
"Bukankah penjelasan dari saya harusnya masih besok? Kenapa sekarang jadi Bapak yang mengambil kesimpulan sendiri? Terimakasih atas perhatian dan niat baik Bapak, apa pun tujuannya. Tapi maaf, saya tidak bisa menerima. Apa yang Bapak lihat dan pikirkan tentang saya, itu sepenuhnya hak Bapak. Saya merasa tidak berhutang penjelasan apa pun untuk saat ini. Saya permisi. Sampai bertemu besok di kantor." Deva langsung bergegas meninggalkan Dewa. Berlari kecil menuju parkiran mobil di mana Dave sudah menunggunya.
"Shittt... sombong sekali kamu, Dev. Ingat baik-baik, suatu saat aku akan menyumpal mulut angkuhmu dengan mulutku sendiri. Kita lihat saja nanti, masih bisakah kamu bersikap seperti sekarang. Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang." Dewa mengancam dalam hati. Lalu dia kembali pada dua orang teman perempuannya yang sudah menghabiskan makanan mereka.
"Kita ke clubing, yuk! Gue lagi pengen melayang!" ajak Dewa, rupanya pria itu berubah pikiran.
"Siapa takut? Tapi ingat, Wa. Kamu jangan kebablasan. Kita juga mau seneng-seneng. Bosan kita jadi bodyguard kamu mulu. Kami males Wa, jadi perempuan callingan Lu terus-terusan, kagak ada duitnya," dengus Dara.
"Bawel amat. Istri Tua sekali dan istri tua memang harus begitu. Jangan sampai ada istri muda di antara kita," sahut Dewa, sekenanya sembari meninggalkan sepuluh lembar uang seratusan di bill tagihan pesanan mereka.
"Ingat umur, Woi! Sampai kapan takut kawin? Kasihan tuh lubang cuman buat pancuran pipiis doang," ejek Diana.
"Karena perjaka sudah langka. Mangkanya susah dapetin cowok kayak gue," timpal Dewa sembari mengajak dua teman perempuannya menuju ke parkiran mobil.
"Wa, gue numpang mobil, Lu, dong," rengek Diana.
"Nggak bisa! Mobil gue masih perjaka. Jangan sampai bau om-om buncit yang menempel di tubuh kalian, nular ke mobil gue." Dewa menolak mentah-mentah keinginan Diana. Dengan kesal perempuan tersebut masuk ke dalam mobil Dara.
Kedua perempuan tadi hanya bisa menggerutu di belakang Dewa. Kalau saja pria itu bukan sahabat mereka sejak jaman masih kencing di celana, mungkin mereka akan mengejar Dewa habis-habisan. Di banding menjadi istri simpanan seperti sekarang, jelas menjadi istri Dewa akan lebih terjamin. Tapi tumbuh bersama sejak kecil, membuat rasa cinta sebagai lawan jenis tidak bisa saling dirasakan. Terlepas dari Dewa yang terkesan liar karena keaktifan tangannya, pria itu menyimpan banyak cerita yang luar biasa.
Di sisi lain, Deva dan Dave hanya saling terdiam sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah Deva. Tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Kondisi itu bertahan hingga keduanya sampai di rumah Deva. Bahkan, tanpa mengucapkan terimakasih, Deva segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
Dave sendiri tidak langsung pulang. Pria tersebut mematikan mesin mobilnya, berdiam diri di dalam mobil dengan kaca pintu mobil terbuka. Mengabaikan ponsel yang sedari tadi terus bergetar di kantong celananya. Dave baru meninggalkan rumah Deva, ketika melihat lampu ruang tamu rumah tersebut dimatikan.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, setelah terlebih dahulu melakukan packing untuk persiapan kepergiannya ke Pulau Dewata---Bali, Deva baru berangkat menuju kantornya. Dia berangkat lebih pagi, karena sekarang harus mengandalkan angkutan busway untuk sampai ke kantornya. Tidak ada lagi si merah yang menemani kemana pun dia pergi.
Datang lebih awal tiga puluh menit dari jam efektif kerja, cukup ideal bagi Deva. Meski berkat kebaikan Tino dia tidak lagi perlu melakukan finger absen, namun dia tetap berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlambat.
"Dev, ditunggu Pak Ewa di ruangannya." Sashi yang juga datang lebih pagi, langsung memberitahu pesan Dewa untuk Deva beberapa saat yang lalu.
"Hah? Pak Dewa sudah datang? Tumben?" Deva menautkan kedua ujung alisnya untuk mewakili rasa heran yang muncul di benaknya.
"Sepuluh menit yang lalu. Sudah cepetan sana. Aku dicuekin banget pagi ini, sepertinya sedang bad mood, kamu hati-hati, Dev," tutur Sashi.
