
Dave berjalan terlebih dulu menuju lift tanpa memedulikan Dira yang kerepotan dengan tiga koper besar yang dibawanya. Dia sama sekali tidak ingin membantu. Cukup bagi Dave menggeret satu koper miliknya sendiri.
"Dave, bantuin aku. Dave!" teriak Dira, tentu saja menarik perhatian beberapa orang yang ada di sana.
Bukan Dave namanya kalau gentar dan menyerah pada Dira. Pria tersebut tetap melenggang santai, berhenti di depan pintu lift tanpa menoleh pada Dira yang sibuk mengomel sembari menyeret tiga tumpukan koper yang membuat bagian dadanya ke atas saja yang kelihatan.
Dengan susah payah, akhirnya Dira berhasil masuk ke dalam lift yang sama bersama Dave. Suaminya itu, masih saja mengacuhkannya. "Lihat saja, Dave. Sekarang kita seatap. Setahan apa kamu pada godaan. Aku tidak akan menyerah sampai apa yang aku inginkan tercapai." Sumpah Dira dalam hatinya.
Lift berhenti tepat di lantai tiga, pertanda room apartemen Dave memang sesederhana yang dikatakan pria tersebut sebelumnya. Tentu saja hal itu membuat Dira semakin kesal pada sang suami.
"Dave kamu ini seorang dokter kandungan tetap di rumah sakit internasional, berapa gaji bulananmu, aku tahu persis. Hanya ini yang bisa kamu berikan? Bahkan kamarku lebih luas di banding room-mu ini," cebik Dira tanpa perasaan begitu dia memasuki ruangan yang baru saja dibuka oleh Dave.
"Bukan seberapa banyak gajiku, Dir. Ini tentang seberapa niat aku memberikan padamu. Seorang suami berkewajiban memberikan rumah tinggal dan nafkah yang layak, aku akan memberikan. Apartemen ini jauh di atas layak untuk seorang istri yang tahu betul suaminya tidak menyimpan cinta sama sekali untuknya. Jika kamu menginginkan lebih, menikahlah dengan pria yang memujamu seperti ratu." Dave menyalakan pendingin ruangan, agar suasana panas akibat perdebatannya dengan Dira sedikit teredam.
Meski kecil, semua tampak rapi dan siap huni. Tipe apartemen junior 4 itu sebenarnya tidak sengaja di pilih oleh Dave. Tetapi rupanya tipe ini lebih nyaman dibanding tipe studio yang hanya memiliki satu kamar.
"Yang besar ini kamarku, jangan pernah masuk tanpa ijinku. Kamu di sebelah sana." Dave menunjuk sebuah kamar berukuran dua kali tiga meter yang berdekatan dengan dapur.
"Dave, bagaimana bisa kita berbeda kamar? Kita ini sudah halal kalau pun mau melakukan apa saja." Dira menghentakkan kaki dan meninggikan suaranya karena kesal.
Dave mendekati Dira dan menatap perempuan itu dengan sinis. "Belajarlah tentang kewajiban dan hak dasar seorang istri. Ingat, Dir! Tujuan pernikahan bukan hanya menghalalkan persetubuhan. Banyak ibadah lain yang bisa dilakukan suami istri dalam pernikahan. Yang pertama kali harus kita lakukan adalah belajar saling mencintai dan menerima dengan tulus. Apa yang aku lakukan sekarang adalah resikomu karena kamu memilih menikahi pria yang tidak mencintaimu."
Dira mengepalkan kedua tangannya begitu erat. Dia ingin sekali memukul mulut Dave yang selalu tajam dan pedas jika berbicara dengannya. "Awas kamu, Dave. Aku tidak bodoh, aku pasti bisa membuatmu berbalik mengejarku."
Melihat Dave masuk ke dalam kamar. Dira buru-buru merogoh kantong kecil di dalam tasnya. Perempuan itu mengambil tiga butir obat yang tersimpan di sana, dan langsung menelannya tanpa air.
__ADS_1
Di sisi lain, tepatnya di rumah sakit tempat papa Debora dirawat. Kabar bahagia diberikan oleh ketua tim dokter yang menangani Dermawan. Pria tersebut dengan kuasa Tuhan, berhasil melalui masa kritisnya dengan begitu cepat. Saat ini, Dermawan hanya menunggu waktu untuk bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
"Ma, sebaiknya kita merahasiakan tentang kondisi papa sekarang dari siapa pun. Bukannya Deb menaruh kecurigaan berlebihan pada Om Agas dan Om Rudi, tapi kita layak untuk berhati-hati. Masalah papa dan mereka tidak sederhana," usul Debora pada sang mama.
