Sisa Rasa

Sisa Rasa
Beda kelas


__ADS_3

Dengan berbagai pertimbangan dan didorong rasa tidak enak karena merasa terlalu sering menolak atasannya, Deva dengan sedikit terpaksa, menerima tawaran Dewa untuk mengantarnya pulang.


Karena tidak ingin terlalu di buru waktu, setelah jam makan siang, keduanya langsung menuju rumah Deva. Dewa sengaja tidak meminta driver kantor untuk mengantar mereka. Entah mengapa, dia malah meminta Deva yang mengendarai mobil dinasnya. Ya, mobil dinas---bukan mobil perjaka kesayangan. Membuat Deva sibuk adalah tujuan jahat yang terlintas dipikirannya mulai tadi pagi.


Tiba di depan gang---jalan menuju rumah kontrakannya, Deva menghentikan mobil Camry hitam yang berjalan di bawah kendalinya.


"Ini rumah kamu?" Dewa menunjuk rumah pertama di sisi kanan dari mobilnya dihentikan.


"Bukan, Pak. Saya turun di sini saja. Sekalian membakar kalori karena siang ini, saya sudah makan begitu banyak lemak." kilah Deva. Padahal dia hanya tidak ingin Dewa mengetahui letak persis kontrakannya.


Dewa tidak ingin mempermasalahkan alasan Deva. Setidaknya, kali ini asisten pribadinya itu menjawab dengan nada yang pantas. Tidak ketus seperti sebelum-sebelumnya.


Deva bergegas turun tanpa membawa tas atau ponselnya. Dia berjalan dengan langkah kaki yang sangat cepat. Masih berada di jangkauan mata Dewa, perempuan itu berbelok ke arah kiri, memasuki sebuah gang yang menembus gang rumah kontrakan Deva yang sebenarnya.


Suara dering telepon seluler bernada standart ponsel bermerk buah yang sudah digigit, mengusik perhatian Dewa. Nama yang terbaca dari layar ponsel, seketika membuat Dewa tersenyum licik. Pria itu dengan sengaja menerima panggilan tersebut.


"Halo..., " sapa Dewa.


Si penelepon di seberang cukup terkejut mendengar yang menerima panggilannya adalah seorang laki-laki. Bahkan penelepon yang tidak lain tidak bukan adalah Dave seketika melihat layar ponselnya, khawatir dialah yang salah menekan nomor telepon. Namun rupanya tidak ada kesalahan di sana, yang salah adalah yang menerima telepon tersebut.


"Kamu pasti bingung, kenapa yang menerima telepon bukan Deva. Dia sedang repot menyiapkan bajunya di kamar. Kami akan liburan ke Bali. Follow akun Dewa Danendra jika ingin melihat kemesraan kami sepanjang menghabiskan akhir pekan. Kamu laki-laki yang sering bersama dengan calon tunanganku, bukan? Abang Calon Imam yang gagal?" Dewa meledek Dave dengan menyebut nama kontak yang diberikan Deva untuk menyimpan nomor Dave. Entah mengapa, Dewa sangat yakin, si penelepon adalah laki-laki yang selalu membuatnya kesal disetiap pertemuan mereka.

__ADS_1


Sambungan telepon seketika terputus, Dewa tersenyum penuh kemenangan. "Mampusss! Salah sendiri songong. Permainan baru saja dimulai. Kalau Deva nggak bisa mutusin kamu, biarlah kamu yang mutusin Deva. Salah paham dan cemburu, pasti akan semakin memperumit hubungan. Satu tepukan, dua nyamuk mati kutu."


Lagi dan lagi, Dewa menarik kesimpulan dari apa yang terlintas di pikirannya sendiri. Dengan senyuman licik, Dewa menghapus riwayat panggilan masuk dari si Abang Calon Imam.


Hampir sepuluh menit berlalu, Deva belum juga muncul. Dewa akhirnya berpindah tempat ke belakang kemudi. Ingin tega, tapi rasanya aneh, duduk diam sementara seorang perempuan malah yang mengemudikan mobil. Dia akan mencari cara lain, agar bisa mengerjai Deva sepanjang akhir pekan ini.


