
Sampai tiga puluh menit berlalu, Deva belum juga membuka matanya. Posisinya pun masih sama. Rebahan diatas ranjang dengan mata terpejam yang berlinangkan air mata tanpa isakan.
Dave mendekatkan diri ke sana. Berdiri dengan lututnya di samping ranjang. Tangannya terulur mengusap pipi Deva dengan lembut.
"Bee... bangun. Kita sholat ashar dulu, yuk!" Dave mendekatkan bibirnya pada daun telinga Deva.
Dewa memalingkan wajahnya ke sisi lain. Apa yang terlihat di depannya sungguh membuat Dewa tidak nyaman. Dave yang datang ke Bali untuk melakukan foto pre wedding bersama sepupunya, malah terus menunjukkan perhatian dan cinta yang dalam pada perempuan lain. Bahkan Dave tidak menutup-nutupi perasaannya di depan Dira. Tunangan sekaligus calon istri yang harusnya lebih dijaga perasaannya.
"Bee... " Dave kembali berusaha membuat Deva membuka matanya. Dia tahu perempuan kesayangannya itu tidak benar-benar tidur.
Deva mengerjab-erjabkan matanya, dan sesaat kemudian langsung beringsut duduk begitu menyadari Dave dan Dewa ada di kamarnya. Perempuan itu lalu menundukkan wajahnya sedalam mungkin. Hingga dagunya pun menyentuh bagian dadanya sendiri.
"Kita sholat dulu, yuk! Dewa sudah memesankan tiket untuk kepulangan kita. Bee... lihat aku, please." Dave perlahan berdiri. Lalu dia duduk di tepian ranjang. Memberanikan diri menyibak rambut yang menutup wajah Deva.
Dewa berdiri seperti orang yang salah langkah. Keluar kamar, tentu saja tidak akan dilakukan. Dia tidak ingin memberi kesempatan Dave lebih leluasa menyakiti Dira dengan pengkhianatannya yang terang-terangan. Namun terus diam berdiri di antara Dave dan Deva sungguh membuatnya seperti orang yang benar-benar bodoh. Dewa bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menunjukkan sedikit kepeduliannya.
Deva perlahan menengadahkan wajahnya. Kembali menatap Dave dan Dewa satu per satu. Perempuan itu mencubit lengannya sendiri dengan kuat. Tentu saja Deva meringis kesakitan karenanya. Ya... semua ternyata memang nyata. Bukan sekedar mimpi seperti yang diharapkan.
"Bang Dave... Pak Dewa... maaf merepotkan kalian. Maaf, tidak seharusnya saya begini." Deva buru-buru turun dari ranjang. Mencari keberadaan ponselnya. Setelah menemukan benda pipih tersebut, Deva berusaha menghubungi Ali. Namun sayang, nomor yang dihubungi sedang berada di panggilan lain.
"Kok Pak Ali tidak bisa dihubungi?" Deva terlihat kesal, sembari terus berusaha menghubungi sosok baik hati dalam kehidupan Deva dan Amar.
Dave dan Dewa saling bertukar pandang. Perubahan sikap Deva yang begitu dratis, membuat kekhawatiran mereka menjadi semakin besar. Terutama Dave. Hantaman dan permasalahan yang datang bertubi-tubi dalam kehidupan Deva, tidak menutup kemungkinan berdampak pada kondisi kejiwaan perempuan kesayangannya itu.
__ADS_1
Deva yang sedari tadi memilih diam dan mengingkari kenyataan pahit, kini mendadak agresif. Perempuan itu sudah mulai bertindak dengan gerakannya yang cekatan seperti biasa. Hal itu justru semakin menegaskan, betapa terguncangnya psikis Deva kali ini.
"Bee... Sholat Ashar dulu, yuk!" Dave benar-benar sangat hati-hati saat mengucapkannya. Dengan harapan, sholat bisa memberikan ketenangan pada Deva.
"Sholat? Iya... aku wudhlu dulu. Aku sering banget sholat nggak tepat waktu, pasti itu salah satu alasan kenapa Allah tidak pernah mengabulkan doaku." Deva mengatakannya dengan bahasa tubuh seperti anak kecil yang gagal mendapatkan hadiah karena tidak mendapatkan rangking.
Deva lalu mendekati Dewa. "Pak, maafkan saya, ya? Selama ini saya mungkin sering melawan Bapak. Pasti ada kata-kata saya menyinggung Bapak, saya minta maaf, ya. Allah sudah menegur saya langsung. Jadi tolong, Bapak tidak menyimpan dendam lagi pada saya." Deva mengulurkan tangannya pada sang atasan.
Pria tersebut menelan ludahanya dengan susah payah. Jika selalu melawan dan bersikap ketus adalah Deva yang sebenarnya, Dewa akan lebih memilih menerima sikap itu ketimbang harus melihat Deva seperti ini.
