Sisa Rasa

Sisa Rasa
Umpan Dewa


__ADS_3

"Janji tertinggi dalam sebuah hubungan adalah ikrar atau akad pernikahan, Bang. Berkhianat atau tidak, jika Abang sudah melafalkannya untuk orang lain, seperti apa pun janjiku dulu---yang berlaku selanjutnya adalah akad yang Abang ucapkan. Gugur sudah ribuan janji lain. Di atas Al'Quran atau dalam balutan kain kafan sekali pun, sudah tidak ada artinya lagi." Deva menegarkan hati saat mengatakannya.


Dave tidak bisa berucap apa-apa lagi. Apa yang terdengar olehnya barusan, memang benar adanya. Janji suci pernikahan yang terangkai dalam akad, seharusnya bukan hanya sekedar ceremonial. Ada serangkaian tanggung jawab, hak dan kewajiban mengikat setelahnya. Cinta tidak cinta---terpaksa atau suka rela, itulah kenyataan yang harus diterima.


"Aku balik ke kantor dulu. Semoga lancar sampai hari pernikahan Abang tiba." Deva bergegas meninggalkan Dave yang hanya bisa bergeming memandangi punggung perempuan yang sangat dicintainya.


"Aku meninggalkan luka dan kesedihan yang begitu dalam, Bee. Maafkan aku. Sampai detik ini, aku masih berharap keajaiban dan keadilan berlaku untuk kita. Jika memang takdir mengatakan kita harus seperti ini, biarlah cinta tetap tersimpan di sini." Dave bergumam dalam hati sembari menyentuh dadanya dengan satu tangan.


***


Sebelum kembali ke lantai 36, Deva merapikan penampilannya terlebih dahulu. Pipinya masih merona merah akibat sengatan matahari langsung. Karena itu, Deva mengurungkan niatnya untuk membasuh muka. Setelah bercermin dan memastikan diri secantik biasa, dia pun melangkah pasti untuk kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaan.


Langkah kaki Deva terhenti ketika Sashi yang sudah datang lebih dulu, memberitahunya agar langsung menemui Dewa. Mendengar hal tersebut, Deva malah berdiri terdiam layaknya manekin. Dia seperti enggan untuk bertemu pria tersebut. Ada kekhawatiran yang bergelayut dibenaknya. Mengingat tugas secara profesional sudah dikerjakan dengan baik, Deva mulai menduga-duga---panggilan kali ini, pasti berhubungaan dengan masalah pribadinya bersama Dira tadi.


"Dev ... buruan, gih. Jangan ngurang-ngurangin nilaiku di depan Pak Ewa." Sashi menaikkan volume suaranya sedikit. Melihat cara berdiri dan raut wajah Deva, dia bisa menduga dengan tepat, temannya itu pasti malas masuk ke dalam sana.


"Ribet banget hidupmu, Shi. Jangan letakkan kepuasanmu pada penilaian orang lain, apalagi Pak Ewa-mu itu. Terlalu random. Bisa oleng lama-lama," seloroh Deva sambil berbalik badan dan melenggang santai. Hanya beberapa langkah saja, sampailah Deva di depan pintu ruangan yang sudah lima tahun menjadi ruang kerja kedua baginya. Sebelum membuka pintu, seperti biasa, Deva mengetuk benda persegi panjang di depannya itu terlebih dahulu.


Mendengar suara ketukan pintu, Dewa bergegas menempati kembali kursi kebesarannya. Tangannya menyambar file di tumpukan paling atas di atas meja.

__ADS_1


"Ada yang ketuk pintu, Nyil. Mama pulang saja, ya? Nanti Mama hubungi Deva deh." Deswita mulai terlihat gelisah. Sekalipun dia datang atas keinginan Dewa, tetap saja ada perasaan tidak enak yang menghinggapi pikiran perempuan tersebut. Posisi CEO yang disandang Dewa, bukan sekedar jabatan tertinggi secara struktural. Tanggung jawabnya bukan sebatas pencapaian angka tinggi untuk keuntungan perusahaan. Namun, lebih dari itu, Dewa harus bisa memberikan contoh yang baik bagi bawahan-bawahannya dalam bersikap dan berperilaku secara profesional.


Dewa sengaja tidak menimpali perkataan Deswita. Hanya dalam hitungan tidak sampai lima jari, dia yakin pintu ruangan akan terbuka dan menampilkan sosok yang sedari tadi sudah dinanti-nanti.


