Sisa Rasa

Sisa Rasa
Deva tidak sendiri


__ADS_3

Dewa dan Deswita jelas tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Terutama Dewa, pria tersebut langsung berdiri dan mengayunkan kaki mendekati tempat di mana Deva berdiri terpaku.


"Aku tidak diam, Dev. Sejak aku tahu, aku sudah mengajakmu untuk mencari tahu sendiri pada Debora langsung. Karena yang aku dengar tidak banyak, aku takut salah. Aku ingin kita mencari kebenaran sendiri waktu itu. Tapi akhir-akhir ini, kita terlalu sibuk untuk menjadikan masalah ini sebagai prioritas." Dewa mencoba menjelaskan sebelum kesalahpahaman berlanjut lebih jauh.


Deswita ikut mendekati Deva. Perempuan itu lalu meraih tangan Deva dengan lembut. "Perkara ini bukan perkara mudah, Dev. Mades tidak membela Dewa. Tapi kejahatan semacam ini tidak bisa terungkap hanya dengan sebuah kesaksian. Apalagi kesaksian itu tidak menyertakan bukti dan data nyata."


Deva membalas tatapan Deswita begitu sendu. Bola matanya tampak berkaca-kaca. "Mades tahu, apa yang terjadi pada kami setelah papa divonis menjadi seorang koruptor? Kami kehilangan semuanya. Keutuhan sebuah keluarga, harta benda, dan yang paling utama---kami kehilangan kehormatan."


"Mades mungkin tidak pernah berada di posisimu, seberapa besar penderitaan kalian, Mades tidak bisa membayangkan. Yang Mades tahu, kamu bisa berdiri sebaik ini sampai detik ini, itu karena hati dan pikiranmu yang luas, Dev. Kami akan membantumu memulihkan nama baik papamu. Tapi jangan gegabah. Politik itu kotor. Peninjauan kembali sebuah kasus itu tidak mudah, apalagi papamu sudah meninggal, kita harus benar-benar menyiapkan semuanya."


Mendengar penuturan Deswita yang panjang lebar namun sangat masuk akal. Deva tersenyum miris. "Saya tidak akan tinggal diam, kalau sampai memang benar papa Kak Debora atau siapa pun terlibat. Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, saya akan mengejar kebenaran sampai titik darah penghabisan."


"Kamu tidak sendiri, ada kami," tekan Deswita.


"Ini bukan masalah Debora adalah mantanku. Sama sekali bukan. Aku sudah mengajakmu bergerak bersama, bukan? Kalau menurutmu aku salah, aku minta maaf," lirih Dewa.


Deswita seketika menoleh pada putra semata wayangnya itu. Sekadar memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. "Maaf"---kata yang sangat langka diucapkan oleh seorang Dewa pada orang lain. Dan sekarang kata itu meluncur tulus dari bibir pria tampan tersebut.


Deva menggeleng pelan. Lalu melepas genggaman tangan Deswita dengan sopan. "Pak Dewa tidak salah. Tidak perlu meminta maaf. Lagipula, tidak seharusnya Bapak terlibat atau melibatkan diri dalam urusan ini."


"Bukan begitu juga, Dev. Percayalah, kamu tidak bisa sendirian. Aku yakin, bukan hanya Pak Dermawan yang terlibat. Jelas ada orang-orang lain di belakangnya. Saat dulu papamu masih hidup saja begitu sulit menyuarakan kebenaran, apalagi sekarang?" tegas Dewa, meskipun jelas dan lugas, pria itu merendahkan nada bicaranya agar tidak terkesan memaksa.

__ADS_1


"Dewa benar, kita harus berhati-hati dalam melangkah. Saat ini, tetap berpura-pura tidak tahu adalah pilihan yang terbaik," ucap Deswita.


"Sebenarnya kemarin Papa Agas juga sudah memberi tahu masalah keterlibatan keluarga Kak Debora. Memang saya tidak ingin buru-buru. Kata papa, dalam urusan politik, kita tidak boleh percaya siapa pun. Bahkan, sebaiknya kita menjaga lawan kita selangkah lebih dekat." Tatapan Deva menerawang jauh saat mengatakannya.


"Kita cari buktinya sama-sama," Dewa tanpa sadar meraih tangan Deva, menatap asisten pribadinya itu begitu dalam.


