Sisa Rasa

Sisa Rasa
Namanya


__ADS_3

Pandangan ku teralihkan dengan seseorang yang baru saja masuk.


Dia lagi. Lelaki tas carrier. Jadi aku satu kelas dengannya. Ternyata dia juga ikut Bahasa Inggris.


Guru masuk tak lama setelahnya.


Guru menanyakan tentang grammarer dan vocab yang sebenarnya aku kurang memahami. Bu Atun, nama guru bahasa Inggris itu.


"Gimana cara mudah dalam mempelajari grammar?" tanya bu Atun pada lelaki itu.


"Caranya bisa dengan menghafal banyak vocab dan mempelajari rumus dan susnan grammar..." dan bla bla bla.. Aku kurang mengerti selanjutnya.


Aku sempat kagum. Dia cukup pandai tentang bahasa Inggris. Tapi kurasa bu Atun kurang puas dengab jawabanya.


"Terus apa lagi Tiyan?" bu Atun bertanya lagi pada lelaki itu. Dan sekarang aku tau. Namanya Tiyan, lelaki tas carrier yang sering ku lihat.


Pelajaran ini cukup menyenangkan, hingga tak terasa waktu telah habis. Bu Atun keluar kelas dan kami pun keluar. Kembali ke kelas masing-masing. Karna sudah tepat jam waktu istirahat kedua, saat ini waktunya shalat dzuhur.


***


Aku berjalan bersama Nanda menuju ke lapangan, karna hari ini saatnya jam ektrakulikuler. Nanda adalah teman sekelas ku. Kulihat memang seniorku sudah berkumpul di lapangan. Kami ikut duduk bersama yang lain dibawah pohon.


Aku hanya dia mendengarkan mereka berbicara. Hari ini memang akan memperpersiapkan untuk acara berkemah saat ujian semester selesai. Aku menengok ke arah belakoff


, ku perhatikan dengan seksama. Lelaki tas carrier itu berjalan ke aran kami. Ya, Tiyan maksud ku. Dia memang satu eskul dengan ku.


Aku masih belum terlalu mengenal dia, sampai senior ku memanggil nama lengkapnya.


"Hei kamu, Nikotiyan aji prasetyo wijaya"


"Iya kak. Kenapa?"


"Ikut kemah ya kamu. Bantu cari bambu. Rumah mu kan deket sini"


"Ah males lah.." wajahnya dibuat memelas


"Kamu ni lo. Ikut sih" senior ku mulai agak kesal.


"Heheh iya deh iya ikut kok kak".


Apa apaan itu jadi dia berpura-pura.. Astaga. Bukan kah lebih asik mendengarkan Tiyo memainkan gitarnya. Bahkan itu lebih menghibur ketimbang leluconnya yang garing itu.


Hari ini kami hanya membahas rencana untuk berkemah yang masih sekitar 2 mingguan lebih. Minggu depan kami sudah akan mulai UAS. Artinya masa bersantai akan segera tiba. Cukuo mnyenangkan ku rasa.


***


~Satu minggu kemudian~

__ADS_1


Hari ini Ujian akhir semester telah berakhir. Kuharap ini menyenangkan. Minggu depan kami mulai classmeeting. Saling berlomba antar kelas. Saling bersorak dan tentu saja bersantai.


Dua hari kemudian. Classmeeting dimulai. Diawali dengan lomba futsal laki-laki. Hari ini kelas ku mendapat jatah bertanding. Dengan kelas lelaki tas carrier itu. Tiyo hari ini bermain. Menggunakan seragam futsalnya.


Aku mengamati permainan mereka. Kami bersorak saling mendukungvkelas masing-masing. Oh tidak, bahkan dengan keringat yang bercucuran pun Tiyo tetap mempesona bukan. Tubuh nya yang atletis, tinggi, kulit putih, dengan rambut yang sedikit basah dan acak acakan. Sungguh memukau.


Tiba-tiba Tari menyenggol lengan ku dengan bahunya. Aku terperanjat.


"Jadi mau dukung siapa nih?" godanya pada ku. Aku hanya tersenyum simpul. "Itukan kelas kita saingan sama kelas dia." aku baru ingat yang dia maksud.


Flashback on


Saat itu aku tersenyum didekat jendela. Tari memang selalu memperhatikan ku.


"Ngapain sih liya?"


"Enggak papa"


"Lagi suka sama seseorang ya?" dia menggoda ku. Kurasa pipi ku mulai memerah.


