
"Kenapa harus sekarang? Jangan Dev, aku yakin jawabanmu masih dipengaruhi emosi. Tidak mengapa aku ditolak, asal keputusanmu itu sudah matang. Aku masih sabar menunggu. Sungguh, aku tidak berharap dijawab saat ini juga. Apalagi dengan kondisi setelah kamu bertemu Dave."
Deva menarik napas dalam sambil memejamkan matanya. Suara Dewa yang terngiang di telinga. Namun, wajah Dave yang yang terlintas di benaknya. Dia pun kembali ragu dan perlahan menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Pak Dewa orang yang baik, dia tidak pantas ku perlakukan sesukaku," batinnya.
"Saat ini, jelas aku bisa menebak apa kemungkinan dari jawabanmu, Dev. Jika kamu menolakku, itu karena dihatimu masih ada Dave seutuhnya. Dan jika pun kamu menerimaku, itu hanya karena kamu ingin sekedar mencoba-coba menantang perasaanmu sendiri untuk belajar melupakan Dave dan menggantikannya denganku."
Deva semakin tidak bisa berkata-kata, apa yang dikatakan Dewa tidak sepenuhnya salah. Tidak dipungkiri, Deva sedang dalam kondisi emosional setelah bertemu dengan Dave dan menyadari hubungan antara dia dan sang mantan yang masih terkasih adalah sebuah ketidakmungkinan. Ketika hanya hati yang menuntut untuk menetap, tetapi logika sudah mendesaknya untuk segera beranjak. Yang terjadi hanyalah dilema. Lantas, apakah tidak mengambil keputusan apapun untuk saat ini adalah keputusan yang tepat?
Pada akhirnya, Deva tidak jadi memberikan jawaban pada Dewa. Sejak hari itu, keduanya hanya bertemu ketika berada di kantor. Beberapa kali Deva datang ke rumah Deswita, tidak lagi ditemui oleh Dewa. Bisa dikatakan, pria tersebut jadi menjaga jarak antara dirinya dan Deva. Hal itu, tentu saja membuat Deva menjadi mencari alasan atau pun kesalahan yang mungkin dia lakukan dan membuat Dewa bersikap demikian.
Bahkan pada sidang keputusan peninjauan kembali kasus Amar hari ini, Dewa tidak datang. Hanya Desta yang mendampingi Deva. Pria tersebut pura-pura menyibukkan diri dengan pekerjaan. Hasil sidang yang seharusnya dirayakan penuh suka cita oleh Deva karena pada akhirnya Amar dinyatakan tidak bersalah dan akan dilakukan rehabilitasi atas nama baik yang sudah terlanjur tercemar, serasa ada yang kurang.
"Selamat ya, Dev. Orang tuamu pasti tersenyum bangga melihatmu berjuang sejauh ini. Dan yang paling luar biasa lagi, kamu berhasil memperjuangkan keadilan untuk papamu." Desta mengulurkan tangannya pada Deva.
__ADS_1
"Terimakasih, Bang." Deva membalas uluran tangan Desta dengan tidak semangat.
"Dasar perempuan perebut! Kemarin kamu merebut Dave, sekarang kamu merebut kebebasan papaku!" sesosok perempuan yang baru saja keluar dari ruang sidang yang bersebelahan dengan ruang sidang di mana pengadilan PK Amar digelar, berteriak lantang penuh kebencian sambil menunjuk ke arah Deva.
Menyadari siapa yang sedang berjalan mendekatinya dengan mulut yang tidak henti mengumpat kasar, Deva meningkatkan kewaspadaannya. Paham betul kegilaan Dira, dia hanya berharap, perempuan itu tidak berbuat nekat yang berlebihan. Meskipun kondisi sekitar sedang tidak terlalu ramai, tetap saja menghadapi kegilaan Dira akan memalukan bagi siapa pun yang terlibat.
"Hidupmu tidak mungkin sesempurna ini, Dev. Apa yang kamu lakukan hingga pengadilan bisa kamu beli seperti ini. Sudah berapa hakim dan Jaksa penuntut yang kamu tiduri untuk memenangkan kasus papamu." Tudingan Dira semakin menjadi.
