
Untuk beberapa saat Deva terdiam. Bergeming pada posisinya yang masih bersandar kaku di pintu mobil Dewa dengan memegang kotak hadiah Dave. Perempuan tersebut masih mendongakkan kepalanya. Menatap gugusan bintang yang menemani bulan menghiasi gelapnya langit malam.
"Bee...." Dave kembali memanggil perempuan yang sangat dicintainya itu dengan lembut. Seakan dia ingin mengingatkan kembali jika ada satu permintaan yang belum terjawab.
Dewa sedikit memajukan duduk dan merendahkan posisi kepalanya agar bisa melihat lebih jelas apa yang terjadi di luar. Beberapa saat tidak terdengar suara apa pun selain sayup suara live music di dalam resto, jelas membuat Dewa menaruh rasa cemas dan juga curiga. Namun, dia sama sekali tidak bisa melihat apa pun yang terjadi di luar selain punggung Deva yang tampak sedikit bergeser ke depan.
"Bee...." Lagi-lagi Dave mengulang panggilannya sambil maju selangkah mendekati sosok perempuan yang sangat dicintainya.
Deva menarik napas dalam. Lalu sesaat kemudian, dia menegakkan kepalanya. Berusaha membalas tatapan Dave yang sendu dengan ketegaran yang hampir habis. Bibirnya sudah mengeluarkan isyarat akan segera mengucapkan sesuatu.
"Jangan, Bang. Cukup kita membohongi diri. Tidak akan ada lagi pelukan di antara kita. Apa pun namanya, tidak ada perpisahan yang meninggalkan rasa selain luka. Jangan membangkitkan apalagi membangun kenangan. Sudahi segala kebaikan kita sampai di sini. Bukan aku meminta untuk kita saling membenci. Sama sekali bukan, aku hanya ingin abang memahami. Tidak ada perpisahan yang indah."
Kata-kata Deva yang diucapkan dengan suara bergetar, menyadarkan Dave akan keegoisannya. Selama ini, bibirnya terus mengucapkan kata ikhlas dan menerima keadaan. Namun, apa yang dia berbuat, jelas-jelas malah mengikat Deva semakin erat hingga membuat perempuan tersebut sulit untuk melangkah.
"Semoga abang menemukan kebahagiaan di tempat yang baru. Abang benar, kita ditakdirkan hanya sebatas mencintai, bukan untuk memiliki. Tidak perlu lagi berusaha mati-matian untuk memperjuangkan dan mempertahankan perasaan kita. Sukses di tempat yang baru, Bang." Deva berbalik badan, mundur selangkah dan bergegas membuka pintu mobil Dewa dan masuk ke dalamnya.
Kini giliran Dave yang bergeming. Berdiri terpaku menatap ke dalam mobil yang sebenarnya sama sekali tidak tembus pandang. Karena kaca film yang terpasang pada sisi kiri dan kanan mobil tersebut mendekati 100%.
Dewa tidak ingin bertanya atau pun memberi kata-kata penghiburan pada Deva. Bahkan dia sedang berusaha menahan tangannya agar tidak terulur untuk sekadar membelai rambut Deva atau mengusap punggung perempuan yang langsung menangis tanpa suara dengan posisi tertunduk dalam sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sendiri.
Dave, Dewa, dan Deva. Ketiga orang itu sedang dihadapkan pada posisi yang sama sulitnya. Mereka mempunyai keresahan hati masing-masing yang sama tidak mudahnya. Terlebih lagi bagi Deva, di malam yang bersamaan, dia mendapatkan kejutan yang tidak terduga. Dewa yang menyatakan perasaannya, dan Dave yang berpamitan untuk dinas ke luar kota.
__ADS_1
***
Sejak malam itu, ada sedikit perubahan sikap yang ditunjukkan Deva pada Dewa. Perempuan itu kerap kali salah tingkah meski sudah bersusah payah untuk bersikap biasa saja. Deva lebih sering tertunduk saat bicara dengan Dewa ketimbang membalas tatapan pria tersebut seperti biasa.
Sikap Deva tersebut, tentu saja semakin mengantar logika Dewa untuk menata dan menyiapkan hati menerima sebuah penolakan. Sadar diri, peluang untuk mendapatkan Deva jelas sudah tidak ada lagi. Hati perempuan tersebut jelas masih dimiliki sepenuhnya oleh Dave.
