Sisa Rasa

Sisa Rasa
Mengajak Dewa berbicara


__ADS_3

"Bang ...." Deva menggeser duduknya lebih dekat dengan Desta. Memberi ruang pada Dave untuk duduk di bangku kosong sebelahnya.


Pria tersebut pun menjatuhkan bokongnya di samping Deva berada. Tatapannya lurus ke depan, di deretan meja yang ditata sedemikian rupa sebagai tempat hakim, pembela, dan Jaksa penuntut umum nantinya berada.


"Keadilan datangnya mungkin terlambat bagimu, Bee. Tidak ada hukuman yang setimpal untuk mereka yang sudah menghancurkan keluargamu. Sekali lagi, aku minta maaf tidak bisa membantumu lebih awal mengungkap semuanya. Aku malu, Bee."


Deva menoleh ke arah Dave dan menatap wajah pria tersebut dengan lembut. "Semua sudah dirancang dan digariskan oleh Allah, Bang. Kita manusia sekedar menjalani. Suka tidak suka, ikhlas tidak ikhlas. Kita harus terima. Cukup berprasangka baik. Tidak ada satu hal pun terjadi, tanpa campur tangan Allah."


Bersamaan dengan ujung kalimat yang diucapkan oleh Deva, Hakim dan petugas lain memasuki ruangan sidang. Disusul kemudian oleh Agas yang berjalan diapit oleh dua orang aparat. Beberapa saat kemudian, sidang pun dimulai. Suasana mendadak tegang. Raut wajah Fira jelas menunjukkan keputusasaan yang nyata.


Inilah puncak dari perjuangan yang dilakukan oleh Deva. Putusan yang sama sekali tidak ringan, diberikan hakim kepada Agas. Lima belas tahun penjara, penyitaan beberapa aset, dan juga denda sebesar lima milyar rupiah. Seketika membuat Agas berteriak tidak terima. Pria tersebut mengucapkan sumpah serapah yang ditujukan untuk hakim dan Jaksa penuntut.


Ruangan pun menjadi tidak kondusif dan gaduh. Beberapa orang yang sengaja datang menyaksikan sidang yang digelar untuk umum tersebut meneriaki Agas dengan kata-kata yang tidak kalah telak.


"Sekali maling tetap maling. Hukuman mati yang pantas," teriak salah seorang pengunjung yang pernah menjadi bawahan Amar.

__ADS_1


"Kurang tuh hukumannya. Makan bangkai sendiri kalau perlu," timpal pengunjung yang lain yang juga mantan karyawan Amar.


Fira pun pingsan. Dave segera melarikan mamanya ke luar ruangan dibantu oleh Desta dan juga Deva. Namun, hanya sampai ke mobil Dave. Setelah itu, Deva memutuskan untuk pergi ke tempat lain sendirian. Juga tanpa mau ditemani Desta. Hari ini, Deva sengaja mengambil cuti kerja. Padahal dia tahu, malam nanti ada acara pisah sambut untuk pergantian kepemimpinan dari Dewa ke Tino kembali.


Mengabaikan sinar mentari yang sedang terik-teriknya, Deva melangkahkan kaki dengan santai menapaki tanah kering yang kiri kanannya banyak ditumbuhi rumput liar. Sebuah pemakaman yang tentu saja sama sekali bukan pemakaman mewah. Begitu sederhana. Bahkan sebagian besar nisan tidak dibangun megah dengan keramik apalagi marmer mahal. Hanya rumput hijau yang dirapikan rata menutupi gundukan sepanjang liang jenazah.


"Asalamualaikum, Ma ... Pa ...." Deva perlahan duduk bersimpuh di antara pusara Shinta dan Amar tanpa menggunakan alas apa pun.


"Deva sudah mengembalikan nama baik papa. Deva yakin, meskipun kenyataan sungguh di luar dugaan kita, Deva yakin, sudah tidak ada tempat untuk dendam di hati mama dan papa. Deva akan mengusahakan hal yang sama." Deva mengusap batu nisan bertuliskan nama papa dan mamanya secara bergantian.


