Sisa Rasa

Sisa Rasa
Pelukan hangat


__ADS_3

Pria yang dipanggil namanya tersebut tidak memberikan reaksinya sama sekali. Setelah menutup kembali pintu mobilnya, dia langsung melangkahkan kaki tanpa mengindahkan keberadaan Deva sedikit pun.


"Pak Dewa. Saya salah apa sebenarnya? Kenapa Bapak menjauhi saya seperti ini?" Untuk yang kesekian kali Deva memberikan pertanyaan yang sama dalam beberapa hari terakhir ini.


Dewa tetap pada pilihannya. Melangkahkan kaki meninggalkan Deva tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, tekad Deva kali ini lebih besar dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak sabar dengan reaksi Dewa yang masih saja sama, Deva setengah berlari mengejar langkah sosok yang malam ini akan resmi menjadi mantan atasannya tersebut.


"Pak Dewa boleh membenci dan menjauhi saya jika memang saya salah. Tapi jika sikap Bapak seperti ini hanya karena selembar hasil check up mata Bapak, saya akan terus mengejar Bapak." Deva menahan pergelangan tangan kiri Dewa hingga berhasil membuat pria itu menghentikan langkahnya.


"Lihat saya, Pak. Katakan dengan lantang. Seperti biasanya saat Bapak berbicara pada saya. Apa yang membuat Bapak menjauh?" Deva memposisikan diri tepat di depan Dewa. Mata keduanya saling beradu. Hanya sesaat, karena Dewa memilih memalingkan pandangannya ke sisi lain begitu menyadari tatapan Deva sangat mungkin bisa meluluhkan hatinya.


Dewa bergeming. Cengkraman tangan Deva semakin terasa erat dan kuat di pergelangan tangannya. Logika menuntun Dewa untuk menjauhkan tangan mungil itu darinya. Namun, perasaan tidak tega sekaligus iba lebih mendominasi. Sekarang, malah terbesit keinginan untuk memeluk Deva dengan erat sambil berbisik mengatakan bahwa dia sangat rindu dengan kebersamaan mereka sebelumnya.


"Selama ini Bapak selalu ada untuk saya. Tidak hanya sekedar memberikan dukungan dan menguatkan. Tapi juga membantu semua urusan saya tanpa pamrih. Terserah mulut Bapak mengatakan bahwa semua yang Bapak lakukan karena ingin membahagiakan Mades. Yang pasti, saya merasakan ketulusan yang sebenarnya pada diri Bapak." Deva masih setia menggenggam pergelangan tangan Dewa dengan satu tangannya.


"Ada lagi yang ingin kamu katakan?" Pertanyaan Dewa tersebut begitu datar terdengar. Terkesan angkuh dan dingin. Bahkan tanpa melirik Deva sedikit pun.

__ADS_1


"Banyak. Apa Bapak mau mendengar? Jangan dijawab. Mau tidak mau, dengarkan saja apa yang ingin saya katakan." Deva menarik tangan Dewa. Mengajak pria tersebut menepi ke belakang sebuah mobil agar tidak menjadi pusat perhatian orang yang sedang berlalu lalang.


Dewa pun mengikuti saja kemauan Deva. Baru kali ini dia melihat sisi lain seorang Deva. Ketegasannya perempuan tersebut tidak pernah diragukan. Tetapi sikap memaksa seperti ini, tidak pernah ditunjukkan sebelumnya.


"Apa artinya kebersamaan kita selama ini, Pak? Bapak menjauh karena tidak ingin dikasihani, bukan? Kenapa sampai bisa berpikir serendah itu? Di mana Dewa yang angkuh dan sombong? Di mana Dewa yang rasa percaya dirinya setinggi langit? Atau memang beginikah aslinya seorang Dewa?" Suara Deva semakin meninggi dan bergetar. Dia menanggalkan kata Pak untuk memberikan penegasan betapa kecewanya Deva saat ini. Perempuan itu menghempaskan tangan Dewa yang tadi dicengkramnya dengan kekesalan yang kentara.


Dewa memberanikan diri membalas tatapan Deva yang tajam namun tersirat kesedihan. Pria tersebut perlahan memajukan badannya. Mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi mulus perempuan cantik di depannya itu. Namun, niatan itu diurungkan begitu saja ketika dia menyadari ketidakberdayaannya suatu hari nanti.


