Sisa Rasa

Sisa Rasa
Memilih pura-pura tidak tahu


__ADS_3

"Dev ... Deva," Deswita menghampiri Deva dengan penuh kekhawatiran.


Deva buru-buru menyeka air matanya. Dia tidak ingin sampai Deswita tahu apa yang terjadi. Meskipun sebenarnya sudah terlambat. Perempuan tersebut bangkit berdiri. Lalu memaksakan menarik kedua ujung bibirnya untuk membentuk garis senyuman.


"Mama sudah membaca ini beberapa kali. Tapi mama tidak paham. Ini benar punya Dewa, kan?" Deswita menyodorkan secarik kertas di genggamannya tadi kepada Deva.


Dengan gerakan pelan, Deva menerima kertas tersebut. Dia pun mencoba membaca dan memahami isinya. Namun, hampir delapan puluh persen tulisan yang ada di sana, Deva sama sekali tidak bisa mengerti apa maksud dan artinya. Jelas karena istilah yang digunakan adalah istilah-istilah kedokteran yang sangat asing baginya.


"Deva tidak mengerti, Mades."


"Tapi ini benar punya Unyil, kan?" Deswita kembali menegaskan untuk meyakinkan sedikit yang bisa dia pahami dari kertas itu.


"Iya, Mades. Ini hasil pemeriksaan kondisi mata Pak Dewa," lirih Deva sembari mengangguk lembut.


"Kenapa dengan mata Dewa? Dewa kenapa, Dev? Mama harus menghubungi dokter pribadi Mades. Dia pasti paham." Deswita melangkahkan kaki lebar menuju kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Dokter yang ia maksudkan.


Deva yang masih memegang kertas hasil MRI terbaru Dewa, kembali membaca perlahan tulisan di sana. Ingatannya melayang pada beberapa saat yang lalu. Ketika Dewa masih selalu mengajaknya ketika ke rumah sakit untuk periksa.


Deswita kembali ke ruangan Deva berada. Keduanya sama-sama terdiam. Sesekali, Deswita berjalan mondar mandir di depan Deva yang duduk termangu di atas sofa. Rasa cemas sekaligus penasaran, membuat mereka tidak sabar menanti kedatangan Dokter keluarga Deswita.


Akhirnya, setelah menunggu hampir satu jam, sosok yang dinantikan pun menampakkan batang hidungnya. Deswita langsung meminta Deva untuk memberikan kertas yang membuatnya penasaran tadi kepada Dokter yang bernama Rafli itu.


"Sebentar, karena saya bukan spesialis mata. Saya harus hati-hati agar tidak salah membaca hasil MRI ini." Dokter Rafli meminta waktu lebih lama untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang dialami Dewa dari hasil MRI sebulan yang lalu.


"Bagaimana, Dok? Kurang lebihnya saja," desak Deswita. Benar-benar tidak sabar.


Dokter Rafli menarik napas dalam. "Di sini dijelaskan bahwa mata Dewa mengalami Neuritis Optik."

__ADS_1


"Apa itu dok?" tanya Deva dan Deswita secara bersamaan.


"Neuritis Optik adalah gangguannya penglihatan yang disebabkan oleh adanya peradangan pada saraf mata."


"Lalu bagaimana? Apakah berbahaya?" Deswita tidak bisa lagi menutupi kekhawatirannya.


"Saya menjawab pertanyaan Bu Deswita hanya berdasarkan hasil pemeriksaan yang saya pegang ini. Selebihnya, mungkin bisa bertanya lebih detail pada Dewa atau Dokter yang memeriksa. Sejauh yang saya baca, kondisi peradangan sudah lumayan parah. Sebelumnya, sudah dilakukan terapi dan pengobatan. Tapi rupanya, tidak terlalu berpengaruh positif."


Deswita menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Bulir bening deras membasahi pipinya. Rasa sakit hati karena kemarin-kemarin merasa diabaikan oleh Dewa seketika berubah menjadi kesedihan yang teramat dalam.


"Jika peradangan itu tidak bisa berkurang, apa kemungkinan terburuknya, Dok?" Deva menegarkan diri untuk bertanya.


Deswita menatap Dokter Rafli penuh harap. Sungguh, dia hanya ingin mendengar jawaban yang menyenangkan dan bisa melegakan hatinya yang sudah luluh lantah.


"Apa yang dialami Dewa memang sangat langka. Di sini dijelaskan juga bahwa kondisi Dewa saat ini disebabkan karena dia mempunyai kelainan autoimun, yaitu suatu kondisi ketika sistem imun atau sistem kekebalan tubuh menyerang sel tubuh sendiri," jelas Dokter Rafli.


Masih ada hal yang ingin Deva tanyakan. Karena sejauh yang dijelaskan ini, dia sudah pernah mendengar sekilas-sekilas sebelumnya. Namun, melihat Deswita yang tampak sangat terpukul, membuat Deva menahan dirinya sejenak.


Deva ikut meluruhkan badannya ke lantai. Lalu dia menggenggam tangan Deswita yang terasa begitu dingin. Pertanyaan itu jugalah yang sebelumnya ingin dia tanyakan. Dia menahan diri, tetapi rupanya Deswita juga orang yang sangat teliti.


"Secara ilmu medis, Dewa lambat laun akan kehilangan penglihatannya."


Suara Dokter Rafli yang mengatakannya dengan sangat hati-hati dan lembut, tetap terdengar bagaikan petir di telinga Deva dan Deswita. Keduanya kompak menggelengkan kepala kuat-kuat.