"Ah kamu. Aku boleh cerita"


"Ya boleh lah. Cerita aja"


Dengan sedikit keberanian aku mulai menceritakan nya.


"Yang bener. Sama siapa?" Tari sedikit terkejut.


"Itu anak yang ikut sosiologi di kelas sebelah waktu lintas minat."


"Siapa lo namanya" kurasa Tari semakin pensaran. Aku mencoba menutupi. Akhirnya aku menyebit inisial namanya.


"Inisialnya T" Tari berfikir. Dan terus mencari.


"Ah, Tiyan ya. Iya Tiyan dia kan ikut kelas sebelah." ucap Tari sambil tersenyum. Aku bahkan belum terlaly mengenalnya Tari. Yang ku maksud bukan Tiyan. Tapi Tiyo, teman kelas kita. Aku terhipnotos saat dia bermain gitar. Biarlah aku hanya tersenyum saja dengan kesimpulannya.


Flashback off


Seperti biasa. Aku hanya membalas dengan senyuman. Dalam hati ku,jelas aku akan memilih kelas kita Tari. Dia itu Tiyo. Aku bahkan tersenyum sejak tadi karna melihatnya.


Permainan berakhir dan kelas ku kalah. Ya di kalahkan oleh kelas Tiyan. Tak apa, aku tak menyesal meski Tiyo kalah, dia tetap memukau bagiku. Sedangkan Tiyan, di bahkan tidak ikut bermain.


***


Wakti berkemah tinggal satu minggu. Setiap pulang sekolah kami selali berkumpul untuk persiapan membuat tenda panggung. Tenda ini membutuhkankn banyak sekali bambu. Dan yang kami dapatkan selalu masih kurang. Kami sampai harus lembur.


Aku berulang kali bertemu Tiyan dan mulai mengenalnya. Dia sedikit aneh menurut ku. Sikap santainya bahkan seperti kurang peka. Apaan dia itu.

__ADS_1


Kini tiba saat kami berkemah. Kami mulai membuat tenda. Beberapa kali Tiyan meminta ku membantunya ini dan itu. Bahkan kadan sesuatu yang tidak masuk akal.


"Liya, pegang ini dong" dia menunjuk sebuah bambu ukuran besar yang tidak terlalu berat karna sudah kering.


Cukup lama ku pegang sampai tangan ku terasa pegal dan Tiyan bakhan tak kembali mendekat. Aku terus mengerutu. Lalu seniorku berjalan kearahku.


"Kak, ini mau digimanain ya?" tanyaku pada kak Pian, itu nama senior ku tadi. "Loh kamu ngapain megangin itu. Biarin aja dulu itu tarok bawah." ucapnya santai.


Ya ampun, aku dikerjain lagi oleh Tiyan. Sialan dia. Awas kalo ketemu lagi. Kepala ku memanas. Aku kesal sekali pada Tiyan. Dia malah terlihat santai dan tertawa di lokasi tenda Putra. Aku semakin jengkel di buatnya.


Kak Pian mengajak ku untuk ke tenda Putra. Aku mengikutinya. Ini keberuntungan, aku bisa meluapkan kekesalan ku pasanya. Setelah sampai saat aku sudah siap akan mengeluarkan semua perkataan ku


"Tiyan kamu itu ya kok....." dia memotong ucapak ku


"Eh Liya disini. Sini geh ya aku kasih liat sesuatu." dia bakhan seperti tak merasa bersalah. Tapi kenapa emosi ku seperti menguap begitu saja.


Aku mengikuti Tiyan. Dia duduk dan ternyata.


"Apa Tiyan?" tanya ku.


"Ya ini." dia menunjuk sesuatu disana. Hanya rumbut yang baru saja dia cabut. Apa lagi ini, aku bisa ketularan aneh kalau begini.


"Itu kan cuma rumput TIYAN"


"Ya emang rumput emangnya apa"


Aku semakin kesal paadanya "kamu nih ya ngerjain aku terus. Udah aku pergi aja. Males ngel....." belum selesai aku mengatakannya aku sedikit mendengar Tiyan berteriak "Awas Liya"


Dan..... Aku menginjak bambu kecil lalu.....


.


.


.


Bersambung...


.


.


.


.


Hai semuanya, Mohon maaf ya kalo ceritanya masih belum menarik. author masih belajar soalnya.

__ADS_1


jangan lupa komen ya..


__ADS_2