Sisa Rasa

Sisa Rasa
Uang perawatan untuk Dira


__ADS_3

"Kamu sudah tidak pantas lagi disebut manusia, Mas. Aku mati-matian menjaga martabatmu di depan keluargamu, juga di depan Dave. Tapi apa yang kamu lakukan? kamu masih saja tega menyakiti aku. Istri mana yang rela terus-terusan diselingkuhi? Aku diam, menutup mata dan telinga---bukan karena aku bodoh, aku malu kalau sampai Dave tahu semua masalah kita. Cukup dia menanggung dosamu." Air mata Fira luruh seketika.


"Cukup, Fira! Tutup mulutmu kalau hanya bisa mengeluh seperti ini. Sudah bagus aku tidak menceraikanmu. Dasar perempuan mandul---perempuan pembawa sial. Jika kamu merasa keberatan, silahkan kamu keluar dari rumah ini." Agas meninggalkan Fira yang bersimpuh di atas karpet dengan isakan tangis yang semakin pilu.


"Ya Allah ... ampuni dosaku selama ini. Beri aku kekuatan dan keberanian untuk melawan Mas Agas, Ya Allah Ya Robb, cukup sabarku sampai di sini saja." Fira berdoa dalam hati. Tangannya mereemas bagian dadanya yang terasa sesak.


Fira meraih ponselnya yang ada di tepian ranjang. Namun, sesaat kemudian, perempuan tersebut meletakkannya kembali di atas sana. "Tidak, aku tidak mungkin meminta pendapat atau meminta pertolongan dari Dave. Aku malu. Ibu macam apa aku ini. Aku menghancurkan anakku sendiri. Demi apa? Apa yang aku dapatkan? Hanya pengkhianatan."


***


Keesokan paginya, kesibukan sudah dimulai di kediaman Deswita. Dewa yang terlihat bugar karena sudah mendapat kerokan dari Deva dan juga diperiksa oleh dokter, tampak sudah bersiap di meja makan.


"Deva kemana, Ma?" tanya Dewa pada Deswita. Matanya mengedarkan pandang ke sekeliling. Mencari-cari sosok yang ditanyakannya.


"Loh, dia nggak pamit sama kamu? Pagi habis subuh Deva sudah berangkat. Dia bilang mau ada keperluan. Dia mau ketemu temannya dulu sebelum ke kantor."


Jawaban Deswita membuat Dewa berpikir keras. Teman sepenting apa yang membuat Deva harus menemui sepagi ini? Dugaan Dewa pun seketika mengarah pada Debora. Ingin sekali dia memastikan. Namun, sangat tidak mungkin Dewa menghubungi mantan kekasihnya itu untuk menanyakan keberadaan Deva.


"Nyil, Mama kok merasa cocok ya sama Deva. Gimana kalau dia suruh tinggal di sini saja?"


"Deva sudah mempunyai rumah, Ma. Tidak baik kita tinggal serumah sama dia. Bagaimana pun, Dewa dan Deva bukan saudara. Yang ada bakalan ada fitnah. Jangan sampai itu terjadi. Nyil nggak mau dipaksa nikah sama Pak RW gara-gara ketahuan seatap sama perawan," sahut Dewa, buru-buru.

__ADS_1


"Kamu berlebihan. Mana ada begitu. Kita nggak hidup dikampung---yang kamu bersin aja gelas tetanggamu ikut getar. Jangankan satu Deva, dua puluh Deva nginep sini mana ada tetangga tahu," timpal Deswita sedikit sewot.


"Apa pun alasannya, intinya Deva akan pindah ke rumah dia sendiri minggu depan. Nggak terlalu jauh kok. Tetep bisa curhat-curhatan, ntar Dewa yang antar jemput dia deh."


"Semangat amat, Nyil? Kamu naksir Deva?" selidik Deswita.


"Ehem ... ngaku lho, Nyil. Nggak boleh bohong. Pembohong lubang hidungnya lebar," Jason yang sedari tadi hanya diam karena sibuk menghabiskan makanan di piringnya, mulai ikut menimpali.


"Bocil tahu apa? Lap dulu ingusmu sebelum ikut obrolan orang dewasa." Dewa melempar sepotong apel ke piring Jason.


"Nyil, sudah-sudah. Kamu makan sana. Kalau kamu serius sama Deva, mama akan dukung. Kalau tidak, lebih baik jangan dekati dia. Mama tidak mau kehilangan teman seperti Deva, karena hubungan yang tidak pasti."


