
Raut wajah Deva seketika berubah. Pertanyaan Deswita seakan mengingatkan pada serangkaian ketidakadilan yang menimpanya tanpa jeda. Begitu bertubi-tubi, merampas semua kebahagiaan dan harapan yang ada. Tidak ada yang tersisa, kecuali luka yang masih menganga.
"Dev, pertanyaan Mades salah, ya? Kok malah ngelamun." Deswita menepuk paha Deva untuk menyadarkan perempuan tersebut dari lamunan sesaat.
"Tidak, Mades. Tidak ada yang salah." Deva buru-buru menjawab.
"Terus kenapa diam?" desak Deswita.
"Apa yang menjadi pertanyaan Mades, sepertinya, hampir semua orang pernah merasakan. Secara kita ini hanya manusia biasa. Standart keadilan bagi kita adalah ketika kita bahagia dan mendapatkan semua yang kita inginkan. Seringkali kita lupa, harapan kita---berbeda dengan harapan orang lain. Setiap hari, bahkan setiap detik, jutaan orang berdoa. Tentu tidak semua doa itu dikabulkan. Saat Allah tidak mengabulkan doa kita, bisa jadi DIA sedang mengabulkan doa umatNya yang lain." Deva terlihat menelan ludahnya sendiri. Tatapannya kembali sendu. Masih banyak yang ingin dia ucapkan. Namun, sebisa mungkin Deva menahan diri.
Deswita mengusap-usap punggung Deva. Dia merasa apa yang diucapkan Deva barusan begitu jujur. Bukan sekedar jawaban formalitas atas pertanyaan yang dilontarkan olehnya. Lebih tepat lagi, kata-kata Deva terasa sebagai ungkapan hati yang terdalam.
"Secara teori, Mades tahu hidup ini memang tidak adil. Tapi kenapa Tuhan melakukannya? Sampai sekarang masih menjadi tanda tanya bagi Mades. Kenapa yang baik malah sering kali diuji? Mades tidak merasa diri Mades baik. Namun, sepanjang hidup, Mades sebisa mungkin tidak menyakiti orang lain. Dengan harapan, kita pun akan mendapatkan perlakuan yang sama baiknya."
Deva meraih tangan Deswita. Matanya berkaca-kaca.Dia sedang berusaha tegar. Tugasnya mendengarkan, bukan didengarkan. Dia berada bersama Deswita untuk menjadi teman bicara yang menyenangkan sekaligus menenangkan, bukan malah menambah kesedihan.
"Kita semua pernah merasakan ketidakadilan, Mades. Saya pun pernah. Kita bisa apa? Mengubah keadaan tidak semudah membalik telapak tangan. Kita hanya bisa berusaha dengan terus memaksa hati untuk ikhlas. Mengingatkan diri, bahwa luka dan kesedihan tidak milik kita seorang. Di luar sana, pasti ada orang lain yang juga sedang meratap dan menangis nelangsa karena takdir yang dia terima."
Deswita memberikan tatapan lembut pada Deva. Di luar kendalinya, tangan kanannya terulur membelai rambut lurus sebahu dengan warna kecoklatan milik Deva. Melihat kesedihan yang begitu dalam, membuat luka Deswita menjadi terabaikan.
"Mades benci saat orang lain mengatakan, jangan cengeng, berhentilah mengeluh. Setidaknya kamu lebih beruntung. Di telinga Mades, mereka terdengar sedang menghakimi. Mereka memandang kita lebih beruntung dari sisi siapa?"
"Mereka tidak akan pernah berhenti meremehkan, sampai saatnya mereka berada tepat di posisi kita. Gunung yang dilihat dari kejauhan, nampak begitu indah. Bentuknya bagus, rapi, dan warna birunya sangat cantik. Tapi semakin kita mendekatinya, baru kita akan tahu. Ada jalan yang begitu terjal, banyak binatang buas dan juga hewan melata berbisa yang mengancam," sahut Deva dengan lugasnya.
Deswita dibuat begitu kagum. Ketegaran yang ditampilkan Deva sungguh luar biasa. Entah luka apa yang dipendam. Namun, Deswita bisa merasakan betapa dewasanya pemikiran Deva.
__ADS_1
Tanpa terasa lebih dari dua jam mereka menghabiskan waktu berdua. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Deswita yang biasanya sudah tidur setengah jam yang lalu, malah tidak merasakan kantuk sama sekali.
"Lain kali, kamu nginep sini saja, ya?" pinta Deswita sambil berjalan menuruni anak tangga untuk mengantar Deva.
"Iya, Mades." Deva menjawab dengan sangat lembut.
