Sisa Rasa

Sisa Rasa
Ajakan Dewa


__ADS_3

Dewa meraih tangan Deva dan menatap lembut pada perempuan yang kini sedang berhadapan dengannya. "Semoga hasil ini tidak sepenuhnya benar. Aku akan melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikannya. Tolong, jangan ceritakan apa pun pada mama. Dari semua kesedihan, aku paling tidak bisa melihat mama menangis karena aku."


"Kita sama-sama seorang anak yang selalu ingin mengusahakan kebahagiaan untuk orang tua kita, Pak. Selama papa dan mama saya masih ada, belum banyak yang bisa saya lakukan. Saya paham betul kenapa Bapak harus menyembunyikan ini dari mades."


"Terima kasih, Dev. Ini pertama kalinya aku menyimpan rahasia pada orang lain."


Dewa dan Deva saling beradu pandang. Tatapan Deva yang meneduhkan, semakin membuat Dewa enggan untuk beranjak. Ada rasa yang semakin bergejolak di dalam hati pria tersebut.


"Dev ...," panggil Dewa dengan lirih.


"Iya, Pak."


"A---,"


Baru saja membuka mulutnya, niat Dewa mengucapkan sesuatu harus terjeda karena kemunculan Desta secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tanpa rasa bersalah, pria itu malah melemparkan senyuman menggoda pada Deva.


"Tangan, Wa. Kebiasaan banget pegang-pegang." Desta melirik tangan Dewa yang masih menggenggam tangan Deva.


Seakan disadarkan oleh ucapan Desta, Deva menarik tangannya dengan buru-buru. Sebelum meninggalkan ruangan Dewa, perempuan itu pun berkata, "Saya permisi ke ruangan saya dulu."


Dewa hanya menanggapi ucapan Deva dengan sebuah anggukan. Dia lalu menarik napas lega. Hampir saja Dewa terbawa suasana dan mengungkapkan isi hati yang selama ini dengan susah payah diingkari. Untung saja Desta datang tepat waktu. Menyelamatkan dari penolakan yang pastinya akan diberikan Deva tanpa berpikir panjang.


Di tempat lain, tepatnya di rumah lama Deva. Dave sedang menunggu sang mama untuk memberikan tanggapannya akan pembicaraan yang sudah dimulainya sejak beberapa saat yang lalu.


"Kehancuran papa hanya tinggal menunggu waktu. Bangkai yang disimpan sempurna sekali pun, suatu saat akan tercium juga. Jika mama tidak ingin lebih menyesal lagi, sebaiknya mama pulang dan menemui papa. Sebelum jeruji besi memisahkan kalian, tidak ada salahnya, keluarga yang sempurna luar biasa ini berkumpul terlebih dahulu."

__ADS_1


Kata-kata Dave jelas hanyalah sebuah sindiran bagi Fira. "Jangan ucapkan apa pun lagi, Dave. Mama mohon." Perempuan tersebut menutup daun telinganya dengan kedua telapak tangan.


"Kenapa? Mama malu? Seharusnya tidak hanya malu yang kita rasakan, Ma. Apa yang kita alami sekarang, tidak ada apa-apa nya dengan yang Deva dan keluarganya rasakan. Jika Dave tahu Dave tumbuh dan dibesarkan dengan uang haram, lebih baik Dave hidup terlantar di pinggir jalan."


Fira menggelengkan kepalanya dengan pelan. Buliran bening dari sudut mata perempuan itu semakin deras membasahi pipi. Penyesalan sepertinya sudah terlambat, kehancuran demi kehancuran sudah siap Menyambut Fira dan juga Agas.


"Dave sedang mengajukan pindah dinas ke kota lain. Sebaiknya, Mama temui papa sebelum Dave mendapatkan SK."


Fira terdiam. Benar-benar tidak tahu harus berucap atau pun menjawab apa. Perempuan tersebut menarik napas begitu berat. Hukum tabur tuai nyata adanya. Menyesal pun sudah tidak ada guna.


Sejak hari itu, Dave tidak lagi menampakkan dirinya di depan deva. Mantan yang masih tersayang di hati Deva itu memilih tinggal di tempat yang tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya.


