Sisa Rasa

Sisa Rasa
Ke rumah Debora


__ADS_3

Deva buru-buru memasukkan kopernya ke dalam mobil. Lalu dia bergegas mengikuti langkah Agas dan Nina yang masih tampak di penglihatannya. Deva mengenakan kaca mata hitamnya, seolah dia adalah seorang pengintai sejati.


Pikiran perempuan itu menelisik ke belakang. Sikap kedua orang tersebut yang biasanya selalu terlihat formal jika sedang bersama pasangan masing-masing, sungguh berbanding terbalik dengan kondisi saat ini. Ternyata, Agas dan Nina menuju gate keberangkatan. Namun, hanya salah satunya saja yang masuk ke gate penumpang.


"Astaghfiruallah ... ini tidak benar, atau memang aku yang terlalu berlebihan memandang apa yang mereka lakukan? Apakah mencium pipi kanan kiri dan kening memang hal yang lumrah untuk seorang besan?" Deva bertanya-tanya pada dirinya setelah menyaksikan bagaimana Agas mencium Nina penuh kelembutan.


Setelah memastikan Nina menghilang dari pandangannya, Agas pun berbalik badan. Dia berjalan tergesa-gesa kembali ke arah di mana mobilnya diparkirkan. Deva terus mengikuti pria tersebut, dengan sedikit keberanian, perempuan tersebut mengambil ancang-ancang untuk berjalan dengan langkah setengah berlari.


"Maaf, saya sedang mengejar waktu," ucap Deva setelah pundaknya menyenggol lengan Agas dengan sengaja.


"Deva ... kok kamu bisa di sini?" Agas bertanya sembari menoleh ke kanan kiri dan juga ke belakang. Mencari tahu dari arah mana Deva berasal. Pria itu tampak terkejut dan tidak nyaman.


"Saya baru pulang dari Jogja, Pa. Kok Papa Agas juga ada di sini? Mama Fira ke mana?" Deva pura-pura memperhatikan keadaan sekitar Agas.


"Mama Fira di rumah. Kebetulan tadi ada urusan ketemu relasi di sini. Papa duluan ya, Dev." Agas bergegas meninggalkan Deva.


Deva menarik napas dalam. Dia sadar betul, apa yang barusan terjadi, sama sekali bukan urusannya. Namun, sebagai orang yang selama ini merasakan kebaikan Dave dan keluarganya. Dia tidak bisa tinggal diam.


"Semoga ini hanya perasaanku saja," lirihnya sambil berjalan mendekati mobil Dewa.


Deva berjalan dengan pelan, sengaja membiarkan Agas meninggalkan tempat terlebih dahulu sebelum dirinya sampai di sana. Untung saja, Dewa juga belum muncul. Jadi Deva tidak perlu mencari-cari alasan jika ketahuan sedang menguntit seseorang.


"Akhirnya," gumam Deva sembari menghempaskan bokongnya di jok belakang kemudi.


Tidak lama kemudian Dewa terlihat berjalan mendekati mobilnya. Pria tersebut langsung membuka pintu belakang untuk meletakkan koper. Melihat Deva duduk di posisi pengendali kemudi, Dewa pun mengernyitkan kening sembari menghampiri pintu sisi kemudi dan segera membuka pintu tersebut sesampainya di sana.


"Memangnya kamu tahu di mana rumah Debora? Geser!" perintah Dewa, sembari langsung mendesak posisi duduk Deva.

__ADS_1


"Sabar kali, Pak. Kan biasanya juga Bapak suruh saya yang setir. Tinggal Bapak tunjukkan arah jalannya, kenapa ribet banget. Lagian kenapa nggak membiarkan saya lewat pintu saja sih," omel Deva sambil melangkahi tuas hand rem dan board tengah tempat tuas gigi.


Dewa tidak menjawab. Begitu Deva sudah duduk di tempatnya, pria itu segera menaikkan tuas hand rem, dan menekan pegal gas lebih dalam. Mobil tersebut meninggalkan parkiran bandara secepat kilat.


Tidak sampai tiga puluh menit, mereka pun sampai di sebuah rumah mewah dan bergerbang cukup tinggi. Dari gerbang utama tersebut, untuk sampai ke pintu utama rumah, masih membutuhkan waktu kurang lebih tiga menit lagi.


"Sudah siap, Dev?" tanya Dewa sambil merapikan rambutnya dengan berkaca di sunvisor yang ada di depannya.


