
"Mungkin kita harus berdamai dengan keadaan, Bang. Melupakan apalagi membenci Abang, tidak akan cukup membuatku lupa. Dengan cara menjaga lebih dekat, seolah hati terus diingatkan, bahwa kita memang tidak ditakdirkan bersama. Berusahalah untuk menciptakan kebahagiaan, Bang. Mari kita nikmati saja pahitnya hidup ini. Selagi kita mampu mengecilkan apa yang menjadi beban kita, Tuhan pasti bantu ringankan."
Dave menoleh ke arah Deva. Dia tahu betapa sakit hati perempuan itu ketika mengatakan hal tadi. Memberi penghiburan di saaat hati sendiri terluka, jelas bukan perkara yang mudah. Namun, ucapan Deva benar. Berusaha terlalu keras melupakan dan menjauh, hanya akan menyiksa diri. Kebahagiaan memang harus diciptakan sendiri. Menjalani apa yang diyakini, dengan batasan yang kini semakin jelas.
"Oh, ya ... kamu sudah dapat tempat tinggal? Atau masih tinggal di rumah Dewa?" Dave mengalihkan pembicaraan.
"Belum, Bang. Belum ada waktu mencari tempat kos. Iya ... aku masih ada di rumah Pak Dewa." Deva memberikan senyumannya sekilas.
"Cari tempat tinggal lain secepatnya, Bee. Hutang budi tidak bisa dihitung dan digantikan dengan apa pun. Berbeda dengan hutang uang. Jangan mengikat dirimu lebih lama dengan kebaikan yang tidak pernah kita nilai. Belajarlah dari aku, karena balas budi, menentukan jodoh sendiri pun aku tidak mampu."
Deva hanya membalas ucapan Dave dengan sebuah anggukan kecil. Keduanya terus melangkah pelan, sejenak menikmati kebersamaan mereka agar berlangsung lebih lama. Mereka berhenti tepat di depan toko di mana Dewa dan Dira berada di dalamnya. Dave mau pun Deva, tidak berniat untuk menyusul. Kedua orang yang masih saling mencintai itu memilih untuk menunggu di luar.
"Jika aku belum bisa menemukan kebahagiaan. Tolong kamu ciptakan bahagia untukku. Jika ada orang lain yang bisa menerima, memahami, dan mencintaimu lebih baik, terimalah, Bee. Aku akan ikut berbahagia."
Deva tidak menimpali ucapan Dave tersebut. Karena sesaat kemudian, Dira dan Dewa terlihat muncul sembari menenteng dua paper bag yang entah berisi apa.
"Sudah cukup aku memberi waktu kalian untuk bernostalgia. Sekarang, giliran aku jalan sama Dave." Dira melepaskan genggaman tangannya pada lengan Dewa. Lalu dia mengambil paper bag yang ada di tangan Dewa tanpa mengucapkan kata terimakasih.
"Kalian teruskan jalan-jalannya. Kalau ada kami, tentu pendekatan kalian akan terganggu. Selamat bersenang-senang. Semoga segera jadian." Dira seperti sedang mengusir Dewa dan deva dengan paksa.
"Baiklah, kami pergi dulu. Bang, aku duluan." Deva berpamitan dengan senyuman yang dibuat setulus mungkin.
"Baik-baik kalian, jangan berantem mulu. Jika tidak bisa menjadi sepasang pengantin seperti pengantin baru pada umumnya, mulailah dengan pertemanan terlebih dahulu." Dewa mengucapkannya sembari menatap Dave dan Dira secara bergantian. Sejurus kemudian, dia pun menyusul langkah Deva yang tidak terlalu lebar.
"Dave, bawain, dong." Dira mengulurkan paper bag pada pria yang dipanggilnya itu.
__ADS_1
"Bawa sendiri, Dir. Kalau kamu pengen manja, aku bukan orang yang tepat untuk bisa menuruti semua maumu," ucap Dave dengan santai.
"Dave ... bisa tidak kamu bersikap manis padaku?" Dira menghentakkan kakinya penuh kekesalan.
"Sebaiknya kamu tidur, Dir. Berharaplah aku bisa bersikap manis di dalam mimpimu. Jangan membawaku hidup dalam kenyataan, sepertinya itu akan berat. Aku mau jalan-jalan lagi. Kalau kamu mau ikut, silahkan. Aku tidak keberatan." Dave melenggang santai meninggalkan Dira yang masih terbengong-bengong dengan ucapannya.
Dave ternyata berjalan cukup jauh. Pria tersebut tidak hanya berkeliling Malioboro, tapi langkah kakinya semakin tegas menjauhi kawasan tersebut ke arah keraton. Jarak yang sangat jauh jika harus ditempuh dengan berjalan kaki, apalagi dengan kondisi Dira yang tengah membawa barang dan juga memakai high heels setinggi tiga senti. Sungguh siksaan sendiri bagi Dira.
Dave sesekali menoleh pada istri terpaksanya. Senyuman licik terus menyungging dari ujung bibir pria tersebut. "Kamu ingin kebersamaan, bukan? Ini kebersamaan pertama kita. Semoga kamu terkesan, Dir. Dan tunggu kebersamaan-kebersamaan kita selanjutnya. Kita akan membuat kenangan berdua."
