
Tidak hanya Deva, Dewa pun ikut menghentikan langkahnya. Sosok pria yang tadi siang berada di resto hotel, kini muncul kembali di kantornya. Tentu saja untuk menjemput Deva. Dewa sengaja tidak berjalan lebih dahulu. Ponsel menjadi alat terbaik untuknya berpura-pura diam ditempat. Sekedar ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Langsung pulang?" Dave menghampuri Deva, lagi-lagi tatapannya masih membuat Deva tidak berani berlama-lama menatapnya.
"Tentu saja. Aku capek." Deva menjawab dengan nada datar.
Keduanya lalu berjalan mendekati mobil sport dua pintu warna merah milik Dave. Dewa mengernyitkan keningnya, mencoba memastikan apa yang dilihat benar adanya.
"Bagus juga selera Deva. Terus Tino buat apa coba? Dasar player kalem. Alus banget mainnya. Tuh cowok keren-keren, bisa juga dibegoin." Lagi dan lagi, Dewa mengambil kesimpulan sesukanya dari apa yang sekilas dia lihat.
Di dalam mobil, Dave dan Deva masih saling terdiam. Perasaan yang masih sama, dengan hubungan yang berbeda, sungguh membuat Deva tidak nyaman.
"Kita makan dulu, yuk! Aku laper, Bee." Dave mengarahkan mobilnya, menuju rambu yang menunjukkan arah putar balik di tengah jalan.
Menjawab pun percuma, toh Dave sudah memutuskan. Deva hanya terdiam. Mengikuti saja apa mau Dave kali ini. Dulu mereka mengawali dengan sangat baik, mungkin tidak ada salahnya, sekarang pun megakhiri dengan baik.
Dave menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama sebuah resto makanan khas Bali favoritnya bersama Deva. Keduanya sangat menyukai bebek betutu, lengkap dengan sambal matah dan juga sayur ares. Setiap kali datang ke tempat itu, mereka selalu memesan menu yang sama. Semua pelayan lama pun hapal betul dengan Deva dan juga Dave.
"Aku ke toilet sebentar, ya." Dave menitipkan dompet dan ponselnya pada Deva seperti biasa. Seolah lupa, di antara mereka sudah tidak ada lagi hubungan istimewa.
Deva lagi-lagi hanya menerima dengan pasrah. Lalu dia memilih meja yang berbeda dari meja yang biasanya mereka tempati. Seorang pelayan langsung menyapa Deva dengan akrab.
"Kak Deva, sendirian? Kemarin Kak Dave kemari sama perempuan." Laki-laki bernama Bagus itu dengan polosnya mengatakan hal tersebut di depan Deva.
"Oh, ya? Kamu bakalan sering lihat Bang Dave sama perempuan itu. Tandain! Mereka baru saja jadian, nih aku lagi ditraktir merayakan jadian mereka." Deva menggigit bibir bawahnya sendiri di ujung kalimat. Perih. Rasanya masih sangat tidak nyaman.
__ADS_1
"Oh, gitu. Saya salah mengira berarti. Saya kira Kak Dave dan Kak Deva memang pacaran." Bagus menarikkan kursi untuk diduduki Deva.
"Terimakasih, Gus. Pesan yang seperti biasa, ya." Deva melemparkan senyuman berbalut luka.
Bersamaan dengan itu, Dave muncul. Deva ingin memberikan dompet dan ponselnya kembali, tapi Dave menolak.
"Bawa dulu, Bee ...." Dave lalu beralih menatap Bagus. "Makasih ya, Gus. Seperti biasa. Lama juga nggak masalah. Kalau perlu ambil bebek yang hidup dulu. Aku sabar menunggu sampai matang," candanya.
Bagus hanya menggelengkan kepala penuh keheranan. Kemarin saja, wajah Dave seperti baju yang dilipat tahunan. Lecek dan ditekuk-tekuk, irit bicara, dan menjadi sedikit dingin.
Dave duduk tepat di depan Deva. Pria itu langsung memandangi wajah di depannya penuh cinta dan kerinduan. Padahal hanya tidak bertemu beberapa hari saja.
"Kemarin aku ke sini sama Dira," Dave memulai pembicaraan.
"Iya." Deva menjawab dengan singkat.
