Sisa Rasa

Sisa Rasa
Tutup mata part dua


__ADS_3

"Terus Aku jalannya bagaimana? Kalian yang benar saja." Dewa menoleh ke kanan kiri dengan ekspresi bingung. Baru sekali dia menginjakkan kaki di tempat ini. Dengan mata terbuka saja---jalan tanah tertutup rerumputan ini rutenya begitu membingungkan, apalagi dengan mata tertutup seperti sekarang ini.


"Di antara kami bertiga, kamu lebih percaya sama siapa?" tanya Dave.


Dewa menggelengkan kepalanya, "Tidak ada satu pun, rukun iman hanya ada lima. Tidak ada percaya pada manusia diantaranya."


"Bukan begitu, Wa. Memangnya kamu gak butuh bantuan kita untuk sampai ke tempat parkir?" dengus Dave.


Deva dan Debora saling bertukar pandang. Keduanya lalu tersenyum tipis. Seperti sedang berbagi kekuatan satu sama lain. Permainan ini memang sengaja dibuat dengan sebuah maksud. Sangat kebetulan jika yang kalah adalah Dewa. Padahal dalam rencana, Dave lah yang diharapkan kalah.


"Wa ...," panggil Dave, mengingatkan Dewa untuk segera mengambil sebuah keputusan.


"Kamu saja, Dave," putus Dewa akhirnya.


Deva dan Debora memberi kode pada Dave untuk mengajak Dewa jalan terlebih dahulu. Suasana yang makin mendekati sore malah semakin ramai membuat tidak sedikit pasang mata yang menjadikan Dave dan Dewa sebagai pusat perhatian.


Dave terus mengarahkan langkah kaki Dewa sambil menggandeng salah satu tangan pria tersebut. Beberapa kali Dewa terlihat terpelesat akibat gundukan tanah yang diinjaknya.


"Dave, Orang-orang pasti banyak yang liatin aku, kan?" Dewa bertanya sembari mengajak indera pendengarannya bekerja maksimal untuk menangkap suara-suara di sekitarnya. Meskipun mata Dewa tertutup, jelas bisa merasakan ramainya pengunjung di sana.


"Mereka hanya melihat. Adakah dari mereka yang ingin membantumu berjalan? Mereka hanya sibuk menduga-duga kenapa kamu berjalan dengan mata tertutup seperti ini."


Ucapan Dave membuat Dewa menghentikan langkahnya. Pria tersebut baru menyadari apa yang dilakukan saat ini adalah kemungkinan terburuk yang akan dia alami beberapa waktu ke depan jika kondisi matanya terus memburuk.


"Dave, biarkan aku berjalan sendiri," putus Dewa tiba-tiba.


"Ini terlalu ramai, Wa," ingat Dave.


"Kamu berjalanlah di depanku."

__ADS_1


Dave menoleh ke arah Deva seakan meminta persetujuan. Sebuah gerakan anggukan kecil sebagai pengganti jawaban, dilakukan oleh perempuan yang sangat dicintainya itu.


Dewa perlahan memulai langkahnya, seiring dengan langkah kaki Dave yang sengaja dihentak agar Dewa bisa merasakan pergerakannya. Deva dan Debora mengikuti di belakang dengan was-was. Jalanan yang saat ini mereka lalui, jelas tidak mudah untuk dilalui dengan mata tertutup. Apalagi tanpa bantuan siapa pun.


Deva mulai menyalahkan diri sendiri. Idenya kali ini, mungkin terlalu berlebihan dan tidak tepat dilakukan. Baru saja Deva ingin memalingkan wajahnya ke sisi lain karena tidak sanggup melihat Dewa, badan pria tersebut tampak sedikit terhuyung dan hampir kehilangan keseimbangannya akibat tersandung botol minuman bekas yang di buang sembarang. Dengan sigap Deva melebarkan langkahnya, kemudian dia segera membantu menopang tubuh Dewa dengan sekuat tenaga.


"Biarkan aku sendirian, Dev. Biarkan aku jatuh. Sungguh kalian sangat baik. Terimakasih sudah mengingatkan aku kalau suatu saat aku akan buta seperti ini." Dewa mengatakannya sembari menegakkan posisi tubuhnya dan menurunkan tangan Deva dari pinggulnya.


Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian karena suara Dewa yang cukup menyita perhatian dari pengunjung yang kebetulan berada di sekitar mereka.


"Mulai sekarang aku harus belajar melakukan sesuatu tanpa melihat, bukan?"


Dave mendekati Dewa begitu pun Debora. Mereka bergantian meyakinkan pria tersebut untuk tidak berputus asa. Kalau pun kemungkinan terburuk itu terjadi, ketiganya memastikan---Dewa tidak akan melalui masa-masa itu seorang diri.


