Sisa Rasa

Sisa Rasa
Sama-sama terluka


__ADS_3

Tidak sampai sepuluh menit, Deva menerima notifikasi dari aplikasi mobile banking di ponselnya. Sejumlah uang kembali mengisi saldonya yang tadi hanya menyisakan empat digit angka saja. Jumlahnya sama persis dengan jumlah yang diinfokannya pada orang tadi. Tertera nama pengirim adalah Debora.


Deva langsung berniat menghubungi si pembeli, karena dia harus meminta alamat untuk pengiriman barang sekaligus memberi penjelasan---besok dia baru akan mengurus perihal surat tanda kepemilikan kendaraan yang masih berada di bank pemberi kredit. Namun nomer tersebut tidak menerima sambungan ponselnya. Malah sesaat kemudian, Deva menerima pesan berisi alamat dan pemberitahuan untuk santai saja dalam pengiriman barang.


"Aneh," gumam Deva.


Sejenak dia mengajak otaknya berpikir. Ada sesuatu yang janggal dengan transaksi jual beli yang baru saja dilakukan. Namun karena terdesak kebutuhan, Deva memilih untuk mengabaikan. Nanti saat mengantar barang-barang beserta mobil, Deva tentu bisa bertemu dan berkenalan langsung dengan pembelinya.


"Semangat, Deva! Uang tidak jatuh begitu saja dari langit. Uang harus dicari dan diperjuangkan. Dengan cucuran keringat, juga curahan pikiran. Semangat... semangat..."


Deva terus menyemangati dirinya sendiri. Sesaat kemudian, dia langsung mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos santai. Seperti tidak mengenal kata lelah, Deva mulai menyiapkan dan memilah barang-barang yang tadi sudah laku terjual ke dalam beberapa kardus. Setelah satu jam lebih bekerja keras, Deva berhenti sejenak untuk menunaikan ibadah empat rakaat. Saking fokusnya, dia sampai hampir melewatkan waktu dhuhurnya.


Deva meletakkan mukena yang baru saja dipakainya ke atas nakas. Bersamaan, terdengar pintu rumah ada yang mengetuk. Deva bergegas keluar dari kamar dan menghampiri daun pintu yang memang sengaja ditutup rapat.


Begitu pintu terbuka lebar, Deva langsung memalingkan wajahnya. Kedatangan Dave tidak pernah lagi diharapkan, apalagi pada situasi seperti sekarang. Bukan karena benci. Selain ingin menghindar, Deva juga tidak ingin dikasihani.


"Ada perlu apa Abang kemari?" tanya Deva, sinis dan dingin.


Dave langsung melangkah ke dalam, meski sang empunya rumah belum mempersilahkan dirinya untuk masuk. Pria tersebut mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. Tiga dus besar nampak berjejer rapi di sana.


"Ada apa, Bee? Kenapa kamu harus menjual semua ini? Bukankah ini barang-barang terakhir yang bisa kamu pertahankan? Bagaimana dengan kenngan yang ada di sana?" Dave bertanya dengan tatapan yang begitu dalam.

__ADS_1


"Sudah tidak ada gunanya lagi mempunyai banyak barang. Semua sudah jarang digunakan. Barangnya saja yang aku jual, bukan kenangannya," ketus Deva.


"Katakan yang sejujurnya, Bee..."


"Sudah aku bilang, jangan panggil aku Bee!" Intonasi Deva semakin meninggi. Lelah jiwa raga, membuat emosinya tersulut dengan mudah.


"Oke...oke... aku minta maaf. Aku belum biasa. Dev, hubungan kita memang sudah berakhir. Tapi jangan biarkan dirimu terlalu keras menghadapi masalahmu sendiri. Berbagilah bebanmu denganku. Ada apa? Apa yang terjadi? Tidak perlu sampai seperti ini. Kamu masih bisa mengandalkanku." Dave menunjuk layar ponselnya yang langsung menampilkan postingan Deva.


"Siapa kamu hingga aku harus berbagi bebanku denganmu, Bang? Kalau pun kita teman, tetap ada batasannya, bukan? Lagi pula, aku tidak suka melibatkan orang lain dalam urusan pribadiku. Abang tahu persis bagaimana aku." Deva mengambil lab basah, tidak memedulikan kehadiran Dave, dia mulai melanjutkan kembali pekerjaan yang tadi sempat terjeda.


