Sisa Rasa

Sisa Rasa
Pemakaman


__ADS_3

Setelah sholat jenazah usai dilakukan. Jenazah Amar segera di bawa menuju tempat pemakaman menggunakan ambulance. Dave menemani Deva berada di dalam kendaraan tersebut. Tidak ada baju atau kerudung hitam yang menempel di badan Deva. Jangankan berganti pakaian, sekedar menyisir rambut yang sudah kusut dan awut-awutan, Deva begitu enggan.


Menjelang waktu maghrib, jenazah Amar pun sudah dikebumikan. Dira, Agas, dan Fira sudah nampak berada di sana. Bagaimana pun, papa dan mama Dave, juga sudah sangat dekat dengan Deva. Di tambah lagi, Agas sebenarnya adalah sahabat Amar sejak dulu. Hampir dua minggu sekali, pria tersebut juga berkunjung ke rumah tahanan Amar. Hanya saja, sejak dia menerima perjodohan yang ditawarkan oleh Rudi---Papa dari Dira, Agas menjadi segan untuk bertemu Amar. Namun demikian, janjinya untuk selalu menjaga Deva, akan tetap ia jalankan.


Kini, gundukan tanah telah menutup tubuh Amar dengan sempurna. Taburan serta siraman air mawar, bergantian diberikan oleh Deva, Dave, Fira, Ali, istri, dan anak-anak Ali. Sementara Dira bergeming di belakang, hanya menatap kebersamaan orang-orang yang menurut Dira, seharusnya tidak perlu lagi begitu dekat dan perhatiannya pada Deva.


"Dev, pulang, yuk! Kita doain di rumah saja. Deva pulang ke rumah Papa sama Mama. Sudah mau maghrib, sayang." Fira menyamakan posisi dengan Deva dan Dave. Berdiri dengan lututnya di samping pusara Amar.


Deva tidak memberikan tanggapan. Pandangan matanya fokus pada batu nisan bertuliskan Amar Prasodjo. Dengan tangan yang tak henti mengusap keramik hitam itu dengan gerakan yang begitu lemah.


Sejak berada di dalam ambulance tadi, Deva sama sekali tidak menunjukkan reaksi yang histeris. Bibirnya lebih banyak mengucapkan istighfar dengan lirih. Tidak banyak gerakan yang dia lakukan selain memeluk keranda berisi jenazah Amar.


"Bee, pulang yuk! Insya Allah papa pasti tenang. Papa orang baik, Allah pasti akan menukar semua kedzaliman dengan tempat yang lebih mulia di sisiNya." Dave merangkul pundak Deva, menatap perempuan itu dengan penuh cinta.


Dira menggigit bibir bawahnya sendiri. Sedikit memulai mempertanyakan posisinya di sana. Semua seolah lupa, ada perasaannya yang kini juga harus di jaga.


"Dev, Saya pulang dulu, ya. Bangkit, Ndhuk. Sering kali, ikhlas itu memang harus dipaksa. Gusti Allah sedang menyiapkan rencana yang luar biasa untuk kamu. Berprasangka baik, capat atau lambat, Allah akan menunjukkan betapa banyak orang yang menyayangi papamu. Datanglah ke rumah tahanan kalau tidak percaya, mereka semua berduka. Pak Amar sangat baik, dan peduli sama semua orang. Tidak ada pentaziah, bukan berarti tidak ada yang sayang pada papamu, mereka mungkin belum mendengar kabar kematian papamu. Saya yakin itu." Suara Ali yang tegas dan berwibawa, membuat Deva mendongakkan wajahnya untuk melihat ke arah pria tersebut. Ali seolah mengerti dengan isi pikiran Deva.


Deva tersenyum, lalu berdiri perlahan dan berkata dengan lirih. "Terimakasih Pak Ali... Ibu, Mas Adam, Mas Andi. Terimakasih atas kebaikan kalian selama ini. Semoga suatu saat, saya bisa membalas kebaikan kalian," ucap Deva sembari menatap satu per satu keluarga Ali yang disebut namanya.

__ADS_1


"Kami tidak butuh balasan apapun, Deva. Tata hidupmu. Cobaan hidupmu memang berat, tapi yakinlah, Allah tidak memberikan kesulitan tanpa menyertakan kemudahan. Derajatmu akan dinaikkan, Ndhuk. Jangan berhenti memaksa dirimu untuk ikhlas. Kamu butuh waktu, tapi waktu tidak akan pernah bisa menunggumu. Saat kamu terdiam, waktu tetap berjalan," tutur Widya---istri dari Ali.


Deva memeluk perempuan berusia di atas paruh baya itu. Setiap kali bertemu Widya, itulah yang dilakukan Deva. Kelembutan dan ketulusannya, sanggup meredam kerinduan Deva pada sosok sang mama.


