Sisa Rasa

Sisa Rasa
Ingin berteman


__ADS_3

"Deva, Ngakan, Glen, Ode, Yoga, Demian."


Mendengar nama-nama yang disebutkan oleh crew barusan, Dewa seketika memalingkan wajah ke sisi kiri. Menyembunyikan umpatan lirih yang lolos begitu saja dari mulutnya. Angannya yang sudah terlanjur melambung, seketika jatuh ke dalam lubang kecewa hingga tertimbun kekesalan.


"Pak Dewa mau pindah tim? Di sini ada notes, khusus Pak Dewa boleh memilih berada di tim mana saja," tanya crew tadi.


Dewa ingin menjawab "iya". Akan tetapi, sebagai pimpinan tertinggi, dia harus memberikan contoh yang baik pada karyawan yang lain. Jika di awal sudah dijelaskan aturan tidak boleh bertukar posisi, jelas akan menimbulkan kecemburuan sosial dan memunculkan berbagai dugaan dari yang lain kalau sampai Dewa berpindah tim seenaknya.


Sebagai pimpinan, dia harus memandang semua bawahannya dengan cara yang sama. Tidak boleh ada yang dispesialkan untuk menghindari kecemburuan sosial. Saat ini, menjaga wibawa, jauh lebih penting.


"Bagaimana, Pak Dewa?" Crew mengulang pertanyaannya sekali lagi.


"Tidak." Dewa menjawab dengan singkat.


Tidak lama kemudian, keseruan pun di mulai. Untuk sesaat, kesedihan Deva seolah luntur terguyur oleh cipratan air yang kadang mengenai bagian tubuhnya. Kecepatan spit boat yang menarik banana boat semakin lama semakin meninggi, membuat adrenalin semakin terpacu. Pegangan pun semakin dikencangkan agar tidak sampai terjatuh. Dua tim sudah gugur, karena dua atau tiga anggota sudah tercebur ke laut. Menyisakan tiga tim lain, di antaranya ada tim yang masing-masing terdapat Dewa dan Deva. Dan keduanya bertahan sampai waktu yang ditentukan usai.


Kembali ke darat dan semua sudah berganti pakaian kembali, Dewa merasa tidak nyaman melihat keakraban Deva dan Ngakan. Padahal yang lain sudah memilih melakukan Parasiling dan lainnya. Namun Ngakan malah menemani Deva menikmati kelapa muda sembari bersantai di salah satu resto yang tidak jauh dari pinggiran pantai.


"Kapan-kapan, kalau ke Bali, hubungi aku aja, Dev. Siap jadi tour guide gratis," tawar Ngakan.


"Insya Allah... kapan-kapan, pak." Deva menjawab ramah.


Melihat Dewa nampak berjalan membawa buah kelapa, Ngakan pun berinisiatif memanggil sang atasan.


"Pak Dewa mau gabung sama kita?" tanya Ngakan dengan hati-hati.

__ADS_1


"Boleh." Dewa mengatakannya dengan gaya yang sok cuek.


Deva tidak sedikit pun menoleh pada Dewa. Sungguh dia tidak ingin berbasa basi di luar urusan pekerjaan. Meski sudah memaafkan, tidak mudah bersikap baik pada orang yang merendahkan dirinya seenak hati. Lagi pula, Deva bukan orang yang pandai basa-basi.


Seperti biasa, Ngakan lebih banyak mengajak Dewa berdiskusi tentang banyak hal. Deva bukannya tidak paham, namun dia memang enggan ikut menimpali. Sampai jam makan siang, ketiganya tidak ikut kegiatan lain selain menaiki banana boat tadi.


Berbeda dengan Ngakan yang mungkin memang sudah bosan karena hampir setiap minggu selalu ke sana bersama keluarga, Deva masih harus membuatkan sambutan resmi yang akan dibacakan Dewa saat gala dinner nanti. Meski terlihat liburan, Deva tetap saja bekerja melalui ponselnya.


Begitu Ngakan meminta ijin ke toilet, Dewa merendahkan diri untuk bertanya, "Kamu sakit gigi? Sariawan? Kenapa diam saja? Kamu tidak suka aku di sini?" cecar Dewa. Lama kelamaan dia tidak enak juga didiamkan seperti itu. Sungguh ketampanan dan pesonanya kini benar-benar harus dikaji ulang. Tidak pernah ada perempuan yang memperlakukannya sedingin ini.


"Sariawan dan sakit gigi, tidak menghalangi seseorang untuk bicara. Banyak alasan yang membuat orang enggan untuk memulai pembicaraan. misal, karena tidak suka atau bisa juga karena jengah."


Dewa mendengus kesal. Buru-buru dia memesan makanan pada pelayan untuk menghindar dari rasa keki yang disebabkan oleh omongan Deva yang cukup pedas.


***


Berjarak tidak terlalu jauh dari tempat di mana Deva berada, Dewa memilih berendam air hangat di bath up kamar mandinya. Pria tersebut ingin mendinginkan otaknya yang mulai tidak waras. Semua hal tentang Deva, kini mulai membebani pikirannya. Tentang tuduhan dan keingin tahuan, masih beradu jadi satu.


