Sisa Rasa

Sisa Rasa
Misi Club Dewa


__ADS_3

Dewa mengendarai mobilnya dengan sangat pelan. Jika dilihat dari speedometer di dashboard, jarum petunjuknya tidak sampai menyentuh angka dua puluh. Hal ini tentu saja mengganggu pikiran Deva. Selain tidak tahu kemana mereka akan pergi, sejak di dalam mobil, Dewa juga tidak mengajaknya berbicara.


"Kalau tahu begini, lebih baik jalan kaki. Selain sehat, sepertinya juga lebih cepat sampai," gumam Deva, sangat lirih. Namun, telinga Dewa bisa mendengarnya lumayan jelas.


"Aku sedang tidak terlalu fokus, kalau aku menambah kecepatan, aku takut malah kita sampainya di rumah sakit," sahut Dewa.


"Kalau begitu, biar saya saja yang nyetir. Bapak mau kemana? Colour? Atmosphere? Atau ke Domino?" Deva menyebutkan tempat hiburan malam ternama dengan fasilitas one stop entertainment. Di mana hiburan dari mulai pijat plus-plus, penari basah tanpa busana, prasmanan di atas puser, hingga karaoke sambil dikaraoke pun ada.


"Astaga, Dev. Kenapa pikiranmu sejauh itu. Kamu pikir aku pernah masuk ke sana? Jelas, belumlah. Aku takut nggak kuat iman. Aku menyadari, aku ini manusia biasa. Yang kadang butuh mendessah. Ibarat serial kera sakti, aku ini bukan biksu Tong Sam Chong, dia bisa bergeming meski ada perempuan tidak berpakaian di depannya. Aku lebih pada Cu Pat Kay. Yang cenderung mendekati kenikmatan dibanding mengingat kebajikan."


Deva mendadak tertawa lepas. Mendengar jawaban Dewa, seketika dia teringat dengan siluman babi dengan perut buncit dan gayanya yang selalu meneteskan liur ketika melihat perempuan cantik. Serial televisi yang disebut Dewa itu cukup populer di jamannya masih taman kanak-kanak dulu.


"Eh, kenapa malah ketawa? Dev, kamu sehat, kan? Kenapa kamu puas gitu ketawanya." Dewa sesekali melirik Deva yang benar-benar tertawa lepas sambil melihat ke arahnya.


Deva membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Menyadari betapa recehnya humor yang melintas dipikirannya. Hanya dengan membayangkan sosok Dewa seperti Cu Pat Kay, dia sudah bisa tertawa sampai mengeluarkan air mata seperti sekarang.


"Cu pat kay, sepertinya panggilan itu lebih cocok ketimbang Si Nyil," ceplos Deva tanpa sengaja.


Dewa seketika menginjak pedal remnya dengan mendadak. Pipi pria itu memunculkan semburat warna merah. Kali ini perpaduan antara marah, kesel dan juga malu. Matanya tajam menatap Deva yang masih saja tertawa---meski tidak selepas sebelumnya.


"Puas? Jika kekuranganku membuat kamu bahagia, teruskan saja tertawamu," ketus Dewa.


Tawa Deva seketika terhenti. "Maaf, Pak, kelepasan. Kan tadi Bapak yang mulai, kenapa sekarang marah?"

__ADS_1


"Kenapa jadi membawa nama panggilanku. Bisa tidak kamu bersikap pura-pura tidak tahu saja?"


Deva memiringkan badannya hingga bisa melihat wajah Dewa dengan jelas. "Pak, boleh saya menyampaikan pendapat saya?"


"Hmmmm ...." Dewa menjawab dengan asal-asalan.


"Sebenarnya, saya tidak ingin terlibat dengan urusan orang lain. Tapi, berhubung saya mendengar langsung dari mama Pak Dewa. Mau tidak mau, saya ingin menyampaikan pendapat saya. Tapi bisa kan kita sambil jalan?"


Tanpa kata-kata, Dewa kembali menginjak pedal gas mobilnya. Meski tidak terlalu lambat seperti tadi, kecepatan kendaraan tersebut masih belum juga mencapai angka standart minimal kecepatan Deva saat mengemudi.


"Sebenarnya, Bapak tidak perlu malu atau kesal jika ada orang lain yang tahu nama panggilan Bapak. Masing-masing dari kita mempunyai cerita masa lalu. Tidak melulu indah, bahkan sebagian masa lalu harusnya tidak perlu kita ingat. Tidak perlu, bukan berarti kita bisa melupakan dan membuangnya begitu saja. Yang tidak perlu, nyatanya, malah yang melekat di hati. Apapun kisahnya, setidaknya kita bersyukur bisa sampai ke titik sekarang." Deva menatap Dewa yang fokus melihat jalanan di depan.


