
Meski sedikit ragu, Deswita memberanikan diri mengambil selembar kertas yang ada di tumpukan teratas. Perempuan tersebut, membaca dengan pelan-pelan. Kening Deswita tampak berkerut, sama sekali dia tidak mengerti dengan data yang ditampilkan kertas yang ada di depannya saat ini. Di mata Deswita, itu hanya sebuah bagan alur uang masuk dan keluar sebuah perusahaan. Namun, tidak bagi Deva. Jelas di sana, aliran uang itu memang tidak sepeser pun mengalir untuk sang papa.
"Dev, ada apa? Siapa mereka yang kamu maksud?" Deswita akhirnya memberanikan diri kembali untuk bertanya.
"Orang-orang yang menghancurkan keluarga Deva, Mades. Tidak ada kata maaf dan damai untuk mereka. Deva bersumpah, tidak akan berhenti mengejar keadilan sampai mereka mendapatkan hukuman yang setimpal." Suara Deva bergetar hebat saat mengatakannya. Diiringi isak dan kemarahan yang teramat kentara.
"Jangan penuhi hatimu dengan sakit hati. Ada hal yang harus kita perjuangkan, tapi harus tetap mengabaikan kebencian. Jangan kotori hatimu yang baik ini dengan penyakit hati. Mereka yang berbuat jahat padamu, menanti kelemahanmu. Hati yang marah, mudah sekali membuka celah. Kemarahan tidak menghadirkan kekuatan."
Deswita berjongkok untuk menyamakan posisi badannya dengan Deva. Perempuan itu lalu merengkuh pundak sosok yang diharapkan menjadi menantunya itu ke dalam pelukannya. "Apa pun yang menimpamu, kamu tidak sendirian, Dev. Kami ada di sini. Mades sudah menganggapmu seperti anak Mades sendiri."
Deva hanya mengangguk lemah. Perempuan tersebut membalas pelukan Deswita lebih erat. Tiba-tiba, Deva teringat akan pesan Dewa.
"Mades, Pak Dewa sudah berangkat lagi ke Singapura. Maaf, saya lupa menyampaikan." Deva menengadahkan wajahnya agar bisa beradu tatapan dengan Deswita.
"Syukurlah ... Tadinya Mades khawatir kalian bertengkar. Karena tadi kalian bersama. Tapi pulangnya kamu malah sama suaminya Dira."
Deva kemudian dengan jujur menceritakan mengapa dia bisa bersama Dave. Tentu saja dengan menghilangkan dengan bagian dengan kejadian yang berhubungan dengan Dewa. Deswita pun dapat memahami, kini perempuan tersebut juga mencemaskan keselamatan Deva. Dia pun tidak mengijinkan Deva menempati rumah yang baru dibeli sendirian. Kedua perempuan itu saling berpelukan hingga tanpa sadar, Deva tertidur pulas dalam dekapan Deswita.
"Kasihan kamu, Dev. Kamu anak yang sangat baik. Kehidupan mempermainkanmu begitu kejam. Kamu kuat, perjalanan memperoleh keadilan baru akan dimulai." Deswita perlahan melonggarkan pelukannya. Lalu menyandarkan Deva di tepian ranjang. Dia lalu berdiri meminta bantuan asisten rumah tangganya untuk memindahkan tubuh sosok yang diharapkan bisa menjadi menantunya itu di atas ranjang.
__ADS_1
*****
Menjelang subuh, Deva mengendap-endap masuk ke dalam kamar Dewa. Dia ingin mengambil pakaian ganti yang diminta oleh atasannya tersebut. Pagi sebelum berangkat ke kantor, dia ingin menemui Dewa ke kantor polisi terlebih dahulu. Bagaimana pun, yang menimpa Dewa saat ini tidak lain karena ulah orang yang ingin mencelakainya.
Setelah mendapatkan semua barang yang diminta oleh Dewa, Deva pun segera kembali ke kamarnya. Untung saja Deswita atau Jason serta penghuni rumah lainnya tidak ada yang melihatnya keluar dari kamar Dewa.
Pagi ini, Deva melakukan persiapan dengan begitu cepat. Dia ingin berangkat sepagi mungkin. Membawakan makan pagi untuk Dewa adalah prioritasnya kali ini. Deva berangkat menuju kantor kepolisian mengendarai mobil Hummer milik sang atasan yang menjadi mobil kesayangan Dewa kedua yang diperjakai oleh Deva. Tentu saja hal itu bukan atas kemauan Deva sendiri, melainkan atas perintah Dewa.