Dewa pura-pura menyibukkan diri, begitu melihat dari kejauhan Deva menyeret koper dengan sudah berganti pakaian. Celana jeans, dan kaos pres body putih yang dipadankan dengan outer bercorak batik kalimantan berwarna biru, sungguh sangat cocok di tubuh Deva.


"Cakep sih ... coba ramahnya kayak Sashi, kan nggak sungkan tangan ini menjamah. Kalau kayak macan betina begitu. Boro-boro megang pundak, ngomong sedikit saja langsung diterkam," batin Dewa, sembari turun untuk membukakan bagasi untuk Deva.


"Aku saja nggak ganti baju, kamu ngapain ganti baju coba?" protes Dewa.


"Pilihan masing-masing, Pak. Bapak juga bisa ganti baju dulu. Di kamar mandi bandara, atau di kamar mandi pom bensin." Deva menjawab dengan santainya.


Keduanya lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju bandara. Dewa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, beberapa kali bahkan sengaja menginjak rem secara mendadak. Berusaha memancing suara Deva yang sedari tadi tidak terdengar. Bibir perempuan tersebut merapat sempurna, dengan dua jempol lincah bergerak di atas keyboard ponsel. Deva sedang berbalas pesan dengan Ali yang kebetulan sedang melihat kondisi Amar.


"Auw..., " jerit Dewa, tiba-tiba.


"Kenapa, Pak? Apa Bapak menabrak sesuatu?" Deva seketika teralihkan perhatiannya pada Dewa. Pria itu nampak tidak nyaman dengan duduknya.


"Dev, kayaknya ada semut di punggungku," keluh Dewa, badannya terus mengeliat seperti orang yang memang sedang dilanda gatal yang luar biasa. Sementara matanya masih konsentrasi pada jalanan.

__ADS_1


Deva membelalakkan bola matanya. Bingung sekaligus heran. "Terus? Mau diapain, Pak?"


"Astaga, Deva. Ya bantuin keluarin lah. Kamu nggak lihat apa aku sedang nyetir. Kamu tuh pinter, tapi lemot. Nggak peka. Kurang banget jiwa menolongnya," dengus Dewa sambil menggesekkan punggung ke sandaran jok yang didudukinya.


"Maksud bapak? Ngilangin semut di punggung Bapak? Dengan senang hati Pak, tapi Bapak majuan dikit, jangan sandaran."


Dewa tersenyum dalam hati. Tidak menyangka Deva dengan mudah bisa masuk ke perangkapnya. Namun di luar dugaan, bukannya mengusap atau mengelus punggung Dewa dengan santai. Deva menepuk-nepuk bagian tersebut dengan keras.


"Dev... cukup Dev! Nggak hanya semut yang rontok, jantungku juga bisa rontok kalau begini caranya."


Dewa kembali berdecih. Sepertinya modus-modus umum, tidak akan berhasil digunakan untuk membuat Deva menyadari siapa dirinya.


Tidak berapa lama, Dewa dan Deva sudah sampai di bandara. Dewa memarkirkan kendaraannya di tempat yang dikiranya aman untuk ditinggal di sana selama dirinya berada di Bali.


Dengan menuntun koper masing-masing, Deva dan Dewa berjalan santai menuju pintu keberangkatan domestik. Langkah keduanya sejajar. Saat menuju tempat check in, Dewa baru menyadari, jika tiketnya dan tiket Deva berbeda kelas.


"Kok bisa begini sih?" Dewa masih melihat tiket elektronik di layar ponsel dengan raut wajah yang sangat kesal.


"Memang seperti ini, Pak. Itu sudah standar operasional perusahaan kita, untuk level Ceo ke atas, setiap perjalanan selalu menggunakan first class, level direktur tiap divisi---mendapatkan fasilitas business class, sedangkan level yang lain tentu saja economi class," terang Deva dengan santai.


Dewa mengumpat kesal dalam hati. Sudah tidak mungkin lagi menukar tiiket miliknya, atau tiket pun Deva. Dengan terpaksa, Dewa menerima kondisi tersebut.

__ADS_1


Deva segera mengantri di loket check in ekonomi, sedangkan Dewa, tentu saja melakukan check in melalui ponselnya. Pria itu memilih duduk tidak jauh dari tempat Deva berdiri.


"Dewa...," panggil seorang perempuan sembari melambaikan tangan ke arah orang yang dipanggilnya.


__ADS_2