"Kamu benar, Deb. Apa perlu kita pindah rumah sakit saja? Kalau masih di sini, Mama yakin Rudi dan Agas bisa dengan mudah menemukan kita," timpal Widya.
"Deb bicarakan dulu sama dokter ya, Ma. Kalau memang bisa, pindah rumah sakit tentu akan lebih baik. Deb benar-benar tidak nyaman dengan OM Agas dan Om Rudi. Akhir-akhir ini, mereka begitu agresif menekan kita."
Widya menarik napas begitu berat. Andai waktu bisa ditarik mundur, dia akan memilih untuk bertindak lebih berani dari awal. Biarlah keluarganya saja yang hancur. Asal kebenaran ditegakkan. Hidup mereka pun tidak terus dalam bayang-bayang dosa dan rasa bersalah.
"Ya sudah, Deb nemuin Dokter Dirga dulu. Semoga bisa ya, Ma." Perempuan itu meninggalkan mamanya sendirian di ruang tunggu khusus pasien yang sedang menjalankan observasi.
Sementara Debora masih berbicara serius dengan dokter yang menangani Dermawan, Dewa dan Deva akhirnya sampai juga di rumah Deswita.
"Kak Deva ... Nyill ...," sapa Jason, sangat bersemangat.
"Apa kabar, Jas ...." Deva langsung menghampiri Jason begitu turun dari mobil. Sebuah pelukan hangat diberikan oleh perempuan tersebut.
"Boleh Jason mencium Kak Deva? Jason kangen sekali sama kakak," rayu bocah taman kanak-kanak itu.
"Tentu saja boleh." Deva membungkukkan badan hingga posisi wajahnya sejajar dengan posisi wajah Jason.
Dewa hanya bisa mendengus kesal melihat ulah Jason. "Dasar playboy cilik. pinter banget cari kesempatan. Untung masih bocah, gede dikit berantem juga nih," umpatnya dalam hati.
Mengabaikan Dewa yang menenteng dua paper bag berisi mainan Jason, anak itu malah bergelayut di pinggul Deva saat berjalan memasuki rumah.
__ADS_1
"Nyong, mau nggak nih?" Akhirnya Dewa tidak bisa juga menahan diri karena diabaikan.
Jason menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan. Mendapati tentengan yang ditunjukkan oleh Dewa. Seketika bocah tersebut melepaskan tangannya dari pinggul Deva.
"Kenapa nggak ngomong dari tadi, sih, Nyil. Kan jadi enak kalau begini." Anak itu langsung mengulurkan tangannya untuk menerima limpahan paper bag dari Dewa.
"Jangan lupa belajar. Ingat, kalau nggak lulus masuk pesantren, sekolahnya di luar planet." Dewa kembali mengerjap-erjapkan matanya yang sedikit lebih baikan ketimbang beberapa saat yang lalu.
"Kalian sudah datang, kenapa nggak ngabarin mama dulu? Mama belum siapkan makanan buat kalian." Deswita tiba-tiba muncul langsung memeluk Deva terlebih dahulu.
"Kenapa semua pada meluk Deva lebih dulu, bukannya di sini Dewa tuan rumahnya," kesal Dewa sambil menghempaskan badannya di atas sofa.
"Kamu itu sudah gede, Nyil. Tua malah. Gak pantes ngerengek kayak bocah. Pantesnya, kamu itu sudah bikin bocah," seloroh Deswita sembari terkekeh menghampiri putra tunggalnya itu.
"Dewa nggak enak badan, Ma. Mata liatin semua tiba-tiba blur. Masak masuk angin?" keluh Dewa seketika manja pada Deswita.
"Kita panggil dokter saja, ya." Deswita langsung mengambil ponsel di kantong sweater-nya.
Di saat bersamaan, ponsel Deva pun berdering. Deva agak menjauh dari Deswita, Dewa dan juga Jason saat menerima panggilan tersebut.
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, tepatnya dikediaman Agas dan Fira. Kedua pasangan lawas itu tampak sedang beradu mulut dengan sangat sengit.
"Aku nggak kuat, Mas. Cukup sudah aku menerima semua perlakuanmu selama ini. Apa yang kamu lakukan, sudah kelewat batas," ketus Fira.
"Lakukan kalau kamu berani. Asal kamu tahu, aku tidak akan membiarkanmu membawa apa pun saat keluar rumah. Apa yang kamu nikmati sekarang, semua hasil jerih payahku. Siapa kamu tanpa aku, Fir," sinis Agas.
__ADS_1