Deswita menguulum senyuman sembari menyelipkan doa di dalam hati. "Ijinkan anakku mendapat kebahagiaan ya Allah. Tetapkan hati anakku untuk mencintai Deva. Biarkan mereka saling menjaga dan melengkapi di sisa umur mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan."


****


Di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat di mana Deva berada, tepatnya hanya berjarak beberapa rumah saja, Dave tampak duduk bersila---merenung di atas gelaran sajadahnya.


Kepala Dave menengadah ke arah langit-langit kamarnya. Kesendirian di tempat yang tepat, membuatnya semakin diingatkan betapa Allah-lah Sang Maha Penentu segalanya. Segala sesuatu yang dikehendaki Allah SWT apabila ingin diwujudkan cukup berkata kun fayakun. Artinya, Allah SWT tidak membutuhkan sesuatu yang lain kecuali zatNya sendiri. Bahkan doa yang dipanjat seorang hamba dengan rutin dan sungguh-sungguh, tidak selalu dikabulkan jika Allah tidak berkehendak.


****


Ketika begitu banyak orang yang memulai hari dengan doa dan kebaikan, tidak demikian halnya yang terjadi pada Dira, Rudi dan tim pengacara mereka.


"Kalian pastikan keluarga pria itu mau diajak bekerjasama. Saya tidak peduli bagaimana caranya. Segera mungkin, istri saya harus dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta," tegas Rudi.


"Baik, Bapak. Saya akan turun tangan sendiri menemui mereka," jawab ketua tim pengacara bernama Togar.

__ADS_1


"Pergilah! Jangan buang-buang waktu." Rudi memerintah dengan gayanya yang angkuh.


"Baik, Pak. Kami permisi." Togar dan dua anak buahnya, meninggalkan lobby rumah sakit tempat mereka berbicara.


"Pa, siapa sebenarnya laki-laki yang bersama mama? Apa benar dia selingkuhan mama?" tanya Dira tanpa basa basi pada Rudi sepeninggalan tim pengacara mereka.


"Tidak mungkin! Mamamu sangat setia dan begitu mencintai papa. Sudah, jangan fokus pada pria itu. Yang penting, kita pikirkan bagaimana memulihkan kondisi mamamu." Rudi dengan santai menepuk pundak Dira.


"Semoga mama segera membaik. Dira tidak ingin Dave leluasa sendirian menemui mantannya itu. Heran, bagaimana bisa Dave tergila-gila dengan anak seorang koruptor," decih Dira. Dia selalu kesal tiap kali mengingat Dave begitu mencintai Deva.


Rudi hanya diam. Dia tidak memberikan tanggapan apa pun akan pernyataan Dira. Dengan alasan yang berbeda, dia pun ingin segera kembali ke Jakarta.


Kondisi Nina sendiri, belum banyak mengalami perubahan. Meski tekanan darah, detak jantung, dan alat pencernaan sudah berfungsi normal, namun tidak demikian dengan organ geraknya. Dari waktu ke waktu, hingga tiga hari berlalu dengan sangat lambat, Nina masih saja tidak bisa bergerak, bahkan sekedar menggerakkan jemarinya pun perempuan tersebut tidak sanggup.


Sore ini, setelah melalui beberapa serangkaian pemeriksaan panjang, perban yang menutup mata Nina akan dibuka. Hal ini, sukses membuat Dira dan Rudi menyimpan kekhawatiran. Raut ketegangan jelas terlihat di wajah keduanya.


Dokter Spesialis Mata, secara perlahan dan hati-hati membuka perban yang menutupi bola mata Nina. Sungguh detik-detik yang menegangkan bagi semua orang yang berada di ruangan itu. Kondisi Nina yang tidak bisa duduk tegak, jelas sedikit menyulitkan proses ini. Satu tangan perawat yang menyangga kepala Nina, harus menahan pegal karena berat badan pasiennya itu kini seakan tertumpu di tangannya.


"Jangan di buka dulu ya, Bu. Tunggu aba-aba dari saya," ucap Dokter begitu dia sudah sampai pada lapisan terakhir perban. "Tolong redupkan sedikit lampunya, Sus," perintahnya pada perawat yang lain.


"Silahkan dibuka pelan-pelan, Bu. Jika merasakan sakit, jangan dipaksa."

__ADS_1


__ADS_2