"Mades ...," sapa Deva pada Deswita. Perempuan itu langsung mencium punggung tangan mama dari Dewa tersebut.


"Mades cuman datang ambil resep obat yang kebawa Dewa. Badan Mades agak kurang nggak fit. Semalaman tidur kurang nyenyak. Sudah beberapa hari suka kebangun tengah malam." Deswita langsung memberikan penjelasan tanpa menunggu pertanyaan dari Deva. Tahu persis, asisten pribadi anaknya itu tidak akan mungkin mempertanyakan keberadaannya di sana.


"Dibuat berdoa saja, Mades," timpal Deva dengan sopan.


Deswita membalas jawaban Deva dengan senyuman tulus. Ekor matanya melirik ke arah Dewa yang masih pura-pura atau sungguhan memeriksa file. Wajah anaknya itu tidak tampak jelas. Hanya bagian kening saja yang terlihat.


Pertanyaan Deva yang seformal biasa, memaksa Dewa menurunkan file yang sedari tadi menutupi wajahnya. Sejenank pria itu seperti sedang berpikir. Lalu dia beranjak berdiri dan mendekati sang mama.


"Mama pulang dulu, ya. Dewa pasti pulang tepat waktu. Nanti Dewa carikan teman lain untuk Mama. Jangan sedih lagi." Dewa tiba-tiba memeluk Deswita.


"Dasar anak kurang ajar. Mamanya malah dijadikan umpan. Lihat saja kamu, Nyil. Mama bakalan bikin kamu termakan omonganmu sendiri." Deswita mengumpat dalam hati. Tangan kirinya mencubit pinggang Dewa, hingga membuat sang anak meringis menahan pelas yang dirasakan.


"Dewa anter dulu ke depan. Sudah jangan sedih. Mama jelek kalau wajahnya muram begitu."

__ADS_1


Sebuah cubitan kembali mendarat di pinggul Dewa. Sementara Deva hanya menjadi pengamat saja. Perempuan tersebut masih mencari-cari wajah sedih Deswita. Sepanjang penglihatannya, Deva sama sekali tidak menemukan raut kesedihan pada mama sang CEO.


Dewa merenggangkan pelukannya sembari membantu Deswita untuk berdiri. "Yuk!" ajaknya.


"Mades pulang ya, Dev. Sampai ketemu nanti malam. Banyak sekali yang ingin Mades ceritakan untuk sedikit melegakan dada. Tahu punya anak laki-laki itu susah diajak ngobrol santai, Mades bakalan adopsi sepuluh anak perempuan." Deswita mulai ikut berimprovisasi memainkan perannya. Tentu saja hal ini dilakukan untuk membangun rasa iba pada benak Deva.


"Iya, Mades. Nanti malam kita tuntaskan cerita kita." Deva memberikan senyuman hangat dan tulus pada Deswita.


Tidak ingin membuang waktu, dan terlalu lama bermain drama, Deswita menurunkan tangan Dewa dari pundaknya sambil berkata, "Sudah nggak usah dianter, sepertinya kamu ada pekerjaan penting. Mama pulang. Ingat janjimu, Nyil. Carikan teman tidur untuk Mama. Hanya beberapa hari saja." Deswita mengerlingkan satu matanya pada sang putra.


Mama dari Dewa itu langsung bergegas meninggalkan ruangan dengan kecurigaan yang makin berlipat. Perempuan tersebut sangat yakin, putra satu-satunya, sudah mulai jatuh cinta. Hanya saja, gengsi, dan mungkin juga trauma, menahan perasaan itu sendiri agar tidak semakin berkembang.


Setelah pintu ruangan kembali tertutup rapat. Dewa pun semakin konsisten memasang wajah lenuh kekhawatiran. Namun, bukan Dewa namanya kalau tidak membungkusnya sedikit dengan keangkuhan. Jelas dia ingin Deva dululah yang menanyakan kenapa dia bersikap demikian.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


Pertanyaan yang terlontar dari Deva itu, jelas bukan tanya yang dia harapkan. Dewa mengajak otaknya bekerja lebih keras---berpikir---mencari cara agar bisa mulai mengatakan tawarannya tanpa harus menjatuhkan harga diri dan memperlihatkan kepedulian yang berlebihan.


"Bapak kepikiran sama Mades?"

__ADS_1


"Akhirnya...," pekik Dewa, dalam hati.


__ADS_2