
Tanpa menimpali ucapan Debora, Dewa segera berlari mengejar Deva yang masih tampak berjalan cepat menuju keluar area resto. Ditinggalkannya paper bag pemberian Deva tadi begitu saja. Pria tersebut berusaha memanggil nama Deva agar perempuan itu menghentikan langkahnya. Namun, teriakan Dewa tidak diindahkan sama sekali. Deva malah semakin menambah kecepatan langkahnya.
"Dev... Deva! Tunggu Aku!" teriak Dewa sekali lagi.
Keduanya seakan menjadi pusat perhatian pada malam hari ini. Baik Dewa maupun Deva, sama-sama tidak memedulikan orang sekitar. Padahal, lalu lalang kendaraan dan juga pejalan kaki begitu ramai. Tentu saja, karena mereka berada di kawasan food street, di mana daerah tersebut memang berderet resto aneka makanan.
Deva terus berlari menyusuri trotoar. Dia sendiri juga bingung harus kemana. Taksi offline hanya akan didapatinya diujung jalan tepat di samping gedung sebuah hotel. Masih dibutuhkan separuh perjalanan lagi untuk mencapai kawasan tersebut.
"Dev, kamu mau kemana? Biar Aku antar." Dewa berhasil menahan lengan Deva dengan napas yang sedikit tidak beraturan. Beberapa kali mata pria tersebut mengerjab-erjab karena menahan sorot lampu kendaraan yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Saya mau pulang." Deva menurunkan tangan Dewa dari peganganya dengan paksa.
"Aku antar," desak Dewa.
"Tidak perlu. Bapak kembali saja ke resto. Acara itu dibuat untuk Bapak, lagi pula ada Kak Debora yang menunggu Bapak di sana," lirih Deva. Kekecewaan tersirat jelas pada nada bicaranya.
"Kalau begitu, kamu kembali juga ke resto. Kenapa kamu tiba-tiba berubah? Bukankah tadi kamu yang memeluk dan menahanku? Kenapa sekarang malah kamu yang bersikap ingin menjauhiku?" cecar Dewa.
"Ada saatnya saya menjadi bodoh karena terlalu terbawa perasaan. Tapi Ada kalanya saya harus berpikir rasional. Ketika keberadaan saya tidak dibutuhkan dan tidak di hargai, buat apa saya memaksa untuk bertahan. Saya cukup tau di mana tempat saya di hati Pak Dewa." Deva mengatakannya dengan lugas dan jelas. Meski suaranya sedikit bergetar.
__ADS_1
"Maafkan Aku yang pernah salah mengartikan perasaanku padamu, Dev. Aku kira Aku mencintaimu, ternyata bukan. Aku menyadarinya setelah Aku kembali dekat dengan Debora. Pernah bersama begitu lama dan saling mencintai, membuat aku---,"
"Dan seharusnya itu tidak bisa dijadikan alasan bagi Bapak untuk menjauhi Saya dan juga Mades. Mungkin Saya yang terlalu naif. Mengharapkan sebuah persaudaraan atau persahabatan yang tulus antara kita." Deva memotong ucapan Dewa dengan cepat.
Sesaat keduanya terdiam dan mengatur napasnya masing-masing. Tidak lama, Deva pun kembali berkata, "Jika cinta memang rasa yang sulit kita gapai, setidaknya tidak Ada benci yang tersemai setelah rasa itu berubah arah. Teruslah menjadi pengecut, Pak. Tidak perlu menunggu Bapak buta untuk membuat segalanya tampak hitam dan gelap. Sekarang pun, sejatinya Bapak sudah dibutakan dengan ketakutan dan pikiran negatif Bapak sendiri." Deva lalu kembali berjalan dengan langkah kaki yang pelan.
Dewa bergeming, bibirnya tercekat dan kakinya pun seperti terpasung di tempat. Begitu berat untuk melangkah. Kata-kata Deva barusan seakan tamparan yang begitu keras baginya. Terdengar sangat kasar. Tetapi benar adanya.
Tidak sampai sepuluh langkah Deva meninggalkan Dewa. Sebuah mobil berhenti tidak jauh dari trotoar tempat mereka berada. Si pengemudi tersebut turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Deva yang terus berjalan tanpa memedulikan keadaan di sekitarnya.
Dewa tentu saja semakin merasa kalah langkah. Pria tersebut memilih berbalik badan dan kembali menuju resto tempatnya harus mengikuti acara pisah sambutnya dengan karyawan struktural Diamond Corp.