"Pak Ewa...." Suara disertai kemunculan Sashi yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Dewa.
"Ada apa, Shi?" tanyanya datar dengan tatapan yang sudah tertuju kembali pada laptop di depannya.
"Di lobby ada seorang perempuan ingin bertemu Deva."
"Terus, kenapa kamu malah ke sini? Bukannya kamu kasih tau Deva. Aku belum jadi suaminya, Shi. Doakan saja suatu saat nanti kami bisa menjadi pasangan sebenar-benarnya. Meski harapan setipis alismu, tetap aminkan saja. Kalau itu terjadi, apa pun mengenai dia, kamu ngomong dulu sama aku." Dewa mengambil ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Lalu dia memeriksa beberapa pesan masuk yang memang belum sempat dibacanya. Mencoba mencari adakah pemberitahuan dari Desta yang terlewatkan olehnya.
Sikap serta tutur kata Dewa yang kini tidak malu mengakui perasaannya pada Deva, membuat Sashi dan Hilda benar-benar patah hati dan semangat secara bersamaan. Duo kendi bersusah payah menarik perhatian sang atasan, malah Deva yang berhasil merebut hati Dewa.
"Doa yang baik dulu untuk orang lain, nanti doa yang baik itu akan kembali pada kamu. Tanpa mendahului Tuhan, percayalah, aku bukan jodohmu. Sudah, suruh Deva ke sini dulu sebelum menemui tamunya," perintah Dewa.
"Deva ijin keluar, Pak Ewa. Makanya saya ke sini. Kali saja Bapak bisa menghubungi dia."
"Kemana? Kok nggak bilang sama aku?" Dewa langsung beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Bapak tanya sama saya, terus saya tanya sama siapa? Kelihatannya dia panik dan buru-buru," jawab Sashi sesuai dengan pesan Deva.
Dewa mencoba menghubungi Deva dengan telepon genggamnya, namun, tidak satu pun dari panggilannya diterima. Dewa semakin cemas, tidak biasanya Deva pergi dari kantor tidak meminta ijin padanya terlebih dulu. Andai saja tidak ada peninjauan kembali kasus Amar, mungkin dia tidak akan sepanik sekarang.
"Serius Deva nggak bilang mau kemana?" Dewa menatap Sashi dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.
"Tidak ada Pak Ewa."
Mengabaikan Sashi yang masih berdiri di depan mejanya, Dewa bergegas melangkahkan kaki keluar menuju ruangan sang asisten pribadi. Laptop di sana tampak tertutup, di samping benda tersebut, tergeletak sebuah ponsel yang tentu saja milik Deva.
"Pantas... teledor sekali. Kemana dia? Siapa yang menghubungi dia sampai harus meninggalkan kantor seperti ini?" Dewa bertanya pada dirinya sendiri sambil mengambil telepon genggam Deva yang tertinggal. Namun, jelas pria itu tidak bisa mengakses isi dari ponsel tersebut.
Tidak menemukan jawaban atau titik terang kemana Deva pergi, Dewa pun kembali ke ruangannya. Dia mengabaikan Sashi yang mengingatkan jika di lobby masih ada tamu Deva yang menunggu.
"Kemana dia?" Dewa berjalan mondar mandir disekitaran sofa di ruang kerjanya. Hingga ponsel milik Deva yang sudah beralih tempat di saku celananya bergetar beberapa kali diikuti ringtone panggilan masuk.
Dengan cekatan Dewa mengeluarkan ponsel Deva dari sakunya. Sederetan angka tanpa tulisan nama sedang menunggu panggilan tersebut diterima.
"Halo...," jawab Dewa tanpa ada keraguan.
Tanpa menjawab sapaan Dewa, si penelepon langsung berbicara begitu panjang tanpa jeda. Hingga membuat Dewa tidak menemukan celah untuk bertanya atau menimpali. Bahkan saat dia masih dilanda rasa tidak percaya dengan informasi yang diberikan, sang penelepon sudah memutus sambungan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1
"Tidak mungkin, aku harus ke sana," gumam Dewa.