"Memangnya saya harus mempersiapkan apa? Tinggal ketemu aja, kenapa harus bersiap-siap segala. Pertanyaan itu lebih pantas untuk Bapak. Ketemu mantan, memang harus keren. Buat mantan menyesal, karena sudah meninggalkan," kekeh Deva.


"Ralat, Dev. Kami berpisah atas keputusan bersama. Tidak ada meninggalkan dan ditinggalkan. Bagiku, nggak ada mantan terindah. Kalau indah, ngapain jadi mantan." Dewa mematikan mesin kendaraan dan mencabut kuncinya.


Baru saja Deva dan Dewa melangkahkan kaki selangkah, pintu rumah utama yang dituju oleh keduanya sudah terbuka. Senyum sambutan yang diberikan oleh Debora, tidak mampu menyembunyikan mata sembab akibat tangisan yang mungkin dilakukan begitu lama.


"Akhirnya kamu datang juga, Dev. Terimakasih, ya." Debora mengulurkan tangan pada Deva dan memeluk tubuh mantan Dave itu begitu erat. Dada keduanya menempel sempurna. Hingga Deva pun bisa merasakan degup jantung Debora yang berdetak tidak biasa.


Ketiganya berjalan beriringan. Sama-sama diam. Tidak ada kata-kata basa basi yang terucap.


"Silahkan duduk. Aku tinggal ke dalam sebentar."


Dewa dan Deva bersamaan menanggapi ucapan Debora dengan sebuah anggukan. Keduanya duduk berdekatan di sofa panjang. Dewa menelisik pandang pada sekitarnya. Tidak banyak peubahan yang terjadi. Rumah itu masih sama dengan beberapa tahun yang lalu saat dia masih sering menemui Debora.


Sesaat kemudian, Debora kembali muncul bersama mamanya---Widya. Perempuan di atas paruh baya itu kondisinya tidak jauh berbeda dengan sang anak, bahkan matanya lebih sembab, wajahnya terlihat begitu lelah.


"Terimakasih akhirnya kamu datang juga. Bisa kamu ikut dengan Ibu?" Widya langsung bertanya dengan lembut pada Deva.


"Ikut kemana, Bu?" Deva mengernyitkan keningnya karena memang tidak paham apa yang dimaksud oleh Widya.

__ADS_1


"Kamu ikut saja. Hanya sebentar. Tidak kemana-mana, hanya ke dalam." Widya menarik tangan Deva. "Deb, kamu temani Dewa dulu," tambahnya sembari menoleh pada sang anak.


Deva lalu berjalan bersama Widya menuju sebuah kamar yang tidak jauh dari ruang keluarga. Kamar tersebut terletak hampir di ujung lantai satu. Begitu pintu terbuka, terlihatlah sesosok laki-laki sepantaran Amar, tergolek lemah di atas ranjang. Sebuah selang terhubung di hidungnya.


"Ayo masuk!" ajak Widya dengan suara lirih.


Deva pun kembali mengikuti langkah kaki mama dari Debora itu.


"Duduk sini, Dev." Widya menepuk kursi di samping ranjang yang berada di dekat tangan sosok pria itu tergeletak.


Widya membungkukkan badan, mendekatkan mulutnya di telinga sosok yang tidak lain tidak bukan adalah papa dari Debora.


"Pa, ini ada Deva---anaknya Pak Amar," bisik Widya.


Mendengar nama papanya disebut, mendadak perasaan Deva menjadi tidak enak. Perempuan tersebut menarik napas dalam. Berharap, bukan sesuatu yang berat yang akan di dengarnya.


Mata sosok pria bernama Dermawan itu perlahan terbuka. Dia menggerakkan kepalanya sedikit agar bisa melihat Deva dengan lebih jelas. Tangannya pun bergeser pelan. Seperti sedang meraba-raba mencari sesuatu. Widya yang paham maksud sang suami, tergerak meraih tangan Deva, lalu menyatukannya dengan tangan Dermawan.


"Ini Deva, Pa. Dia sudah di sini. Papa bicaranya pelan-pelan, ya. Jangan terlalu dipaksakan." Lagi-lagi Widya berbicara lembut pada suaminya.


Dermawan mengangguk lemah. "Maafkan Bapak ...," lirihnya.


"Kita tidak pernah bertemu, kan, Pak?" Deva bertanya dengan hati-hati.


Pria tersebut menggeleng pelan, bahkan gerakan itu hampir tidak terlihat. "Ba---,"


Suara Dermawan tertahan karena pintu kamar tiba-tiba dibuka dengan tidak sabar. Sosok Rudi dan Agas, tampak berdiri di sana dengan tatapan yang sangat tajam tertuju pada Widya.

__ADS_1


__ADS_2