
Di tengah kepanikan Deswita yang mengira Deva kabur dari rumahnya, Dewa dengan pikiran yang tentunya lebih tenang berjalan mendekati kamar mandi sang mama yang tertutup rapat. Dia menempelkan telinganya pada daun pintu tersebut. Suara gemericik air keran terdengar samar di telinga Dewa.
Sedikit ragu, pria tersebut menekan gagang pintu ke bawah. Karena tidak terkunci, papan persegi panjang warna putih itu terbuka dengan mudahnya. Alangkah terkejutnya Dewa begitu melihat Deva duduk menelungkup memeluk lututnya di atas keramik dingin kamar mandi di bawah gemericik shower yang tidak dinyalakan sepenuhnya.
"Dev ...," pekik Dewa.
Perempuan yang dipanggil namanya itu tidak berkutik. Dia tampak tenggelam dalam lamunan terlalu dalam. Deswita tergopoh-gopoh menyusul Dewa ke dalam kamar mandi. Melihat kondisi Deva, perempuan itu seolah sedang berkaca pada kondisinya beberapa tahun yang lalu saat mengetahui suaminya menghamili asisten rumah tangganya sendiri.
"Angkat Deva, Nyil. Dia bisa sakit kalau dibiarkan begitu," perintah Deswita dengan suara yang cukup memekakkan telinga. Namun, Deva tetap saja bergeming.
Tanpa berpikir panjang,Dewa segera mengangkat tubuh Deva. Barulah ketika tubuhnya seperti melayang, perempuan tersebut kembali pada kesadarannya.
"Mau apa Pak Dewa? Turunkan saya. Bapak jangan macam-macam. Kenapa Bapak bisa masuk ke kamar mandi. Turunkan saya." Deva memukuli dada bidang Dewa dengan sekuat tenaga.
Karena cukup kesal, Dewa menurunkan Deva di dekat meja rias Deswita dengan sedikit hentakan. "Dasar aneh,lihat ini bajuku basah karena kamu. Lihat, mamaku! Dia khawatir sekali sama kamu, Dev. Kalau bukan karena mama, aku juga malas lihat kamu ke kamar mandi. Lagian kalau mau mandi, pakaian itu dibuka, dan tolong kunci pintunya dari dalam," dengus Dewa.
Menyadari kebodohannya, sikap Deva sedikit melunak. Apalagi di sana ada Deswita, tentu dia merasakan malu yang luar biasa. Pipi putih mulus itu seketika merona merah luar biasa.
__ADS_1
"Tidak mengapa, Dev. Sekarang keringkan badanmu. Ganti bajumu segera. Setelah itu kita istirahat. Besok kita mulai lagi hari yang baru dengan lebih bahagia dan optimis." Deswita mengulurkan handuk kimono pada Deva.
Secepat kilat Deva kembali memasuki kamar mandi. Dia terus merutuki dirinya yang bodoh,teledor dan tidak mengendalikan emosi dengan maksimal ketika berada di rumah orang. Rasanya, dia malu sekali bertemu dengan Dewa. Besok, atasannya itu pasti akan meledeknya habis-habisan.
Padahal itu hanya ketakutan Deva yang tidak beralasan. Dewa tidak mungkin membawa-bawa masalah hari ini sampai ke kantor. Meskipun terkesan seenaknya sendiri dan piawai mencela, Dewa masih tahu batasan.
"Ngapain kamu masih di sini, Nyil? sudah sana kamu ganti baju. Itu kaos yang kamu pakai juga basah. Nanti masuk angin malah repot," tegur Deswita pada sang putra satu-satunya.
"Ma ... Deva bagaimana? Dia kalau sedih, lebih baik ketemu Dewa. Karena kalau sama Dewa, Deva nggak bakalan sempat sedih. Becanda atau tertawa sih tidak,setidaknya dia bisa melampiaskan emosi dengan mengumpat dan melampiaskan kekesalan pada Dewa." Pria tersebut mengatakan dengan suara yang sangat pelan.
"Sudah! Jangan ikut-ikut. Saat di rumah ini, atasan Deva adalah mama. Mama tahu harus berbuat apa. Kembali ke kamarmu, atau jangan salahkan mama kalau sampai mama berpikir kamu sedang naksir berat sama Deva."
