Sisa Rasa

Sisa Rasa
Tim siapa?


__ADS_3

"Sudah resikoku, Kak. Terlalu cepat kalau aku menuntut Dave untuk melupakan Deva. Mungkin selama ini caraku salah. Bukannya mendekat, Dave semakin menjauh dariku." Dira mengusap mata dan pipinya yang basah. Lalu berdiri menyamakan posisinya dengan posisi Dewa yang sedang menatap ke arah laut lepas.


"Dir, sudahi hubungan kalian. Sebelum semua terlambat. Kalian masih tunangan, sangat mungkin untuk mundur. Dia bukan laki-laki yang tepat. Dia sama sekali tidak pantas menjadikan kamu sebagai istrinya. Seorang pengkhianat pantas bersanding dengan pengkhianat juga."


"Dave bukan pengkhianat, Kak. Dave dan Deva tidak bersalah. Mereka tidak menyakitiku! Tolong Kak Dewa jangan ikut campur. Kakak tidak akan pernah mengerti, karena kakak sendiri juga tidak setia pada satu hati. Dave bahkan lebih baik dari Kakak," tuding Dira.


Kata-kata Dira bagaikan sebuah tamparan telak bagi Dewa. Kesan yang ditampilkan selama ini, jelas menyiratkan betapa don juan-nya seorang Dewa. Merangkul, mengamit pinggang, dan mencium pipi perempuan seenaknya. Padahal, di balik apa yang terlihat, Dewa sedang menutup dan membentengi diri agar tidak terikat pada sebuah hubungan. Tentu perempuan berpikir berkali-kali jika dekat dengan dirinya. Bisa dikatakan, Dewa sedang menghindari sebuah komitmen. Empat tahun menjalin hubungan bersama Debora, lalu kandas karena kesepakatan bersama yang cukup dewasa. Menjadikan Dewa memilih tidak memulai hubungan yang tidak pasti. Sekedar pacaran, bukan tujuannya.


"Aku mohon, kakak jangan memandang Deva perempuan murahan. Aku yang lebih murahan. Aku yang membuat hubungan mereka harus seperti sekarang."


Dewa semakin tidak mengerti dengan pemikiran Dira atau cerita dibalik hubungan antara Dira, Dave dan Deva. Dia sama sekali tidak bisa menduga-duga. Namun rasa ingin tahunya begitu besar. Sebagai seorang kakak, dia tentu tidak akan membiarkan sepupunya sedih dan terluka.


"Katakan! Alasan apa yang bisa membuat aku menerima keadaan ini. Jangan sampai aku melakukan tindakan keras, agar kamu bisa lepas dari laki-laki pengecut seperti tunanganmu itu." Intonasi Dewa masih sangat tegas.


"Aku yang meminta papa untuk menjodohkan aku dengan Dave, Kak."


"Tapi kenapa, Dira? Kenapa kamu bersikap seolah hanya Dave---laki-laki yang tersisa di muka bumi ini? Di mana harga dirimu, Dir? Kamu cantik, berpendidikan tinggi, dan kariermu sebagai seorang dokter juga bagus. Tanpa dijodohkan, banyak laki-laki yang bersedia menjadikanmu istri. Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiranmu." Dewa mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ada sesuatu yang belum siap aku ceritakan pada kakak. Percayalah, Dave laki-laki yang baik dan setia. Mungkin sekarang kesetiaan itu masih diberikan pada Deva. Tapi aku yakin, suatu saat nanti, Dave pasti akan memberikannya padaku. Kami semua butuh waktu, dan mungkin sudah seharusnya aku mulai membiasakan hati pada luka dan kecewa. Kebahagiaaan harus diperjuangkan. Bismillah... aku siap melakukan yang terbaik. Dave adalah satu-satunya impianku. Tanpa Dave, mungkin aku sudah tidak berada di dunia ini sekarang." Dira menggenggam tangan Dewa dengan penuh kelembutan.


Dewa mengggeleng-gelengkan kepala dengan sudut bibir sedikit tertarik keatas begitu sinis. Baginya, semua terdengar tidak masuk akal. Seharusnya orang hidup mencari kebahagiaan, bukan malah memasang badan untuk menjadi sasaran penderitaan. Obsesi atau cinta buta, Dewa sudah tidak bisa lagi menilai apa yang dirasakan Dira sebenarnya.

__ADS_1


"Oke, aku tidak akan ikut campur lagi. Tapi jangan pernah mengeluh dan menangis di depanku. Kalau sampai itu terjadi, tidak peduli siapa pengkhianat sebenarnya. Tetap kamu yang akan aku lindungi." Dewa berjalan lebih dulu meninggalkan Dira.


Di waktu yang sama, Deva menelungkupkan wajahnya di atas bantal. Pundaknya tampak bergerak naik turun seiring dengan isak tangis yang sudah tidak lagi terkendali. Merutuki kebodohan dan kemurahan diri yang begitu pasrah menerima sentuhan seorang Dave.


Perempuan itu memukul-mukul kasur dengan penuh emosi kekesalan. Kekecewaan pada diri sendiri memang jauh lebih menyakitkan ketimbang saat harus kecewa dengan orang lain. Gerakan tangan Deva semakin melemah, dia terus beristighfar di sela isak tangisnya. Mengingatkan diri untuk tidak menenggelamkan diri dalam duka.