Tidak lama dari itu, terdengar bel pintu kamar Deva berbunyi. Setelah mengintip melalui bulatan sebesar bola mata di tengah daun pintu, Deva seger Membuka lebar pintu tersebut. Seketika wajah Dira menyapanya dengan senyuman lembut.


"Masuk, Dir," ucap Deva.


"Terimakasih, Dev."


Begitu Dira memasuki kamarnya, Deva kembali menutup pintunya rapat-rapat. Agar suasana sedikit santai dan tidak terlalu tegang, Deva mengajak Dira untuk berbicara di area balkon. Keduanya memilih duduk santai di atas keramik tepian kolam renang pribadi yang ada di sana.

__ADS_1


"Langsung saja, Dir. Aku tidak terlalu suka basa basi," ucap Deva. Tatapannya dingin, menegaskan kalau dia memang tidak ingin terlalu beramah tamah.


"Aku ingin meminta tolong padamu, Dev. Tolong jauhi Dave. Selama kalian masih sering berhubungan, tentu melupakan akan lebih sulit. Tolong, Dev, hindari Dave. Jika dia ingin bertemu denganmu, jangan ditanggapi."


Mendengar ucapan Dira, Deva tersenyum sinis. Sudah dia duga sebelumnya. Pembicaraan perempuan tersebut pasti tidak akan jauh-jauh dari hal-hal yang baru saja diucapkan oleh Dira.


"Jika menurutmu jarak bisa membuat kami saling melupakan. Seharusnya kamu tidak perlu menemuiku hanya untuk sekedar menjauh dari Bang Dave. Dia lebih dekat denganmu, kenapa kamu repot-repot malah ingin aku yang menjauhinya? Kenapa bukan kamu saja yang menjaga calon suamimu itu dengan lebih baik."


Deva menjawab dengan begitu santai. Senyuman tipis menghiasi wajahnya di ujung kalimat. Dira meraih kedua tangan Deva.


"Kita sama-sama perempuan, Dev. Tentu sakit jika pasangan kita lebih mencintai orang lain, bukan? Aku memang salah. Aku yang memaksa keadaan ini terjadi. Aku juga yang sekarang kewalahan sendiri. Kamu menghinaku sekali pun, aku tidak peduli. Katakanlah aku egois, tidak tahu malu, atau naif, yang jelas, aku hanya ingin bersama Dave. Aku ingin mengusahakan agar rasa apa pun yang Dave berikan untukmu, suatu saat akan aku rasakan."


Dira menjeda ucapannya sesaat. Dia mengatur pernapasannya terlebih dahulu agar lebih tenang.


"Aku ingin kamu mengajariku menjadi perempuan yang dicintai Dave. Menjadi seperti dirimu pun aku tidak keberatan, asal Dave bisa menatapku dan memperlakukanku seperti yang dia lakukan padamu."


Deva memicingkan matanya. Menelisik pandang pada Dira dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Senyuman tipis kembali diperlihatkan oleh Deva.


"Jika kamu ingin mendapatkan cinta Dave dengan tulus, jadilah dirimu sendiri. Tidak perlu menjadi aku. Seharusnya, kamu tidak perlu merendahkan diri dengan memintaku untuk menjauhi Dave. Keberanianmu menjadikan Dave sebagai calon suamimu, harusnya kamu gunakan juga saat kamu ingin merebut hati dan perhatiannya. Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan. Kamu harus mengusahakan apa yang kamu mau dengan susah payah." Deva menelan ludahnya sendiri. Entah sampai kapan harus berada di posisi yang tidak menyenangkan seperti ini.


"Dev, please bantu aku. Beri tahu aku apa yang Dave suka dan tidak suka. Apa yang membuat Dave nyaman, dan apa yang bisa membuat dia kesal. Aku igin kita berteman." Dira menggenggam pergelangan tangan Deva semakin kencang.


"Dir, kita bertiga sama-sama dalam posisi sulit. Kegalauan bukan hanya milik kamu. Aku dan Bang Dave juga masih harus saling berjuang untuk melupakan. Kamu menyuruhku menjauh, tapi dengan egoisnya kamu juga memintaku mengajarimu cara mendekati Bang Dave. Nggak akan, Dir! Kita butuh menjaga kewarasan kita masing-masing. Tanpa kamu minta sekali pun, aku akan berusaha menempatkan posisiku dengan tepat. Tapi kita tidak akan pernah menjadi teman."


Dira ingin menimpali ucapan Deva yang cukup membuatnya semakin gelisah. Namun dia terpaksa harus menunda, karena Deva buru-buru masuk ke dalam karena mendengar ponselnya berdering. Tidak sampai hitungan menit, teriakan histeris terdengar di telinga Dira.

__ADS_1


"Deva...." Dira buru-buru menyusul Deva ke dalam.


__ADS_2