Sisa Rasa

Sisa Rasa
Sebatas angan Dira


__ADS_3

Dave tidak langsung menjawab. Dia mencerna dulu ucapan Dira. Tentu saja sembari mengingat-ingat semuanya. Hingga detik ini, dia sama sekali tidak pernah merasa terikat janji dengan perempuan mana pun kecuali Deva. Selain karena dia tidak suka mengumbar janji, Dave juga bukan pria yang suka membuai perempuan dengan kata-kata. Apalagi saat itu dia sama sekali tidak tertarik dengan Lara yang ternyata adalah Dira. Bukan masalah wajah Dira yang memang penuh jerawat dan tanda lahir kecoklatan yang hampir menutupi seluruh area matanya. Namun, lebih pada cara berpikir Dira yang terlalu sempit untuk ukuran seorang dokter.


Patah hati dan bullyan pada waktu itu, sungguh membuat Dira menggila. Padahal, Hafis pun mengalami hal yang sama dengan perempuan tersebut. Bahkan, Hafis tidak seberuntung Dira yang masih memiliki harta dan kekuasaan berlimpah yang difasilitasi orangtuanya. Hafis hanyalah anak petani biasa.


"Kamu tahu, Dev. Setelah hari itu, kami sering ke tempat ini. Bisa dikatakan hampir setiap weekend. Hampir dua bulanan kami selalu bersama. Lalu aku kembali ke Jakarta, kami masih berkomunikasi. Dave masih sering mengirim surat dan juga pesan," tutur Dira sembari menatap Deva penuh percaya diiri.


Dave kembali mengernyitkan keningnya. Apa yang dikatakan Dira sama sekali tidak pernah dia lakukan. Kalau memeluk, memang Dave ingat pernah melakukan. Itu pun terpaksa. Dan diminggu-minggu berikutnya, mereka memang sering bertemu. Namun, tentu saja tidak berdua, karena Hafis yang selalu merencanakan kebersamaan mereka.


"Sepertinya, ini cukup kalian berdua yang tahu. Aku dan Deva tidak ada kepentingan di sini. Kami menunggu di bawah saja." Dewa menarik pergelangan tangan Deva dengan lembut.


"Tidak! Kak Dewa kalau mau pergi, silahkan duluan saja. Biarkan dia di sini. Deva harus tahu, dia bukan satu-satunya perempuan yang pernah dicintai Dave. Jauh sebelum itu, ada aku yang dicintai sepenuh hati." Dira menahan Deva dengan sengaja membenturkan bahunya pada bahu mantan kekasih Dave itu.


Dave yang tadinya belum ingin menanggapi, akhirnya tidak sabar juga. Dia paling tidak bisa melihat Deva diperlakukan semena-mena oleh siapa pun.


"Sepertinya ada yang harus kita luruskan di sini, Dir. Demi apa pun aku berani. Apa yang kamu katakan mengenai surat dan juga hadiah, jelas itu bukan dari aku. Aku sama sekali tidak ada waktu untuk membuat tulisan konyol seperti itu," ucap Dave, tegas dan lugas.


"Kamu masih mau ingkar? Dave, kamu tidak mengenaliku karena wajahku memang berubah---aku bisa terima. Tapi jangan pernah menyangkal atas semua yang sudah kamu lakukan. Tahukah kamu? Aku bisa berdiri sampai sekarang, bisa hidup menjadi manusia senormal yang kamu mau, itu semua berkat perhatian dan kata-kata motivasi dari kamu. Aku melakukan face off, itu juga karena kamu." Dira menatap tajam ke arah Dave.

__ADS_1


Dewa mendekatkan diri pada Dira, mencoba menenangkan sepupunya itu agar tidak meluapkan emosinya berlebihan. Untung saja, kondisi castle masih sepi. Kalau tidak, mereka pasti akan menjadi bahan tontonan gratis pengunjung lain.


"Jangan ikut campur, Kak. Tidak ada yang mengajak kakak ke sini. Jika kakak tahu diri, cukup diam saja."


Sikap Dira, sungguh membuat Dewa kecewa. Sejak kemarin-kemarin, sebisa mungkin dia ingin melindungi Dira dari sakit hati yang tidak diharapkan. Namun, sikap Dira selalu membuat Dewa merasa apa yang dia lakukan menjadi sia-sia. Dira terus menghancurkan kebaikannya sendiri dengan sebuah keegoisan.


Deva menarik napas begitu dalam. Sungguh dia mulai jengah dengan sikap Dira, menurutnya, apa yang Dira lakukan sudah di luar kewajaran. Semakin lama dia bertahan di sana, Deva menjadi semakin iba dengan nasib Dave. Sampai di titik ini, dia baru memahami, masa lalu yang dianggap Dira penting, nyatanya tidak ada artinya sama sekali bagi Dave.


