
Dave pun mengirimkan pesan untuk Dira. Tidak ada kata-kata mesra yang tertulis di sana. Hanya sebuah kalimat singkat tanpa basa basi yang menginformasikan bahwa Dave ingin berbicara dengan Dira.
Tidak lama dari waktu pesan itu terkirim, Dira yang langsung membaca pesan dari suaminya tersebut dengan kegirangan, seketika berpamitan pada Deswita.
"Akhirnya kamu kangen juga sama aku, Dave," batin Dira dengan rasa percaya diri yang teramat tinggi.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, otak Dira sudah dipenuhi oleh angan-angan yang membuat perempuan tersebut tersenyum sendiri sambil mengemudikan mobilnya. Bayangan dirinya yang akan memenuhi kewajiban sebagai seorang istri, membuat duduk Dira begitu tidak tenang. Beberapa kali perempuan itu bahkan menggigit bibir bawahnya sendiri dengan wajah yang menyiratkan napsu terpendam.
Namun, angan hanyalah milik Dira seorang. Sampai di apartemen, yang disuguhkan oleh Dave bukanlah sambutan ramah dan hangat. Perpisahan selama beberapa hari ini, ternyata hanya mampu merentangkan jarak---rindu itu hanyalah milik hati yang setujuan. Alih-alih menanyakan keadaan mertuanya, Dave malah menyambut Dira dengan beberapa koper yang sudah berjejer rapi di ruang tamu.
"Mulai malam ini, kita tinggal di rumah orangtuamu." Dave mengatakannya dengan ekspresi yang sangat datar.
"Kenapa tiba-tiba?" Dira mengernyitkan keningnya karena merasa heran.
"Aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu atau pun mengulang ajakanku. Putuskan sekarang juga! Kalau mau, kita berangkat. Kalau tidak mau, silahkan bawa koper-kopermu, dan keluar dari apartemenku," tegas Dave.
"Tentu saja aku mau. Ini yang aku harapkan, bukan? Di rumahku, kita harus tidur dalam satu kamar. Aku tidak mau orang rumah tahu bagaimana hubungan kita selama ini berjalan." Dira semakin sumringah.
"Tidak masalah." Dave menjawab singkat dengan sedikit berseringai licik.
Keduanya pun keluar membawa koper masing-masing. Seperti sebelum-sebelumnya, Dave tidak membantu Dira membawa barang-barang istri terpaksanya itu sama sekali. Pria tersebut membiarkan Dira kesulitan sendiri. Dave bahkan tidak merasa risih saat beberapa orang melihatnya dengan penilaian yang mungkin menyebutnya pria tidak perasaan. Namun, bukan Dave namanya jika dia peduli pandangan orang lain.
Sepasang suami istri berbeda perasaan dan keinginan tersebut akhirnya meninggalkan apartemen dengan mengendarai mobil masing-masing. Besar harapan Dave, beberapa waktu tinggal di kediaman Rudi, dia bisa menemukan kelemahan atau celah yang bisa mengantar mertuanya tersebut bertanggung jawab secara hukum akan dosanya terhadap Amar.
__ADS_1
****
Menjelang waktu maghrib, Agas tampak menjejakkan kaki di rumahnya yang kini semakin kehilangan kehangatan. Pulang---membawa ingatan Agas akan kegagalan membawa Fira kembali bersamanya.
"Cahyo!" Agas memanggil sopir pribadi sekaligus bodyguard-nya dengan suara lantang.
"Cahyo!" panggil pria tersebut sekali lagi. Suaranya terdengar hingga ke ruang belakang, tempat di mana para asisten rumah tangga berkumpul dan beristirahat. Tidak ingin menjadi sasaran kemarahan, mereka bergegas menuju mushola khusus untuk pekerja di rumah tersebut.
"Siap, Pak." Seorang pria berbadan tegap, berpakaian setelan safari hitam, menghadap Agas dengan napas sedikit terengah-engah.
"Apa telingamu sudah tuli? Dasar pemalas, lamban sekali gerakmu," omel Agas dengan seenak hatinya.
Setelah Amar di penjara, lambat laun sifat Agas yang emosional dan seenak sendiri perlahan muncul. Hanya di depan Amar dan orang-orang tertentu saja sikap Agas sangatlah lembut dan bersahaja. Bisa dikatakan, dia memang pemain watak yang luar biasa. Pria tersebut bisa menjadi beberapa kepribadian dalam rentang waktu yang tergolong singkat.
