Sisa Rasa

Sisa Rasa
Salah Dewa


__ADS_3

Dewa menunggu mobilnya berhenti tepat di depan gerbang utama sekolah Jason terlebih dahulu. Baru kemudian dia membisikkan sesuatu ke telinga bocah berseragam taman kanak-kanak itu dengan kalimat yang mudah dimengerti.


Jason nampak memanggut-manggutkan kepalanya. Meski sedikit cengeng, bocah itu memang cukup pintar dan cepat tanggap. Begitu Dewa menyelesaikan penjelasannya, Jason langsung mengacungkan dua jempol persis sejengkal di depan wajah Dewa.


"Ngerti, kan, Nyong?"


"Ngerti, Nyil. Beres... tapi awas kalau bohong. Perjanjian batal," ancam Jason.


"Nggak bakalan," sahut Dewa dengan cepat.


Jason melepas seatbelt yang dikenakannya. Lalu mencium punggung tangan Dewa dengan gerakan cepat. "Makasih, Nyil. Sampai ketemu nanti malam."


"Belajar yang bener, Nyong. Jangan bandel dan jadilah pemberani. Berhenti jadi anak cengeng, ka---,"


Belum selesai Dewa mengucapkan pesan-pesannya, Jason bergegas turun dan menutup kembali pintu mobil. Anak tersebut sudah hapal kelanjutan dari kata-kata Dewa.


Dewa pun melanjutkan perjalanannya menuju gedung perkantoran Diamond Corp. Hari ini, dia begitu ingin cepat-cepat sampai di kantor. Tidak sabar mengetahui keputusan Deva akan penawarannya.


Menginjakkan kaki di lobby, jam di dinding antara kedua pintu lift masih menunjukkan pukul 07.35 WIB. Terlalu pagi, namun justru semakin bagus. Dia tidak perlu menggunakan jam kerja saat harus berbicara dengan Deva.


Sampai di lantai 36, senyum Dewa pun semakin mengembang. Sashi sudah menyambutnya di belakang meja dengan ciri khas gayanya yang sekssi menggoda. Ada Sashi, berarti Deva pun sudah datang.


"Panggil Deva ke ruanganku," perintah Dewa pada Sashi.


"Deva lagi di roaftop, Pak."

__ADS_1


"Roaftop? Ngapain coba pagi-pagi gini di sana." Dewa langsung berbalik badan kembali menuju pintu lift. Begitu ruang bergerak itu terbuka, Dewa masuk ke dalam sana dan menekan tombol satu lantai di atas lantai tertinggi tempatnya kini berada. Di mana, di sana hanya terdapat beberapa tanaman dan kolam ikan buatan dan juga tempat duduk-duduk santai untuk karyawan yang biasanya membawa bekal makan siang.


Setelah sampai di lantai yang di tuju, tampak Deva berdiri membelakanginya dengan merentangkan tangan begitu lebar. Perempuan tersebut berdiri di atas tembok setinggi satu setengah meter. Dewa melihat ada bangku kecil di lantai tak jauh dari tempat Deva berada. Pasti bangku itu digunakan oleh asisten pribadinya itu sebagai pijakan untuk naik ke sana. Tanpa berpikir panjang, Dewa langsung menghampiri Deva.


"Apa-apa'an kamu, Dev? Tidak seperti ini menyelesaikan masalah. Kamu mati sekalipun, belum tentu bisa bertemu dengan papa mamamu." Dewa menarik tangan Deva dengan paksa, hingga tubuh perempuan itu berputar dan terhuyung menimpa tubuhnya hingga jatuh menyentuh lantai.


Sesaat keduanya saling terdiam. Dewa menahan tubuh Deva yang kini tepat ada di atasnya. Rasa sesak seketika dirasakan oleh Dewa. Berat badan Deva mungkin tidak seberapa. Namun, kecupan bibir sang asisten pribadi yang tak sengaja dan sekilas mendarat di dadanya, tepat membuatnya salah tingkah juga.


"Pak Dewa, kenapa sih? Gangguin orang saja." Deva buru-buru berusaha menjauh dari badan Dewa. Namun, karena terlalu terburu-buru, keseimbangannya kembali goyah. Deva yang belum sepenuhnya setengah berdiri, kembali jatuh dan menimpa dada Dewa yang juga sedang berusaha bangkit.


"Bisa nggak sih nimpanya pelan-pelan, sakit tahu." Dewa mengusap kepala bagian belakang yang terantuk lantai.


