
"Jadi, Kak. Semoga tidak hujan." Deva menengadahkan wajahnya menatap langit biru yang sangat cerah. Tidak ada segumpal awan putih pun di sana.
"Sepertinya aman. Semoga rencanamu berjalan lancar. Aku hanya mengharapkan yang terbaik untuk Dewa." Debora melakukan hal yang sama dengan Deva.
Mata keduanya kompak memicing karena sinar matahari. Namun, baik Deva maupun Debora masih enggan untuk menegakkan kembali posisi kepala mereka. Seakan ada sesuatu di atas langit yang membuat kedua perempuan tersebut enggan berpaling dari sana.
"Aku yang meminta Dewa menerima kehadiranku, Dev. Aku tau hatinya masih memilihmu. Yang Aku lakukan, bukan memaksa ingin memilikinya. Aku hanya menyelamatkan Dewa dari perasaan tidak berdaya."
Sederetan kata yang baru saja diucapkan Debora, membuat Deva menegakkan kembali kepalanya dan menjatuhkan pandang pada sosok di sampingnya tersebut. "Begitu banyak nama hubungan yang bisa kita pilih. Atas nama cinta, kita bisa menjalani sebuah persaudaraan, persahabatan, bahkan permusuhan. Kenapa harus pura-pura menjadi sepasang kekasih? Kalau masih ada pilihan lain yang tidak mengharuskan kita berpura-pura," tekan Deva.
"Aku masih sangat mencintai Dewa, Dev. Empat tahun bagi Dewa mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi tidak bagiku. Dia sangat menghargai perempuan yang dia cintai. Dengan kehidupan kami yang bebas, sangat mungkin bagi kami untuk melakukan hal-hal terlarang saat kami pacaran dulu. Nyatanya tidak. Dia selalu meminta ijin saat hendak menciumku. Bahkan dia menolak saat Aku mengajaknya berbuat lebih." Debora membalas tatapan Deva yang begitu lembut.
"Bukan berapa lama waktu kebersamaan yang membuat kita sulit melupakan seseorang, Kak. Namun, seberapa dalam kita meletakkan posisi seseorang itu di hati kita," tutur Deva.
"Maaf ... apa kamu sebenarnya juga sudah ada perasaan pada Dewa? Jika ada, Aku akan meminta Dewa untuk berjuang. Aku yakin, kamu bisa memahami dan menerima apa pun kondisi Dewa nantinya." Debora sangat hati-hati saat menanyakannya.
Belum sampai Deva menjawab pertanyaan Debora, Dave dan Dewa tampak sudah berjalan mendekati mereka. Tentu saja obrolan pun terpaksa berhenti.
"Lanjut, yuk! Kalian mau petik buah apa?" tanya Dave.
"Jeruk ...." Dewa dan Deva menjawab dengan kompak.
"Hanya kebetulan saja sama. Aku cuma mewakili Debora. Dia suka banget sama buah jeruk," kilah Dewa. Padahal tidak ada yang bertanya atau pun protes.
__ADS_1
"Percaya kok, Pak. Tidak ada satu orang pun yang sama dengan Bapak," seloroh Deva dengan santai.
Dewa mendengus kesal. Kalau sudah begini, susah sekali bersikap sok cuek dan acuh pada Deva. Suasana kebersamaan yang semakin mencair, membuat canda dan cela meluncur santai tanpa bisa dibatasi oleh gengsi. Dave dan Debora sengaja berjalan agak lambat. Membiarkan jarak antara mereka dengan Deva dan Dewa agak sedikit lebar.
"Apa mencintai orang terlalu dalam membuat kita sebodoh ini?" Debora mengajak Dave berbicara lirih.
"Tergantung sudut pandang orang yang kamu ajak bicara. Bagiku, kebodohan saat mencintai itu hanya satu dan aku pernah melakukannya." Dave menjawab dengan suara yang tidak kalah berbisik.
"Apa itu?" tanya Debora.
"Melepaskan orang yang kita cintai dan mencintai kita dengan begitu mudah tanpa perjuangan. Itu sangat bodoh. Meninggalkan penyesalan yang tidak berujung," jawab Dave. Cukup lugas dan jelas.
"Kalau hanya kita yang mencintai, apa yang harus kita lakukan?" Debora seakan ingin mencari sudut pandang lain dari kondisi yang sedang dialaminya.
