Sisa Rasa

Sisa Rasa
Rencana Debora


__ADS_3

"Sudah tidak ada lagi urusan kami dengan perempuan itu. Jika kamu datang kemari hanya untuk membicarakan dia, sepertinya akan sia-sia. Silahkan keluar dan jangan ganggu kami dengan urusan yang tidak penting," ketus Dira.


Dave langsung menatap perempuan itu dengan tatapan tajam. Dia masih punya hati untuk tidak mempermalukan Dira di depan orang lain. Dave memilih menggunakan cara yang lebih halus untuk menghadapi sikap Dira yang akhir-akhir ini semakin berlebihan.


"Dia ingin bicara padaku, Dir. Bukan dengan kamu. Tidak perlu langsung bersikap seperti itu. Deva memang bukan urusanmu. Tapi dia, masih urusanku. Lagipula, bukankah hari ini kamu ada praktik? Kemarin sudah aku katakan, bukan? Aku tidak ingin dijenguk," ucap Dave. Meskipun kata-katanya sedikit pedas, namun cara menyampaikannya lumayan lembut. Nada bicaranya tidak terkesan membentak sama sekali.


"Tapi, Dave ... kamu itu tunanganku, berhentilah memikirkan mantanmu. Buang orang yang sudah menjadi bagian masa lalumu jauh-jauh," sanggah Dira dengan lantang. Dia sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan orang lain di sana.


"Semakin sering kamu mengingatkanku akan posisimu, semakin menegaskan betapa kamu tidak ada di pikiranku sama sekali. Orang yang katamu lebih baik dibuang, nyatanya lebih pantas untuk aku kagumi. Tolong keluar, Dir. Aku akan menemuimu setelah keluar dari rumah sakit." Dave mengatakannya dengan tegas.


"Ta---,"


"Tolong, Dir. Kamu tidak bisa terus memaksakan diri seperti ini. Jika tidak bisa membuat nyaman, setidaknya jangan membuatku merasa tertekan. Aku akan menghargaimu sebisaku. Aku bisa memperlakukanmu lebih baik dari ini. Semua tergantung sikapmu," sahut Dave. Sebelum Dira selesai membela diri.


Bukannya Dave jahat mengatakan hal tersebut di depan orang lain. Namun, jika tamu tidak dikenalnya datang dengan sebuah cerita tentang Deva, tentu perempuan itu kurang lebih tahu akan kisahnya.


Dira berbalik badan dan menghentakkan kakinya dengan kasar. Dia meninggalkan ruangan Dave dengan sebuah tekad yang kuat. Dira akan mempercepat pernikahannya. Hal tersebut adalah jalan terbaik yang ada di pikirannya saat ini. Dira tersenyum licik, beberapa rencana terlintas di benaknya dengan apik.

__ADS_1


"Aku harus bertemu denganmu, Dev. Bukankah kita sekarang teman? Lakukan sesuatu untuk temanmu ini," Dira mengucapkannya dalam hati. Langkahnya semakin mantap menuju pintu lift.


Kembali ke dalam ruangan rawat Dave. Pria tersebut sudah mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa. Dia pun juga sudah duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan keberadaan si tamu.


"Silahkan, langsung saja jika ingin menyampaikan sesuatu tentang Deva." Tanpa bertanya siapa sebenarnya sang tamu, Dave langsung mengajak bicara pada inti yang di tuju.


"Begini, Dave, kenalkan aku Devanya. Aku adalah sepupu dari Tino. Sebenarnya, dia sendiri yang ingin datang menemuimu. Tapi karena ada suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan, jadilah aku yang menemuimu." Tanpa mengulurkan tangan, perempuan tersebut memperkenalkan dirinya pada Dave.


"Tino? Mantan atasan Deva?" Dave bertanya untuk memastikan jika orang yang mereka maksudkan sama.


"Iya, benar. Aku datang ke sini atas keinginannya. Semoga tidak mengganggu waktu istirahatmu. Pembicaraan ini tidak akan lama." Devanya begitu lugas saat mengatakannya.


"Tino sedang membutuhkan sejumlah uang untuk mengembangkan usahanya. Dia ingin menjual rumah yang dibelinya beberapa tahun yang lalu padamu," ucap Devanya sambil menunjukkan sebuah gambar rumah dari layar ponselnya pada Dave.