"Owh, oke... terimakasih, Shi."
Hanya dengan beberapa langkah, Deva sudah sampai di depan pintu ruangan Dewa. Karena letak ruangan atasannya itu memang hanya berseberangan dengan meja Sashi.
"Selamat pagi, Pak." Deva memberikan sapaan formal terlebih dahulu.
"Duduk," ucap Dewa, singkat dan datar.
Deva menghempaskan bokongnya dengan bahasa tubuh yang cukup tenang. Tidak nampak sedikit pun kegugupan pada raut wajah perempuan tersebut.
Dewa mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja kaca. Memecah hening di sana. Matanya tajam jatuh pada sosok Deva. Dalam hati, Dewa mulai mengakui, asisten pribadinya memang mempunyai kecantikan alami yang begitu elegan.
"Apa'an sih? Kok malah aku jadi muji dia." Dewa mengumpat dalam hati, lalu menggelengkan kepala dengan cepat. Seolah ingin membuang jauh pikirannya yang sedang tidak sehat.
"Aku menunggu penjelasanmu, Dev. Jadi urusan pribadi apa yang membuat kamu mencurangi perusahaan tempatmu mencari nafkah." Dewa langsung ke masalah yang mengganjal di pikirannya.
__ADS_1
"Mencurangi? Sedikit pun saya tidak merasa sudah mencurangi perusahaan. Jika Bapak mengira saya sedang senang-senang hanya karena melihat saya bersama seorang lelaki, betapa sempitnya pikiran Bapak. Bukankah Bapak sendiri yang mengatakan, walaupun saya membasuh muka saya beberapa kali, tetap saja kesedihan terlihat di wajah saya. Lalu, dari mana logika senang-senang itu datang di pikiran Bapak? Bahkan jika Bapak perhatikan lebih teliti, saya pun masih memakai baju yang sama dengan baju yang saya pakai sejak pagi." Deva menjeda penjelasannya sesaat. Sekedar ingin meredam emosi yang perlahan mulai merangkak naik.
"Jika saya memang sengaja ingin berkencan, pasti saya akan tampil secantik mungkin untuk pasangan saya. Kadang apa yang kita lihat, apalagi hanya sekilas, tidak cukup untuk menilai sesuatu secara utuh. Kita tidak pernah tahu apa kisah yang terjadi sebelumnyam Penilaian Bapak tentang saya, sama sekali bukan tanggung jawab saya. Jika apa yang saya lakukan kemarin, di mata Bapak adalah sebuah kecurangan, silahkan ajukan ke Divisi SDM untuk melakukan evaluasi pada saya." Deva membalas tatapan Dewa tak kalah tajam.
"Bisakah kamu membuat masalah ini menjadi lebih sederhana? Aku hanya ingin kamu memperjelas keperluan pribadi apa yang membuat kamu berturut-turut harus meninggalkan kantor selama dua hari terakhir. Hanya itu, jangan melebarkan masalah," tegas Dewa.
"Ini privasi saya, Pak. Saya tidak bisa menjawab secara gamblang. Saya tidak berbagi masalah dengan orang asing," Deva tetap bertahan dengan prinsipnya.
Dewa menelan ludahnya dengan kasar. Deva benar-benar membuatnya seperti pria yang tidak mempunyai wibawa.
"Apa masih ada yang lain, Pak?" Tanya Deva, tatapannya benar-benar menantang.
"Tidak."
"Andai dengan bercerita pada Bapak beban di hati saya bisa hilang, atau setidaknya berkurang, pasti saya akan bercerita pada Bapak. Sayangnya, itu tidak mungkin. Maaf kalau saya tidak sopan. Permisi." Deva beranjak meninggalkan ruangan dengan perasaan yang carut marut.
"Teruslah mempertahankan keangkuhanmu, Dev. Sampai saatnya nanti, kamu akan menangis di depanku tanpa ragu," Dewa menyumpahi Deva dengan lantang, namun sayang, hanya berani di dalam hati.
"Kita berangkat ke bandara langsung dari sini. Sashi sudah memajukan flight menjadi pukul empat. Karena pukul tujuh waktu Bali, kita langsung ada dinner santai bersama seluruh cabang."
Ucapan Dewa seketika membuat Deva menghentikan langkahnya, dan membalik badannya kembali menghadap Dewa.
"Koper saya masih di rumah, Pak. Bagaimana kalau kita ketemuan di bandara saja," tawar Deva.
"Aku antar ke rumahmu," cetus Dewa. "Sesekali, bisa kan nggak nolak aku?" tambahnya.
__ADS_1