Debora tersenyum tipis. Di balik kisah hidup Deva yang luar biasa pelik, masalah cinta---Deva lebih beruntung darinya. Meski tanpa status, dua pria jelas mencintai dan pasang badan mengorbankan perasaan masing-masing demi mengusahakan yang terbaik untuk Deva.
"Lah, ini gimana coba bedain yang masam sama yang manis?" Dewa berbicara pada diri sendiri begitu sudah berhadapan dengan sebuah pohon jeruk tidak lebih tinggi darinya.
"Tanya saja ke buahnya, Pak. Kamu manis tidak? Kalau masam, berarti kita sama dong," ledek Deva yang berdiri tepat di balik pohon yang sama dengan Dewa.
"Ada banyak pohon, kenapa kamu ikut-ikutan di sini?" Kesal Dewa.
"Aku dan Debora juga di sini, Wa. Kita kan emang sengaja taruhan mau metik buah dari pohon yang sama. Yang kalah, jalan dengan mata tertutup sampai parkiran mobil," sahut Dave dengan cepat.
__ADS_1
"Astagah, taruhan segala. Apa-apaan sih kalian. Kayak bocah aja. Pasti Aku menang." Dewa langsung memetik satu buah jeruk yang menggelantung paling tinggi di antara buah yang lain.
"Aku yang ini saja," Dave mengambil satu buah jeruk berkulit sedikit kekuningan dengan penuh percaya diri.
Deva dan Debora kompak memilih-milih. Keduanya jelas lebih selektif dibandingkan Dave dan Dewa yang asal petik. Waktu sudah berjalan lebih dari lima menit, keduanya belum juga memutuskan buah jeruk mana yang akan dipetik.
"Kalian lama sekali sih," protes Dewa.
"Dapat!" Pekik Deva dan Debora secara bersamaan.
Selanjutnya mereka bergantian membuka dan mencicipi buah jeruk hasil petikan masing-masing secara bergantian. Lagi-lagi, sebuah pelajaran hidup memang bisa didapat dari mana saja dan kapan pun selama kita mampu memaknai segala hal terjadi bukan hanya karena kebetulan.
"Kita memetik empat buah jeruk ini dari pohon yang sama. Dua jeruk terasa begitu manis. Satu yang lainnya sedikit masam, dan satu lagi sangat masam. Padahal, pengelola mengatakan semua sudah siap petik. Bukan berarti pengelola membohongi kita. Segala sesuatu yang terbungkus rapat, manusia tidak pernah tau apa isi di dalamnya dengan pasti. Yang diambil Debora tadi pori-pori kulitnya besar, warnanya keruh dan bentuknya tidak sempurna. Ternyata rasanya malah sangat manis," ucap Dave panjang lebar.
"Kita tidak bisa menilai sesuatu hanya dari kulit luarnya saja. Sejatinya, setiap masalah tidak bisa ditanggapi secara umum. Memandang sesuatu, tetaplah harus objektif. Sama-sama cinta, tetap saja berbeda cara pengungkapannya. Tidak semua hal bisa langsung kita katakan benar atau salah, enak atau tidak enak dan semacamnya. Jeruk dan jeruk saja bisa berbeda, lalu kenapa kita harus memaksakan jeruk dan apel itu sama?" Deva menambahi apa yang dikatakan Dave sembari melirik ke arah Dewa.
"Benar. Yang menurut kita manis itu enak, belum tentu bagi orang lain. Satu hal yang pasti, jika kita ingin menghadiahkan buah jeruk pada seseorang yang suka masam, maka jangan pernah memberikannya buah jeruk yang rasanya manis. Dia akan menerima, membuka dan mencicipi sekilas, lalu meletakkannya begitu saja." Debora ikut menambahi.
Dewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tiga orang itu berbicara begitu penuh makna. Bukan tidak paham apa maksud dari setiap kata yang dilontarkan Dave, Deva dan Debora, hanya saja dia merasa sedang tersindir--- memaksakan apa yang menurutnya benar.
Deva mengambil syal dari dalam tasnya, lalu memberikan benda tersebut pada Dave.
"Yuk, Wa ... Aku bantu pakai penutup mata." Dave menerima pemberian Deva dan membalikkan posisi badan Dewa agar berdiri membelakanginya.
__ADS_1