"Kenapa harus mengeluh padaku, Bang? Memangnya aku bisa apa? Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, masih terlalu cepat untuk memastikan diri tidak akan bisa jatuh cinta lagi. Kita sama-sama sedang belajar menjalani hidup sendiri-sendiri. Abang ---dengan jalan Abang, dan aku---dengan jalanku." Deva mengatakannya sembari memalingkan wajahnya ke sisi lain.
Pembicaraan itu terjeda, karena makanan yang mereka pesan sudah siap diletakkan di atas meja.
Keduanya makan malam bersama tanpa suara. Pemandangan Deva dan Dave yang sering kali bergantian menyuapi, sudah tidak ada lagi. Keromantisan yang kerap kali menodai mata polos pelayan berganti dengan kecanggungan.
"Akhir pekan ini kamu ke tempat papa, kan? Aku ikut, ya? Aku mau minta maaf karena hubungan kita sudah berakhir. Bagaimana pun, papa sudah menitipkanmu padaku. Sekarang, aku tidak yakin bisa terus menjagamu atau tidak. Boleh kan, Bee?" Dave kembali mencari kesempatan untuk bisa bersama lagi di lain waktu.
"Terserah Abang saja."
__ADS_1
Dave tersenyum getir. Dia benar-benar bingung. Melepas sulit---mempertahankan juga tidak mampu.
Ponsel Dave bergetar, nama Dira langsung bisa terbaca dengan jelas di mata Deva. Dave mengabaikan sambungan telepon itu. Bahkan pria itu memutus sepihak tanpa menjawab.
"Diterima saja, Bang. Siapa tahu penting," tutur Deva.
"Tidak ada yang penting. Dira selalu begitu. Setiap ada kesempatan, berusaha menghubungi dan berkirim pesan padaku. Aku seperti tidak punya ruang untuk sendiri." Keluhan kembali terdengar dari mulut Dave. Lalu pria itu meneguk segelas air putih hingga tandas.
"Sudah seharusnya kalian menghabiskan waktu berdua. Agar bisa lebih saling mengenal. Dira itu tunangan Abang, selangkah lagi akan menjadi istri Abang. Sudah sewajarnya kalian saling berkabar." Deva mengucapkannya dengan suara sedikit goyah.
Sungguh dada Deva terasa sesak. Sebelum bulir bening menetas. Deva buru-buru berdiri dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya yang kotor setelah selesai makan tanpa menggunakan sendok.
Dave bergegas menyusul Deva. Mencuci tangan di wastafel tepat di sebelah Deva berada. Sesekali keduanya saling mencuri pandang dari pantulan bayangan mereka pada cermin lebar di hadapan masing-masing.
Setelah membayar tagihan pesanan, keduanya langsung meninggalkan resto. Dave dan Deva berjalan ke arah tempat mobil Dave diparkirkan oleh petugas Valey.
"Bisakah kamu tidak menjauhiku, Bee? Bisakah kita tetap dekat? Apapun namanya, asal jangan pernah menjauhiku?" Dave menahan pergelangan tangan Deva.
Permintaan Dave terdengar begitu egois di telinga Deva. Bagaimana bisa dia yang meninggalkan, malah dia yang menyuruh bertahan.
"Hubungan apa yang menurutmu pantas untuk kita, Bang? Apa Abang sedang memaksaku untuk bersikap biasa saja menanggapi hubungan Abang dan Dira?" Deva meninggikan suaranya.
Untung saja parkiran resto itu sedang sepi. Hanya ada satu mobil yang baru saja datang. Mobil itu mengambil tempat tidak jauh dari mobil Dave.
"Aku tidak menyuruhmu pura-pura. Bee. Aku cuman ingin kita sama-sama jujur. Benarkah kita bisa saling melupakan jika kita berhenti saling menghubungi? Benarkah tidak bertemu bisa membuat cinta kita menghilang? Jika kamu bisa menjamin itu, maka lakukan, Bee. Tapi maaf, aku tidak bisa. Tidak mendengar kabarmu membuat aku gila." Dave menarik tubuh Deva ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau terjebak dalam perasaanku sendiri, Bang. Aku tidak mau." Deva menenggelamkan wajahnya semakin dalam ke dada Dave.
"Dave ...," panggil seorang perempuan. Berhasil membuat pelukan Dave dan Deva seketika terlepas.