"Salah Bapak sendiri, ngapain coba narik-narik saya? Kalau Bapak nggak narik kayak tadi, jelas saya nggak akan jatuh." Deva reflek memukul lengan Dewa.


Pria di bawah Deva itu menelan ludahnya dengan susah payah. Jakunnya naik turun dengan sempurna. Sepagi ini, Deva sudah mengajaknya berkelana. Tidak sadarkah perempuan itu? Jika seruling satu lubang milik Dewa mendadak mengeliat. Gerakan-gerakan tidak sengaja yang dilakukan Deva, sungguh meresahkan. Beberapa kali menyenggol seruling yang belum ternoda, tidak membuat Deva menghentikan gesekan kecil yang sebenarnya dimaksudkan untuk perlahan beringsut dari atas tubuh Dewa.


Setelah bisa berdiri sempurna. Deva mengulurkan tangannya untuk membantu Dewa berdiri. "Lain kali, kalau mau nolong orang, lihat-lihat dulu, Pak. Ya kali saya mau bunuh diri. Sekalipun dunia tidak terlalu ramah pada saya. Bunuh diri adalah satu hal yang tidak akan mungkin saya lakukan."


Dewa menerima uluran tangan Deva, begitu berhasil berdiri tegak, dia buru-buru menjauhkan tangannya dari tangan Deva.


"Lihat ini, kotor semua, kan? Bukannya terimakasih atau minta maaf, malah ngomel mulu. Untung saja aku datang. Kalau tidak? Pasti kamu sudah berdebat dengan malaikat maut di bawah sana." Dewa masih saja bertahan dengan dugaannya.


Karena gemas, Deva menarik pergelangan tangan Dewa, menunjukkan apa yang ada di balik tembok tadi.


"Tuh, Pak! Kalau saya jatuh ke sana, kira-kira mati nggak?" Deva bertanya dengan ketus. Satu tangannya menunjuk rumput sintetis yang terhampar di lantai. Masih menyisakan jarak empat meter lagi sebelum tembok pembatas ujung gedung yang sebenarnya.

__ADS_1


Dewa yang memang baru pertama kali berada di roaftop ini, menepuk keningnya dengan keras. "Bodoh, mau ditaruh di mana mukaku ini," gumamnya.


"Taruh pada tempatnya, Pak. Kalau muka Bapak dipindah ke lemari, nanti malah repot carinya," sahut Deva.


"Kenapa? Susah, ya, cari yang gantengnya kayak Arjuna gini?" timpal Dewa dengan rasa percaya diri yang cukup tinggi.


"Kalau yang ganteng banyak, Pak. Driver ojol aja keren-keren. Belum lagi satpam Bank ABC, sudah ganteng---ramah pula," tukas Deva.


"Terserah kamu saja! Kotor nggak punggungku? Meski kamu nggak salah, harusnya kamu tetep bantuin dong." Dewa mengalihkan fokus dengan berusaha memutar leher ke belakang agar bisa melihat punggungnya sendiri.


Deva melangkah mendekati Dewa, melihat kemeja atasannya itu memang sedikit kotor. "Kenapa Bapak tidak berganti pakaian saja? Bukankah di mobil dinas Bapak selalu ada baju ganti? Ini kotor sekali. Kalau pun saya bantu kibaskan, tetap saja kelihatan."


"Bener juga. Kenapa aku jadi lemot begini sih?" gumam Dewa, merasa aneh dengan kebodohannya sendiri.


"Saya kembali ke ruangan dulu, Pak. Terimakasih atas pelajaran berharga yang Bapak berikan barusan," Deva mengucapkannya dengan serius.


"Pelajaran apa?" Dewa mengernyitkan keningnya.


"Yang tampak dan kelihatan di depan mata sekalipun, belum tentu kenyataan atau kebenaran yang sesungguhnya. Kita butuh diam, mencerna semua dengan kepala dingin. Sebelum melangkah atau memutuskan sesuatu, kita harus melihat keadaan secara utuh. Bukan berdasarkan pada penilaian kita semata." Deva mengakhiri ucapannya dengan senyuman tipis di ujung kalimat.


"Cobalah berdiri di ambang pintu itu, tembok ini terlihat seperti ujung bangunan," Dewa tetap saja berkilah. Dia menunjuk pintu keluar masuk menuju roaftop.


"Tergantung siapa yang melihat." Deva berbalik badan dan melangkahkan kaki meninggalkan Dewa.


"Dev, tunggu!"

__ADS_1


Teriakan Dewa menghentikan langkah Deva.


"Bagaimana dengan penawaranku kemarin, Dev? Kamu mau, kan?"


__ADS_2