"Jika suatu saat nanti Bapak memang harus buta. Setidaknya jangan membutakan hati Bapak dengan kebencian dan pemikiran yang nantinya malah akan merugikan diri Bapak sendiri. Lihatlah lebih dalam dengan segenap rasa cinta yang Bapak miliki. Semua akan terasa lebih mudah dan indah. Untuk apa menyiksa diri sendiri dengan menjauhi orang-orang yang Bapak cintai?"


Dewa tidak bisa menutupi keterkejutannya saat Deva mengucapkan kalimat tersebut. Sama sekali tidak menduga jika Deva sanggup mengatakan hal itu dengan sangat lugas. Dewa juga tidak menyangka, jika Deva sudah mengerti tentang kemungkinan matanya yang akan mengalami kebutaan nantinya.


"Dev, Aku hanya ingin menjaga perasaan kalian. Dengan terbiasa jauh, kalian tidak akan merasa sedih nantinya. Cukup Aku yang terpukul dengan keadaanku. Kalian jangan," lirih Dewa. Akhirnya mengeluarkan suaranya juga.


"Sudahi egoisnya, Pak! Cukup menyiksa diri Bapak sendiri ... jika Bapak sayang kami, biarkan kami menemani Bapak dalam kondisi apa pun. Ini bukan hanya tentang balas budi, tapi tentang arti sebuah kebersamaan yang kita namai dengan pertemanan atau persaudaraan. Saat saya dalam kondisi terpuruk, Bapak selalu ada. Tega sekali Bapak membiarkan saya menjadi teman yang kejam. Teman yang membiarkan temannya menghadapi sendiri sebuah cobaan."

__ADS_1


"Aku tidak mau kebaikan yang hanya sekedar iba, Dev. Apalagi dikasihani. Aku tidak mau." Dewa menggelengkan kepala sambil membalikkan badannya.


Paper bag yang sedari tadi ada di genggaman Deva akhirnya diletakkan di samping salah satu roda mobil begitu saja. Dengan keberanian yang dipaksakan, Deva memeluk tubuh Dewa dari belakang. Jelas saja hal itu membuat pria tersebut terperanjat. Namun, pelukan Deva terasa menghangatkan dan sanggup meruntuhkan dinding tebal yang selama ini sengaja dibangun untuk memberikan jarak di antara mereka.


Beberapa saat berlalu keduanya larut dalam suasana. Dewa memejamkan matanya begitu lekat, merasakan dekapan Deva hingga wangi tubuh perempuan tersebut merasuki jiwanya yang sempat merasakan hampa. Namun, getaran ponsel di kantong celana Dewa, membuyarkan keintiman yang terjalin tanpa rencana.


Deva pun seakan disadarkan. Perempuan tersebut buru-buru melepaskan tangannya dari pinggul Dewa. Lalu buru-buru melangkah mundur dengan sedikit salah tingkah. Sementara Dewa langsung menerima panggilan telepon tersebut untuk menutupi perasaan yang berkecamuk karena apa yang terjadi barusan. Pria tersebut sampai sedang menunjukkan keberadaannya pada sosok yang di telepon.


Dewa berbalik badan. Lalu menggeserkan badannya sedikit hingga dia berada di lorong di antara dua mobil yang terparkir. Lalu dia melambaikan tangan sembari mengakhiri sambungan teleponnya.


Deva pun ikut membalikkan badannya, sedikit tergoda untuk melihat sosok yang disapa oleh Dewa dari kejauhan. Senyum tipis mengembang dari bibirnya. Dengan gerakan cepat, dia mengambil paper bag tadi dan mengulurkannya pada Dewa.


"Maaf, sepertinya, saya tidak bisa ikut acara pisah sambut Bapak. Ini ada sesuatu untuk Bapak. Semoga Bapak suka." Deva langsung melepaskan tali paper bag sebelum Dewa menerimanya. Hingga tas itu pun terjatuh dan mengeluarkan sebagian isinya.


Dewa dengan sigap memungut beberapa bagian yang terjatuh tersebut sambil meneriaki Deva yang berjalan meninggalkannya dengan langkah seribu.

__ADS_1


"Kejar Deva, Wa," ucap suara seseorang.


__ADS_2