Dewa menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sudah dua orang yang menodongnya dengan pertanyaan yang sama. Ditambah satu lagi, dia sungguh akan berbincang serius dengan hatinya. Bisa jadi, sikapnya pada Deva memang berlebihan di mata orang lain.


Jika di rumah Dewa berdebatan yang terjadi adalah perdebatan yang diselingi dengan rasa cinta, berbeda halnya dengan yang tengah terjadi di apartemen Dave. Di mana pasangan baru itu sudah terlibat perdebatan masalah ekonomi di pagi hari.


"Dave, cukup kamu menghinaku! Uang segini, aku bisa mendapatkan sendiri dengan mudah." Dira menghempaskan dua lembar uang seratus ribuan ke atas meja makan.


"Hanya itu yang ingin aku berikan. Apa kamu lupa arti bersyukur, Dir? Dengan uang dua ratus ribu, kamu bisa makan enak tiga kali. Nanti setiap bulan aku akan memberimu uang ekstra untuk membuat muka plastikmu tetap terawat dengan baik. Aku sangat pengertian kok, Dir. Cantik di tangan dokter, tentu butuh perawatan ekstra. Aku akan memberikan uang lebih sebesar satu juta untuk perawatanmu setiap bulannya."


Mata Dira memerah, dia menyambar gelas yang ada di depannya, lalu membanting benda itu ke lantai hingga pecah menjadi puing-puing.

__ADS_1


"Apa maumu, Dave? Lebih baik kamu tidak memberiku uang sama sekali kalau mampumu hanya segini. Kamu pikir aku miskin?"


"Kamu memang miskin, Dir. Miskin hati nurani dan otak. Uang banyak tidak membuatmu menjadi berkelas dan elegan. Di mataku, uang segitu sudah cukup besar untukmu. Aku jelas bisa memberimu lebih, tapi buat apa? Kamu bukan istri pilihanku. Jangan tanya mauku. Karena mauku dari awal sudah jelas," sinis Dave.


Dira hendak meninggalkan Dave begitu saja. Namun, dengan sigap, Dave menahan lengan istrinya tersebut. "Mau kemana? Bersihkan dulu lantainya. Aku tidak suka tempat yang kotor. Sebenarnya aku tidak memintamu bersih-bersih. Tapi kamu yang berbuat---kamu juga yang harus tanggung jawab."


"Aku istrimu, Dave. Aku bukan pembantumu. Mama Papaku tidak pernah menyuruhku seperti ini," bantah Dira.


Dave menurunkan tangannya dari lengan Dira. "Dan aku bukan mama papamu. Aku pemilik apartemen ini, aku suamimu. Maka aturan yang berlaku adalah aturanku. Jika kamu keberatan, kamu tahu kan kemana harus mengadu? Komnas perlindungan perempuan atau langsung saja ke pengadilan agama sana," cibir Dave.


Dira dengan kesal menuju tempat di mana sapu dan pengki berada. Dari gerakannya saja, jelas ada rasa tidak terima yang tertahan. Dia terus mengumpati dan menyumpahi Dave dalam hati.


"Masing-masing dari kita, bertanggung jawab pada kebersihan area masing-masing. Karena aku masih menghargaimu sebagai istri, aku tidak menyuruhmu untuk mencuci pakaianku, apalagi menyiapkan makananku. Aku bisa mengurusnya sendiri. Ada tidak ada kamu, bagiku sama, Dir. Saranku, jangan terus meninggikan anganmu. Kalau kamu berharap aku bersikap seperti layaknya seorang suami, sebaiknya kamu tidur. Mimpimu mungkin jauh lebih indah dibanding kenyataan yang akan kamu hadapi saat bersamaku."


Dira menatap kepergian Dave dengan kesal. Begitu sudah yakin suaminya itu sudah jauh dari pintu apartemen. Dira kembali melampiaskan emosinya dengan membanting beberapa gelas dan piring yang ada di dapur yang terhubung langsung dengan ruang tamu sekaligus ruang tengah.


"Kamu brengsekk, Dave! Brengssek!" teriaknya bertubi-tubi.


Dering telepon Dira, membuat perempuan tersebut seketika menghentikan aksinya. Nomor telepon tidak dikenal tertera di layar ponselnya. Perempuan itu pun mengabaikan begitu saja. Namun, tidak berselang lama, benda pipih bertekhnologi tinggi tersebut kembali berdering. Dengan malas dan terpaksa, Dira pun akhirnya terpaksa menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Halo," sapa Dira, begitu ketus.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, raut wajah Dira seketika berubah. Tangannya gemetaran dengan tatapan mata nanar dan memerah menahan tangis. "Mama ...," lirihnya.


__ADS_2