
Fira mengangguk lemah. "Mama sudah meminta driver untuk mengantar dan memastikan keselamatan Deva. Mungkin dia memang sedang ingin sendirian."
"Ma... Kondisi Deva sedang tidak stabil. Bagaimana bisa Mama setenang ini. Bagaimana kalau sampai Deva membahayakan dirinya sendiri?" Dave menunjukkan kekhawatiran yang membuat Dira benar-benar risih.
"Mama tahu siapa dan bagaimana Deva. Mama yakin Deva tidak akan senekat itu. Lagi pula, sendiri membuat Deva tidak malu-malu meluapkan perasaannya. Dia mau menangis atau teriak-teriak sekali pun, tidak perlu menahan diri karena sungkan dengan keberadaan orang lain."
"Ma... kali ini kondisi Deva berbeda. Sekuat apapun dia saat ini, Deva tidak akan sanggup melalui sendiri. Seseorang yang sudah menggucapkan kata lelah pada hidupnya, tidak menutup kemungkinan dia bisa berbuat nekat," bantah Dave.
"Sudahlah, Dave. Kita hargai saja keputusan Deva. Kalau kamu ke sana, belum tentu dia nyaman." Fira mencoba mencegah niat Dave yang pasti ingin menyusul Deva.
Mantan kekasih Deva itu mengabaikan perkataan sang mama. Dave bergegas ke kamar, melepaskan sarung yang dikenakan. Menyisakan celana pendek rumahan yang tadi dijadikannya rangkapan. Setelah itu, Dave langsung menyambar kunci mobil dan segera menuju ke garasi.
"Dave.... " Dira mengejar pria yang begitu rapat menutup hati untuknya.
Dave menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Aku ikut," pinta Dira.
"Tidak perlu!" sahut Dave dengan cepat.
Agas tiba-tiba muncul dengan napas tidak teratur, menepuk pundak Dave sembari berkata, "Yuk, sama papa saja!"
__ADS_1
Dave pun tidak menolak. Dia melanjutkan langkahnya menuju mobil sport kesayangan. Diikuti Agas yang mengikuti Dave di belakang.
Dira menghentakkan kakinya dengan kesal. "Aku akan membawamu mengingat siapa aku, Dave. Aku yakin, jika kamu mengingat siapa aku. Kamu pasti akan membuka mata dan hatimu untukku. Aku juga pantas dicintai," gumamnya.
Di sisi lain, sebuah kejutan kecil diterima oleh Deva. Saat dia sampai di depan rumah kontrakannya, tiga unit mobil terparkir berjejer hingga sampai di samping rumah tetangganya. Rupanya, pegawai dan teman lama Amar sudah menanti di sana. Tidak kurang dari sebelas orang.
"Dev... kami turut berduka cita, ya. Kami hampir saja mau pulang. Karena rumahmu gelap---seperti tidak berpenghuni," ucap salah seorang perempuan yang merupakan mantan sekretaris Amar.
"Terimakasih, Tante. Sebentar, Deva bukakan pintu dulu." Deva memasukkan anak kunci di lubang daun pintu dengan cepat. Setelah pintu dibuka dia segera menyalakan lampu ruang tamu. Sudah tidak ada meja kursi tamu di sana, hanya karpet tebal berwarna hijau berukuran empat kali tiga meter yang digelar di sana.
"Silahkan, Tante... Om...," ucap Deva sembari meletakkan koper di pojokan ruangan.
Deva menyalami mereka satu per satu sembari meminta maaf atas kesalahan atau kekhilafan yang pernah dilakukan sang papa. Bersama mereka duduk lesehan. Senyuman tipis yang dipaksakan dan tatapan nanar Deva, membuat orang-orang tersebut ikut merasakan duka yang begitu dalam.
"Kami mendengar berita kematian Pak Amar dari Pak Agas, beliau menghubungi kami setelah acara pemakaman. Maaf kami terlambat datang. Kami menyesal tidak ikut mengantar jenazah orang baik sampai diperistirahatan terakhirnya," timpal salah seorang yang merupakan mantan anggota Dewan.
"Tidak mengapa, Om. Deva merasa terharu sekali, ternyata banyak yang masih mengingat dan sayang papa." Bulir bening menetes di pipi Deva.
"Tentu saja banyak, bahkan jumlah kita sekarang, belum ada seujung kuku dari semua orang yang sayang papamu. Mungkin karena kabar meninggalnya papamu belum tersebar, jadi tidak ada yang datang," timpal seseorang bernama Marni---staf khusus Amar saat menjadi direktur utama di perusahaan minyak negara.