"Lihat ini, Dave. Semua masih rapi tersimpan di rumahku. Ini adalah surat-surat dari kamu. Setelah surat terakhir beramplop merah itu, kamu sama sekali tidak menghubungiku. Setahun kemudian, kamu hanya mengirim satu pesan sms padaku, mengabarkan Hafis akan pergi ke korea untuk melakukan face off. Disitu aku akhirnya berpikir untuk melakukan hal yang sama. Aku yakin, dengan wajah yang sempurna, kamu pasti akan lebih memandangku." Dira menjeda ucapannya sejenak sembari menyodorkan ponselnya pada Dave.


"Saat aku pulang ke Indonesia, aku mencari informasi tentang kamu. Aku sampai menanyakan ke rumah sakit tempatmu KOAS tentang keberadaanmu. Dan akhirnya aku bisa menemukanmu, Dave. Tapi sayang, kamu tidak pernah menganggap keberadaanku. Bahkan saat kita mengambil gelar spesialis di kampus yang sama, kamu sama sekali tidak melirikku. Padahal, aku sering kali dengan sengaja memarkir mobilku di samping mobilmu. Aku juga sering muncul di sekitarmu. Saat itu, aku berpikir positif. Mungkin kamu sedang menjaga kesetiaan janjimu pada Lara. Ta---,"


Deva menerimanya dengan ragu, sedikit keberanian, dia melihat begitu teliti satu per satu. Tidak ada ekspresi berarti yang ditunjukkan. Deva tidak ingin ketiga orang lainnya bisa membaca pikirannya saat ini. Setelah puas mengulir layar ponsel yang ada di genggamannya, Deva pun mengembalikan benda pipih bertekhnologi tinggi itu kepada si pemiliknya kembali.


"Apakah itu tulisanku, Bee?" tanya Dave, seolah ingin mendapatkan dukungan dari Deva.


"Dir, aku juga menyimpan surat dengan tulisan tangan Bang Dave. Kamu bisa membandingkannya dengan tulisan di surat yang kamu bawa untuk semakin menguatkan bukti yang kamu punya." Deva memilih bersikap netral dan tidak langsung membela Dave. Dia yakin, jika hal itu dilakukan, yang ada Dira akan meledak-ledak.

__ADS_1


"Tidak perlu! Aku yakin Dave hanya berkilah. Aku sudah menjelaskan siapa aku, kan, Dave. Di sini kita bertemu. Sekarang kita kembali di sini sudah sebagai suami istri. Sungguh hal yang luar biasa bukan?" Dira mencoba menyentuh lengan Dave. Tapi suaminya itu menepis dengan melangkah mundur.


"Ini sama sekali tidak luar biasa, Dir. Kamu mendapatkan aku dengan paksa. Pernikahan ini bukan jodoh persembahan Tuhan. Semua terjadi, murni karena campur tangan orangtua kita. Cepat atau lambat, kita akan sama-sama hancur," tukas Dave.


"Dave, kita sudah sejauh ini. Bahkan setelah aku mengingatkan dan membawamu ke tempat kenangan kita, kamu masih saja menolakku. Apa kurangnya aku, Dave? Tahukah kamu, untuk bisa mendekatimu, begitu banyak yang harus aku korbankan. Terlepas bagaimana caraku mendapatkanmu, kita sekarang adalah suami istri," tegas Dira.


"Bukan pengorbanan namanya kalau kamu masih merasa sedang atau sudah berkorban," sahut Dave dengan cepat.


"Bodo amat, Dave. Jika dengan ini kamu masih saja menolakku. Aku harap orangtuamu segera jujur kenapa sampai mereka mau mengorbankan kebahagiaanmu." Dira melirik Deva begitu sinis.


"Apa urusan kalian sudah selesai? Aku capek, aku benar-benar ingin istirahat. Kalau kalian masih lama, silahkan lanjutkan sendiri." Deva segera melangkah menjauhi Dave dan Dira. Dewa pun bergegas mengikuti asisten pribadinya itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kamu memang tidak waras Dira. Sekali pun wajahmu bisa menyerupai bidadari, jelas aku tidak akan tertarik padamu. Keculasanmu, memudarkan kecantikan yang harusnya bisa terpancar nyata. Bahkan sikapmu saat masih sebagai Lara, jauh lebih baik daripada sikapmu sekarang," ucap Dave begitu melihat Dewa dan Deva sudah menghilang dari penglihatan.


Ucapan Dave menebas habis kesabaran Dira yang sudah tertahan sejak kemarin. Perempuan tersebut seketika mendorong tubuh Dave sekuat tenaga. Hingga punggung pria itu membentur tembok yang berada tepat di belakangnya.


"Kamu gila, Dira. Benar-benar gila!" Dave meringis menahan sakit hendak melangkah meninggalkan Dira.

__ADS_1


"Aku gila karena kamu, Dave. Tapi aku tidak gila sendiri. Aku ingin lihat, jika kamu tahu siapa yang menyebabkan papa Deva di penjara. Masihkah kamu punya nyali untuk mencintai perempuan sialan itu?" Dira menatap Dave dengan tatapan sinis penuh kemenangan. Akal sehat Dira sudah habis, mungkin sudah saatnya, kartu As segera dikeluarkan. Jika tidak bersamanya, setidaknya Dave juga tidak bersama Deva.


__ADS_2