
Karena tidak mendapatkan kepastian dari si penelepon, Deva pun tetap pada pendiriannya yang akan kembali ke Jakarta setelah pekerjaan yang dijadwalkan dadakan oleh Dewa selesai. Perempuan tersebut dengan santai malah mematikan ponselnya.
"Nikmati waktumu, Dev. Sesekali nikmati dan manjakan hidupmu." Deva lalu bersiap-siap untuk melakukan ibadah sholat Dhuhur.
Sementara itu, Dewa yang baru saja mengantar Dira ke kamar adik sepupunya itu, segera kembali ke kamarnya sendiri. Dia pun melakukan sholat seperti halnya yang dilakukan Deva. Tidak membutuhkan waktu lama, Dewa yang sudah mengenakan celana jeans dan kaos polos berwarna marun dipadu dengan sepatu sneakers, tampak berdiam diri mematut diri di depan cermin.
"Kenapa aku deg-deg'an begini. Apa karena aku laper?" tanya Dewa pada dirinya sendiri sembari merapikan rambutnya dengan menggunakan pamode. "Please, kepada hati ... tolong kamu jangan berkhianat. Dengarkan aku dengan segala akal dan pikiranku, aku belum mau jatuh hati pada siapa pun. Jadi jangan sampai kamu melangkah lancang menaruh hatimu sembarangan," ucap Dewa pada diri sendiri.
Dewa melirik jam di pergelangan tangannya. Masih satu jam lagi dari waktu yang disepakati bersama Deva. Daripada menunggu sembari melamun, Dewa memutuskan untuk menemui Dave sebentar. Banyak hal yang ingin dia bicarakan. Bukan bermaksud ingin ikut campur. Kali ini, dia hanya ingin melakukan kewajibannya sebagai seorang kakak.
Karena tidak tahu di mana kamar Dave berada, Dewa terpaksa bertanya dulu kepada resepsionis. Berbekal kemampuan bernegosiasi yang baik, di tambah kegenitannya yang muncul justru di saat berhadapan dengan perempuan-perempuan yang tidak mengusik hatinya---Dewa akhirnya berhasil mengetahui di mana posisi kamar Dave berada.
Setelah mengetuk pintu beberapa saat, daun pintu itu pun perlahan terbuka. Wajah dingin Dave menyambut tanpa senyuman sama sekali. "Ada perlu apa?" tanyanya.
"Aku minta waktumu sebentar. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan," pinta Dewa.
"Aku sedang malas kemana-mana. Kalau kamu mau, kita bisa bicara di dalam." Dave membuka daun pintu lebih lebar.
Dewa mengangguk setuju sambil melangkahkan kaki ke dalam kamar. "Tidak masalah. Hanya sebentar saja."
"Silahkan! Aku sedang malas berbasa-basi," ucap Dave sambil menghempaskan bokongnya di atas sofa single yang ada di seberang tempat Dewa duduk.
"Dave, aku tahu kamu menikahi Dira dengan sangat-sangat terpaksa. Aku datang kemari sebagai seorang kakak. Aku maklum. Mencintai Dira, sekarang mungkin hal yang sulit bagimu. Tapi dengan kerendahan hati, aku mohon, bantu menyadarkan Dira. Buat sifat dan sikapnya lebih baik." Dewa mengatakannya dengan tatapan serius penuh harap.
Dave menghela napas sedikit berat. "Aku bisa apa? Dira terlalu memaksakan semua hal. Dia berbicara seolah semua mudah."
"Bisa, Dave. Kamu bisa melakukan apa pun pada Dira. Mungkin kamu tidak mencintainya, tapi akad bukan sesuatu yang main-main, bukan? Aku tidak memintamu untuk menerima Dira, tapi bantu dia untuk keluar dari pikiran buruknya sendiri. Apa yang terjadi di masa lalunya, dengan penerimaannya akan kenyataan yang tidak baik, membentuk dia seperti sekarang. Tolong, Dave."
__ADS_1
"Aku tidak janji, Wa. Aku juga sedang menata hatiku sendiri," timpal Dave.
"Aku juga tidak sedang memaksamu. Siapa tahu, perubahan sikap Dira nantinya, bisa membuatmu terlepas dari semua tekanan. Syukur-syukur, kalau kamu bisa mencintai dia." Dewa berdiri karena merasa sudah cukup menyampaikan keinginannya pada Dave.
"Aku sudah mengikat janji pada seseorang. Cintaku, cukup berhenti di dia. Kamu pasti tahu siapa yang kumaksud dengan dia." Dave ikut beranjak berdiri. Lalu dia berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan lebar.
"Terimakasih waktunya," ucap Dewa.
Dave hanya tersenyum tipis. Setelah punggung Dewa tidak lagi tampak di penglihatannya, dia kembali menutup rapat-rapat pintu kamarnya.