"Perintahkan anak buahmu untuk mengawasi Dave. Pastikan mereka tidak lengah sedikit pun. Aku yakin, Fira pasti minta perlindungan dari anak itu," ucap Agas sembari menghempaskan bokongnya di atas sofa. Pria bernama Cahyo itu pun menjawab perintah Agas dengan sebuah anggukan mantap.
Pria tersebut duduk bersandar di sandaran sofa dengan pandangan mata kosong. Begitu banyak hal yang membebani pikirannya saat ini. Terlalu lelah, perlahan Agas tertidur di sofa tersebut hingga sampai keesokan hari.
****
Deva turun dari lantai dua dengan mata yang sembab. Semalaman, perempuan tersebut menangis tanpa suara sembari bersujud di atas sajadah. Ketika malam hening, dan semua mata penghuni rumah terpejam, Deva yang sudah biasa melakukan sholat pada sepertiga malam, memutuskan kembali melanjutkan membaca buku harian papanya.
Lembar demi lembar yang dia baca, sungguh menyesakkan dada. Penyesalan Amar yang begitu mendalam dan rasa bersalah yang mendarah daging---mengiris-iris batin Deva luar biasa. Betapa tidak, seseorang yang tidak bersalah---memilih pasrah---menyerahkan segala urusan pada kuasa Allah.
__ADS_1
Deva yang tadinya menaruh harapan besar pada buku harian Amar, harus berlapang dada karena tidak terdapat tulisan apa pun yang menyiratkan perjalanan kasus Amar. Tidak ada kata-kata berat di sana, hanya penuh dengan bait rindu dan doa Amar untuk Shinta dan Deva.
"Kamu baik-baik saja, Dev? Kalau nggak enak badan, kamu nggak usah masuk. Kita sekalian saja ke dokter bareng aku." Dewa langsung menyambut Deva dengan pertanyaan. Padahal perempuan tersebut baru saja berniat menduduki bangku kosong di samping Jason.
Deswita memperhatikan Deva sekilas. Hanya dengan sekelebatan saja, dia sudah tahu kalau raut wajah sendu yang ditampilkan Deva saat ini bukanlah karena badan yang tidak fit. Jejak tangis yang terlalu lama dilakukan, begitu kentara di mata perempuan tersebut.
"Sudah sarapan dulu, hari ini, Nyong biar mama saja yang antar. Sekalian mama mau mengambil berkas-berkas yang harus diberikan ke sekolah barunya Nyong," ucap Deswita. Dia paham betul Deva tentu tidak ingin membahas apa pun perihal kondisinya saat ini.
"Sudah siap, Nyong? Mojokerto-Jakarta itu jauh loh, Nyong. Kamu yakin? Kalau nggak mau atau berubah pikiran, kamu bisa nangis kok, pura-pura panas tinggi atau sakit apalah."
Sebuah tendangan dari bawah kolong meja makan seketika mengenai kaki Dewa. Tentu saja hal tersebut sangat wajar dilakukan oleh Deswita. Apa yang diucapkan Dewa, sungguh sangat tidak pantas.
"Tenang, Nyil. Sejauh-jauhnya jarak Jakarta ke Mojokerto. Masih jauh jarak hatimu ke hatinya."
Deva mendadak merasakan tenggorokannya begitu kering. Perempuan itu tidak bisa menahan batuknya karena ucapan Jason yang sungguh ajaib. Entah belajar darimana, anak sekecil itu, sudah begitu pandai bersilat lidah dan mengimbangi Dewa yang seringkali tidak bisa membedakan bagaimana seharusnya berbicara atau bergurau dengan bocah.
Deswita hanya bisa menahan senyumnya. Ia memilih untuk fokus menghabiskan sepiring makanan yang ada di depannya.
Tidak jauh berbeda dengan Deswita, tanpa merasa ada sesuatu yang salah atau aneh dari ucapannya, Jason pun mulai melahap makan paginya. Bocah tersebut mengabaikan Dewa yang masih memelototinya dengan kesal.
"Mama mau ambil tas dulu, Nyong. Selesaikan makanmu," pamit Deswita pada Jason.
"Iya, Ma," sahut Jason.
__ADS_1
Tidak lama, makanan Jason pun habis. Bocah tersebut berpamitan sambil mencium punggung tangan Deva dan Dewa secara bergantian. Bersamaan dengan itu, ponsel di pangkuan Deva bergetar. Dengan gerakan cepat, perempuan tersebut mengambil ponsel tersebut. Setelah mengetahui siapa yang menghubungi, Deva malah mengulurkan benda pipih berteknologi tinggi miliknya itu pada Dewa.
"Bapak saja yang jawab. Saya tidak mau mood saya berubah buruk sepagi ini."