Sisa Rasa

Sisa Rasa
Kejelasan tentang Jason


__ADS_3

Deswita tidak melanjutkan ucapannya. Kemunculan Dewa yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, membuatnya benar-benar terkejut.


"A--ada apa, Nyil?" tanya Deswita, sedikit terbata. Dalam benaknya timbul kecemasan. Kalau sampai Dewa tahu dia menceritakan masa lalu pada Deva, bisa jadi Dewa akan marah dan juga terluka hatinya. Kini, Deswita hanya berharap anak satu-satunya itu tidak mendengar pembicaraannya dengan Deva.


"Ada Om Rudi di bawah," jawab Dewa sambil menghempaskan bokongnya di sofa single di seberang sofa yang diduduki Deswita dan Deva.


"Oh, tumben. Sama tante Nina juga?" Deswita beranjak berdiri.


"Lengkap plus bonus satu orang lagi. Mama temuin mereka dulu," ucap Dewa sembari membungkukkan badan untuk mengambil toples berisi kacang bali di atas meja.


"Lah, terus ngapain kamu di sini? Perawan dan jaka nggak boleh berada di kamar berdua. Pamali." Deswita menarik tangan Deva agar ikut saja dengannya.


Dewa seketika meletakkan kembali toples yang belum sempat dibukanya kembali di atas meja. Pria tersebut buru-buru menahan langkah Deva dan Deswita. "Tidak, Ma. Jangan ajak Deva ke bawah. Kali aja ini urusan keluarga penting. Ingat, Deva di sini posisinya hanya sebagai teman Mama."


Dewa memberikan alasan yang masuk akal untuk mencegah Deva ikut turun ke bawah. Pria tersebut sedang menghindari adanya konflik batin yang pasti akan terjadi kalau Deva sampai ikut bersama mamanya.


Deswita membenarkan sebagian dari kata-kata Dewa. Dia memang belum tahu maksud dan tujuan kedatangan adik semata wayangnya itu. Sudah sejak enam bulan terakhir, mereka tidak saling bertegur sapa atau pun sekedar bertukar kabar. Penjualan sebagian saham perusahaan keluarga yang dilakukan Rudi secara diam-diam, sungguh membuat Deswita sakit hati. Bukan karena ingin mempertahankan kekayaan, apalagi serakah dengan menguasainya sendiri. Deswita hanya tidak setuju dengan jalan yang diambil sang adik. Uang hasil penjualan tersebut, habis digunakan Rudi hanya untuk membiayai kampanye pencalonan diri sebagai salah satu kepala daerah di wilayah terujung pulau jawa.

__ADS_1


"Ya sudah, Mama turun dulu. Tapi kalian jangan di kamar berduaan. Kalau mau ngobrol di sini, jangan di tutup pintunya. Atau di balkon ruang keluarga sana, lebih aman. Biar tidak ada prasangka di antara kita." Deswita langsung melangkah meninggalkan kamar.


Deva seperti sedang kalah langkah dalam permainan catur. Sedang tidak berada di daerah kekuasaannya sendiri, membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Tiga hari berada di rumah Dewa, hanya ruang makan, dapur, ruang tamu, dan kamar Deswita yang pernah disinggahi. Mau tidak mau, sekarang dia mengikuti langkah Dewa menuju balkon ruang keluarga di lantai dua.


"Kenapa gugup begitu? Biasa aja kali. Aku nggak bakalan ngapa-ngapain. Kamu sama sekali bukan tipeku," tekan Dewa dengan sombongnya.


Deva hanya mencebikkan bibir penuh kekesalan. Ingin mendebat ucapan Dewa, Tetapi dia sedang malas untuk bertutur kata panjang lebar. Dia menunjuk sebuah kursi anyam kayu di sisi kanan balkon. Menandakan Deva harus duduk di sana. Tanpa kata, Deva pun menurut begitu saja.


"Dev ... aku mau ngomong serius sama kamu. Bukan karena aku menganggapmu baik atau layak mendengar sesuatu yang seharusnya tidak aku bagi dengan orang lain. Aku melakukan ini karena mama. Anggapanku tentang kamu masih sama. Kamu hanya sebatas bawahanku, di kantor atau di rumah ini. Bukan semena-mena atau jahat, nyatanya, aku yang menggajimu." Dewa mendudukkan diri di kursi yang sama dengan asisten pribadinya itu.