Sampai di bawah, mereka melihat Dewa yang sedang duduk santai di ruang tengah sembari memegang buku. Kedua perempuan tersebut kompak menghentikan langkah tidak jauh dari posisi Dewa. Deswita memberikan deheman untuk memancing reaksi putra satu-satunya itu. Dia tahu persis, Dewa sedang tidak benar-benar membaca. Deva menahan tawanya dengan susah payah. Si angkuh yang sok sempurna, sedang menunjukkan kekonyolan yang belum disadari.
"Mades, Pak Dewa dulu sekolah dasarnya di mana, ya? Atau Mades memberikan guru khusus untuk Pak Dewa? Deva kayaknya perlu tahu trik, tips, dan cara membaca nyaman dengan kondisi buku atau majalah terbalik."
Mendengar sindirian Deva, Dewa buru-buru meletakkan majalah yang tadi disambarnya sembarangan karena melihat Deva dan Deswita menapaki anak tangga.
"Tidak semua orang bisa. Hanya yang mempunyai konsentrasi tinggi dan IQ kategori jenius yang sanggup melakukannya. Membaca dalam posisi terbalik, membantumu belajar fokus. Aku sering melakukannya untuk melatih diri," kilah Dewa.
"Sat set banget kalau sudah urusan ngeles," sahut Deswita.
"Dasar aneh," umpat Deva dalam hati.
Deswita hanya bisa mengelus dada melihat aksi anaknya. Meski dalam hati dia sedikit dibuat tersenyum. Sikap Dewa yang demikian, menandakan hati sang don juan tanggung, sedang tidak baik-baik saja.
"Saya permisi pulang dulu, Pak," pamit Deva.
Dewa kembali meletakkan majalahnya. Dia sudah menunggu lama untuk moment ini. Berharap sang mama berbaik hati memintanya untuk mengantar Deva pulang. Dia hanya ingin tahu, obrolan apa yang membuat mamanya betah dengan melakukan investigasi di sepanjang perjalanan.
"Yuk, Dev. Nanti kemalaman." Deswita kembali mengajak Deva meneruskan langkah kaki mereka.
__ADS_1
"Lah, mama kok nggak nyuruh nganter. Ini kan sudah malam. Mama gimana sih?" Dewa mengoceh dalam hati. Lalu dia bergegas berdiri dan menyusul Deswita dan Deva.
Sampai di depan pintu utama. Barulah dia tahu kenapa mamanya bersikap santai. Rupanya, Anwar---driver pribadi Deswita, sudah bersiap untuk mengantar Deva. Dewa pun kembali masuk ke dalam rumah dengan bibir manyun yang bisa di tali menggunakan karet rujak. Dia duduk dengan malas di sofa ruang tengah untuk menunggu kemunculan sang mama.
Tidak lama kemudian, Deswita muncul sembari menyenandungkan lagu dari penyanyi lawas favoritnya. Siapa lagi kalau bukan Ida Laila.
"Mau keluar, Nyil? Duh, mulut Mama dari tadi gatel pengen ngomong gini. Lagian kenapa sih pakai gengsi segala? Deva tuh kelihatannya baik, walaupun tahu, nggak mungkin dia nyebar-nyebarin di kantor."
"Awas saja kalau mama panggil Nyil di depan Deva. Lagian, mama jangan terlalu cepat ambil kesimpulan. Deva tidak sebaik itu. Mama belum tahu aja dia ngomongnya pedes kayak merica," sungut Dewa sembari berdiri mendekati Deswita.
"Jangan terlalu membenci. Nggak bagus. Dah, mama mau tidur dulu, ngantuk."
"Ma...." Dewa menahan lengan Deswita dengan manja.
"Apa?"
"Lain kali, jangan nyuruh driver buat nganter Deva. Nanti dia manja. Lagian, kasihan Pak Anwar. Sudah sepuh, kalau mengendarai mobil malam-malam, pasti penglihatannya agak kabur. Belum lagi kalau kena sorot lampu mobil di depannya. Pokoknya jangan Pak Anwar."
"Terus? Mama harus lepasin anak perawan naik ojek atau taxi, gitu? Jelas itu lebih kejam, Nyil. Apa yang mama lakukan bukan memanjakan. Itu wajar dilakukan oleh perempuan yang saling melindungi."
"Iya, sih. Tapi jangan Pak Anwar juga."
Deswita mulai tahu arah pembicaraan Dewa. Perempuan tersebut tersenyum sinis. "Ya sudah, nanti mama cari driver khusus antar jemput Deva. Mama masih kuat bayar tanpa minta uangmu. Dah, jangan protes. Mama mau tidur." Deswita menurunkan tangan Dewa dari lengannya. Lalu segera berlalu pergi
Dewa mengacak rambutnya dengan kasar.
__ADS_1
Di sisi lain, setelah dua puluh menit perjalanan, sampai juga Deva di rumah kontraknya. Baru juga dia turun dari mobil, seseorang sudah menyambutnya dengan wajah yang sama sekali tidak ramah. Kecemburuan dan amarah, jelas terlihat di sana.