Sepuluh hari sudah waktu berlalu terasa sedikit lebih lambat bagi Deva. Semua berkas peninjauan kembali kasus Amar sudah diberikan. Dermawan dan keluarga pun sudah aman karena kini dibawah perlindungan pihak yang berwenang. Namun demikian, belum satu pun tersangka yang ditetapkan. Proses masih berjalan ditahap pemeriksaan-pemeriksaan dari setiap nama dari bukti file yang diserahkan oleh Deva dan Desta sebagai pengacaranya.


Dari serangkaian peristiwa yang terjadi, Dewa merasakan kedekatannya dengan Deva semakin tidak biasa. Rasanya, Deva bukan lagi sekadar asisten pribadi untuk pekerjaan di kantor, melainkan juga sudah mulai mengurusi segala hal yang menyangkut kepentingan pribadinya. Terutama mengingatkan akan obat dan juga terapi sederhana yang harus dia lakukan untuk mencegah dampak yang parah dari sakit yang diderita Dewa.


"Terapinya diundur besok. Tapi ...." Dewa tampak ragu-ragu untuk meneruskan ucapannya sendiri.


"Tapi apa, Pak? Siapa yang memundurkan jadwal? Saya harap bukan Bapak. Sesibuk apa pun, terapi itu harus rutin dilakukan. Ingat janji Bapak," omel Deva.


"Dokternya yang minta, Dev," sahut Dewa.


"Ya sudah kalau begitu." Deva berniat meninggalkan ruangan. Namun Dewa menghalangi niatnya dengan bergegas berdiri dan menahan lengan Deva.


"Nanti malam, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Tidak di sini apalagi di rumah. Bisa, kan?"

__ADS_1


Deva tidak langsung menjawab. Perempuan tersebut menelisik pandang pada Dewa dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Sudah lama rasanya dia tidak melihat keangkuhan yang biasanya terpancar nyata dari sorot mata sosok di depannya itu.


"Kamu yang tentukan tempatnya. Please,"


Deva pun akhirnya mengangguk setuju. "Saya kembali ke ruangan saya dulu, Pak," ucapnya. Sedikit jengah dengan tatapan Dewa yang semakin intens.


"Sampai nanti malam." Dewa memberikan senyuman termanisnya. Mencoba tetap tenang meskipun dadanya berdebar dengan kencang.


****


Waktu yang ditunggu-tunggu Dewa pun tiba. Tidak seperti biasanya. Sebelum keluar kantor, kali ini dia menyempatkan diri untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu. Begitu segar, wangi dan juga tampan. Bahkan berkali-kali dia menatap bayangan dirinya di depan cermin. Sekedar memastikan penampilannya sudah sangat sempurna.


Ketika Dewa keluar dari ruangannya, Sashi dan Hilda yang juga sudah bersiap untuk pulang langsung beradu siku.


"Ada pertemuan club, kah?" bisik Hilda.


"Tidak ada. Bahkan club itu sudah lama punah setelah Pak Ewa dekat dengan Deva. Dara dan Diana juga sedang sibuk, " jawab Sashi juga dengan cara berbisik.


"Sepertinya Pak Ewamu mau kencan. Wanginya kecium sampai di sini." Hilda kembali berbisik.


Dewa sama sekali tidak mempedulikan Hilda dan Sashi. Pandangannya fokus pada pintu ruangan Deva yang belum juga terbuka. Beberapa menit kemudian, barulah muncul sosok yang ditunggunya. Masih mengenakan pakaian yang sama sepanjang hari. Namun, hal itu tidak sedikit pun mengurangi kecantikan yang semakin dikagumi oleh Dewa.


Setelah menyapa Hilda dan Sashi sebentar, Deva dan Dewa pun akhirnya berangkat juga ke resto yang dipilih oleh Deva. Perjalanan menghabiskan waktu tidak lebih dari empat puluh lima menit. Resto live music yang hangat itu tampak begitu ramai, sepertinya memang sedang ada acara. Untung saja sebelumnya Deva sudah melakukan reservasi.


"Kamu duduk dulu, aku mau ke toilet sebentar," pamit Dewa sambil menitipkan ponselnya pada Deva.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Deva hanya menerima ponsel tersebut dan menuju meja yang sudah dipesan tanpa melihat ke sekelilingnya.


"Bee...." Sebuah panggilan dari suara yang sangat familiar, menghentikan langkah Deva.


__ADS_2