Sesampainya di kantor polisi, Deva harus menunggu sekitar dua puluh menitan lagi agar bisa bertemu dengan Dewa. Membunuh kejenuhan, Deva memilih untuk membaca dan mempelajari langkah hukum yang akan dia lakukan ke depan untuk mendapatkan keadilan untuk sang papa.
"Kenapa sepagi ini?" Suara yang sangat Deva kenal, mengejutkannya dari arah belakang.
"Kamu sendiri?" Dewa bertanya sambil menerima dan membuka tutup bowl tersebut.
"Saya sudah. Bapak makan saja. Apa Bapak akan lama berada di sini? Adakah yang bisa saya lakukan agar Bapak bisa keluar lebih cepat?"
Sesaat Dewa dan Deva saling beradu pandang. Kekhawatiran yang ditampakkan dengan jelas oleh Deva, sungguh membuat hati Dewa merasa hangat.
"Aku baik-baik saja, Dev. Aku janji akan segera keluar dari sini. Aku janji akan menemanimu maju mencari kebenaran."
__ADS_1
"Jangan lama-lama, Pak. Saya takut Bapak juga tidak mendapatkan keadilan di sini." Mata Deva mulai berkaca-kaca.
"Hei ... Kenapa sedih? Aku tidak mengapa, Dev. Aku tidak bodoh, sudah kuperhitungkan semuanya." Dewa ragu-ragu mengacak rambut Deva yang hanya berjarak meja selebar setengah meter darinya.
"Saya takut, Pak. Kebenaran dan keadilan bisa dibeli oleh mereka yang culas. Bapak ingat papa saya, kan? Saya tidak mau Bapak mengalami hal yang sama. Apalagi semua ini karena saya." Deva buru-buru memalingkan wajah ke sisi lain. Dia tidak ingin Dewa sampai tahu---bulir bening sudah membasahi pipinya.
"Aku pastikan tidak, Dev. Kamu tenang. Kamu percayakan semua sama aku. Aku hanya minta satu hal. Nanti kamu ambilkan hasil general check up ku ke rumah sakit. Aku berikan dompetku pada kamu, jika nanti mereka membutuhkan kartu identitas asliku. Di sini aku tidak butuh apa-apa. Aku percaya sama kamu ... Kamu pun harus percaya aku." Dewa akhirnya menyuapkan bubur yang mulai hilang kehangatan ke dalam mulutnya. Sedari tadi, suapannya terhalang obrolan bersama Deva.
Tidak sampai bubur yang disantap Dewa habis, Deva memutuskan untuk meninggalkan tempat. Berkali-kali kata hati-hati diucapkan oleh Dewa. Meski di luar sana sudah ada yang menjaga Deva, tetap saja hati Dewa tidaklah tenang.
Hingga detik demi berlalu, dengan berbagai cara, tidak membutuhkan waktu lama, tim pengacara Dewa, berhasil mendapatkan bukti-bukti yang diinginkan oleh Dewa. Rupanya, lawan belum sempat membersihkan jejak kejahatan mereka sama sekali.
Tepat pukul tiga sore, pengacara Dewa yang bernama Desta, menemui kliennya tersebut dengan penuh kepercayaan diri.
"Apa kamu masih ingin menginap di sini, Wa? Jadi penasaran aku, perempuan mana yang berhasil membuatmu semakin tidak waras," ledek Desta, yang memang hanya berumur tiga tahun di atas Dewa.
"Nggak ada. Jangan sampai kamu tahu. Bisa-bisa kamu embat juga. Sudah jangan bahas itu. Jadi bagaimana? Benar kan dugaanku? Siapa yang menyuruh mereka?" cecar Dewa kembali pada mode serius.
Desta tersenyum tipis. "Aku bener-bener penasaran siapa perempuan yang kamu bela, Wa. Rupanya, yang mengincar ingin menyelakai dia. Tidak hanya satu orang. Tapi dua. Yang mengikuti, dan yang berniat menyelakai perempuanmu, adalah dua orang yang berbeda," jelas Desta.
__ADS_1
"Siapa mereka?"