
"Sayangku... sabar ya. Ada kita-kita di sini. Kita akan menemani kamu sampai kamu bosen." Seperti biasa, Sashi dengan gayanya yang ramai dan centil maksimal, langsung memeluk Deva.
Dave seketika langsung bisa menebak siapa perempuan tersebut. Meski belum pernah bertemu, dia sering mendengar cerita dari Deva mengenai sosok sekretaris CEO itu.
"Turut berduka cita ya, Dev. Sabar, ya. Ada kita-kita di sini." Hilda---Sekretaris Direktur Teknik, giliran memeluk Deva.
"Kita nginep di sini boleh kan, Dev? Ah... pasti boleh, kalau nggak boleh, sungguh kamu kejam. Sebentar aku ambil koperku dulu." Sashi menowel lengan Hilda dan berkata, "Hil... ambil kopermu sendiri. Jangan manja."
Deva mengernyitkan keningnya, tidak menduga sekaligus bertanya-tanya, dari mana dua makhluk Tuhan paling seksi di lantai tiga enam itu bisa mengetahui kabar dukanya.
Melihat dua teman Deva sedang sibuk mengambil koper mereka, Dave dan Agas pun menghampiri Deva. Mereka tidak berniat berlama-lama. Melihat Deva sudah berada di rumah dengan selamat, dan juga ada teman yang menemani, membuat Dave dan Agas sedikit lega. Setidaknya, Deva tidak sendiri dan ada teman bicara.
"Aku dan papa hanya ingin memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat. Syukurlah ada temanmu yang menemani. Aku pulang dulu ya." Dave mengusap lengan Deva dengan lembut.
"Papa pulang, Dev. Boleh Papa memeluk kamu sebentar saja?" tanya Agas, begitu hati-hati.
"Boleh." Deva menjawab dengan singkat.
Agas langsung memeluk Deva. "Maafkan Papa, Dev. Jangan pernah membenci Papa."
Deva membalas pelukan Agas. Namun, dia tidak menjawab permintaan pria itu dengan sepatah kata pun. Deva tidak membenci, akan tetapi lebih pada kecewa yang teramat dalam. Orangtua, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bukankah sudah seharusnya mengutamakan perasaan anak? Bukan malah menjadikan anak sebagai alat tukar sebuah kesepakatan. Jika memang tidak melakukan, bukankah tidak seharusnya sekhawatir itu? Seperti Amar yang tak gentar menghadapi meja hijau. Sidang demi sidang dilalui, meski di akhir tetap dinyatakan bersalah, setidaknya alam menyimpan dan mencatat kebenaran yang sesungguhnya.
"Terimakasih, Dev." Agas merenggangkan pelukannya. Lalu langsung berbalik badan meninggalkan Dave yang berdiri mematung---segan untuk beranjak.
__ADS_1
"Mas... ditinggal pulang bapaknya, tuh. Mau pelukan juga? Saya nggak keberatan mewakili Deva. Kenalkan saya Sashi, teman kantor Deva yang paling cantik, seksi, baik hati, dan pastinya available." Sashi mengulurkan tangannya. Namun sayang Dave hanya tersenyum tipis, lalu melewatinya begitu saja.
"Syukurin! Nggak semua cowok jelalatan, bebeh," ledek Hilda, terlihat puas dengan sikap Dave pada Sashi.
Deva menggelengkan kepalanya. Dua temannya itu memang ajaib, sering kali beradu pendapat dan berselisih paham, tapi sikap, sifat, serta penampilan mereka sebelas---sebelas seperempat---begitu tipis bedanya.
"Masuk, Hil... Shi... Aku bukannya melarang kalian tidur di sini, tapi aku nggak yakin kalian betah." Deva memastikan Sashi dan Hilda sudah berada di dalam rumahnya. Lalu dia segera menutup pintu. Mengajak kedua temannya langsung masuk ke kamar.
Langkah kaki Deva yang pelan, pandangan mata yang tidak fokus, dan suara yang tidak stabil. Membuat Hilda dan Sashi merasa keputusan mereka kali ini adalah keputusan yang paling tepat.
"Beginilah keadaan kamarku, sepertinya, kalian tidak akan betah. Aku tidak masalah kalau kalian berubah pikiran. Di sebelah ada kamar, tapi aku belum bersihkan. Kalau mau, hanya kamar ini yang bisa kita tempati."
