
Pihak kepolisian rupanya tidak bisa langsung menyetujui apa yang menjadi permintaan Dewa. Mereka masih bersikeras menyarankan agar pria tersebut menempuh jalur damai. Rupanya, oknum aparat penegak hukum yang ada di depan Dewa saat ini, tidak jauh berbeda dengan oknum yang ada di lapangan tadi.
Adu argumen pun tidak bisa dihindari. Dewa pantang menyerah. Pria tersebut bersikukuh pada keterangannya di awal. Dengan tegas, Dewa berkali-kali mengatakan bahwa kejadian tadi bukanlah kecelakaan lalu lintas murni.
Sementara itu, di tempat yang sama namun di ruangan yang berbeda. Si korban yang di tabrak Dewa tadi kini sudah didampingi pengacara. Situasi berbeda 180 derajat terjadi di sana. Strategi telah diubah. Entah apa yang dibicarakan oleh pengacara dan korban sebelumnya, hingga tawaran damai yang sedari awal diserukan, mendadak dibatalkan. Mereka memutuskan untuk melanjutkan perkara ke proses selanjutnya.
Pihak kepolisian pun akhirnya menuruti kemauan korban. Petugas segera mengetik surat aduan lengkap beserta tuntutan yang ditujukan untuk Dewa. Setelah selesai, salah seorang anggota yang tadinya hanya merekam apa yang diucapkan si korban dan pengacara pun keluar. Dia menghampiri ruangan di mana Dewa dan dua rekannya berada. Polisi tersebut lalu membisikkan sesuatu pada aparat di depan Dewa.
Sekian menit berlalu dalam keheningan. Suara bisik-bisik dua aparat itu sungguh teredam dengan sempurna. Dewa tampak santai, tidak ada sedikit pun raut kekhawatiran pada wajahnya. Seperti biasa, ketika dia meyakini kebenaran akan sesuatu, maka pantang bagi Dewa untuk mundur sebelum semua benar-benar jelas.
"Baik." Aparat yang sedari tadi menawarkan damai, menyudahi bisik-bisiknya dengan sang rekan.
"Korban sepertinya berubah pikiran, Pak. Korban sudah membuat tuntutan resmi untuk, Bapak. Jadi kasus ini, akan kita teruskan sampai tuntas di pengadilan. Namun mengingat pasal yang disangkakan memiliki tuntutan di atas dua tahun, maka Bapak tidak bisa pulang ke rumah. Mulai hari ini, Bapak kami tahan di sini hingga berkas perkara selesai dan dilimpahkan ke pengadilan," jelas polisi sembari menatap Dewa dengan tegas.
"Tidak masalah, saya berhak didampingi seorang pengacara, bukan?" Dewa bertanya untuk meyakinkan apa yang ada di dalam pikirannya.
__ADS_1
"Kami akan memberikan waktu kepada Bapak untuk menghubungi pengacara. Tapi Bapak tidak boleh keluar dari ruangan ini," tambah si aparat sambil berdiri dan mengajak rekannya keluar ruangan.
Bersamaan dengan itu, ternyata Dave datang di tempat tersebut. Karena status Dewa sudah dipastikan akan naik menjadi terduga bersalah, maka dengan segala pertimbangan polisi yang dinas saat itu mengantar dan menemani Dave masuk ke dalam ruangan di mana Dewa berada.
"Wa ... gimana ceritanya?" Dave langsung menghampiri Dewa.
"Duduk dulu, Dave." Dewa menunjuk bangku kosong di sebelahnya sambil melirik petugas kepolisian yang berdiri di depan pintu.
"Siapa yang mau mencelakai Deva?" Dave kembali bertanya dengan lebih tidak sabar lagi.
"Aku belum tahu. Lihat data korban dari laporan dan surat tuntutannya. Selidiki dia sampai akar-akarnya." Dewa mengatakannya dengan setengah berbisik. "Aku akan memberikanmu kontak seseorang yang bisa diandalkan untuk membantumu," tambahnya.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Cari bukti secepatnya. Aku tidak akan lama di sini. Aku sudah menghubungi pengacara. Dia memang tidak akan datang kemari hari ini. Mereka sudah bergerak juga untuk mencari bukti. Aku sedang mengejar waktu, sebelum berkas dilimpahkan ke pengadilan, aku mau semuanya sudah clear. Menginap di sini tiga atau empat hari, sepertinya tidak masalah." Lagi-lagi Dewa memperlihatkan ketenangan yang sungguh tidak wajar di situasi seperti ini.
"Lalu Deva bagaimana? Pasti di luar sana masih ada yang mengincarnya?"
__ADS_1
"Aku sudah minta bantuan temanku. Satu hal lagi, nanti malam, Deva harus bertemu dengan Pak Dermawan. Tolong kamu temani dia. Atur sebaik mungkin. Pastikan tidak ada yang mengikuti kalian. Ada orang-orang terbaik kepercayaan temanku yang menjaga kalian dari jauh, tapi lebih dekat lagi, kamu harus temani Deva selama aku di sini,"
Dave tidak menanggapi ucapan Dewa. Menolak sangat tidak mungkin, mengiyakan pun akan terasa berat menjalani. Berdekatan dengan Deva tidak hanya sanggup mendebarkan detak jantung lebih kencang. Melainkan juga sanggup mengobarkan kembali kerinduan yang sudah susah payah dia tahan. Dave berharap hasrat untuk memeluk tubuh perempuan yang dicintainya itu bisa dikubur dalam-dalam.
"Aku percaya kamu paham akan batasanmu, Dave. Berdekatan dengan Deva tidak akan membuatmu lupa kalau dia bukan milikmu lagi, bukan? Tolong katakan pada Deva, aku di sini baik-baik saja. Suruh dia baca pesanku baik-baik." Dewa menepuk pundak Dave. Merasa pembicaraan mereka sudah cukup kali ini.
Dave pun meninggalkan ruangan. Pria tersebut langsung kembali menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Sepanjang perjalanan, Dave terus memikirkan cara agar bisa mendatangi Dermawan bersama Deva tanpa menimbulkan kecurigaan.
Sesampainya di rumah sakit, Dave meminta perawat yang selama ini menjadi asistennya ketika praktik untuk mempersiapkan sesuatu. Baru kemudian, dia mengirim pesan kepada mantan yang masih terkasih di hatinya. Dave sengaja tidak melakukan panggilan suara secara langsung, karena dia yakin betul, Deva belum tentu akan menerimanya.
****
Tepat pukul tujuh kurang lima menit, Deva menjejakkan kakinya di rumah sakit tempat di mana Dave melakukan praktik. Berjalan terburu-buru dengan kepala menunduk, Deva segera berjalan menyusuri koridor menuju ruangan Dave.
"Masuk, bee," Dave yang sengaja menunggu di depan pintu, langsung membukakan daun pintu lebih lebar begitu Deva sudah berada dua langkah di depannya.
__ADS_1
"Terimakasih, Bang." Deva melangkah masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Dave.
"Kamu pakai ini, Bee. Supaya tidak ada orang lain yang akan mengenali kita." Dave mengulurkan setumpuk barang pada Deva.