Deva tersenyum tipis saat mendengar Dewa mengatakan hal tersebut. "Bapak tidak perlu mengingatkan posisi saya seperti itu. Saya tahu harus menempatkan diri seperti apa. Jika saya seorang perempuan yang tidak tahu diri, sudah pasti saya akan memanggil Anda "Nyil", sama seperti Mades memanggil Anda."


"silahkan," ucap Deva.


"Aku sempat mendengar apa yang mama sampaikan padamu beberapa saat yang lalu. Aku yakin, tanpa meminta tolong sekali pun, kamu sudah bisa menutup cerita itu rapat-rapat. Aku di sini hanya akan menyampaikan satu hal." Dewa menarik napas dalam. Telapak tangan kanannya tampak mengelus dada bidang nya sendiri. Itulah mengapa dia segan membahas tentang masa lalu. Belum sepatah kata diucapkan, Dewa sudah merasakan sesak.


"Tolong jangan biarkan mama membahas Jason lagi. Dari sekian banyak luka yang mama rasakan, Kehadiran Jasonlah yang menggores luka paling dalam dan lama. Aku akan memberitahumu sedikit tentang Jason. Tapi pastikan, kamu tidak membahas anak itu bersaama Mama." Dewa menatap Deva semakin dalam.

__ADS_1


"Jason adalah anak dari suami ketiga mama. Anak yang terlahir karena bejatnya moral seorang suami yang tidak tahu diri. Saat mama mengalami stroke ringan, bukannya menopang dan membantu kesembuhan mama, pria itu malah mencari pelampiasan birahi pada salah seorang pembantu kami. Hingga perempuan itu hamil." Dewa mencoba mengatur napasnya. Sudah berlalu begitu lama, namun mengingatnya masih saja menciptakan nelangsa yang memancing emosi kemarahan sekaligus kesedihan.


"Bukannya bertanggung jawab, pria brengssek itu malah lepas tanggung jawab. Dia melarikan diri. Sejak saat itu, kami tidak pernah mengetahui keberadaannya lagi. Pasti kamu bertanya-tanya, kenapa Jason malah hidup bersama kami." Lagi-lagi, Dewa menjeda ceritanya. Sekedar ingin memastikan ekspresi atau reaksi yang ditunjukkan oleh Deva.


"Usia dari perempuan yang melahirkan Jason itu masih sangat muda. Masih di bawahku, bisa jadi seusia kamu. Itulah mengapa mama tidak tega. Meski berat, akhirnya mama mengambil Jason dan merawatnya hingga sekarang. Dan perempuan itu menghilang seperti di telan bumi setelah melahirkan Jason." Dewa mengakhiri ceritanya.


Deva tampak tertegun. Dunia begitu banyak menyimpan misteri. Mengira kisah hidupnya sudah paling nelangsa. Namun, di luar sana, ternyata masih banyak kisah sedih yang sarat akan perih, bahkan sampai menyisakan trauma yang begitu membekas.


"Kali ini, aku merendahkan diriku di hadapan kamu, Dev. Aku mohon. Alihkan perhatian mama jika dia ingin menceritakan tentang masa lalunya. Apalagi jika sampai menyangkut Jason. Usahakan jangan menanggapi. Sebisa mungkin, alihkan saja pembicaraan. Mama masih harus meminum obat agar bisa tidur setiap malam."


Deva mengangguk dengan lembut. Tatapan mata Deva yang tadinya tajam, kini mulai redup menghangat. Selama ini, dia begitu cepat menilai sosok Dewa. Dan bisa jadi, penilaiannya salah.


"Anggap kita tidak pernah membicarakan hal ini. Jangan sampai Mama tahu kalau aku mendengar curahan hatinya padamu. Mama mengajakmu bicara, bukan karena aku adalah teman bicara yang buruk. Mama hanya tidak ingin kembali mengorek luka secara bersama-sama. Soal nama dan alamat perempuan yang diminta mama agar kamu memastikannya, biar nanti aku yang urus. Kamu paham, kan, Dev?"


"Tentu saja, Pak. Saya sangat memahaminya," lirih Deva.


Lagi dan lagi, Deva harus mengakui kebaikan hati seorang Dewa. Kuatnya hubungan kasih sayang seorang ibu dan anak, tergambar jelas pada sosok Deswita dan juga Dewa. Di mana keduanya masih saling melindungi dan menjaga di tengah luka yang melekat di hati masing-masing.

__ADS_1


Dewa beranjak berdiri dan ingin melangkah pergi. Namun saat dia berbalik badan, seketika langkahnya terhenti.


"Kak De---," Raut wajah dua orang yang menghampiri Dewa pun seketika berubah---menyadari ada sosok Deva di sana.


__ADS_2