"Dev, Dokter Rafli pasti keliru, kan? Coba kamu tanya Dokter lain. Pasti mereka jawabnya tidak sama." Deswita menyeka pipi dan matanya yang basah. Mencoba menghibur sendiri pikirannya.


Deva menyetujui pemikiran Deswita. Dia masih mencoba berpikir positif dengan menganggap Dokter Rafli salah dalam membaca hasil check up. Karena Dokter Rafli adalah dokter spesialis jantung. Padahal, mau dokter spesialis apa pun, jika sekedar membaca hasil pemeriksaan dengan bahasa kedokteran, tentulah mereka semua paham.

__ADS_1


Setelah Dokter Rafli berpamitan, Deva tanpa berpikir panjang, segera mengirim pesan pada seseorang yang tentu saja yang langsung terlintas dipikirannya saat Deswita mengatakan untuk segera bertanya pada siapa pun teman yang berprofesi Dokter.


Bukannya jawaban yang diperoleh, tapi balasan yang pertama kali diterimanya adalah pertanyaan yang menanyakan hasil check up tersebut milik siapa? Tentu saja Deva tidak menjawab dengan jujur.


Barulah pada pesan kedua dia mendapatkan penjelasan detail dari hasil tes versi orang yang sedang berbalas pesan dengannya. Jawaban yang sungguh di luar dugaan dan tidak diharapkan oleh Deva atau pun Deswita sama sekali. Karena penjelasan dari dokter yang dihubungi Deva yang tidak lain tidak bukan adalah Dave, persis dan otentik dengan penjelasan yang diberikan oleh Dokter Rafli.


"Seharusnya Unyil tidak menanggung semuanya sendirian. Dia pasti menjauhi kita karena tidak ingin membebani kita. Anak bodoh ... mana bisa begitu," sesal Deswita. Bulir bening kembali membasahi pipinya.


Deva bergeming. Rasa sesal menghampiri dirinya yang hanya sibuk menduga tetapi tidak sekali pun mencoba mencari kebenaran. Deswita benar, Dewa tidak seharusnya menghadapi sakit sendirian. Apalagi sampai memilih menjauhi orang terdekatnya.


"Untuk pertama kalinya dalam hidup, Mades akan memohon pada manusia, dan manusia itu adalah kamu, Dev. Tolong kembalikan sikap Unyil seperti kemarin-kemarin. Mades percaya kamu bisa melembutkan hatinya."


Deva merasakan genggaman tangan Deswita semakin erat di tangannya. Tatapan perempuan itu begitu sendu dan sarat akan kesedihan.


"Biarlah Unyil tetap menganggap kalau Mades tidak tau apa-apa tentang sakitnya. Mades tidak mau menghancurkan hatinya. Sebagai anak laki-laki, jelas dia sedang melindungi perasaan Mades agar tidak hancur. Jadi, biarlah Mades tetap pura-pura tidak tahu kondisi Unyil."


Deva mengangguk setuju. Sekuat tenaga perempuan itu menahan diri agar tidak ikut menitikkan bulir bening. Bibirnya juga masih terkunci rapat. Terkadang, saat orang lain berada dalam duka. Bukan kata-kata penghiburan yang dibutuhkan. Cukup diam dan mendengarkan.


"Dekati Unyil, Dev. Hibur dan pulihkan semangatnya dengan semua cara yang kamu bisa. Unyil pantang dikasihani. Lakukan apa pun, tapi lakukan dengan tulus. Mades tau, untuk mencintai Unyil, tentu kamu belum bisa. Masih banyak rasa yang lain, bukan? Mades ini mamamu, seharusnya Unyil juga bisa jadi kakakmu."


Lagi dan lagi, Deva hanya menjawab ucapan Deswita dengan sebuah anggukan kepala yang semakin lemah.


"Ya Allah, jagalah anakku ketika tanganku tidak kuasa menjangkaunya. Pulihkan semangatnya. Aku percaya engkau tidak akan menitipkan ujian tanpa sebuah jawaban di belakangnya. Berlakulah semua yang terjadi atas kami, seturut kehendakmu. Tapi kuatkan hati kami agar tetap Lillah Billah."


Deva memeluk erat Deswita. Tidak ada kesedihan yang melebihi kesedihan seorang ibu ketika melihat anaknya jatuh dalam cobaan. Seorang Ibu sanggup menutupi lukanya sendirian. Namun, tidak demikian ketika ia mendapati sang buah hati terpuruk. Deswita dan Deva saling memeluk dan menguatkan. Hingga keduanya berpisah, mata yang masih sama-sama basah menjadi saksi betapa Deswita dan Deva menaruh cinta yang besar pada sosok Dewa.


Sejak malam itu, tiada hari yang dilewati Deva tanpa usahanya untuk mendekati Dewa. Meski penolakan demi penolakan kerap kali didapatkan, Deva tidak pantang menyerah. Bayangan wajah sendu Deswita, semakin mengobarkan semangat perempuan tersebut.

__ADS_1


Hingga tujuh hari berlalu, tepat hari ini, Deva menyingkirkan sejenak urusan tentang Dewa. Sekarang, Deva sudah berada di ruang sidang di mana vonis atau putusan akhir pada Agas akan dijatuhkan. Dia tidak sendirian, ada Desta yang masih setia menemani. Di sana juga tampak keberadaan Dave dan juga Fira.


"Bee ...."


__ADS_2