
"Kamu masih di sini, Bee?" Dave bertanya sembari menjaga pandangan matanya dengan terus menundukkan kepala.
"Masih, Bang. Pak Dewa masih ke luar negeri, jadi saya nemenin mamanya Pak Dewa dulu." Deva pun melakukan hal yang sama seperti yang Dave lakukan.
Dave menarik napas dalam. Dari waktu ke waktu yang sudah dilalui, belum juga dia berhasil memberikan rasa biasa dihatinya saat bertemu dengan Deva. Salah tingkah, rindu, senang, sedih, dan entah rasa apalagi yang teraduk---sanggup menghadirkan sensasi luar biasa di dada---melebihi saat pertama kali Dave jatuh cinta pada Deva.
"Aku sebenarnya mau ketemu sama Dewa. Ya sudah kalau dia tidak ada, a---,"
"Dev, siapa tamunya?" Deswita memotong pembicaraan Dave begitu saja. Layar posel Deva masih menghadapnya dengan jelas. Karena Dewa masih belum juga mematikan sambungan video call-nya yang tidak penting sama sekali.
Belum sampai Deva menjawab, Deswita langsung berkata, "Oh, suaminya Dira."
Mendengar hal itu, tentu saja manusia di layar ponsel, seketika beranjak dari posisi duduk yang sebelumnya santai. "Ma, Dewa mau ngomong sama Deva. Penting, besok ada meeting mendadak. Suruh dia ke ruang kerja Dewa, biar buka laptop di sana."
Tanpa Deswita menyampaikan, suara Dewa yang lantang melalui speaker, terdengar jelas di telinga Deva dan juga Dave. Deswita langsung mengulurkan ponsel tersebut pada Deva.
"Aku tinggal dulu, Bang," pamit Deva dengan buru-buru. Bukan karena ingin segera melakukan perintah Dewa, lebih kepada ingin menghindari curi-curi pandang yang sama-sama dilakukan olehnya maupun oleh Dave.
Deswita menelisik pandang pada sosok Dave begitu tajam. Dari ujung kepala, hingga ke ujung kakinya. Mengetahui pria di depannya adalah mantan kekasih Deva, membuatnya ingin tahu lebih banyak akan sosok suami dari keponakannya tersebut. Meski sebelumnya Dave pernah datang ke rumahnya bersama Dira, namun saat itu dia tidak sempat berkenalan dan menyapa Dave lebih jauh karena peristiwa Dira yang mendadak menggila.
"Kamu ada kepentingan sama Deva atau sama Dewa?" tanya Deswita tanpa basa basi.
"Sebenarnya saya ada perlu sama Dewa, Tante. Saya tidak tahu kalau dia ke luar negeri." Dave menjawab dengan sangat sopan.
"Masuk, Dave ... nama kamu Dave, kan? Maaf, tante takut salah. Kalian namanya hampir sama semuanya. Deva, Dave, dan Dewa. Oh, ya ... jangan sungkan-sungkan, kita sekarang, kan, sudah menjadi keluarga. Dira itu adik kesayangan Dewa. Maklum, keduanya sama-sama anak tunggal. Ayo, masuk!" Deswita bersikap sangat ramah pada Dave.
"Terimakasih, Tante." Dave yang tadinya ingin langsung pamit undur diri, mau tidak mau mengikuti langkah Deswita masuk ke dalam ruang keluarga.
__ADS_1
Setelah Dave duduk di atas sofa, Deswita meminta pria tersebut untuk menunggunya sebentar. Tampak Jason menuruni anak tangga sembari membawa gelas kosong di tangan kanannya.
"Air minum di atas habis, Ma. Mama ada obat sakit kepala tidak?" tanya Jason sembari manghentikan langkahnya pada anak tangga terakhir yang begitu jelas terlihat di mata Dave.
"Siapa yang sakit kepala?" tanya Deswita sembari menautkan kedua ujung alisnya.
"Tidak ada, hanya jaga-jaga. Kedengarannya, Nyil memberikan banyak tugas pada Kak Deva." Jason yang dengan sengaja mencuri dengar di depan pintu ruang kerja yang terbuka lebar, sedikit mengadu pada Deswita. Suara Dewa yang keluar dari speaker ponsel dengan volume tinggi, lumayan memudahkan usaha Jason.
"Ada-ada saja kamu, Nyong. Mereka sedang bekerja. Biarkan Kak Deva sendiri yang mengatasi. Jangan ikut-ikut, nanti kamu dimarahi si Unyil." Deswita melanjutkan langkahnya menuju ke dapur untuk memberi tahu asisten rumah tangga agar membuatkan minuman untuk Dave. Jason pun mengikuti langkah Deswita di belakang.
Dave yang mendengar ucapan Jason dengan jelas hanya bisa menarik napas dalam. Sebagai laki-laki normal, pantas sekali dia menaruh curiga bahwa semua hanya akal-akalan dari Dewa. Dia tahu persis, mendekati Deva memang tidak mudah. Dave pernah berada di posisi itu delapan tahun yang lalu. Masa-masa pendekatan mereka dulu, begitu panjang dan penuh perjuangan. Deva mudah akrab dengan siapa pun, baik, ramah, namun cukup sulit untuk menyentuh hati Deva.
