
"Suatu saat, Tin. Tidak sekarang. Aku tidak hanya butuh keberanian. Lebih dari itu, aku juga harus siap dengan semua kemungkinan. Ucapan tanpa bukti, akan sangat sia-sia. Vonis yang diterima Pak Amar, tentu bukan hasi akhir dari sebuah kesaksian saja, tapi ada bukti berupa data-data yang diada-adakan. Papaku tentu tidak sendirian. Ada orang besar yang terlibat." Tatapan Debora menerawang semakin jauh.
"Tidak mudah membalikkan hukum yang sudah terlanjur ditutup buku. Jelas kamu tidak akan bisa membalikkannya dengan mudah. Prosesnya akan gila-gilaan. Tidak hanya capek fisik, psikis pun pasti banyak tekanan. Kamu tidak perlu melakukan sejauh itu. Setidaknya, kamu masih mempunyai kesempatan untuk membuat leher Deva semakin tegak menatap masa depan," tegas Tino.
Debora bergeming. Beribu kata andai semakin berdesakan muncul dibenaknya. Dia dan Saras, seharusnya bisa mengubah keadaan lebih awal. Saat dulu hampir separuh bukti masih berada di ruangan kerja sang papa. Kini bukti itu sudah raib---hilang entah kemana.
Di sisi lain, Dewa akhirnya mengajak Deva ikut serta dalam meeting mendadaknya. Sebuah pertemuan yang tidak biasa. Karrna tidak ada pembicaraan atau presentasi formal. Saking santainya, jika Dewa menginginkan notulen dari pertemuan mereka saat ini, mungkin Deva tidak akan sanggup untuk membuatnya.
Sejauh yang Deva dengar, lihat, dan amati. Pembicaraan Dewa dengan orang yang disebut sebagai calon investor diproyek baru yang akan dikerjakan oleh Diamond Corp itu lebih bersifat pribadi. Keduanya dari tadi hanya membahas kenarsisan masing-masing. Membuat pikiran Deva semakin kenyang dengan kesongongan dan keabsurdan Dewa.
"Oke ... atur saja semua. Aku ikut peraturan perusahaan kalian. Kirim draft perjanjian by email dulu. Biar aku bisa baca sebelum penandatanganan." Akhirnya Dewa dan orang tersebut menyudahi pertemuan mereka tepat setelah pembicaraan keduanya sudah hampir berlangsung selama dua jam.
"Siap ...Thanks, atas kesempatan yang kamu berikan, Rock. Aku pastikan, kamu memilih perusahaan yang tepat. Kami sangat profesional dan bisa dipercaya." Keduanya saling berjabat tangan sebelum bersama-sama meninggalkan tempat meeting tersebut.
Di ujung pertemuan ini, barulah Deva yakin kalau mereka memang sedang bekerja. Pendekatan bisnis memang bisa dengan berbagai cara. Sepertinya, Dewa memang sangat profesional dan kompeten dalam hal lobi melobi.
"Surprise, Dev. Kamu tahu dia siapa?" Dewa dan Deva berjalan sejajar melangkahkan kaki dengan tujuan yang akan ditentukan oleh Dewa tentunya. Pria tersebut terlihat sangat sumringah.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Dari tadi Bapak cuman membicarakan kehebatan kalian masing-masing. Tidak ada yang saya tangkap selain jiwa petualang dua orang pecinta wanita yang sangat kental," timpal Deva.
"Ck ... aku kira kamu jenius, ternyata kemampuanmu masih belum seberapa. Kamu masih harus banyak belajar tentang ilmu komunikasi. Dalam memperoleh kesepakatan bisnis, tidak melulu harus menggunakan cara diplomatik yang kaku dan prosedural. Yang penting, kita harus luwes. Menyesuaikan siapa partner kita. Sekalipun kenal, kita juga tidak boleh terkesan memanfaatkan faktor kedekatan secara gamblang. Biarkan lawan kita yang menemukan value kita," tukas Dewa sembari menunjuk ruang di mana ada pameran hunian rumah dan apartemen. Rupanya, tempat itulah tujuan selanjutnya.
"Penjelasan Bapak yang panjang lebar barusan, sama sekali tidak menjelaskan siapa sebenarnya orang tadi." Deva sedikit menarik salah satu ujung bibirnya ke atas. Menegaskan betapa dia merasa keki.
