
Sampai di kursi pelaminan, Dave tak kunjung menegakkan kepalanya, pria itu masih sibuk menghapus air mata yang membasahi pipi tanpa aba-aba. Pria itu mengabaikan Dira yang mengulurkan tisu padanya. Tentu saja hal tersebut kembali menimbulkan tanya di benak para tamu undangan yang sedari tadi memang menjadikan keduanya sebagai pusat perhatian.
Mereka yang berpikiran positif, menduga tangisan Dave adalah ungkapan keharuan yang terlalu meluap-luap. Sedangkan yang berpikir negatif, tentu langsung mencibir bahwa pernikahan ini memanglah pernikahan yang janggal. Di tambah lagi bagi mereka yang menghadiri acara akad tadi pagi, jelas aroma gosip pernikahan paksa semakin menyeruak ke permukaan.
Deva, Dewa, dan Deswita duduk satu meja bersama empat orang lainnya yang masih kerabat jauh dari Deswita. Tidak jauh berbeda dengan Dave, Deva pun lebih memilih untuk menundukkan kepalanya. Meski bulir bening masih sanggup ia tahan, namun, sorot mata tentu tidak akan sanggup menyembunyikan betapa hancur dan terlukanya hati Deva saat ini.
Menyadari gerakan Dira semakin berusaha mendekati dan menyentuhnya. Dave mencoba kembali mengendalikan dirinya. Pria tersebut mengucapkan istighfar berkali-kali dengan lirih. Berharap ketenangan segera menghampiri. "Tidak, Dave. Jangan seperti ini. Jangan lukai Deva dengan kesedihanmu. Jika kamu tidak bisa membuatnya tersenyum, setidaknya jangan membuat dia menangis." Dave menyemangati dirinya sendiri dalam diam.
Deswita menyodorkan segelas air putih pada Deva. "Minum dulu, Dev. Angkat kepalamu, sayang. Tunjukkan pada mereka, kamu mencintai Dave dengan cara yang begitu luar biasa. Tuhan memberikan kesedihan tidak semata-mata karena ingin meninggalkan luka. Tuhan sedang mempersiapkanmu menjadi hambaNya yang lebih baik. Tugasmu di sini sudah selesai. Kamu sudah mengantar Dira sampai pelaminan. Pergilah! Ambil waktu sedihmu. Habiskan air matamu. Luapkan semua yang menghimpit di dada. Jangan menahannya."
Deva perlahan menegakkan lehernya dan menerima gelas dari tangan Deswita. "Terimakasih, Mades. Saya tidak akan kemana-mana."
"Jangan memaksakan diri. Mades pernah melakukannya dan hampir gila," lirih Deswita.
Deva tidak sempat menimpali, karena *master of ceremony* (MC) terdengar meminta para undangan untuk memfokuskan perhatian ke arah pelaminan. Dave sudah duduk tegak menatap datar entah ke arah mana. Wajah, mata, dan hidungnya masih memerah khas orang yang baru saja menangis.
Sementara Dira terus menebarkan senyuman kebahagiaannya. Bisa dikatakan, hanya Diralah yang benar-benar bahagia. Pernikahan ini, adalah puncak dari semua impian Dira. Tidak peduli bagaimana cara yang dilakukan, yang terpenting secara hukum agama dan negara, dialah pemilik Dave yang sah.
"Bapak Ibu hadirin yang berbahagia. Kalau datang ke acara wedding, moment apa sih yang paling ditunggu-tunggu dan bikin ser-ser'an ?" Suara tanyayang renyah dari si MC membuat mata Dira berbinar-binar.
"Bukan hanya tamu yang menunggu. Aku pun juga sangat menunggu moment ini. Rasakan bibirku, Dave, dan kamu pasti meminta lagi dan lagi," batin Dira dengan pedenya.
Beberapa tamu undangan, terutama teman dari Dira, seketika berteriak dengan kompak. "Wedding kiss."
Jawaban itu tentu saja semakin membuat Dira merasa di atas awan. Dave tidak menunjukkan ekspresi dan reaksi apa pun. Pandangan matanya konsisten lurus ke depan. Dewa melirik ke arah Deva yang sedang meneguk segelas air putih hingga tandas. Entah sudah berapa gelas yang dia habiskan. Sudah diguyur air dingin begitu banyak, tenggorokan Deva masih saja terasa kering.
__ADS_1
"Wedding kiss, ya? Ehmmm ... sayang sekali, kalian harus kecewa kali ini. Atas permintaan mempelai, kita harue melewati moment yang kita tunggu-tunggu itu. Rupanya sang mempelai ingin menyimpan kepiawaian mereka berdua saja." MC menjeda bicaranya.