Tidak lama dari itu, Deva keluar dengan ragu-ragu dari balik pintu kamar mandi. Saat mengetahui Dewa sudah tidak berada di sana. Sungguh membuatnya sangat lega dan semakin bergegas untuk mengambil baju ganti dan lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Deswita menunggu Deva dengan sabar. Dia mencoba menata kata, agar apa yang diucapkan bisa menenangkan dan memberi sedikit penghiburan pada Deva. Deswita sama sekali tidak menyangka, keponakannya akan bertindak sangat memalukan seperti tadi.
"Sini, Dev." Deswita menepuk sisi tepian ranjang yang kosong begitu melihat Deva keluar dari kamar mandi dengan sudah berganti pakaian tidur.
__ADS_1
"Maafkan saya, Mades. Saya terlalu emosional. Seharusnya, saya tidak bersikap seperti ini," lirih Deva, setelah dia duduk di samping Deswita persis.
"Tidak mengapa, Dev. Sudah seharusnya kamu bersedih dan meluapkannya dengan lepas. Jangan ditahan. Kesedihan yang disimpan, akan mengungkung jiwamu menjadi pesakitan sejati. Jangan sampai itu terjadi. Jiwa yang sakit, sulit untuk disembuhkan. Butuh waktu yang tidak sedikit, dan tekad besar untuk keluar dari hati yang remuk redam. Seharusnya, tidak ada yang melarang kita untuk merayakan kesedihan, termasuk diri kita sendiri. Berpura-pura tegar sangat menyakitkan, Dev."
Deva dan Deswita saling bertatapan dengan Sendu. Penuturan dari Mama Dewa yang panjang lebar itu, berhasil membuat Deva ingin kembali menangis.
"Menangislah, Dev. Kalau perlu, teriaklah semaumu. Ada pangkuan mades yang akan menampung air matamu. Jangan terlalu keras memaksa dirimu untuk kuat. Ada saatnya semua seolah terjadi di luar batas kemampuan kita. Sejatinya tidak. Ujian hidup kita sudah ditakar dengan pas sesuai porsi kesanggupan kita. Kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak. Menikmati sakit dengan senandung pilu menyayat hati."
Perlahan, Deva merebahkan kepalanya di pangkuan Deswita. Air matanya seketika luruh perlahan tanpa aba-aba. Dia menangis tanpa suara. Tangan Deswita terulur membelai rambut lurus kecoklatan milik Deva.
"Teriaklah, Dev. Jangan malu-malu memuntaskan sesakmu"
Deva menggeleng lemah. Dia tidak lagi butuh sebuah atau berkali-kali teriakan. Kelembutan Deswita yang kini dia rasakan, mengisi satu relung kosong jiwanya yang rindu akan belaian sang mama.
Tidak hanya Deva yang hatinya sedang remuk redam, Dave pun merasakan hal yang sama. Setelah tersiksa dengan drama persiapan pernikahan yang mengharuskan dia ikut serta mendatangi beberapa kerabat dekat keluarga Dira, kini dia harus menghadapi babak baru dari serangkaian rencana yang dimiliki oleh sang calon istri.
"Dave, kita sudah berdua di kamar ini. Tidak inginkah kamu menyentuhku? Atau sekedar mencium pipiku? Kita akan menikah, bukan? Aku tidak keberatan sama sekali jika kamu mau melakukannya." Dira mencoba merayu Dave dengan menyibak selimut yang tadinya menutupi bagian pinggulnya ke bawah.
__ADS_1
Dave yang dari tadi berdiri membelakangi ranjang Dira, tentu saja tidak melihat hal itu. Pria itu berbalik badan, lalu tersenyum sinis melihat penampakan yang ada di depan matanya. "Sebelum kamu ingin dicintai, berusahalah untuk mencintai dan menerima dirimu sendiri, Dir. Jika kamu berpikir bisa menjeratku dengan cara seperti ini, kamu salah besar. Jika hanya dengan melihat paha mulus dan organ kewanitaan aku bisa tergoda, entah sudah berapa perempuan yang akan aku gauli. Dalam sehari, aku bisa menyentuh minimal dua orang perempuan di meja operasiku. Jadi jangan semurahan ini."