Desta ingin pasang badan di depan Deva, tetapi dengan sigap Deva menahan pergelangan tangan Desta agar tetap berdiri pada tempatnya. Seperti biasa, perempuan tersebut selalu berkeyakinan bisa menghadapi Dira sendirian.
"Tunjukkan wajahmu yang sebenarnya, Dev. Tidak perlu memakai topeng lagi. Kamu antagonis yang sesungguhnya. Kamu tidak hanya menghancurkan kehidupan rumah tangga ku dengan Dave. Kamu menghancurkan keutuhan keluarga Dave dan juga keluargaku. Kasihan sekali kamu. Apa yang kamu perjuangkan dan lakukan ini, hanya untuk bangkai-bangkai yang sudah terkubur tanah. Bahkan bangkai itu jelas sudah dikerubuti belatung."
Sebuah tamparan keras seketika melayang ke pipi kanan Dira. Habis sudah kesabaran Deva. Ketika orangtuanya sudah diusik dengan kata-kata yang tidak pantas, tentu dia tidak akan berdiam diri begitu saja.
__ADS_1
"Kamu boleh mengatakan hal buruk tentang aku. Tapi jangan sentuh orangtuaku. Jangankan mereka. Kita pun juga calon bangkai, Dir. Setidaknya, mereka bangkai-bangkai yang selama hidupnya tidak menyakiti orang lain. Setidaknya mereka menjadi bangkai setelah nyawa memang sudah tidak di badan. Sementara kamu? nyawa masih melekat, tapi aroma bangkai mulai sudah tercium busuk." Deva tersenyum sinis di ujung kalimatnya.
"Aku akan membuat keadaan berbalik, Dev. Kamu lihat saja nanti." Dira mengusap lembut pipinya yang memerah dan terasa panas akibat tamparan Deva.
"Berhenti mengancamku, Dir. Simpan energimu untuk menghadapi hidupmu yang tidak akan lagi mudah setelah ini. Jangan lupa, setelah papaku di vonis bersalah, semua aset kami habis disita. Hal yang sama, pasti juga akan terjadi padamu. Siapkan hati dan jaga kewarasanmu. Mamamu masih lumpuh, kan? Jangan sampai kamu gila, karena tidak tahan hidup menjadi gelandangan." Lagi-lagi Deva berseringai sinis.
"Tidak akan terjadi, Dev. Papaku tidak terlahir dari keluarga gembel sepertimu. Ingat, Kak Dewa dan aku adalah saudara sepupuan. Hidupku, tidak akan sesusah itu." Dira masih berusaha mempertahankan keangkuhannya.
"Minta tolong orang kok bangga. Gak mampu ya berdiri dengan kaki sendiri. Ups, lupa ... sekali benalu, sampai kapan pun ya benalu. Tidak akan mungkin sanggup hidup tanpa bantuan orang lain." Deva mengakhiri perdebatan dengan mengajak Desta meninggalkan Dira. Beberapa orang yang sedari tadi melihat apa yang terjadi sambil berbisik-bisik seketika juga ikut membubarkan diri. Meninggalkan Dira yang menghentakkan kaki dan meremas rambutnya sendiri dengan kesal.
Hari ini memang ada tiga persidangan yang dilakukan secara bersamaan. Sidang putusan PK kasus Amar sendiri, Sidang vonis Rudi dan juga sidang vonis Dermawan. Untuk Agas, sidang vonis baru akan digelar seminggu lagi, dikarenakan alasan kondisi kesehatan Agas yang sedang menurun.
Saat Deva dan Desta melewati di mana ruang sidang Dermawan digelar. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan dibuka lebar karena rupanya, sidang putusan sudah usai. Keduanya berhenti sejenak, membiarkan petugas yang mendampingi Dermawan yang sudah mengenakan baju orange dan dengan tangan diborgol, berjalan terlebih dahulu. Hingga sosok yang keluar terakhir kali bersama Debora dan Widya membuat Deva harus memundurkan langkahnya dua kali.
__ADS_1
Deva reflek meraba dadanya sendiri. Merasakan debaran jantungnya yang berdetak lebih cepat daripada biasanya. Entah kecewa ataukah cemburu yang kini dirasakan oleh Deva.
"Aku duluan, Bang ...." Deva bergegas berlari meninggalkan Desta yang juga ikut merasakan keheranan seperti yang Deva rasakan.