Mata Sashi dan Hilda kompak menelusuri sekeliling. Kamar berukuran empat kali tiga itu. Tidak seburuk yang diucapkan Deva. Memang sederhana, tetapi sangat rapi, bersih, dan nyaman. Ranjang ukuran king size pastinya cukup untuk mereka bertiga yang berbobot tidak lebih dari angka lima puluh lima kiloan.
"Aku tidak biasa mengigau. Tidurku cantik dan anggun bak putri raja." Sashi meletakkan kopernya begitu saja di sisi ranjang.
"Sebentar-sebentar, siapa yang memberitahu kalian kalau papaku meninggal? Terus kenapa kalian tiba-tiba mau tidur di sini?" Suara Deva sudah tidak selirih sebelumnya.
Hilda dan Sashi saling bertukar pandang. Keduanya sudah terikat sumpah agar tidak memberi tahu jika kedatangan mereka ke sana adalah atas perintah Dewa. Salah bicara sedikit, bisa-bisa perjuangan mereka mendapatkan nama baik di mata Dewa akan kandas.
"Ehm... itu tidak penting. Lebih baik kita obrolin yang lain. Lagi pula, kamu senang kan kami di sini? Kalau kamu tidak seneng, kami pulang saja." Hilda yang selangkah lebih cepat tanggap segera mencari-cari pengalihan perhatian.
"Bukan begitu, aku malah seneng. Aku tidak sendirian. Ternyata aku ada teman-teman sebaik kalian." Deva tersenyum begitu tulus.
__ADS_1
"Dihh... baru sadar. Selama ini ke mana aja, Neng. Sibuk pacaran sama Mas-mas tadi ya? Cakep banget. Carinya di mana, Dev? Mau dong yang kayak gitu. Satu atau dua saja sudah Alhamdulillah," cerocos Sashi.
Hilda menimpali, lalu kembali dijawab Sashi.Keduanya terus saja begitu---berdebat tidak kenal lelah. Membuat Deva hanya bisa menjadi penyimak. Perdebatan yang biasanya membuat Deva pusing, kini seolah menjadi kidung merdu di tengah kesunyian. Hampa di dada sejenak hilang.
Melihat Deva lumayan tidak sesendu sebelumnya, membuat Hilda dan Sashi semakin berceloteh dengan semangat. Sampai ketiganya kompak berbaring di atas ranjang dan di bawah selimut yang sama hingga terlelap.
***
Sebelum sholat subuh, Deva sudah terbangun. Dia mengambil wudlu dan menunaikan sholat tahajud. Setelah mengucapkan salam, kedua tangan Deva menengadah ke atas, begitu juga dengan kepalanya.
"Ya Allah, jangan bosan mendengarkan keluhanku. Sungguh aku merasa tidak sanggup menjalani semua cobaMu. Mengapa Engkau mengambil orang yang aku cintai satu per satu. Apa yang ingin Kau sisakan untukku? Semua memang milikMu, tapi tidak bisakah, Engkau meminjamkan padaku lebih lama?" Deva terdiam sejenak. Sekedar ingin mengatur napasnya karena menahan rasa sesak di dada.
Baru saja Deva ingin meneruskan doanya, dia mendengar suara pintu rumahnya diketuk. Sedikit ragu, Deva melepas bawahan mukenanya. Lalu perlahan mendekati pintu rumah dengan hati-hati. Dia membuka sedikit gorden yang menutup kaca. Memastikan dulu siapa yang datang sebelum membuka lebar pintunya. Kedatangan tamu di jam yang tidak lumrah, mengharuskannya harus waspada.
"Siapa sih?" Deva memicingkan matanya. Sosok yang berada dua langkah di depan pintu sedang berada di posisi membelakanginya---hanya punggung yang nampak.
"Tinggi, atletis, rapi, rambutnya baru saja menggunakan pomade. Itu yang dipakai jaket branded, celananya oke, dan sneakers yang digunakan pun bukan kaleng-kaleng. Apakah rampok sekarang sekeren ini? Eh, tapi mana ada perampok ketuk pintu." Deva menelisik pandang begitu detail pada sosok misterius yang menjadi tamunya.
Tidak berapa lama, sosok itu berbalik badan. Membuat Deva begitu terkejut. Lalu buru-buru menutup kembali gordennya.
Pintu kembali diketuk dari luar. Tangan Deva akhirnya terulur menyentuh gagang pintu tersebut. Bersiap untuk membukanya.
"Bismillah..., " ucap Deva.
__ADS_1