"Deva tidak tahu ke depannya harus bagaimana. Dulu, papa sering menasehati Deva, bahwa hidup semestinya punya sebuah tujuan. Biar kita tau kemana arah kaki melangkah. Sekarang, Deva benar-benar tidak tahu, Pa ... Ma ... Yang Deva ingat, Deva harus tetap berbuat baik. Karena hanya kebaikan Deva yang bisa membuat papa dan mama bangga." Lagi-lagi Deva mengusap nisan kedua orangtuanya, kali ini dia membiarkan tangannya mengusap lebih lama pada nisan sang mama.


"Dave, lakukan sesuatu untuk papamu. Bagaimana bisa papamu selama itu di penjara. Ini sama sekali tidak adil. Harusnya, hukuman Rudi yang lebih lama," keluh Fira dengan suara yang sangat lemah.


"Ma, keadilan macam apa lagi yang mama inginkan? Tidakkah hukuman ini masih sangat ringan bagi kita? Pak Amar, Bu Shinta, dan Deva, keadaannya tidak lebih baik dari kita sekarang, Ma. Malu kalau mama mengeluh. Ini adalah akibat yang memang harus kita hadapi. Apa kabar dengan Pak Amar? Di penjara untuk sesuatu yang bukan salahnya. Dan mama masih mengeluh ini tidak adil? Nasib baik mama tidak ikut terseret kasus ini. Karena sedikit banyak, mama sudah ikut menyembunyikan kebenaran," tegas Dave.

__ADS_1


Tatapan Fira semakin kosong. Di usia mereka yang seharusnya sudah hidup dengan tenang. Kini malah berakhir berantakan. Habis semua yang dipunya tanpa sisa.


"Buat apa mama hidup, Dave? Tidak ada artinya lagi. Mama pengen mati saja."


Dave menarik garis senyuman sinis. "Apa yang ingin mama sudahi? Urusan mama di dunia? Atau rasa malu mama? Ucapan mama, menunjukkan betapa mama tidak percaya akan keberadaan dan kuasa Tuhan. Semua yang kita alami saat ini, jelas ada campur tangannya, Ma. Maaf... bukan Dave menggurui. Sudah waktunya mama membiasakan diri melibatkan Tuhan dalam segala urusan."


Fira seketika melemparkan tatapan tajam kepada Dave. "Tuhan? Kalau DIA memang ada, kenapa DIA membiarkan semua kesalahan dan kejahatan di bumi ini terjadi? Tuhan itu tidak ada Dave. Kita yang mengatur sendiri hidup kita."


"Karena manusia bukan malaikat yang diciptakan tanpa nafsu. Malaikat memang ditakdirkan untuk selalu taat kepadaNya. Manusia diciptakan dengan akal pikiran dan juga hati nurani. Untuk berpikir serta merasakan sendiri baik buruknya sesuatu. Tuhan ada, IA tidak pernah menjauh sekali pun kita acuh. Sudahi meratapnya, Ma. Ini bukan akhir dunia. Bersyukur kita masih diberikan waktu jeda untuk memperbaiki semua kesalahan." Dave lalu memilih meninggalkan Fira di dalam ruangan sendirian.


***


Beberapa jam berlalu, Deva sudah berada di dalam resto di mana akan diadakan acara pisah sambut atau farewell party di perusahaannya. Meski cuti, malam ini Deva menyempatkan untuk tetap menghadiri acara tersebut. Hal itu dilakukan tidak lain tidak bukan karena dia ingin mencari kesempatan untuk bisa menemui Dewa dan mengajak pria yang terus menghindarinya itu bicara empat mata.


Sebuah cinderamata dan beberapa hal lain Deva siapkan di dalam paper bag berwarna hitam untuk diberikan kepada Dewa. Mengetahui pria tersebut belum datang, dia pun memilih menunggu di sekitaran area parkir.

__ADS_1


Mata Deva seketika berbinar penuh harap begitu mobil yang sangat dia kenali memasuki area parkir. Dengan tekad yang bulat, Deva menghampiri mobil yang memilih tempat parkir di sisi kanan deretan tengah bangunan resto.


"Pak Dewa," panggil Deva.


__ADS_2