Kata "Uuu" panjang seketika terdengar bergemuruh memenuhi ruangan. Sebagai reaksi kekecewaan saat MC mengucapkan hal tersebut. Begitu pun Dira. Dia langsung memalingkan wajahnya ke sisi lain untuk menyamarkan umpatan yang lolos begitu saja dari bibirnya. Jelas Dira kecewa. Dia sudah terlanjur berharap dan membayangkan peraduan dua daging tidak bertulang antara miliknya dan milik Dave.
"Sebagai gantinya, mempelai pria akan memberikan persembahan pada kita semua." MC kembali berusaha membangun suasana gembira. Dia sengaja menjeda sejenak, memberikan kesempatan pada petugas lapangan WO untuk menyiapkan peralatan yang diminta Dave.
"Kita beri applause yang meriah, pada mempelai pria kita, Dave Sebastian." MC mengundang Dave untuk ke tengah panggung begitu melihat kursi tinggi, sebuah gitar melodi dan standing mix sudah siap di sana.
Dave pun segera beranjak berdiri. Dia sudah siap dengan apa yang ingin disampaikan. Karena memang Dave-lah yang mengganti susunan acara. Pria tersebut melemparkan senyuman tipis yang membuat siapa pun yang melihatnya, seketika ingin bertukar posisi dengan Dira.
"Busyet, Dira menang banyak, euy. Bener-bener devinisi memperbaiki keturunan yang sesungguhnya," umpat salah satu teman karib Dira sewaktu mereka masih duduk di sekolah menengah atas.
"Bener banget. Ini mah gila. Dia tahu Dira jaman dulu gak ya? Semoga aja sih tahu. Kalau enggak, takut kena mental," timpal seorang teman yang lain.
"Selamat malam semua. Pada kesempatan ini, tidak banyak yang ingin saya sampaikan." Dave melemparkan pandang ke meja di mana Fira dan Agas berada. "Ma ... Pa ... terimakasih membawa Dave sampai di titik ini. Terimakasih mengantar Dave untuk belajar lebih banyak tentang keikhlasan dan bakti pada orangtua. Semoga pernikahan ini, menjadikan kebahagiaan pada setiap jiwa yang mengusahakannya dengan susah payah."
Suasana ruangan mendadak hening. Apa yang dipertunjukkan Dave saat ini, seolah menjawab tanya yang tadi melintasi pikiran mereka. Meski tidak tersirat dengan jelas dan lugas. Pernyataan Dave cukup menegaskan, bahwa sang mempelai pria memang tidak mengharapkan pernikahan ini. Tuntas sudah rasa penasaran mereka.
Deva mengigit bibir bawahnya sedikit keras. Matanya mulai berembun. Deswita begitu memahami Deva dengan baik. Perempuan itu menguatkan dengan mengusap punggung tangan Deva yang digenggamnya dengan erat.
Dewa meraup wajahnya dengan kasar. Sesak dadanya melihat sepupu yang selama ini dicintai sebagai adik sendiri, malah memilih pernikahan tanpa cinta seperti ini. Tanpa sengaja, pandangan Dewa lalu jatuh pada Deva. Sendu pada sorot mata itu menyiratkan cinta yang begitu dalam.
"Kapan ada perempuan yang mencintaiku sebesar kamu mencintai Dave? Kamu pantas mendapatkan yang terbaik, Dev. Semoga suatu hari, Tuhan menghadirkan seseorang yang tepat untukmu," batin Dewa.
Dira kembali menebar senyum kepalsuan. Hatinya sudah meronta ingin sekali membanting gitar Dave. Namun, emosinya harus bisa dikendalikan dengan baik. "Tahan, Dira. Anggap lagu yang akan dinyanyikan Dave ini ditujukan untukmu. Di mata orang, kamulah pemenang sebenarnya. Deva hanyalah rumput pengganggu yang akan terinjak seiring berjalannya waktu," Dalam hati, Dira menghibur dirinya sendiri.
__ADS_1
Denting dawai gitar perlahan menyapa gendang telinga. Petikan bernada syahdu itu, terdengar lembut hingga menusuk kalbu. Dari intronya saja, sudah dipastikan lagu yang dibawakan adalah lagu sendu dengan lirik menyayat hati.
...^^^Kalau harus ku mengingatmu lagi^^^...
...Aku takkan sanggup dengan yang terjadi pada kita...
...Jika melupakanmu hal yang mudah...
...Ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah...
...Kalah, kuakui aku kalah...
...Cinta ini pahit dan tak harus memiliki...
...Jika aku bisa, ku akan kembali...
...Ku akan merubah takdir cinta yang kupilih...
...Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau...
...Membawa kamu lewat mesin waktu...
[ Mesin waktu - Budi Doremi ]
Deva tak kuasa lagi menahan bulir bening yang berdesakan di pelupuk mata. Perlahan, air mata itu luruh tak terbendung membasahi pipi mulusnya.
__ADS_1
"Kamu keluar saja, Dev. Biar ditemenin Dewa, ya?" Deswita berbisik lembut di belakang daun telinga Deva.