
Pintu pun terbuka perlahan. Sang tamu langsung melebarkan senyuman, menyambuat tuan rumah yang sedang menatapnya dengan heran.
"Jangan ge-er dulu, aku datang bukan untuk menemuimu. Aku datang karena Sashi ada di sini. Kami sudah janjian mau sarapan pagi bareng-bareng." Dewa menjelaskan sebelum Deva memberikan pertanyaan yang bisa saja malah akan membuatnya tersudut.
Deva menggelengkan kepala. "Mana ada sarapan jam segini. Pria kalau sedang jatuh cinta. Ada aja alasan yang dibuat untuk sekedar bisa menemui gebetannya," umpat Deva. Cukup lirih, namun sayang masih tertangkap telinga kelelawar Dewa.
"Bukan gebetan, tapi cuman teman. Oh... ya, kamu sudah ngerjain aku. Ini gang berbeda dengan gang tempat aku mengantarmu kapan lalu. Untung saja Sashi mengirimkan lokasi terkini. Kalau tidak? Bisa kesasar aku. Dasar perempuan aneh. Sekali pun aku tahu rumahmu, aku juga nggak bakalan datang kalau nggak ada perlu seperti sekarang."
Deva sedang malas berdebat. Dia memilih untuk mengabaikan ocehan Dewa begitu saja. Perempuan itu langsung kembali masuk ke kamar. Membiarkan tamunya berada di ambang pintu, tanpa dipersilahkan masuk terlebih dahulu.
"Ckkk... dasar tidak peka. Tidak tahu apa, aku bela-belain dari bandara langsung ke sini. Malah sekarang dicuekin gini. Suruh masuk kek, suguhin teh hangat. Perempuan nggak ada ramah-ramahnya sama cowok cakep," sungut Dewa dalam hati.
Di dalam kamar, Deva berusaha membangunkan Sashi. Perempuan itu tidak bergerak sedikit pun. Malah Hilda yang nampak mengeliat mendengar suara Deva.
"Apa sih, Dev? Masih pagi ini. Kan aku sudah bilang lagi libur. Palang merah lokal, Dev," sungut Hilda.
"Aku bangunin Sashi, bukan kamu. Noh, ada Pak Ewa kesayangannya di depan," timpal Deva.
Hilda langsung membantu Deva membangunkan Sashi yang memang dikenal dengan sebutan ratu molor. Hilda membangunkan dengan guncangan yang cukup keras, membuat tubuh Sashi mau tidak mau sedikit mengeliat.
"Apa sih? Berisik!" dengus Sashi. Masih dengan memejamkan matanya.
"Pak Ewa datang," sahut Hilda dengan kesal.
"Hah? Sepagi ini? Ayam saja masih belum berkokok. Kenapa dia sudah datang." Sashi langsung memposisikan diri untuk duduk.
"Mau sampai kapan pun, di sini gak bakalan denger ayam berkokok. Nggak ada yang pelihara ayam." seloroh Deva sambil merapikan atasan mukenanya.
"Di sini ada ayam kantoran kok, Dev. Dia sudah biasa berkokok sendiri. Tapi berkokoknya beda." Hilda mengawali ledekannya pada Sashi.
__ADS_1
Deva menarik napas dalam. Biasa sendiri, bersama dua orang yang cukup ramai, sesaat memang bisa memberikan suasana berbeda untuknya.
"Suara ayam jantan gimana, Beb?" Tanya Sashi.
"Kukurikuk... " Hilda benar-benar mengucapkannya dengan nada ayam yang sedang berkokok.
"Pinter... kalau Ayam kantoran gimana, Beb?" Sashi sedikit terkekeh saat menanyakannya.
"Kikuk-kikuk.... " Nada ayam berkokok kembali terdengar, namun dengan kata yang berbeda dari Hilda, diikuti gerakan kedua tangan yang menguncup dan saling mengecup. Layaknya dua bibir yang sedang beradu.
"Edan..., " kesal Deva. Sepertinya, kalau setiap hari seperti ini. Dia bisa-bisa tidak waras sendiri. Deva memilih meninggalkan kamar.
Sashi dan Hilda melakukan tos sembari tertawa lepas. Sungguh menggila di pagi yang masih buta. Bahkan di saat adzan subuh baru juga terdengar.
Saat Deva keluar kamar, dia melihat Dewa sudah berada di ruang tamunya. Pria itu berbaring memejamkan mata di atas karpet. Entah pura-pura, atau memang tidur sungguhan. Pada kenyataannya, Dewa memang belum tidur dari semalam karena takut ketinggalan pesawat.
Deva kembali masuk ke kamar yang digunakannya khusus untuk sholat. Dia ingin menuntaskan ibadah pagi ini dengan segera. Kedatangan tamu, membuatnya berpikir untuk berbelanja. Apalagi, Sashi dan Hilda kemungkinan akan berada di rumahnya beberapa hari. Tentu tidak enak dan akan boros kalau terus membeli makanan dari luar.
