Sisa Rasa

Sisa Rasa
Bukan bakat


__ADS_3

Dewa segera berdiri, membelikan sebotol air mineral untuk Deva yang masih berusaha meredam batuknya. Setelah lumayan enakan, perempuan tersebut mengatur napasnya agar menjadi tenang.


"Baru juga empat tahun, apa kabar saya yang tujuh tahun," lirih Deva dalam hati.


"Nih, minum. Kamu pasti kualat. Kamu ngledikin aku, kan? Pacaran lama, putus pula. Asal kamu tahu, bukan Debora yang mutusin aku, juga bukan sebaliknya," ketus Dewa sambil memberikan botol air mineral tanggung.


"Bapak bisa tidak berpikiran positif sedikit sama saya. Kenapa selalu menuduh saya yang tidak-tidak? Tenggorokan saya memang benar-benar tidak enak," kilah Deva, menerima botol dari Dewa, membuka penutupnya, lalu meneguknya hingga tandas.


Bersamaan dengan itu, Debora kembali muncul. Ketiganya kembali terlibat dalam obrolan yang lumayan seru. Menyadari ketidak nyamanan Debora membicarakan tentang transaksi jual belinya dengan Deva, mereka pun kompak menghindari obrolan seputar hal tersebut.


Deva berusaha berpikir positif, meski tidak dipungkiri ada tanda tanya besar di benaknya. Lagi-lagi, dia kembali mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak menambahi beban pikiran. Sementara Dewa, dalam hati masih bertekad untuk mencari tahu alasan Debora bisa membeli semua barang Deva. Tanpa tujuan jelas, tentu mantan kekasihnya itu tidak akan membelanjakan uang begitu saja. Debora termasuk perempuan yang cermat dalam mengurus pengeluaran.


Suara panggilan untuk penumpang dengan tujuan Jakarta-Bali yang terdengar jelas. Menghentikan obrolan Deva, Dewa dan Debora. Ketiganya kompak menyusuri jalur keberangkatan penumpang. Meski berada dalam pesawat yang sama, ketiganya menempati bangku yang berbeda. Dewa tentu saja di posisi ternyaman di first class. Sedangkan Deva dan Debora sama-sama di economi class namun dengan nomor bangku penumpang yang terpaut cukup jauh.


Perjalanan selama kurang lebih satu jam lima puluh menit, berjalan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Deva bahkan bisa terlelap selama rentang waktu tersebut. Mereka tiba di Bandara Ngurai Rai---Bali sesuai dengan yang dijadwalkan.


Dari bandara tersebut, Dewa dan Deva akan melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat di mana mereka menginap dan melangsungkan beberapa rangkaian acara. Keduanya dijemput langsung oleh kepala cabang Diamond Corp cabang Pulau Dewata. Sejak keluar dari pesawat, Baik Deva maupun Dewa, sudah tidak bertemu lagi dengan Debora.


"Selamat datang, Pak Dewa. Perkenalkan saya Ngakan." Pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Dewa itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya dengan ramah.


Seperti biasa, Dewa menyambut uluran tangan itu dengan gayanya yang cool dan berwibawa di mata orang lain, namun tidak di mata Deva. Setelah menjabat tangan Dewa, Ngakan pun melakukan hal yang sama pada Deva. Sama seperti Dewa, Ngakan juga masih baru bergabung dengan Diamond Corp dan langsung menjabat sebagai kepala cabang. Ketiga orang tersebut lalu memasuki mobil Lexus hitam yang dikendarai oleh driver.


Sepanjang perjalanan, Deva lebih banyak diam. Dia hanya menyimak dan mendengarkan Ngakan yang menjelaskan beberapa hal yang ditanyakan oleh Dewa. Satu hal yang baru diketahui oleh Deva. Sikap Dewa pada orang lain, jauh berbeda sekali jika dibandingkan dengan sikap Dewa saat menghadapi dirinya. Cara sang atasan berbicara dan memandang Ngakan begitu berwibawa dan terlihat menghargai meski kesan dingin tetap ada.

__ADS_1


Menempuh perjalanan yang tidak jauh, hanya menghabiskan waktu tiga puluh menit, tibalah mereka di hotel yang dituju. Deva langsung mengambil kunci kamarnya ke resepsionis, sedangkan Dewa sudah memegang kunci kamar karena semua sudah diurus oleh Ngakan. Kedua pria tersebut, menunggu proses check in Deva dengan duduk tidak jauh dari meja resepsionis. Setelah selesai, Deva segera menghampiri Dewa dan Ngakan.


"Oke, terimakasih sudah menjemput kami. Sampai ketemu makan malam nanti," pamit Dewa. Deva pun ikut mengucapkan hal yang sama pada Ngakan.


Deva dan Dewa meninggalkan orang yang menjemputnya, lalu kompak melihat nomor di card key card masing-masing. Memastikan mereka tidak akan salah memasuki pintu kamar bertipe Deluxe Ocean View Room yang diberikan untuk mereka. Tipe kamar hotel dengan balkon yang langsung menghadap ke samudera hindia dan taman botani yang sangat indah.


Memasuki kamar masing-masing yang letaknya tidak berjauhan. Keduanya kompak langsung menghempaskan badan di atas kasur empuk bersepreikan kain putih. Deva mencoba mengirimkan pesan ke Ali, sekedar menanyakan kondisi papanya. Sembari menunggu jawaban, Deva membuka pintu balkon, sejauh mata memandang, hamparan pasir putih dan laut berwarna biru terpampang nyata memanjakan indera penglihatannya.