Akhirnya, bersama-sama mereka meninggalkan area pemakaman. Beberapa langkah berjalan, Deva menghentikan langkahnya, dan langsung menoleh ke belakang, seolah ada yang sedang memanggilnya.


"Mama.... " Deva berbalik badan, dan langsung melepaskan tangan Fira yang menggenggamnya. Dia berlari dan langsung memeluk makam Mamanya yang sudah dilapisi keramik hitam. Jaraknya hanya selangkah dari gundukan tanah yang menutup jazad Amar dengan sempurna.


"Mama... Deva kangen mama. Mama datang dong ke mimpi Deva. Sekali saja. Deva capek, ma. Capek.... " Deva kembali mengiba.


"Kalian pulang duluan saja, biar Dave sama Deva," pinta Dave.


Tanpa menjawab Dira, Dave bergegas berjalan mendekati Deva. Belum sampai mendekat, tubuh perempuan yang sangat dicintainya itu nampak terkulai lemas dan tidak sadarkan diri.


Dave segera mengangkat tubuh tersebut, dan membawanya dengan cepat menuju parkiran mobil. Fira dan Agas yang baru akan menjalankan mobilnya seketika menunda perjalanannya. Mereka kembali turun dari mobil dengan raut kecemasan.


"Bawa ke rumah, Dave," tegas Agas.


"Naikkan ke mobilku Dav, aku antar. Kalau kalian naik satu mobil dengan papa, akan sesak." Dira membukakan pintu belakang mobilnya. Membantu Dave menidurkan Deva di sana.

__ADS_1


Dira berharap, Dave lah yang mengambil kendali akan mobilnya. Namun rupanya Dave lebih memilih berada dekat di sisi Deva. Pria itu memutari mobil bagian depan Dira, lalu membuka pintu belakang sisi lain, masuk ke dalam sana, dan memindahkan kepala Deva ke pangkuannya.


"Biar Papa yang setir, Dir. Kamu temani Mama." Agas memberikan pilihan terbaik pada calon menantunya itu.


"Tidak usah, Pa. Biar saya saja." Dira buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Tentu saja dia tidak ingin membiarkan Dave dan Deva leluasa berduaan tanpa pengawasannya.


Mobil Dira perlahan meninggalkan area makam, disusul di belakangnya mobil yang ditumpangi Fira dan Agas. Di sepanjang perjalanan, Dira tidak hentinya menahan kesabaran. Melirik dari spion tengah mobilnya, usaha Dave membangunkan Deva sungguh membuatnya sesak. Ingin marah, rasanya percuma. Dave selalu mengatakan, semua lumrah karena ikatan yang mereka punyai hanyalah ikatan yang terpaksa. Sekedar menjaga Dira, jelas bukan menjadi prioritasnya.


"Bee, bangun sayang. Ayolah... kamu lebih kuat dari ini. Jangan membuatku gila karena terus seperti ini." Dave menepuk-nepuk pipi Deva dengan sedikit keras.


Perlahan, mata Deva pun terbuka. Perempuan itu seketika berusaha menjauh dari Dave. "Aku tidak mengapa. Aku sehat... aku baik-baik saja." Deva menggigit kuku-kuku jemarinya seperti bocah ingusan yang ketakutan karena sedang dimarahi.


"Bee... tenang dulu, ya. Kamu memang baik-baik saja, sekarang kita pulang ya. Sebentar lagi kita sampai," Dave mengatakannya dengan hati-hati.


Deva menyandarkan kepalanya di jendela pintu mobil. Tatapannya menatap ke arah luar. Mulutnya terus mengucapkan semua tulisan yang ada di spanduk atau banner dari toko-toko yang dilewatinya. Entah apa yang ada dipikiran Deva saat ini. Cobaan bertubi-tubi, nyatanya berhasil membuat jiwa Deva benar-benar terguncang. Sebentar dia terlihat baik-baik saja, lalu sesaat kemudian mendadak bertindak di luar kewajaran.


"Hukum aku saja Tuhan, jangan Deva. Aku rela selamanya hidup tanpa cinta. Asal Deva baik-baik saja," batin Dave.


Di tempat dan waktu yang berbeda, Dewa seperti kehilangan semangat. Pikirannya menjadi tidak fokus. Bayangan akan tatapan Deva yang kosong, dan wajahnya yang murung, seolah menari-nari di depan mata.

__ADS_1


"Aku akan menemuimu segera, Dev. Tapi tolong jangan kotori otakku dengan bayanganmu seperti ini. Jangan buat aku tidak waras, Dev. Jangan pernah!" Dewa terus berbicara sendiri, sembari menatap bayangan tampannya di depan kaca.


__ADS_2