"Astaga! Pak Ewa malah tidur!" Sashi berjalan menghampiri Dewa diikuti oleh Hilda.
Tanpa ragu, Sashi mengguncang lengan Dewa, dan membangunkan laki-laki tersebut. "Pak Ewa, bangun, Pak. Bapak buat apa pagi-pagi ke sini?"
Dewa seketika terbangun. Matanya mengerjab-erjab seolah sedang mengumpulkan nyawa, belum sampai lima belas menit dia tertidur, sudah diganggu saja. Dia pun segera mengubah posisinya menjadi duduk tegap.
"Cari makan pagi, yuk!" ajak Dewa sembari merapikan rambutnya.
Sashi dan Hilda belum menjawab pertanyaan dari Dewa, Deva sudah muncul dengan gayanya yang cuek. Perempuan itu menggenggam dompet di tangan kanannya. Kaos oblong putih dan celana jeans dengan bagian bawah digulung santai hingga betis, membuat penampilannya terkesan lebih muda dari usia sebenarnya. Deva terlihat seperti abg delapan belas tahun. Tanpa sadar, Dewa mengakui dalam hati, Deva memiliki daya tarik yang berbeda dibanding Sashi, Hilda, atau perempuan lain yang selama ini dikenalnya.
Dewa mengirimkan kode pada Sashi dan Hilda secara bergantian. Namun kedua perempuan yang mulai dianggapnya teman itu seperti tidak paham.
__ADS_1
"Apa'an sih?" tanya Hilda dengan polosnya sambil memicingkan mata ke arah Dewa yang sedang komat kamit tanpa suara, dengan satu tangan melakukan gerakan seperti sedang menyuapkan makanan ke dalam mulut.
"Nggak jelas! Mau kikuk-kikuk pakai mulut?" Sashi malah memberikan pertanyaan konyol.
Dewa memelototkan matanya dengan kesal. Seketika Hilda mulai menyadari maksud dari pria tersebut.
"Oh... Dev, ikut kita sekalian yuk! Sarapan pagi, sekalian cari udara segar. Hari minggu---car free day---di taman kota pastai ramai dan banyak orang jualan makanan," ucap Hilda.
"Aku mau belanja ke pasar," kilah Deva.
"Nanti setelah makan pagi. Kita baru ke pasar. Pokoknya kita akan menemani dan mengantar kamu ke mana saja. Ke makam papamu pun akan kita antar," seloroh Sashi.
Hilda mencubit lengan temannya itu. Bicara soal makam, pasti menggugah perasaan sedih Deva.
"Aku nggak mau ngrepotin kalian. Sudah mau datang ke sini saja, aku sudah sangat berterimakasih. Aku juga nggak enak sama kalian. Segelas air putih pun bahkan belum aku suguhkan." Raut wajah Deva mendadak sedih.
"Nah, maka dari itu, jangan membuat kami tersinggung dengan menolak ajakan kami. Tamu adalah raja, bukan? Jarang-jarang kita ditraktir Pak Ewa. Yuk, lah! Kita manfaatkan benar-benar." Sashi langsung menggandeng tangan Deva dengan erat.
"Tapi aku me---," Deva tidak meneruskan kata-katanya.
"Kita ke makam dulu saja. Setelah itu baru kita mencari makan pagi, terus baru ke pasar. Bagaimana?" Dewa terlihat lebih bersemangat dibanding yang lain. Dia sudah bisa menebak, pasti Deva memang ingin pergi ke makam papanya.
Deva akhirnya mengangguk pasrah. Mereka berempat menuju mobil Dewa. Hilda dan Sashi merasa sangat istimewa, karena baru kali ini ada CEO yang mau bergaul dengan karyawan level biasa seperti mereka. Bahkan saat ini, sang CEO malah menjadi driver mereka.
Deva yang duduk di bangku belakang, memudahkan aksi lirik-lirik Dewa melalui kaca spion tengah. Pria itu mengabaikan Sashi yang sesekali mengeluarkan bahasa tubuh seperti ulat keket agar bisa mendapatkan perhatian Dewa.
Deva menunjukkan rute jalan menuju makam Amar. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di lokasi yang dituju. Jarak makam dengan kontrakan Deva, memang tidak terlalu jauh.
Selanjutnya, Deva, Dewa, Sashi dan Hilda meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menuju area pemakaman yang lebih dalam. Beberapa meter mendekati gundukan tanah merah yang menutup jasad sang papa, Deva menghentikan langkahnya. Matanya memicing dengan sempurna, memastikan penglihatannya tidak salah.
__ADS_1
"Kenapa mereka ada di makam papa?" tanya Deva dalam hati.