Dira buru-buru mengambil obat di kantong celananya. Dia tidak ingin emosinya semakin menjadi. Mulai detik ini, dia akan berusaha menjaga emosinya. Dira akan menjadi Deva. Setidaknya, hubungannya dan Dave harus bertahan sampai dia bisa menemukan David. Jika perlu, dia akan mengikat Dave lebih jauh lagi.
Di sisi lain, Deva dan Dewa malah sudah kembali ke hotel. Dewa berharap urusan pekerjaan besok, bisa dilakukan dan diselesaikan lebih awal dari waktu yang sudah dijadwalkan. Tentu saja agar mereka bisa mengejar penerbangan siang. Dewa berharap masalah Deva dan keluarga Debora, segera menemukan titik terang.
***
Setelah pekerjaan mereka selesai, Dewa dan Deva pun langsung menuju bandara untuk kembali ke Jakarta. Keduanya memang sengaja membawa barang milik mereka sekalian agar tidak perlu lagi kembali ke hotel.
"Dev, kita langsung ketemu Debora, atau mau pulang dulu sesampainya di Jakarta nanti?" tanya Dewa.
Deva berpikir sejenak. " Ehm ... langsung saja deh, pak. Setelah dari tempat Kak Debora, saya sekalian mau mencari kos atau kontrakan."
"Kenapa harus pindah? Kamu nggak betah di rumah sama mamaku?" Dewa seketika menolehke arah Deva yang kini sedang melewati pintu detector gate keberangkatan domestik.
"Bukan seperti itu, Pak. Bagaimana pun, saya dan Mades adalah orang lain. Di rumah itu juga ada Bapak. Sangat tidak pantas untuk kita tinggal bersama. Belum lagi kalau karyawan lain banyak yang tahu, takut kita dibicarakan yang tidak-tidak."
__ADS_1
Dewa hanya memanggut-manggutkan kepalanya. Ketika mereka sudah berada di dalam pesawat, Dewa teringat akan idenya untuk menyuruh Deva membeli rumah dengan cara KPR atau kredit di perusahaan.
"Dev, kenapa sih nggak ambil rumah aja. Kan aku sudah ajarin. Aku pasti ACC pengajuan kreditt kamu. Kalau Loan di perusahaan bunga lebih sedikit."
"Tapi kan limit saya tidak banyak, Pak. Paling cuman bisa buat beli gentengnya saja," jawab Deva, sengaja tidak menjawab dengan serius.
"Aku percaya sama kamu, Dev. Aku akan bantu kamu sebisaku. Kenyamananmu itu penting. Bukan karena aku peduli sama kamu secara pribadi. Tapi, jika kamu tidak ada masalah, pekerjaanmu pasti akan lebih maksimal. Kamu cukup bisa diandalkan dalam setiap tender. Aku hargai kamu secara profesional. Ini sama sekali bukan tentang ketertarikan pribadi. Kamu paham, kan? Jangan Geer, please."
Deva tidak tahu harus menjawab apa. Mereka duduk di deretan kursi dengan tiga penumpang. Rasanya kalau berdebat lama-lama, dia takut akan mengusik kenyamanan satu penumpang yang lainnya. Selain diam, senyuman tipis menjadi senjata Deva untuk menyudahi percakapan mereka sebelum pesawat tinggal landas.
****
Menjejakkan kaki kembali di Jakarta, Deva merasakan kelegaan yang luar biasa. Entah mengapa, sejak berbicara berdua dengan Dave semalam, dia merasa begitu tenang. Sikap Dave yang tidak kaku, membuatnya lebih merasa sesuatu yang hilang dari dirinya telah kembali. Entah bisa berteman atau tidak, setidaknya, mereka tidak berusaha melupakan dengan saling bermusuhan.
"Kita mampir ke masjid dulu ya, Dev. Sudah dhuhur," ucap Dewa.
"Iya, Pak. Saya diparkiran saja," lirih Deva dengan kepala tertunduk.
"Owh, kamu halangan. Kalau begitu aku sholat di mushola dekat parkiran saja. Kamu tunggu di mobil." Dewa menyerahkan kunci mobil yang dibiarkannya terparkir di bandara sejak mereka berangkat.
Keduanya pun terpisah di parkir B3, Dewa menuju Mushola, sedangkan Deva menuju parkiran C4 yang masih harus melewati satu penyeberangan lagi. Mendekati mobil Dewa, langkah kaki Deva terhenti begitu melihat sosok pria yang amat dikenalinya keluar dari mobil yang terparkir di samping mobil Dewa persis. Pria tersebut bersama dengan perempuan yang juga dia kenali. Keduanya tampak terburu-buru.
Deva bergegas sembunyi di balik mobil yang berada tidak jauh darinya. Dari gelagat kedua orang tersebut, jelas keberadaan mereka sedang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Meski buru-buru, kemesraan yang tergambarkan lewat genggaman tangan yang erat antar keduanya, tidak terbantahkan lagi.
"Papa Agas, Bu Nina. Kenapa mereka sedekat itu?" batin Deva.
__ADS_1