Pria tersebut meraup wajahnya dengan kasar. Lalu dia berkata sembari melemparkan tatapan menyelidik pada Devanya. "Apa maksud semua ini? Kenapa bisa kebetulan sekali Tino yang membelinya?"


"Sepertinya masalah itu tidak penting lagi untuk dibahas. Tino hanya menitipkan harapan, semoga kamu yang membeli rumah itu. Dan satu lagi, Saat ini, Deva sangat membutuhkan tempat tinggal. Semalaman dia tinggal bersama pemilik rumah kontrakannya. Sebagai orang terdekat Deva, tentu kamu tidak ajan membiarkan dia kesusahan sendiri, kan?"

__ADS_1


Penuturan Devanya semakin menimbulkan tanya di benak Dave. Mengapa sampai bisa orang lain tahu masalah Deva sedetail itu. Bahkan, kabar Deva tinggal bersama dengan sang pemilik kontrakan pun tidak terlewatkan.


"Berapa Tino menjualnya?" Dave memilih untuk mengenyampingkan sejenak apa yang menjadi pertanyaan di benaknya. Benar juga ucapan Devanya. Saat ini, yang terpenting adalah memastikan Deva bisa mendapatkan solusi atas masalah yang dihadapi.


Devanya menyebut sejumlah nominal yang sudah diduga sebelumnya oleh Dave. Harga tersebut memang sangat masuk akal untuk ukuran sebuah rumah di kawasan yang termasuk elite. Dave terdiam sejenak. Dia sedang menimbang-nimbang sesuatu. Profesinya sebagai dokter kandungan yang tidak membuka praktek sendiri di luar dinasnya di rumah sakit, membuat pundi-pundi rupiah tidak terlalu melimpah. Meskipun lebih dari cukup untuk bisa hidup sangat enak, tabungannya jelas belum mencapai angka yang disebutkan Devanya tadi.


"Aku akan membeli rumahnya, tapi bisakah aku membayar separuhnya terlebih dahulu? Sisanya akan aku berikan paling lambat satu bulan ke depan," putus Dave. Dia menarik napas begitu dalam. Sepertinya, menjual mobil sport kesayangannya juga akan dilakukan untuk menutup sebagian kekurangan. Sisanya lagi, dia bisa mengajukan kredit pada bank dengan menggunakan SK kepegawaiannya.


"Aku akan sampaikan pada Tino dulu. Nanti kalau sudah kami bicarakan, aku akan mengabarimu secepatnya. Semoga dia mau menerima dengan sistem pembayaran seperti itu."


Dave hanya membalas ucapan Devanya dengan sebuah anggukan. Kini, dia masih memikirkan cara agar bisa membantu Deva mendapatkan tempat tingal sementara secepatnya. Andai kata rumah sudah terbeli sekali pun, Deva tidak akan semudah itu mau menerima pemberiannya. Bahkan kemungkinan besar---yang terjadi adalah penolakan mentah-mentah.


Di waktu yang sama, Debora sedang bersama Tino di tempat usaha mantan atasan Deva itu akan membuka usaha kafe-nya. Keduanya tampak duduk saling berhadapan dengan cara memandang yang amat serius.


"Deb, Deva sudah seperti adikku sendiri. Aku mau menerima ide gilamu ini karena aku peduli padanya. Aku tahu luka dan betapa sulit dia melalui hidupnya. Andai dia tahu yang sebenarnya. Entah bagaimana dia akan memandangku?" Ada kekhawatiran yang tergambar jelas dari suara Tino.


"Tidak akan ketahuan kalau kita semua tetap diam. Aku yakin Dave juga akan memilih untuk menyembunyikan semuanya. Aku bisa saja meminta tolong pada Dewa. Tapi gengsinya terlalu tinggi. Meski dia peduli, akan sangat susah menyentuh Deva. Tidak ada pilihan lain. Saat ini, aku cuman bisa membantu lewat Dave." Debora membalas tatapan Tino dengan sendu.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak jujur saja, Deb. Suatu saat, Deva pasti akan tahu semuanya. Bukankah ini akan semakin melukai dia? Kasihan Deva. Kejujuranmu akan semakin membulatkan keyakinannya, bahwa papanya memang benar-benar orang yang jujur dan baik."


Debora terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Andai Tino tahu keadaan papa Debora sekarang. Masihkah Tino memaksanya untuk jujur?


__ADS_2