
Dewa tidak langsung menjawab. Dia juga berpikir sejenak. Ide itu terlintas begitu saja tanpa pemikiran yang panjang. Jika Deva menerima, tentu Dewa pun harus membicarakan dengan sang mama. Sejujurnya, dia sendiri takut penolakan justru datang dari mamanya.
"Pak Dewa?" Deva memanggil atasannya tersebut karena rasa penasarannya belum terjawab.
"Tugasmu sederhana banget. Gaji dua ratus ribu sekali datang untuk dua jam pertemuan. Akhir pekan libur, tapi kalau dibutuhkan sebisanya harus datang. Fee akhir pekan dua kali lipat dari hari biasa," jelas Dewa. Dalam hati dia mulai merutuki kebodohannya. Jika dihitung-hitung dengan benar. Gaji yang dia berikan pada Deva, bisa jadi setara dengan gaji office boy di Diamond Corp.
"Jangan bicarakan gajinya, Pak. Tugasnya jelaskan lebih dulu. Walaupun gaji 500 ribu per jam, kalau tugasnya gantiin polisi tidur, saya juga nggak bakalan mau," sahut Deva.
"Ada yang lebih tinggi dari itu, Dev. Satu juta per jam, tapi nidurin buaya jantan. Mau nggak?" Dewa bertanya dengan kesal.
"Kalau buayanya kayak Bapak gini, tidak masalah sih. Dikasih obat anti mabuk atau obat alergi saja biar cepat tepar," timpal Deva.
"Astaga, Deva ... jahat sekali mulutmu. Aku ini baik loh. Ngasih kesibukan ke kamu. Ya kali, kamu lembur di kantor mulu. Siapa yang mau bayar." Dewa mulai sewot.
Deva menahan senyumnya, sungguh dia puas kalau melihat Dewa kesal maksimal. Terbiasa sombong, tidak membuat atasannya itu kebal akan candaan yang sedikit menyerang dirinya.
"Kembali ke topik. Jadi pekerjaan apa yang ingin Bapak berikan pada saya?" Deva kembali sedikit serius.
"Nemenin ngobrol mamaku."
Jawaban Dewa seketika membuat Deva membulatkan bola matanya dengan sempurna. Perempuan itu sampai membersihkan lubang telinganya dengan jari telunjuk, takut indera pendengarannya salah tangkap.
"Kamu nggak salah denger. Aku memang butuh orang buat nemenin mamaku ngobrol. Kalau Jason tidur, mama sering melamun sendirian. Kalau ada teman sampai jam sembilan saja, setidaknya aku nggak ribet kalau keluar malam," ucap Dewa, seolah bisa membaca apa yang ada dipikiran Deva.
"Sebentar-sebentar, bukankah di rumah Pak Dewa pasti ada asisten rumah tangga? Dan pastinya ada istri Bapak juga, kan?" Deva masih bertanya-tanya.
__ADS_1
Belum sampai Dewa menjawab, pintu rumah Deva terdengar diketuk. Meski pintu itu tidak tertutup, tentu saja tamu yang sopan dan tahu tata krama tidak mungkin langsung masuk ke dalam rumah begitu saja.
Deva pun segera keluar, wajah Tino langsung menyambutnya dengan senyuman seramah biasa. Tidak berselang lama, Dewa menyusul Deva, membuat senyuman Tino seketika menghilang. Berganti dengan raut keheranan.
"Turut berduka cita ya, Dev. Aku tidak mungkin memintamu untuk bersabar. Tapi aku yakin, apapun perasaanmu sekarang, kamu pasti bisa melalui dengan baik. Berat dan tidak mudah, bukan berarti tidak mampu." Tino menjabat erat tangan Deva. Mengabaikan sesaat rasa ingin tahunya akan keberadaan Dewa di rumah mantan asisten pribadinya.
"Nggak usah heran gitu, Tin. Noh di dalam ada duo kendi juga. Mau dipanggilkan?" Bagaikan cenayang, Dewa menebak dengan tepat arti lirikan Tino padanya.
Dua orang yang dimaksud Dewa pun seakan mendengar panggilan Tuannya. Hilda dan Sashi muncul dengan santai. Langsung menyapa dan berjabatan tangan ramah dengan Tino.
Mereka berbincang seru hingga tiba waktu dhuhur. Deva, Dewa, dan Tino, menjeda sementara keakraban mereka karena harus menunaikan sholat terlebih dahulu.