Di bawah atap yang sama, namun di tempat yang berbeda, Dira dan Dave nampak beradu pandang dengan cara yang berbeda 180 derajat. Tatapan Dira jelas menyiratkan cinta yang begitu dalam. Sementara Dave, tatapan itu terkesan dingin dan acuh.


"Dave, maafkan aku, karena sudah membawa kakak sepupuku masuk ke dalam masalah kita," pinta Dira, tutur katanya lembut tanpa mengiba.


"Tidak masalah bagiku, Dir. Mau dia menghinaku seperti apa, aku tidak peduli. Dipukul sampai berdarah-darah pun aku tidak akan mempermasalahkannya. Asal jangan hina dan bawa-bawa Deva," ucap Dave, tegas dan tajam.


Dira menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan, sedikit meredam diri agar tidak terbawa emosi.


"Terserah! Anggap aku apa pun yang kamu mau. Yang menjadi anganmu, jelas berbeda dengan yang ada dibenakku. Tanpa mendahului kehendak Tuhan, aku tahu persis siapa aku juga sudah menetapkan pendirian." Dave menjeda ucapannya sesaat, menerima panggilan yang masuk ke dalam ponselnya. Berbicara sebentar, lalu kembali memasukkan ponsel itu ke dalam kantongnya.


"Kalau kamu mau kembali ke hotel sekarang, kita bisa bareng. Tapi kalau kamu masih mau di sini, silahkan kembali ke hotel sendiri." Dave langsung berjalan menuju mobil jemputan dari hotel tempatnya menginap.


Dira pun langsung mengikuti langkah kaki calon suaminya tersebut. Inilah salah satu hal yang membuat Dira yakin, memaksakan Dave untuk menjadi suaminya adalah pilihan yang tepat. Sekali pun pria itu tidak mencintainya, Dave masih peduli dan tidak mengabaikan Dira begitu saja.


"Dave tidak banyak berubah. Tapi mengapa tidak sedikit pun dia mengenaliku?" batin Dira.

__ADS_1


***


Malam panjang penuh ketegangan sudah berlalu. Tidak peduli ada hati yang berharap gelap berlangsung lebih lama, nyatanya, fajar pagi sudah menunggu insan-insan bernyawa untuk memulai harinya. Malam memang saat yang tepat untuk menyembunyikan jiwa-jiwa yang lelah. Sunyinya, sesaat mampu membuat mata terlelap. Benar-benar pulas atau sekedar pura-pura terpejam---merasakan berisiknya jiwa tanpa takut terusik.


Selepas sarapan pagi bersama, seluruh karyawan ring satu dari seluruh cabang bersiap menuju salah satu destinasi wisata yang merupakan surga dari permainan dan olahraga air seperti Flyboard, Banana boat, sea walker, parasailing, Rolling donuts, flying fish, dan masih banyak yang lain. Di mana lagi kalau bukan di Tanjung Benoa.


Sampai di lokasi tujuan, semua karyawan berganti pakaian yang nyaman untuk menikmati berbagai olahraga dan permainan air tersebut. Sebagai permulaan, mereka akan menunjukkan adu pertahanan di atas banana boat yang ditarik dengan jetski.


"Oke... yang kami sebut namanya, langsung berjejer ke belakang sesuai panggilan. Satu tim terdiri dari enam orang. Tim sudah ditentukan oleh divisi kepegawaian dari kantor pusat. Jadi tidak bisa diganggu gugat dan tidak boleh ada pertukaran anggota." Salah satu crew event organizer yang mengurus team building kali ini, mulai memberikan aba-aba.


Dewa yang berdiri agak berjauhan dengan Deva, dari tadi masih mencuri-curi pandang. Kaca mata hitam yang dikenakan, membuatnya bebas melirik tanpa takut ketahuan.


Deva sendiri seolah tidak peduli. Kejadian semalam, meski menyakitkan, tidak membuatnya gentar untuk berhadapan dengan seorang Dewa.


Tiga tim telah terbentuk, menyisakan dua tim lagi. Deva tanpa beban hanya menunggu namanya disebut. Sesekali dia menimpali Ngakan dan salah satu kepala cabang dari Bandung yang mulai sok akrab dengannya.


"Dasar penggoda," umpat Dewa dalam hati.


Penjelasan Dira yang tidak gamblang, dan sikap Deva yang acuh padanya, masih membuat pikiran Dewa di dominasi pikiran negatif akan sosok asisten pribadinya itu.


"Deva, Ngakan, Glen, Ode, Yoga, De---," crew EO bernama Nando itu menghentikan pembagian tim secara mendadak. Tiba-tiba ada sesuatu yang dengan tidak sopan masuk ke dalam salah satu matanya.

__ADS_1


Dewa menyembunyikan senyumnya yang mewakili rasa puas. Inilah yang diharapkan. Dia yakin, dia dan Deva akan satu tim bersama. Sungguh dia ingin membangun moment yang bisa membuat Dave berpikir ulang karena sudah sangat meremehkan dirinya.


"Maaf saya ulang lagi, ya .... " Crew lain menggantikan Nando. Dewa menunggu sembari senyum-senyum membayangkan ide-ide gila yang terlintas di pikirannya.


__ADS_2