"Istirahatlah! Biar aku saja!" Dave menyambar kain dari tangan Deva, lalu meneruskan pekerjaan perempuan tersebut tanpa berbicara apa pun lagi.


Deva memilih berlari ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Tubuhnya yang bersandar pada daun pintu, perlahan luruh hingga bokong menyentuh dinginnya keramik.


Pundak Deva bergetar hebat. Dia memeluk lututnya yang ditekuk hingga menempel ke dada. Membenamkan wajahnya di sana lebih dalam. Dadanya semakin terasa sesak.


"Ya Allah... cukupkan ujianku sampai di sini. Aku lelah, sungguh lelah." Deva menjambak rambutnya sendiri dengan kasar, lalu dia berteriak sekencang mungkin. Sungguh dia sudah tidak bisa lagi menahan diri. Seolah lupa ada orang lain di dalam rumahnya.


Mendengar teriakan Deva, hati Dave terasa teriris. Pria itu meletakkan satu tangannya di dada, lalu meeremas kemeja yang menempel di sana dengan begitu kuat. Bulir bening perlahan jatuh membasahi pipinya.


"Maafkan aku, Bee." Dave mengambil spidol yang ada di atas meja, menuliskan rangkaian kata yang panjang pada secarik kertas yang ada di atas meja. Gerakan tangan Dave begitu cepat. Tidak sampai dua menit, tulisan panjang pun berhasil dibuat. Setelah selesai, Dave bergegas keluar tanpa pamit.

__ADS_1


Menyadari kebodohannya, Deva buru-buru mengusap air mata dan juga pipinya yang basah. Dia segera bangkit berdiri. Merapikan rambut, serta mengatur napas agar kembali tenang. Deva merutuki dirinya yang tidak bisa mengontrol diri.


Perlahan, Deva membuka daun pintu kamarnya. Sengaja tidak terlalu lebar, sekedar ingin mengintip apa yang sedang dilakukan Dave.


Tidak mendapati sosok yang dimaksud, Deva pun memberanikan diri untuk keluar. Dia tidak melihat mantan kekasihnya itu di mana pun. Beranjak ke luar, mobil mantan kekasihnya itu juga sudah tidak terlihat di sekitaran rumahnya.


Dengan langkah pelan, dia kembali ke dalam, matanya menangkap coretan tangan Dave di atas meja. Deva membaca dengan suara lirih.


***


^^^Maafkan aku yang egois, Dev... Maaf ... karena aku tidak begitu memahami lukamu. Bukan aku tidak tahu diri, tapi memang aku tak kuasa pergi.^^^


^^^Jika melihatku membuatmu terluka, aku akan menjauh. Mata, hati, dan pikiranku akan tetap menjangkaumu. Apa pun yang kamu hadapi saat ini, kamu tidak akan sendiri.^^^


^^^Dev... menangis tidak membuatmu lemah. Tangismu, bukan aib yang perlu kamu sembunyikan. Jika tidak ada aku di sisimu, ada Allah yang tidak pernah meninggalkanmu. Cukup hadirkan DIA dalam setiap helaan napasmu. Letakkan beban pikiranmu di ujung gelaran sajadah panjangmu. Sentuhkan keningmu di sana, pasrahkan semua padaNya. Kembalikan semua rasa pada Sang Maha PenciptaNya.^^^


^^^Sekali lagi, maafkan aku karena tidak sanggup memperjuangkanmu. Cintaku pantas kamu pertanyakan, biar waktu yang membuktikan. Pengecut sepertiku, tidak layak menumbuhkan cinta pada siapa pun.^^^


****


Deva menempelkan kertas itu di dadanya. "Aku tahu kamu juga terluka, Bang. Aku tahu... maafkan aku yang sangat keras menghindarimu. Aku hanya ingin melindungi hatiku, Bang. Aku pun egois," lirihnya.

__ADS_1


Di saat Deva sibuk menata hati, di ruang kerjanya, Dewa nampak serius berbicara dengan salah seorang perempuan berpakaian khas office girl. Keduanya seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang penting.


"Saya tidak mau sampai masalah ini ada orang lain yang tahu. Apalagi Deva. Kabari saya secepatnya. Pastikan semua beres. Kalau gagal, aku akan meminta HRD mengeluarkanmu." Dewa menutup pembicaraan itu dengan sebuah ancaman.


__ADS_2