"Deva kangen liburan sama kalian, Pa... Ma...," lirih Deva. Ingatannya terus kembali pada masa kecil di mana dia sering berlibur ke tempat-tempat seperti ini bersama papa dan mamamya.


Perlahan perempuan tersebut duduk di ayunan rotan berlapis cat berwarna putih. Pandangannya menerawang jauh tidak fokus pada satu titik. "Ya Allah, aku malu harus terus mengeluh. Tapi jika aku tidak mengeluh padaMu, pada siapa lagi aku mengeluh? Bukannya aku tidak ikhlas. Aku mungkin belum terbiasa. Kuatkan aku. Beri aku hati yang lapang. Jangan berikan aku cobaan yang melebihi kesanggupankuku." Deva memejamkan matanya, merasakan embusan angin yang membelai pipinya begitu syahdu.


Dewa yang juga sudah berada di balkon, tidak sengaja menjatuhkan pandang pada sosok Deva. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat sang asisten pribadi dengan jelas.


Pria itu mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, lalu dengan sengaja mengambil gambar Deva dengan benda pipih tersebut. Menepati ucapannya pada si Abang Calon Imam, Dewa mengunggah foto tersebut ke halaman sosial media miliknya. Tanpa dia sadari, dari unggahan tersebut, seseorang yang juga sedang berada di pulau yang sama, namun di hotel berbeda, seketika menjadi sangat bersemangat.


Deva semakin lelap dalam tidurnya. Sapuan angin membuatnya seperti sedang dinina bobo'kan. Dewa cukup lama memandangi perempuan itu, namun suara dering telepon genggam, memaksa pria tersebut segera masuk kembali ke dalam kamar karena takut membangunkan atau pun dipergoki oleh Deva.


Dewa segera menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya. Suara sapa, diikuti serangkaian kata-kata panjang, langsung terdengar jelas di telinga Dewa.


"Acara resminya masih besok kok. Ya gpp, ajak tunanganmu sekalian. Nanti cuman makan malam santai. Kamu bisa di meja lain, ntr aku samperin.Oke?" Dewa mengucapkannya dengan santai. Setelah mendengar jawaban dari seseorang yang menghubunginya, dia pun segera mengakhiri pembicaraan tersebut.


Waktu berlalu lumayan cepat, acara makan malam pun tiba. Deva juga sedang bersiap, dia menatap bayangan dirinya sendiri di depan cermin. Long dress sabrina berwarna putih tulang semata kaki, dengan detail sederhana dan elegan, semakin menegaskan kecantikan Deva yang natural. Tidak ada sapuan make up diwajahnya, hanya goresan warna merah alami di bibir.

__ADS_1


Takut terlambat, Deva bergegas menyambar tas tangan bermotif floral namun masih dengan sentuhan dominan warna putih. Di depan pintu, dia berpapasan dengan Dewa yang juga baru mau berangkat.


"Cantik," gumam Dewa tanpa sadar.


Deva sebenarnya masih bisa mendengar ucapan Dewa. Namun tidak terbiasa haus pujian, Deva mengabaikan begitu saja.


Merasa tidak dianggap, Dewa pun terus berjalan. Dia tidak mau membuat Deva besar kepala karena bisa berjalan bersama dengannya. Itu tidak boleh terjadi. Deva pun memberi jeda lima menit agar dia tidak terlihat datang bersamaan dengan bos angkuhnya.


Untuk menuju tepian pantai tempat makan malam, mereka harus menaiki lift gantung yang hanya berkapasitas lima orang. Dua orang yang tadinya bersikeras menjaga jarak---mau tidak mau, akhirnya Dewa dan Deva berada di lift yang sama.


Berada di posisi saling berhadapan dengan Dewa, membuat mata Deva tidak bisa menghindari pemandangan di depan matanya. Jantungnya berdebar-debar. Pikiran dewasanya pun mulai ke mana-mana. Dia menoleh pada ketiga orang lain, nampak tidak risau seperti dirinya.


Lift gantung pun berhenti pada jarak seratusan meter sebelum lokasi dinner. Dewa melangkah lebih dulu keluar lift, Deva buru-buru mengejarnya.


"Pak Dewa!" teriak Deva sembari mempercepat langkahnya.


Dewa melambatkan langkah kakinya, tapi pura-pura tidak mendengar. Hingga panggilan kedua dari Deva terdengar nyaring menembus gendang telinganya. Bahkan beberapa orang di sekitar mereka ikut menoleh ke arah mereka.


"Akhirnya dia butuh aku juga," gumam Dewa dengan penuh percaya diri sembari menghentikan langkah.


"Pak, saya cuman mau bicara. Penting!" Deva tidak sengaja memegangi lengan Dewa.


Pria tersebut benar-benar dibuat melayang. Malam ini, pesonanya sudah mulai mampu menarik perhatian gadis angkuh di belakangnya. Dewa membalik badannya hingga berhadapan dengan Deva.

__ADS_1


"Pak resleting celananya belum dinaikin. Ada yang nonjol, tapi sepertinya bukan bakat." Deva berbisik dengan santainya, lalu dia segera berjalan cepat meninggalkan Dewa yang nampak sangat surprise dengan ucapannya. Untung saja penerangan lampu malam ini cukup temaram, merah di pipi Dewa karena malu, tidak kentara terlihat.


__ADS_2