tadi ditahan oleh suaminya itu "Mari kita buktikan ucapanmu, Dave," ucapnya, sembari melenggang santai masuk ke dalam kamar.


__ADS_2