"Jadi kamu mencari Dewa, ada perlu apa, Dave?" Deswita tiba-tiba muncul kembali membuat Dave tersadar dari lamunannya.
"Ehm ... saya sepertinya harus menyampaikan secara langsung kepada Dewa, Tante. Maaf kalau saya tidak bisa menjawab sekarang," jawab Dave.
"Oh ... rahasia laki-laki rupanya. Apa kabar Dira, Dave?" Deswita mengalihkan pembicaraan ke hal lain agar suasana menjadi lebih cair.
Deswita seketika memajukan duduknya. Raut kaget tampak dengan jelas di wajahnya. "Kapan?"
"Beberapa hari yang lalu."
"Innalilahi wa inna lillahi rajiun. Tante benar-benar tidak tahu. Tidak ada yang menghubungi Tante."
Dave memberikan senyuman tipis. Berharap Deswita tidak menanyakan keadaan mertuanya lebih lanjut. Bukan tidak ingin menjawab, namun dia tidak enak jika sampai perempuan di depannya tahu, betapa dia tidak peduli dengan apa pun yang menimpa mertuanya.
Di sisi lain, Dira yang masih dalam usahanya menghubungi Dave, lagi-lagi harus merasakan kekecewaan. Sudah berstatus sebagai suami istri, ternyata tidak membuat dirinya berkuasa sepenuhnya atas diri Dave. Status baru ini, benar-benar hanya sebagai formalitas.
__ADS_1
"Berhenti mondar-mandir di depan Papa, Dir. Melihat kamu begini, Papa tidak bisa berpikir tenang." Rudi memberi peringatan pada sang anak. Keberadaan Dermawan dan keluarga yang tiba-tiba menghilang dan tidak terjangkau dari pengawasannya---sungguh membuat Rudi was-was.
Bapak dan anak itu sedang berada di resto hotel untuk menunggu pengacara mereka. Keadaan resto yang sepi, membuat mereka leluasa berekspresi tanpa takut menjadi sumber perhatian dari pengunjung lain.
Beberapa saat kemudian, seorang dari anggota tim pengacara yang ditunggu akhirnya datang juga. Pria tersebut menampilkan wajah yang sumringah, sepertinya kabar bahagialah yang ingin disampaikan kepada Rudi.
"Bagaimana?" tanya suami dari Nina itu.
"Beres, Pak. Kami sudah berhasil membuat kesepakatan dengan keluarga Hafis. Paling lambat Lusa, Bu Nina pasti bisa kita bawa ke Jakarta. Tapi Bapak harus mengeluarkan uang ...." Pengacara tersebut membisikkan nominal angka di telinga Rudi.
"Tidak masalah, itu kecil bagi kami. Atur saja," tegas Rudi dengan keangkuhan yang nyata.
Dira ikut tersenyum penuh kemenangan mendengar obrolan sang papa dengan pengacara. kembali ke Jakarta secepat mungkin adalah keinginan terbesarnya saat ini. Selain sudah tidak sabar ingin bertemu Dave, dia juga ingin mengajukan resign dari rumah sakit tempatnya bekerja. Melihat kondisi Nina, dia sepertinya harus fokus mengurus mamanya. Lagipula, sebagai dokter bedah, dia jarang sekali diberi kepercayaan untuk menangani pasien. Dira lebih sering memakan gaji buta karena kerap kali hanya datang, absen, dan menjadi asisten dokter senior dalam sebuah tindakan.
****
Seperti yang dikatakan pengacara Rudi, tepat dua hari kemudian, kasus Nina dihentikan secara resmi. Bukti lengkap bahwa perempuan tersebut sedang melakukan rawat jalan penyembuhan mental, dan ditegaskan dengan kesaksian Hafis, membuat Nina terlepas dari segala tuduhan. Dengan persiapan yang matang, Rudi dan dira pun memutuskan untuk memindahkan Nina ke rumah sakit internasional di Jakarta.
Berbeda dengan kondisi Nina yang belum ada perkembangan positif, Dermawan kini sudah terlihat jauh lebih baik. Pria tersebut sudah sanggup untuk duduk bersandar di sandaran brankar. Bicaranya pun sudah sangat jelas dengan napas yang sangat teratur.
"Panggil Deva sekarang, Ma. Jangan ditunda-tunda lagi. Mumpung Rudi dan Agas belum menemukan Papa." Dermawan menatap istrinya begitu lembut.
"Deb, hubungi Deva." Widya berganti memberikan perintah pada Debora.
Tanpa menunggu lama, Debora segera menghubungi Deva. Namun sayang, panggilan itu tidak terjawab. Tentu saja, karena Deva sedang lari pagi keliling komplek bersama Jason. Hari minggu kali ini, ingin dimanfaatkannya dengan baik untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan.
"Kak Dev, Jas boleh tidak main di sana? Tuh ada temen Jason." Bocah taman kanak-kanak itu menunjuk area trampolin yang ada di taman yang berada di tengah-tengah komplek.
__ADS_1
"Iya, hati-hati, Nyong." Deva melambaikan tangan sembari memperhatikan langkah kaki Jason.
"Mau minum?" Seseorang tiba-tiba menyodorkan sebotol air mineral kepada Deva.