"Dia pemilik saham terbesar perusahan Kang Kha Win Corporation. Bukan pencapaian yang luar biasa, semuda itu mencapai posisi tersebut---jelas karena garis keturunan. Rocky masih single, tapi jaangan berandai-andai ingin hidup sebagai pendamping hidupnya. Jangankan kamu, puteri tercantik sejagad raya saja belum tentu bisa membuatnya setia. Hampir disetiap cabang, ada gebetan. Aku ini belum seujung kuku sama dia."
Deva pun langsung berdecih, bukan karena cerita tentang Rocky. Namun, lebih pada perilaku Dewa yang benar-benar random. Bagaimana bisa seorang CEO menggosipkan hal tersebut dengan asistem pribadinya. Selain angkuh, sombong, dan si tangan liar---julukan sebagai admin lambe turah pantas juga diberikan.
"Aku mau beli rumah sederhana untuk investasi. Beberapa tahun ke depan, pasti harga akan naik. Aku bisa menjual dan menukarnya dengan rumah impian," jelas Dewa tanpa diminta. Begitu mereka sudah berada di dalam ruang pameran properti.
"Kalau pun KPR, ini DP-nya terjangkau, Dev. Nggak berminat? Bahkan dengan jangka waktu kredit yang lebih pendek dari jangka waktu hubunganmu yang kandas, gajimu masih sisa buat nyicil bulanannya." Dewa menunjukkan salah satu gambar rumah dengan type terendah dari perumahan yang ada di brosur.
Deva hanya melirik sekilas. Cicilannya memang masuk dengan budgetnya. Tapi DP yang dicantumkan, sungguh jauh dari isi tabungan.
"Bapak saja yang beli. Kalau perlu sepuluh unit. Supaya berkah, Bapak kreditkan kembali ke karyawan yang belum mempunyai rumah dengan DP nol persen. Jangka kredit cukup selama empat tahun tanpa bunga," seloroh Deva.
__ADS_1
"Harus empat tahun, ya? Nyindir? Nggak lucu becandamu. Tujuh tahun jelas akan lebih ringan cicilannya. Ck... sayang, waktu selama itu, cuman dipakai buat tukeran saliva. Coba sambil cicil rumah, kan enak."
Deva mendengus kesal. Cukup sudah dia menimpali Dewa. Menang kalah tidak ada bedanya. Diam jauh lebih baik.
"Aku beneran mau beli, Dev. Ini strategis. Pasti akan cepet naiknya. Sekarang mungkin belum terlalu ramai. Tapi akses jalan gampang ke mana-mana. Dikontrakin 50juta setahun laku gak ya?" Dewa memicingkan mata pura-pura berpikir.
Deva langsung membulatkan matanya. "Serius mau Bapak kontrakkan harga segitu? Bapak tidak tahu berapa harga pasaran kontrak rumah sekarang? Apalagi lokasinya lumayan bagus begitu."
"Hmmm... terlalu murah, ya? Itu sudah mahal loh, Dev. Setahun buat ngontrak gitu, kalau aku mending buat DP sekalian. Coba berhitung, deh." Dewa sengaja mengajak Deva berpikir.
"Ah...lama. Aku mau beli. Ntar aku pikirkan lagi." Dewa kembali mengalihkan pandangan ke arah SPG yang memberinya brosur tadi. Lalu bertanya-tanya tentang beberapa hal yang bersangkutan dengan rumah yang diincarnya. Ternyata, saat pameran seperti ini, pembelian secara cash masih ada potongan lagi.
"Ajukan loan ke perusahaan, Dev. Beli cash di sini. Jauh lebih menguntungkan dibanding kamu kontrak. Hemat-hemat pengeluaranmu, dengan nggak nolak ajakan orang yang mengajakmu makan atau mengantarmu pulang." Dewa menaik turunkan alis tebalnya sedikit nakal.
Deva masih berpikir. Bukan rumah itu yang menjadi impiannya Namun, apa yang diusulkan Dewa semua benar dan masuk akal. Dari mulai KPR di Bank, hingga mengajukan loan ke perusahaan. Keduanya bisa dipertimbangkan.
Setelah meninggalkan kartu namanya pada SPG, Dewa mengajak Deva untuk kembali ke kantor. Sangat sengaja, waktu makan siang yang sudah dekat, seharusnya bisa langsung dimanfaatkan oleh mereka untuk makan di luar. Namun, mengingat ucapan Deva yang ada janji dengan seseorang, Dewa tidak akan memberi celah pada Deva untuk bertemu dengan Dave.
__ADS_1
Sesampainya di lobby kantor, keduanya dikejutkan dengan sosok yang sama sekali tidak di duga kehadirannya.
"Hai ... surprise ...."