"Berbicara memang mudah ya, Dev. Tidak semua orang bisa sedamai kamu dalam menghadapi masa lalu. Bukannya aku tidak hebat, tapi aku mempunyai cara sendiri untuk menyembuhkan luka dan menghindari luka yang sama kembali datang. Jika aku membandingkan diri denganmu, memang lukaku tidak seberapa. Tapi aku percaya, takaran masalah kita memanglah tidak sama. Aku keberatan dengan nama panggilan itu bukan hanya karena gengsi semata. Kamu tidak akan pernah mengerti. Sama halnya dengan aku yang tidak memahami jalan pikiranmu." Dewa mengucapkannya dengan lugas.


Dewa tidak menanggapi Deva. Dia fokus membelokkan mobilnya ke sebuah kafe yang dulu juga sering didatangi Dave dan Deva. Selain tempatnya nyaman, kafe ini juga tidak terlalu jauh dari rumah kontrakan Deva. Teringat akan kontrakannya, Deva pun seperti diajak kembali berpikir keras. Seharusnya dia bisa segera kembali mencari tempat berlindung dan singgah sementara. Bagi Deva, tidak ada lagi kata rumah sejak mamanya meninggal dan papanya harus menjalani hukuman di penjara.


"Jangan berpikiran macam-macam. Kamu bukan perempuan satu-satunya yang aku ajak kemari." Dewa membuka pintu mobil, begitu juga dengan Deva.


"Asal bapak tahu, pikiran saya sedang sibuk akhir-akhir ini. Sedikit pun, tidak punya tempat untuk memikirkan hal lain. Apalagi menyangkut Bapak," ketus Deva.


Keduanya lalu berjalan dengan jarak dua langkah. Dewa berada di depan Deva dengan ayunan kaki yang sengaja dilambatkan.


Di meja yang di pesan Dewa, tampak sudah hadir duo kendi dan dua perempuan yang mendapatkan julukan istri tua sekali dan istri tua oleh Dewa. Siapa lagi kalau bukan Dara dan Diana.

__ADS_1


"Kok Deva ikut, mau masuk club juga?" tanya Hilda, tampak jelas keheranan di raut wajahnya. Begitu Dewa dan Deva sudah berada di depannya.


Deva ingin menjawab. Tetapi Dewa lebih cepat menyahutnya. "Tidak. Dia akan menjadi penasihat di club kita."


"Jadi penasaran, kita ini club apa? Sampai harus ada penasehat segala. Saya tapi nurut saja apa kata Pak Ewa," timpal Sashi. Seperti biasa dengan gayanya yang mengeliat seperti ulat.


"Kalian sudah saling kenal, kan? Kalau ini Deva. Dia asisten pribadiku. Jelas tidak akan menjadi anggota club kita." Dewa menatap Dara dan Diana bergantian.


"Oh, kirain mau dijadikan istri juga. Tadinya mau protes. Kan maksimal istri itu cuman empat, kalau lima sudah nggak sesuai syariat." Diana mengulurkan tangannya pada Deva. "Kenalkan, aku Diana. Istri tua sekali dari Dewa Danendra. Status istri orang meski hanya simpanan." tambahnya.


Meski bingung dan tidak paham apa yang dimaksud oleh Diana, Deva tetap menerima uluran tangan itu sembari menguulum senyuman tipis.


"Aku Dara, istri tua Dewa. Aku bukan simpanan. Ada orang yang menyebutku pelakor. Nyatanya aku rukun-rukun saja sama istri pertama suamiku. Aku lebih pintar dari Diana. Jadi simpanan itu tidak punya kuasa, kalau ketahuan, resikonya tidak sebanding dengan kenikmatan yang kita dapat."


Kini Dara yang berganti mengulurkan tangannya, membuat Deva benar-benar pusing dengan pembukaan perkenalan mereka. Lagi-lagi, dia berusaha tetap tersenyum dan membalas jabat tangan Dara sehangat mungkin.


Setelah itu Deva dan Dewa duduk dalam satu sofa panjang. Sashi, Hilda, Dara, dan Diana, tampaknya sudah lumayan cocok. Mereka berbaur dengan sangat cepat. Dewa memesan minuman dan makanan untuknya sendiri, sementara Deva hanya memesan minuman saja.


"Jadi begini, aku mengumpulkan kalian di sini, karena aku ada satu misi." ucapan Dewa seketika membuat yang lain menatap fokus ke arahnya.


🐢🐢🐢🐢


yang gak paham ci pat kay. nih author kasih liat.pas kebetulan ada cewek cakep lewat.

__ADS_1



__ADS_2