Dave menarik tangan Deva dengan setengah memaksa. Lalu memeluk perempuan itu dengan erat. "Bersikaplah sewajarnya, Bee. Jangan tutupi perasaanmu sendiri. Apa yang ada di hatimu, luapkan saja. Menangislah sampai air matamu kering, habiskan dukamu sekarang. Marah, jika kamu ingin marah. Jangan siksa dirimu sendiri." Air mata Dave luruh tak terbendung. Melihat Deva seperti sekarang, membuat pertahanannya semakin runtuh. Dirinya yang sudah tidak berdaya karena harus kehilangan cinta, sekarang semakin nelangsa karena melihat sosok yang dia cintai begitu menderita.
Dewa mulai mempertanyakan posisi dan tujuannya mengapa harus bertahan di kamar Deva. Jika dia berniat melindungi Dira dari pengkhianatan terbuka seorang Dave, harusnya dia membatasi pergerakan Dave yang bisa dikatakan sudah berlebihan. Namun nyatanya, ada sisi dalam dirinya yang mengatakan untuk mengabaikan semua. Melihat Deva sekarang, membangkitkan sesuatu di dalam hatinya yang tidak pernah dia rasakan sebelum-sebelumnya.
"Lepaskan Dira jika kamu memang tidak bisa mencintainya. Jangan sakiti adikku dengan cara seperti ini. Jika kamu memang peduli dan mencintai Deva, jangan membuat dia tampak murahan di mata orang lain. Menjalin hubungan dengan calon suami orang, memberi kesan buruk padanya," tegur Dewa. Dia sudah tidak bisa menahan lagi perasaan yang berkecamuk di dadanya.
"Kamu ingin tahu siapa yang lebih murahan? Tentu saja, aku... Aku yang dijual orangtuaku karena papa Dira cukup memiliki uang dan kekuasaan untuk membebaskan papaku dari segala tuntutan kasus yang menjeratnya. Aku yang murah, buakan? Karena nyatanya aku yang bisa dibeli." Dave menghentikan ucapannya, melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Tapi waktu tujuh tahun, jelas tidak akan mudah kami lupakan begitu saja. Bukan karena lamanya waktu yang kami jalani bersama, tapi karena begitu banyak hal yang sudah kami alami," tambah Dave.
Dewa tercekat mendengar penuturan Dave. "Tujuh tahun," gumamnya.
Empat tahun saja, Dewa sudah sangat menyesal. karena sudah menghabiskan waktu berpacaran yang sia-sia. Di mana dia lebih banyak mengisi waktu berdua seperti layaknya pasangan muda pada umumnya. Nonton bioskop di bangku paling belakang, dinner di resto romantis, dan saling berkunjung ke rumah masing-masing. Semua berjalan begitu normal.
__ADS_1
Obrolan itu terhenti di sana karena Deva sudah muncul dengan rambut dan atasan yang lumayan basah. Perempuan tersebut langsung mengenakan mukenanya. Sedangkan Dave dan Dewa bergantian terlebih dahulu mengambil air wudhu.
Untuk pertama kalinya, Dewa menjadi imam sholat bagi perempuan selain mama dan sepupu-sepupunya. Mereka melakukan sholat dengan sangat khusyu. Deva yang masih bertahan di kondisi pura-pura baik-baik saja, membuat dua pria yang bersamanya semakin gelisah.
Senyuman Deva yang mungkin terlihat mempesona di mata orang lain, nyatanya hanya kamuflase untuk menyembunyikan patah hati akibat kehilangan yang sebenarnya.
Selang beberapa saat setelah sholat, Dave dan Deva akhirnya berangkat ke bandara. Sepanjang perjalanan ke sana, Deva kembali terdiam layaknya patung.
Dewa yang hanya mengantar sampai di lobby, bergegas kembali melangkah menuju kamarnya. Terlalu terburu-buru, membuatnya menabrak seorang perempuan.
"Dewa..., " sapa perempuan yang tidak lain adalah Debora.
"Hai.... " Dewa menjawab singkat.
"Sendirian? Di mana Deva?" Debora mencari keberadaan sosok perempuan yang disebut namanya tadi.
"Deva baru saja kembali ke Jakarta. Papanya meninggal."
Ponsel di genggaman Debora seketika terjatuh. Begitu terkejutnya dia dengan berita yang baru saja di dengar.
"Lengkap sekali penderitaanmu, Dev. Dengan apa kami akan menebus kesalahan kami?" lirih Debora. Namun terdengar jelas di telinga Dewa.
"Kesalahan apa yang kamu lakukan pada Deva, Deb?" Dewa bertanya dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1