****
Dewa menunggu Deva di lobby hotel. Kaca mata hitam yang dikenakannya, membuat penampilannya semakin terlihat sangat keren. Seperti layaknya orang lain yang menunggu kedatangan seseorang, Dewa menyibukkan diri dengan benda pipih bertekhnologi tinggi miliknya. Dia bermain game kecintaan sejuta umat. Apalagi kalau bukan Mobile Legend. Baru saja dia akan memenangkan game tersebut, namun panggilan masuk dari seseorang, membuat Dewa harus menunda kemenangan dan mengumpat kesal.
"Ada apa?" Tanpa salam atau pun sapa basa basi, Dewa langsung mengatakan dua kata itu setelah menerima panggilan telepon tersebut.
"Besok, ya. Tidak bisa sekarang. Begitu kami tiba di Jakarta, aku akan mengantar Deva menemuimu. Jangan memaksa. Banyak hal yang dia alami. Kalian sudah berlaku kejam, jangan terus menekan dia dengan sesuatu di luar tanggung jawabnya. Rasa yang menghantui kalian, sepenuhnya itu salah kalian sendiri. Bukan kewajiban Deva untuk membantu kalian keluar dari rasa bersalah. Tolong, mengerti." Dewa mengakikhiri sambungan teleponnya.
Di saat bersamaan, Deva muncul dengan tampilan santai yang tidak jauh berbeda dengan Dewa. Hanya saja, perempuan itu mengenakan outer lengan panjang untuk menutupi tangannya. Sama seperti Dewa, Deva pun mengenakan kaca mata hitam. Di mata orang lain yang melihat, jelas keduanya seperti couple goals.
"Bapak tidak memakai jaket?" tanya Deva masih saja begitu formal saat berbicara dengan Dewa.
Pria yang ditanyai itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku ini lakik, Dev. Masak takut panas. Hitam sedikit, tidak akan mengurangi ketampananku."
Deva mencebikkan bibirnya sembari menelisik pandang ke arah Dewa. Mengakui apa yang diucapkan atasannya itu memang benar. Untuk ukuran laki-laki, Dewa bisa dibilang terlalu putih. Secara fisik, Deva lebih menyukai laki-laki yang tidak terlalu bening seperti Dave. Terlihat lebih menarik dan menggoda di matanya.
"Mau mengagumi ketampananku terus? Atau berangkat nih?"
__ADS_1
Pertanyaan Dewa menyadarkan Deva kalau dia sudah melakukan kesalahan. Kaca mata hitam, rupanya tidak sepenuhnya menutupi arah gerakan mata.
Keduanya pun langsung menghampiri karyawan hotel yang mencarikan sewaan motor untuk mereka. Setelah mendapatkan kunci beserta surat tanda nomor kendaraan, Deva dan Dewa secara beriringan berjalan menuju lobby di mana motor itu sudah disiapkan.
Deva menelan ludahnya dengan susah payah. Sebuah motor sport berwarna merah, dengan posisi boncengan yang sangat menungging, terpampang nyata di depannya.
"Jadi berangkat gak, sih? bengong mulu dari tadi." Dewa mengulurkan helm yang tadinya ada di atas sepeda pada Deva.
"Seriusan kita boncengan pakai ini?" Deva menerima helm dengan ragu.
"Ya kali becanda. Nggak mau? Tadi yang bilang terserah siapa? Dasar perempuan, terserahnya selalu misterius. Di belakang kata terserah, tetep aja lakik yang salah." Dewa menggerutu sembari memakai helmnya.
Deva pun memakai helm sembari terus memandangi posisi boncengannya. Membayangkan betapa dekat posisi tubuhnya dengan Dewa nanti, membuatnya pikirannya gelisah.
"Aku tahu apa yang kamu bayangkan. Ternyata, kalau kamu sedang berpikiran kotor, bisa langsung kehilangan kecerdasan. Deva Magnolia, itu tas ranselmu, bisa kan dipakai di depan? Biar dada ratamu itu tidak langsung membentur keras punggungku."
Tanpa membantah, Deva pun melakukan apa yang dikatakan Dewa. "Bener juga, sih. Bodoh, bagaimana bisa aku sampai nggak kepikiran," batinnya.
"Buruan naik." Dewa yang sudah di atas motor kembali menegur Deva.
Setelah Deva berada di atas boncengan, Dewa menyalakan mesin motornya. Tanpa aba-aba, dia memberikan sedikit hentakan yang membuat tubuh Deva maju ke depan.
"Pak, demi keselamatan, saya harus pegangan di mana?" Deva bertanya lirih.
"Terserah."
Perlahan, Deva meletakkan tangannya di pundak Dewa. "Sudah pak," ucapnya.
__ADS_1