"Aku tidak butuh belas kasihan kalian. Aku Dewa, meski mataku tertutup Aku bisa sampai ke tempat tujuanku tanpa kalian." Dewa kembali meneruskan jalannya dengan langkah terhuyung. Pria tersebut bahkan menabrak bahu Dave.


Deva memberikan kode pada Dave dan Debora untuk membiarkan dirinya saja yang mengikuti Dewa. Debora sendiri tidak tahan melihat reaksi pria yang sangat dicintainya itu. perempuan tersebut memilih berbalik badan, memberikan bentangan jarak yang cukup lebar agar dia tidak bisa melihat atau pun mendengar usaha Deva untuk berbicara dengan Dewa kali ini. Dave yang peka dengan keadaan. Memilih menemani Debora.


"Sayang katamu? Sayang seperti apa? Jangan terus berusaha menghiburku, Dev. Tunggu... apa sekarang semua orang sudah memperhatikan kita?" Dewa memutar lehernya ke kiri dan ke kanan, menggerakkan kepala seakan dia bisa melihat keadaan sekitar.


"Bagaimana mata mereka melihatku, Dev? Dengan tatapan mencibir, aneh atau apa?" Dewa bertanya dengan napas yang tidak beraturan karena terbawa emosi.


"Tidak penting bagaimana mereka melihat Bapak atau pun kita. Pak Dewa, maaf jika ide kami ini memang keterlaluan. Kami sama sekali tidak berniat mempermalukan Bapak di depan siapa pun. Bodoh kalau kami sampai melakukannya." Deva berjinjit agar bisa melepas ikatan syal yang menutup mata Dewa.


"Jangan dilepas, Dev. Kalian benar, sebelum aku benar-benar buta. Aku harus membiasakan diri melakukan sesuatu dengan mata tertutup." Dewa kembali menjauhkan tangan Deva dari kepalanya.


"Biar saya yang menuntun Bapak." Pantang menyerah Deva berusaha membujuk Dewa.


Dari kejauhan, Dave menatap keduanya dengan sendu. Tarikan napasnya begitu dalam. Sekeras apapun usahanya berdamai dengan keadaan, tetap saja dia tidak sanggup menyembunyikan nyeri hati ketika melihat Deva memberikan perhatian sedalam itu pada Dewa.

__ADS_1


"Apakah Deva bisa meluluhkan ego, Dewa?" tanya Debora pada Dave.


"Kita lihat saja." Dave memberikan sebuah senyuman pada Debora.


Dewa bergeming---mengabaikan beberapa orang yang melewatinya, begitu pun dengan Deva. Keduanya sejenak terdiam. Sedetik kemudian sebuah ide gila terlintas di benak Deva.


"Pak Dewa tidak mau dikasihani, bukan? Kalau begitu bagaimana kalau kita melakukan kerjasama yang saling menguntungkan." Deva mengatakannya dengan suara yang dibuat seceria mungkin.


"Hemmm...." Dewa memberikan respon yang susah untuk diartikan oleh Deva.


"Gendong saya dan saya akan menjadi petunjuk arah untuk langkah Bapak."


Permintaan Deva membuat Dewa menelan ludahnya dengan susah payah. Berjalan sendiri saja kemungkinan untuk tertabrak, jatuh dan tersandung sangat besar, apalagi jika ditambah beban di punggungnya. Belum lagi nanti kalau debaran-debaran kencang datang tidak terduga---begitu dia dan Deva berdekatan secara intens.


"Bagaimana, Pak? Ini saling menguntungkan. Tidak ada rasa kasihan untuk bapak sama sekali," tantang Deva.


"Kalau jatuh bagaimana?" Dewa bertanya dengan polosnya.


"Kita akan sakit dan bangun bersama."


Jawaban Deva yang singkat namun sangat bermakna membuat Dewa semakin salah tingkah. Namun, beberapa saat kemudian pria tersebut akhirnya mengangguk setuju. Deva langsung mengangkat jempolnya ke atas sambil melemparkan senyuman pada Dave. Pertanda semua sudah berada di bawah kendalinya.


"Dave, kenapa aku merasa tatapan Deva ke Dewa bukanlah tatapan cinta sebagai lawan jenis, ya," Debora memicingkan kedua matanya.


❤❤❤❤❤❤


Dear Readers, Sisa Rasa hanya menyisakan 1 episode lagi ya. Terimakasih atas dukungannya selama ini.


Jangan lupa mampir dan dukung karya terbaru Devi yang berjudul "Bukan Surrogate Mother"

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2