"Mau kemana, Bee? Kenapa di pinggir jalan begini? Masuk ke mobil, biar Aku antar." Sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Dave itu jelas merasakan sesuatu yang menyedihkan baru saja menimpa sang mantan yang masih terkasih itu.
Di sisi lain, Debora yang masih setia menunggu Dewa di depan pintu masuk resto, menarik napas dalam begitu melihat Dewa memasuki halaman resto dengan wajah yang kusut dan langkah kaki yang tidak bersemangat. Tanpa menunggu pria tersebut menghampirinya, Debora berjalan mendekati Dewa.
"Wa, cukup kamu bersikap seperti ini. Tidak perlu membuat Deva membencimu hanya karena kamu mencemaskan kesedihannya karena sakitmu. Cukup jadikan aku sebagai jarak antara kalian berdua. Tapi jangan bersikap seakan kamu tidak menginginkan kehadirannya." Debora mengulurkan paper bag yang ditinggalkan Dewa tadi kepada pria di depannya.
"Deva benar, aku hanya pengecut, Deb. Yang bersembunyi dibalik keangkuhan hanya untuk menutupi kesedihan dan egoku. Tidak seharusnya aku melibatkanmu." Dewa menerima paper bag dari Debora. Lalu dia berniat melanjutkan langkahnya untuk memasuki resto. Namun, Debora menahan pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Aku yang bersedia dilibatkan, Wa. Aku yang memang menawarkan diriku padamu. Saat kamu mencintai seseorang begitu besar, kamu pasti sanggup melakukan segalanya demi dia tanpa merasa sedang berkorban sedikit pun. Biarlah orang lain menganggapmu budak cinta atau bodoh. Aku tidak mengapa." Debora memindah posisi tangannya. Kini dia menggenggam erat tangan pria yang tepat ada di sampingnya itu.
Dewa mencoba menepis. Tetapi tatapan Debora yang seakan memohon dan mengatakan "jangan" mengurungkan niat Dewa. Keduanya lalu memasuki ruangan resto yang digunakan untuk farewell party yang jelas tidak dihadiri oleh Deva.
Di waktu yang sama, tetapi di tempat yang berbeda. Deva dan Dave masih berada di dalam mobil menuju kediaman Deva. Paham benar jika perempuan cantik di sampingnya itu sedang tidak baik-baik saja, Dave pun memulai usahanya untuk mengurai benang kusut yang memenuhi pikiran Deva.
"Kalian sedang ada masalah? Maaf, Aku bukannya ingin ikut campur. Sekilas Aku melihat Dewa juga sangat sedih tadi."
Di luar dugaan, Deva langsung menceritakan semua pada Dave. Tentang perubahan sikap dan juga sakit yang dialami Dewa. Saat ini, Deva memang butuh teman untuk bertukar pendapat. Dia merasa, Dave adalah orang yang tepat.
"Beri Dewa waktu sebentar untuk menerima keadaannya, Bee. Apa yang dia lakukan saat ini, adalah reaksi awal yang wajar. Seseorang yang sehat dan sempurna, tiba-tiba menerima vonis dirinya akan mengalami kebutaan. Tentu akan mengalami gejolak tersendiri," tutur Dave begitu Deva menyudahi ceritanya.
"Selama ini, Pak Dewa sangat baik sama aku, Bang. Aku berharap apa pun yang terjadi kedepan, kami tidak saling menjauhi seperti akhir-akhir ini. Aku kasihan sama mamanya Pak Dewa juga. Mades sangat sedih dengan sikap Pak Dewa."
"Aku paham, Bee." Dave melirik Deva sekilas, lalu dia kembali memfokuskan diri pada jalanan di depan yang sedikit lebih padat daripada biasanya. "Kalau kamu mau, Aku bisa memberimu ide dan membantumu untuk memulihkan kepercayaan diri Dewa," tambahnya.
"Apa itu, Bang?"
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
Dear Readers,
Terimakasih sudah membaca dan setia dengan Sisa Rasa Dave, Deva dan Dewa sampai sejauh ini. Berhubung Sisa Rasa hanya menyisakan beberapa episode lagi. Author mau numpang promo sebentar. Minta dukungan untuk like, fav, komen dan membaca karya baru author yang tidak kalah seru. klik profil author dan cari karya berjudul "Bukan Surrogate Mother" Terimakasih