Seusai sholat, mereka melanjutkan obrolan sejenak. Baru beberapa saat kemudian, Tino berpamitan pada Deva. Karena ada yang ingin ditanyakan, perempuan tersebut memutuskan untuk mengantarkan Tino sampai ke mobil pria yang dalam beberapa waktu ke depan akan membuka sebuah coffe shop.
"Pak Tino, boleh saya tanya sesuatu pada Bapak?" Deva langsung mengucapkannya tanpa ragu. Membuat Tino yang sudah ingin menekan tombol kunci sensor mobil---mengurungkan niatnya.
"Ehm ... waktu farewell kapan lalu, Bapak memberikan sebuah kalung pada saya. Maaf ... kalau boleh tahu, Bapak membeli kalung ini di mana ya, Pak?" Deva mengeluarkan kalung yang tertutup oleh kaosnya. Membuat Tino yang memang belum lupa, semakin mengingat dengan jelas bagaimana dia mendapatkan kalung tersebut.
"Saat aku ingin membeli sesuatu untuk kamu, aku bertemu dengan teman lamaku. Aku yang sedang kebingungan mencari barang yang sesuai untukmu, ditawari kalung ini. Katanya dia sudah bosan. Karena liontinnya sangat pas dengan kamu, makanya aku ambil," jelas Tino.
Deva menatap Tino dengan pandangan menyelidik. Memastikan tidak ada kebohongan atau hal yang ditutupi oleh mantan atasannya itu. Sejauh penglihatannya, Tino nampak sangat jujur.
"Apa temen Pak Tino adalah Kak Debora?" Deva kembali bertanya. Kali ini lebih menjurus dan terkesan mengintimidasi.
"Dari mana kamu kenal Debora?" Lagi-lagi Tino menjawab pertanyaan kembali dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Tidak penting saya kenal dari mana. Tapi perempuan yang menjual kalung itu memang Kak Debora, kan?" tekan Deva.
Tino mengangguk pelan. Bukan karena takut, tapi dia memang tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan Deva. Saat dia membeli kalung tersebut, tidak terbesit pikiran apa pun selain memang merasa kalung itu sangat pas untuk Deva.
"Memangnya ada apa, Dev?" Tino kini juga diselimuti rasa penasaran.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Terimakasih informasinya. Lain kali, kalau bertemu dengan Kak Debora lagi. Saya titip salam ya, Pak." Deva kembali bersikap seperti biasa. Berharap Tino tidak membawa obrolan mereka terlalu dalam.
"Akan aku sampaikan. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?" Tino memilih mengikuti saja kemauan Deva yang sepertinya ingin menyudahi obrolan mereka.
"Cukup, Pak. Terimakasih atas kedatangannya." Deva tersenyum begitu tulus.
Tino membalasnya dengan senyuman yang sama. Setelah menepuk lengan Deva, Tino segera masuk ke dalam mobilnya. Sebelum Deva berbalik badan. Ketiga orang yang sedari tadi mengintip dan mencuri dengar obrolan Deva dengan Tino dari balik mobil milik Sashi, segera berlarian kembali ke dalam rumah.
"Astaga! Pak Dewa yang berwibawa di kantor, ternyata Kang Kepo juga," ledek Hilda.
"Sembarangan! Aku seperti ini karena ada alasan yang cukup kuat dan penting. Apa kalian tahu?"
"Tidak." Hilda dan Sashi menjawab dengan kompak.
"Tentu saja tidak tahu, karena aku belum selesai bicara." Dewa melirik ke arah pintu. Entah mengapa Deva tidak muncul-muncul juga.
Rupanya, sang asisten pribadi sedang berbincang dengan tetangga yang kebetulan lewat di depan rumah dan langsung menanyakan tentang keberadaan beberapa mobil yang silih berganti datang---tidak seperti biasanya yang sepi-sepi saja.
"Begini... Dira itu sepupuku. Aku mencium bau-bau Dave dan Deva masih menjalin hubungan. Sebagai kakak yang emejing, aku hanya ingin melindungi adikku dari kemungkinan sakit hati. Jadi, kalian harus ingat baik-baik. Jika aku dekat dengan Deva, bukan berarti aku ada perasaan istimewa. Ini lebih karena aku sedang mengawasi geraknya. Kalian paham?"
__ADS_1
"Paham apa?" sahut Deva yang tiba-tiba muncul di ambang pintu