"Kami tidak datang menjenguk ke penjara, bukan karena kami tidak mau. Tapi papamu melarang keras. Kami sempat mengunjungi di awal-awal penahanan dulu, hanya sekali saja, dan kami tidak pernah datang lagi setelah papamu mengatakan demikian," tutur Dewanto---yang juga salah satu mantan anggota Dewan.
__ADS_1
Deva menundukkan wajahnya. Sedikit malu, karena tidak bisa memberikan apa-apa pada tamunya. Jangankan teh manis atau manisan, air mineral kemasan pun, dia tidak punya. Terbiasa tinggal sendiri, membuat dia biasa membeli sesuatu sesuai kebutuhannya saja.
Orang-orang yang datang dan duduk di depannya, bisa dibilang memang dekat dengan Amar. Deva masih hapal betul dengan wajah mereka satu per satu. Karena seringnya dia diajak menghadiri suatu acara yang sama dengan tamu-tamunya itu. Terakhir bertemu, mungkin adalah saat kematian mamanya dulu. Cukup lama. Namun Deva tidak sedikit pun lupa.
"Deva sekarang kerja di mana? Kalau Deva butuh sesuatu, jangan sungkan-sungkan hubungi Om. Om banyak hutang budi sama papamu. Sungguh Om bersaksi, Amar adalah orang baik," ucap Dewanto, pandangannya menerawang jauh, seperti sedang mengingat peristiwa yang sudah lama berlalu.
"Di Diamond Corp, Om. Terimakasih sebelumnya. Deva bahagia sekali. Ternyata, prasangka Deva selama ini salah. Masih ada yang peduli sama papa. Sayang sekali, papa harus meninggal dalam status narapidana." Suara Deva begitu bergetar. Dia mengucapkan bahagia, tapi disaat bersamaan, satu sisi batinnya merasa diiris-iris.
Hampir tiga puluh menit mereka berbincang-bincang. Memberikan kekuatan dan dukungan pada Deva. Dewanto pamit mendahului yang lain. Pria itu mendekati Deva, memberikan amplop coklat yang pastinya berisi lembaran rupiah. Lumayan tebal di genggaman. Deva menolak secara halus. Namun Dewanto tetap memaksa.
"Terima saja, Dev. Kami akan merasa sangat terhina jika kamu menolaknya. Sungguh ini tidak seberapa dibanding apa yang sudah papamu lakukan untuk kami," tutur salah satu orang dari rombongan yang sebelumnya lebih banyak diam.
"Terimakasih, Om... Tante... saya tidak tahu lagi harus bicara apa. Kehadiran Om dan Tante, sudah lebih dari cukup membuat saya bahagia. Terimakasih." Lagi dan lagi, Deva kembali meneteskan bulir bening penuh keharuan.
"Tidak mengapa menangis. Mengeluh bukan berarti tidak bersyukur. Bohong kalau kita tidak kesal pada perpisahan karena kematian. Kita manusia. Boleh mempunyai perasaan apa saja. Tapi ingat, tetap berprasangka baik pada Allah. Kamu akan naik kelas, Dev. Yakini itu baik-baik," tutur mantan sekretaris Amar.
"Kami pamit. Tetap semangat, ya. Jadi anak baik, agar papa dan mamamu bangga melihatmu dari surga. Mungkin Amar meninggal dengan status yang masih narapidana, tapi Om yakin. Suatu saat, Tuhan pasti akan memberikan keadilan pada kalian. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Dan setiap kejahatan, pasti akan mendapatkan balasnya---cepat atau lambat."
"Terimakasih, Om. Terimakasih Tante.... " Hanya kata-kata itu yang bisa Deva ucapkan. Lalu dia mengantar semua tamu sampai ke depan rumahnya.
Bersamaan dengan tiga mobil para tamu meninggalkan halaman dan sekitaran rumah Deva, mobil Dave dan satu mobil lain datang. Keduanya berhenti berjejer ke belakang tepat di halaman rumah yang memang tidak berpagar. Deva yang hendak masuk ke dalam rumah, mengurungkan niatnya. Dia tetap berdiri di depan pintu. Menunggu tamunya yang menghampiri.
__ADS_1
Satu mobil di belakang jelas dia hapal betul siapa. Tapi mobil di sisi depan, Deva sama sekali tidak mengenalnya. Dave dan Agas yang keluar dari mobilnya pun dibuat penasaran. Keduanya nampak fokus menanti siapa tamu yang datang ke rumah Deva. Tidak lama dua orang perempuan berpakaian hitam-hitam keluar dari mobil Honda Hrv berwarna merah.